
Setelah menempuh waktu selama beberapa belas jam, akhirnya Audrey sampai juga
di Indonesia. Awalnya ia ingin
naik pesawat komersil aja, tapi
Kevin melarang demi keselamatannya. Jadi, terpaksa
Audrey menuruti keinginan Kevin untuk naik jet pribadi milik keluarganya.
Ia sengaja tidak memberitahu kepulangannya pada Rina dan Bik Imah, karena gak ingin membuat
keduanya repot. Hari masih terlalu pagi saat ia tiba di tanah air.
Perbedaan jarak dan waktu membuat ia sampai di hari berikutnya. Hal inilah yang membuat Audrey hanya menghubungi bodyguard untuk menjemputnya.
Begitu melihat ia turun dari pesawat, bodyguard langsung
menghampirinya.
" Pagi, non Audrey ... " sapa kepala bodyguard dengan sopan.
" Pagi ... " sahut Audrey tersenyum.
Audrey dan para bodyguard yang
berjumlah empat orang segera
berjalan menuju mobil yang akan
membawa Audrey pulang.
Dua orang akan menemaninya
di dalam mobil yang sama. Sedangkan yang dua orang lagi,
mengawal dari belakang.
" Silahkan, non ... " ujar salah satu bodyguard membukakan pintu mobil.
" Terima kasih." jawab Audrey
sembari masuk ke dalam mobil.
Bodyguard menganggukkan kepala mereka dengan hormat.
" Maaf non, apa berita itu benar kalau Tuan dan Nyonya sudah meninggal karena kecelakaan ?"
tanah kepala bodyguard hati - hati
dengan raut wajah berduka.
" Hmm ... memang telah
di temukan sepasang mayat yang
mirip dengan kedua orang tua saya. Bahkan mobilnya juga sama
dengan yang mereka pakai. Tapi karena wajah mereka hancur dan tidak dapat di kenali lagi, saya tidak yakin kalau mayat itu
adalah orang tua saya." jelas Audrey.
" Maksud nona, ada kemungkinan
Tuan dan Nyonya masih hidup ?"
tanya bodyguard mulai bersemangat kembali.
" Hmm ... saya belum tahu dan
tidak juga merasa yakin. Tapi untuk sementara masih sedang
di selidiki. Tapi jika memang terbukti bahwa mayat itu memang milik orang tua saya,
maka saya harus bisa menerima."
jawab Audrey sembari menghela nafas panjang.
" Saya berharap semoga Tuan dan
Nyonya masih hidup. Tapi jika tidak, saya harap nona bisa menghadapinya dengan kuat."
kata bodyguard berusaha menyemangati Audrey.
" Ya, terima kasih. " ucap Audrey.
" Tuan dan Nyonya adalah orang yang baik, banyak yang ikut mendoakan beliau berdua dan berharap berita itu tidak benar." ujar bodyguard.
" Hmm ... semoga saja. Saya juga berharapnya begitu." sahut
Audrey dengan harapan yang sama.
" Ya, non ... " sahut bodyguard singkat.
" Oya, .... Selama saya pergi, mansion baik - baik saja, kan .. ?" tanya Audrey.
" Bisa di bilang begitu, non ... " jawab bodyguard ragu, karena
masalah penyusup yang menyamar jadi seorang pelayan itu belum di temukan hingga sekarang.
" Kenapa sepertinya kalian ragu,
apa ada yang terjadi selama saya
pergi ?" tanya Audrey serius.
" Hmm ... maaf non. Sebenarnya
ada seorang penyusup di mansion yang menyamar jadi seorang pelayan. Tapi sampai saat ini kami belum bisa menemukannya."
jelas bodyguard segan, karena mereka gagal dalam bertugas.
" Oh, tolong ceritakan apa yang terjadi ... ?" ujar Audrey minta penjelasan.
Kepala bodyguard kemudian
menceritakan keselurahan yang
terjadi di mansion dengan serius.
" Maaf, non ... ini kelalaian kami dan penjaga gerbang hingga bisa
terjadi kejadian seperti ini." ujar
bodyguard setelah menyelesaikan ceritanya.
" Hmm ... jadi berarti penyusup itu
masih berada di mansion saat ini ? " tanya Audrey serius.
" Ya, non ... ".
" Apa setelah kejadian pelayan menyamar itu ada kejadian lain ?"
tanya Audrey lagi.
" Tidak, non ... sejak itu tidak ada
kejadian yang mencurigakan lagi."
" Hmm ... baiklah. Nanti setelah saya istirahat sebentar.
di mansion, saya akan pergi ke perusahaan untuk menggantikan Daddy. " kata Audrey.
" Baik, non ... kami akan menemani dan menjaga nona."
kata bodyguard.
" Terima kasih." ucap Audrey.
__ADS_1
Suasana di dalam mobil kembali
hening setelah mereka selesai
berbicara.
Karena masih terlalu pagi, jalanan cenderung sepi. Belum begitu banyak kendaraan yang hilir mudik membuat mobil yang di kendarai bodyguard bisa lebih cepat sampai di mansion.
Penjaga gerbang segera membukakan pintu begitu melihat bodyguard membawa
Audrey, nona mereka.
Setelah memarkirkan mobil, bodyguard menemani Audrey
turun dan mengantarkan hingga
ke pintu mansion.
Tidak butuh lama, setelah terlebih dahulu bodyguard mengetuk, pintu mansion pun terbuka.
Lily yang memang sengaja bangun lebih cepat, karena masih mencari di mana letak ruangan
cctv, dan ruangan - ruangan rahasia lainnya di mansion ini begitu terkejut ketika mendengar suara ketukan di pintu. Sedangkan hari masih sangat pagi dan gelap.
" Siapa, yang datang sepagi ini ? "
ucap Lily heran sembari membuka
pintu, tapi tidak membukanya dengan lebar.
Tapi ia langsung tertegun begitu
membuka pintu, dan melihat ternyata Audrey yang datang
di dampingi dua orang bodyguard.
" Bisa saya masuk ? " tanya Audrey pada Lily yang masih berdiri dan menghalangi Audrey.
" Eh, ya ... maaf non." jawab Lily terbata, lalu menggeser badannya.
" Hmm ... " sahut Audrey singkat,
kemudian masuk.
" Kalau begitu kami permisi non
Audrey." ujar bodyguard.
" Ya ... saya istirahat sebentar begitu juga dengan kalian, sebaiknya istirahat." kata
Audrey.
" Baik, non ... " jawab mereka patuh dan melangkah pergi menuju paviliun belakang yang ada di mansion.
Setelah melihat bodyguard pergi, Audrey memperhatikan Lily sejenak.
Hal ini membuat Lily merasa gelisah dan berpikir jika Audrey curiga padanya.
" Kamu, sedang apa sepagi ini berada di ruang tamu ? " tanya Audrey.
" Itu, non ... saya gak bisa tidur
semalam. Jadi karena bosan di kamar, saya keluar dan ingin
segera membersihkan ruangan ini, agar saya bisa membersihkan yang lain. Terus karena saya mendengar pintu di ketuk, saya
langsung membukanya." ujar Lily
berbohong.
" Hmm ... ya, sudah. Saya mau naik ke kamar. " ucap Audrey percaya lalu berjalan menuju lift.
Lily melihat kepergian Audrey dengan mata penuh kelicikan.
Buru - buru ia masuk ke dalam
kamarnya, karena ingin segera
Tapi setelah berulang kali Lily menghubungi nomer Reno tapi gak diangkat juga.
Tentu saja gak di angkat, Reno
masih tertidur di kasur empuknya.
" Ih, pasti dia belum bangun." omel
Lily kesal.
" Aku kirim chat aja ke Reno. Jadi begitu dia bangun, bisa langsung di bacanya." gumam Lily pelan.
Setelah selesai mengirimkan chatnya pada Reno, Lily pun
kembali keluar dari kamarnya.
Ia ingin kembali memeriksa
beberapa bagian lagi dari mansion ini. Tapi terpaksa rencananya gagal, karena beberapa pelayan lain sudah mulai terbangun dan melakukan
pekerjaan mereka masing - masing.
" Sial ... ! Padahal aku cuma sebentar aja di kamar. Kenapa
begitu keluar pelayan - pelayan b******k ini udah pada kerja aja !" umpat Lily kesal.
Ia terpaksa melanjutkan pekerjaannya agar mereka tidak curiga.
Matahari mulai terbit ketika Audrey mulai membuka mata.
Walaupun sebentar tapi tubuhnya
terasa lebih enakan setelah istirahat.
Bergegas ia menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Hari ini ia sudah harus bekerja, untuk memenuhi tanggung - jawabnya sebagai
anak dari pemilik perusahaan.
Bik Imah dan Rina yang belum
mengetahui kepulangan Audrey,
sedang menata meja makan untuk mereka sarapan.
Setelah menyelesaikan ritual mandinya, Audrey segera memoles wajahnya dengan make up natural dan mengenakan pakaian yang akan di pakainya
untuk pergi ke perusahaan.
Audrey melihat sebentar penampilannya di cermin, lalu ia tersenyum puas. Kemudian Audrey melangkah keluar kamar dan berjalan menuju lift.
Bik Imah dan Rina begitu terkejut begitu melihat Audrey yang baru saja keluar dari dalam lift dengan mengenakan pakaian formal.
Gimana menurut kalian ... cocok gak ?
Audrey sengaja lebih memilih memakai celana panjang agar bisa bergerak lebih nyaman saat
di perusahaan nanti.
Rina segera berlari menghampiri Audrey dan langsung memeluknya erat.
" Kenapa pulang gak ngabari, sih ... gue kangen dan kehilangan
Lo dan Rifky." ucap Rina lirih.
Sementara bik Imah berdiri menunggu di sisi meja makan.
" Gue nyampenya pagi banget.
Lo pasti masih tidur. Gak tega jadinya gue bangunin Lo ... " jawab
__ADS_1
Audrey membalas pelukan Rina
dengan hangat.
" Bangunin aja ... atau Lo kan bisa
ngabari gue dan Bik Imah sehari sebelumnya. Jadi gue bisa menunggu kedatangan Lo, Drey ..."
protes Rina sembari menitikkan air mata.
" Sorry Rin, gue sengaja mau ngasi Lo dan Bik Imah surprise. Udah, ngapain juga Lo nangis." sahut Audrey tenang.
" Jahat Lo, ah ... gimana kabar,
Lo, Drey ... Lo baik - baik ajakan ?" tanya Rina khawatir ketika memikirkan Audrey baru saja
kehilangan kedua orang tuanya.
" Ya, gue baik - baik aja.
Sekarang kita sarapan dulu, soalnya gue harus pergi ke perusahaan setelah ini." ucap
Audrey melepaskan pelukannya dari Rina.
" Baiklah ... " sahut Rina.
Audrey menghampiri bik Imah
yang masih setia berdiri menunggunya.
" Apa kabar, bik ... ?" tanya Audrey
lembut.
" Baik, non ... non Audrey bagaimana ?" balas bik Imah bertanya setelah menjawab pertanyaan Audrey.
" Audrey baik - baik aja, bik ... jangan khawatir. Karena Audrey
harus buru - buru pergi ke perusahaan, nanti sore aja sepulang dari sana kita cerita, ya ... bik ." kata Audrey yang mengerti kalau bik Imah ingin
menanyakan kabar tentang
kematian orang tuanya.
" Baiklah, non ... " jawab Bik Imah.
" Rin ... Lo ganti pakaian sana
di kamar gue sekarang juga, karena Lo akan ikut ke perusahaan dengan gue." perintah Audrey.
" Loh, buat apa gue ikut ke perusahaan sama Lo, Drey ... ?"
tanya Rina gak mengerti.
" Mulai hari ini, Lo jadi asisten pribadi gue." jawab Audrey singkat.
" Apa ... ? Gak mungkin, Drey ...
gue gak ngerti apa - apa mengenai perusahaan." ujar Rina
khawatir.
" Lo tenang aja ... untuk hari ini
tugas Lo cuma menemani gue.
Baru setelah itu, sepulang dari
perusahaan, Lo akan gue ajari
semuanya agar Lo mengerti
tugas apa saja yang akan Lo kerjakan." ujar Audrey menenangkan Rina.
" Tapi, Drey ... " Rina berusaha menolak lagi tapi segera di potong oleh Audrey.
" Udah, buruan ... dari pada Lo
cuma di rumah aja." kata Audrey.
" Jualan online gue gimana ?"
tanya Rina pasrah.
" Menurut gue, sementara ini Lo
tutup aja dulu, karena gak ada Rifky yang bantuin Lo. "
" Iya, sih ... eh, tapi Lo belum cerita mengenai adik gue."
" Nanti ... semua gue ceritakan.
Sekarang Lo ganti pakaian dulu."
" Baiklah ... " sahut Rina akhirnya setuju.
" Sarapan dulu, non ... sebelum
berangkat ." ucap Bik Imah.
" Iya, bik ... ini mau sarapan." jawab Audrey sembari mengambil sandwich yang sudah tersedia.
" Non, bibi minta mulai sekarang,
non Audrey lebih berhati - hati."
ujar bik Imah pelan.
" Ya, bik ... saya tahu." sahut Audrey.
Tak lama kemudian, Rina pun turun mengenakan pakaian yang
sama formalnya dengan yang
di pakai Audrey.
" Lo sarapan, gue udah selesai nih ... " kata Audrey.
" Iya ... " sahut Rina sambil menikmati sandwich seperti Audrey dan jus jeruk.
Setelah selesai sarapan, mereka
berdua pamit pada Bik Imah.
" Hati - hari di jalan, non ... " pesan
bik Imah.
" Iya, bik ... " jawab Audrey lalu bergegas masuk ke dalam mobil setelah pintu mobilnya di buka kan oleh bodyguard yang ternyata juga sudah menunggunya di luar.
Perlahan mobil yang membawa Audrey dan Rina berjalan keluar dari halaman mansion.
Lily yang sejak tadi, pura - pura sibuk bekerja tapi sebenarnya
menguping pembicaraan mereka
merasa kesal dan iri melihat Audrey. Kesal, karena ia tidak mendengar pembicaraan penting yang bisa di laporkan nya pada
Reno. Iri, karena melihat kecantikan Audrey dan keberuntungannya sebagai. anak tunggal yang kaya raya.
" Lihat aja, kalau gue dan Reno
sudah berhasil mengambil semua harta Lo. Lo akan gue buat menderita dan gak punya apapun
lagi !" ucap Lily dalam hati.
Setelah itu, Lily pun kembali berbenah lagi. Karena bik Imah
terus melihat ke arahnya.
__ADS_1
**********************************