Cinta Dan Dendam Audrey

Cinta Dan Dendam Audrey
Episode 59


__ADS_3

Setelah menempuh waktu selama beberapa belas jam, akhirnya Audrey sampai juga


di Indonesia. Awalnya ia ingin


naik pesawat komersil aja, tapi


Kevin melarang demi keselamatannya. Jadi, terpaksa


Audrey menuruti keinginan Kevin untuk naik jet pribadi milik keluarganya.


Ia sengaja tidak memberitahu kepulangannya pada Rina dan Bik Imah, karena gak ingin membuat


keduanya repot. Hari masih terlalu pagi saat ia tiba di tanah air.


Perbedaan jarak dan waktu membuat ia sampai di hari berikutnya. Hal inilah yang membuat Audrey hanya menghubungi bodyguard untuk menjemputnya.


Begitu melihat ia turun dari pesawat, bodyguard langsung


menghampirinya.


" Pagi, non Audrey ... " sapa kepala bodyguard dengan sopan.


" Pagi ... " sahut Audrey tersenyum.


Audrey dan para bodyguard yang


berjumlah empat orang segera


berjalan menuju mobil yang akan


membawa Audrey pulang.


Dua orang akan menemaninya


di dalam mobil yang sama. Sedangkan yang dua orang lagi,


mengawal dari belakang.


" Silahkan, non ... " ujar salah satu bodyguard membukakan pintu mobil.


" Terima kasih." jawab Audrey


sembari masuk ke dalam mobil.


Bodyguard menganggukkan kepala mereka dengan hormat.


" Maaf non, apa berita itu benar kalau Tuan dan Nyonya sudah meninggal karena kecelakaan ?"


tanah kepala bodyguard hati - hati


dengan raut wajah berduka.


" Hmm ... memang telah


di temukan sepasang mayat yang


mirip dengan kedua orang tua saya. Bahkan mobilnya juga sama


dengan yang mereka pakai. Tapi karena wajah mereka hancur dan tidak dapat di kenali lagi, saya tidak yakin kalau mayat itu


adalah orang tua saya." jelas Audrey.


" Maksud nona, ada kemungkinan


Tuan dan Nyonya masih hidup ?"


tanya bodyguard mulai bersemangat kembali.


" Hmm ... saya belum tahu dan


tidak juga merasa yakin. Tapi untuk sementara masih sedang


di selidiki. Tapi jika memang terbukti bahwa mayat itu memang milik orang tua saya,


maka saya harus bisa menerima."


jawab Audrey sembari menghela nafas panjang.


" Saya berharap semoga Tuan dan


Nyonya masih hidup. Tapi jika tidak, saya harap nona bisa menghadapinya dengan kuat."


kata bodyguard berusaha menyemangati Audrey.


" Ya, terima kasih. " ucap Audrey.


" Tuan dan Nyonya adalah orang yang baik, banyak yang ikut mendoakan beliau berdua dan berharap berita itu tidak benar." ujar bodyguard.


" Hmm ... semoga saja. Saya juga berharapnya begitu." sahut


Audrey dengan harapan yang sama.


" Ya, non ... " sahut bodyguard singkat.


" Oya, .... Selama saya pergi, mansion baik - baik saja, kan .. ?" tanya Audrey.


" Bisa di bilang begitu, non ... " jawab bodyguard ragu, karena


masalah penyusup yang menyamar jadi seorang pelayan itu belum di temukan hingga sekarang.


" Kenapa sepertinya kalian ragu,


apa ada yang terjadi selama saya


pergi ?" tanya Audrey serius.


" Hmm ... maaf non. Sebenarnya


ada seorang penyusup di mansion yang menyamar jadi seorang pelayan. Tapi sampai saat ini kami belum bisa menemukannya."


jelas bodyguard segan, karena mereka gagal dalam bertugas.


" Oh, tolong ceritakan apa yang terjadi ... ?" ujar Audrey minta penjelasan.


Kepala bodyguard kemudian


menceritakan keselurahan yang


terjadi di mansion dengan serius.


" Maaf, non ... ini kelalaian kami dan penjaga gerbang hingga bisa


terjadi kejadian seperti ini." ujar


bodyguard setelah menyelesaikan ceritanya.


" Hmm ... jadi berarti penyusup itu


masih berada di mansion saat ini ? " tanya Audrey serius.


" Ya, non ... ".


" Apa setelah kejadian pelayan menyamar itu ada kejadian lain ?"


tanya Audrey lagi.


" Tidak, non ... sejak itu tidak ada


kejadian yang mencurigakan lagi."


" Hmm ... baiklah. Nanti setelah saya istirahat sebentar.


di mansion, saya akan pergi ke perusahaan untuk menggantikan Daddy. " kata Audrey.


" Baik, non ... kami akan menemani dan menjaga nona."


kata bodyguard.


" Terima kasih." ucap Audrey.

__ADS_1


Suasana di dalam mobil kembali


hening setelah mereka selesai


berbicara.


Karena masih terlalu pagi, jalanan cenderung sepi. Belum begitu banyak kendaraan yang hilir mudik membuat mobil yang di kendarai bodyguard bisa lebih cepat sampai di mansion.


Penjaga gerbang segera membukakan pintu begitu melihat bodyguard membawa


Audrey, nona mereka.


Setelah memarkirkan mobil, bodyguard menemani Audrey


turun dan mengantarkan hingga


ke pintu mansion.


Tidak butuh lama, setelah terlebih dahulu bodyguard mengetuk, pintu mansion pun terbuka.


Lily yang memang sengaja bangun lebih cepat, karena masih mencari di mana letak ruangan


cctv, dan ruangan - ruangan rahasia lainnya di mansion ini begitu terkejut ketika mendengar suara ketukan di pintu. Sedangkan hari masih sangat pagi dan gelap.


" Siapa, yang datang sepagi ini ? "


ucap Lily heran sembari membuka


pintu, tapi tidak membukanya dengan lebar.


Tapi ia langsung tertegun begitu


membuka pintu, dan melihat ternyata Audrey yang datang


di dampingi dua orang bodyguard.


" Bisa saya masuk ? " tanya Audrey pada Lily yang masih berdiri dan menghalangi Audrey.


" Eh, ya ... maaf non." jawab Lily terbata, lalu menggeser badannya.


" Hmm ... " sahut Audrey singkat,


kemudian masuk.


" Kalau begitu kami permisi non


Audrey." ujar bodyguard.


" Ya ... saya istirahat sebentar begitu juga dengan kalian, sebaiknya istirahat." kata


Audrey.


" Baik, non ... " jawab mereka patuh dan melangkah pergi menuju paviliun belakang yang ada di mansion.


Setelah melihat bodyguard pergi, Audrey memperhatikan Lily sejenak.


Hal ini membuat Lily merasa gelisah dan berpikir jika Audrey curiga padanya.


" Kamu, sedang apa sepagi ini berada di ruang tamu ? " tanya Audrey.


" Itu, non ... saya gak bisa tidur


semalam. Jadi karena bosan di kamar, saya keluar dan ingin


segera membersihkan ruangan ini, agar saya bisa membersihkan yang lain. Terus karena saya mendengar pintu di ketuk, saya


langsung membukanya." ujar Lily


berbohong.


" Hmm ... ya, sudah. Saya mau naik ke kamar. " ucap Audrey percaya lalu berjalan menuju lift.


Lily melihat kepergian Audrey dengan mata penuh kelicikan.


Buru - buru ia masuk ke dalam


kamarnya, karena ingin segera


Tapi setelah berulang kali Lily menghubungi nomer Reno tapi gak diangkat juga.


Tentu saja gak di angkat, Reno


masih tertidur di kasur empuknya.


" Ih, pasti dia belum bangun." omel


Lily kesal.


" Aku kirim chat aja ke Reno. Jadi begitu dia bangun, bisa langsung di bacanya." gumam Lily pelan.


Setelah selesai mengirimkan chatnya pada Reno, Lily pun


kembali keluar dari kamarnya.


Ia ingin kembali memeriksa


beberapa bagian lagi dari mansion ini. Tapi terpaksa rencananya gagal, karena beberapa pelayan lain sudah mulai terbangun dan melakukan


pekerjaan mereka masing - masing.


" Sial ... ! Padahal aku cuma sebentar aja di kamar. Kenapa


begitu keluar pelayan - pelayan b******k ini udah pada kerja aja !" umpat Lily kesal.


Ia terpaksa melanjutkan pekerjaannya agar mereka tidak curiga.


Matahari mulai terbit ketika Audrey mulai membuka mata.


Walaupun sebentar tapi tubuhnya


terasa lebih enakan setelah istirahat.


Bergegas ia menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Hari ini ia sudah harus bekerja, untuk memenuhi tanggung - jawabnya sebagai


anak dari pemilik perusahaan.


Bik Imah dan Rina yang belum


mengetahui kepulangan Audrey,


sedang menata meja makan untuk mereka sarapan.


Setelah menyelesaikan ritual mandinya, Audrey segera memoles wajahnya dengan make up natural dan mengenakan pakaian yang akan di pakainya


untuk pergi ke perusahaan.


Audrey melihat sebentar penampilannya di cermin, lalu ia tersenyum puas. Kemudian Audrey melangkah keluar kamar dan berjalan menuju lift.


Bik Imah dan Rina begitu terkejut begitu melihat Audrey yang baru saja keluar dari dalam lift dengan mengenakan pakaian formal.



Gimana menurut kalian ... cocok gak ?


Audrey sengaja lebih memilih memakai celana panjang agar bisa bergerak lebih nyaman saat


di perusahaan nanti.


Rina segera berlari menghampiri Audrey dan langsung memeluknya erat.


" Kenapa pulang gak ngabari, sih ... gue kangen dan kehilangan


Lo dan Rifky." ucap Rina lirih.


Sementara bik Imah berdiri menunggu di sisi meja makan.


" Gue nyampenya pagi banget.


Lo pasti masih tidur. Gak tega jadinya gue bangunin Lo ... " jawab

__ADS_1


Audrey membalas pelukan Rina


dengan hangat.


" Bangunin aja ... atau Lo kan bisa


ngabari gue dan Bik Imah sehari sebelumnya. Jadi gue bisa menunggu kedatangan Lo, Drey ..."


protes Rina sembari menitikkan air mata.


" Sorry Rin, gue sengaja mau ngasi Lo dan Bik Imah surprise. Udah, ngapain juga Lo nangis." sahut Audrey tenang.


" Jahat Lo, ah ... gimana kabar,


Lo, Drey ... Lo baik - baik ajakan ?" tanya Rina khawatir ketika memikirkan Audrey baru saja


kehilangan kedua orang tuanya.


" Ya, gue baik - baik aja.


Sekarang kita sarapan dulu, soalnya gue harus pergi ke perusahaan setelah ini." ucap


Audrey melepaskan pelukannya dari Rina.


" Baiklah ... " sahut Rina.


Audrey menghampiri bik Imah


yang masih setia berdiri menunggunya.


" Apa kabar, bik ... ?" tanya Audrey


lembut.


" Baik, non ... non Audrey bagaimana ?" balas bik Imah bertanya setelah menjawab pertanyaan Audrey.


" Audrey baik - baik aja, bik ... jangan khawatir. Karena Audrey


harus buru - buru pergi ke perusahaan, nanti sore aja sepulang dari sana kita cerita, ya ... bik ." kata Audrey yang mengerti kalau bik Imah ingin


menanyakan kabar tentang


kematian orang tuanya.


" Baiklah, non ... " jawab Bik Imah.


" Rin ... Lo ganti pakaian sana


di kamar gue sekarang juga, karena Lo akan ikut ke perusahaan dengan gue." perintah Audrey.


" Loh, buat apa gue ikut ke perusahaan sama Lo, Drey ... ?"


tanya Rina gak mengerti.


" Mulai hari ini, Lo jadi asisten pribadi gue." jawab Audrey singkat.


" Apa ... ? Gak mungkin, Drey ...


gue gak ngerti apa - apa mengenai perusahaan." ujar Rina


khawatir.


" Lo tenang aja ... untuk hari ini


tugas Lo cuma menemani gue.


Baru setelah itu, sepulang dari


perusahaan, Lo akan gue ajari


semuanya agar Lo mengerti


tugas apa saja yang akan Lo kerjakan." ujar Audrey menenangkan Rina.


" Tapi, Drey ... " Rina berusaha menolak lagi tapi segera di potong oleh Audrey.


" Udah, buruan ... dari pada Lo


cuma di rumah aja." kata Audrey.


" Jualan online gue gimana ?"


tanya Rina pasrah.


" Menurut gue, sementara ini Lo


tutup aja dulu, karena gak ada Rifky yang bantuin Lo. "


" Iya, sih ... eh, tapi Lo belum cerita mengenai adik gue."


" Nanti ... semua gue ceritakan.


Sekarang Lo ganti pakaian dulu."


" Baiklah ... " sahut Rina akhirnya setuju.


" Sarapan dulu, non ... sebelum


berangkat ." ucap Bik Imah.


" Iya, bik ... ini mau sarapan." jawab Audrey sembari mengambil sandwich yang sudah tersedia.


" Non, bibi minta mulai sekarang,


non Audrey lebih berhati - hati."


ujar bik Imah pelan.


" Ya, bik ... saya tahu." sahut Audrey.


Tak lama kemudian, Rina pun turun mengenakan pakaian yang


sama formalnya dengan yang


di pakai Audrey.


" Lo sarapan, gue udah selesai nih ... " kata Audrey.


" Iya ... " sahut Rina sambil menikmati sandwich seperti Audrey dan jus jeruk.


Setelah selesai sarapan, mereka


berdua pamit pada Bik Imah.


" Hati - hari di jalan, non ... " pesan


bik Imah.


" Iya, bik ... " jawab Audrey lalu bergegas masuk ke dalam mobil setelah pintu mobilnya di buka kan oleh bodyguard yang ternyata juga sudah menunggunya di luar.


Perlahan mobil yang membawa Audrey dan Rina berjalan keluar dari halaman mansion.


Lily yang sejak tadi, pura - pura sibuk bekerja tapi sebenarnya


menguping pembicaraan mereka


merasa kesal dan iri melihat Audrey. Kesal, karena ia tidak mendengar pembicaraan penting yang bisa di laporkan nya pada


Reno. Iri, karena melihat kecantikan Audrey dan keberuntungannya sebagai. anak tunggal yang kaya raya.


" Lihat aja, kalau gue dan Reno


sudah berhasil mengambil semua harta Lo. Lo akan gue buat menderita dan gak punya apapun


lagi !" ucap Lily dalam hati.


Setelah itu, Lily pun kembali berbenah lagi. Karena bik Imah


terus melihat ke arahnya.

__ADS_1


**********************************


__ADS_2