
" Drey ... Lo kan masih harus terus melakukan terapi, gimana kalau gue aja yang mengelola butik, Tante Elif. Sayangkan udah sekian lama gak ada yang mengawasi." perlahan Bella mulai menjalankan rencananya.
" Tapi Lo, kan harus kuliah Bel ... belum lagi Lo harus kerja di cafe. Gimana Lo bisa membagi waktunya. Lagi pula masih ada asisten mommy yang menjalankannya. " kata Audrey sembari tersenyum kecil.
" Bisa, Drey ... gue yakin bisa bagi waktunya. Kalau perlu gue ambil kuliah malam dan berhenti kerja.
Gue dari dulu suka banget lihat suasana butik mommy Lo. Sebenarnya itu salah satu impian gue, bisa kerja di butik Tante Elif.
Tapi gue segan ngomongnya sama Lo." Bella masih tetap berusaha meyakinkan Audrey.
Rina yang juga ada di situ bersama mereka mengernyitkan dahinya. Entah kenapa ia merasa ada sesuatu yang sedang direncanakan Bella. Kenapa dia mendadak ingin bekerja di butik Audrey. Rasanya ingin sekali Rina melarang Audrey untuk memberi izin pada Bella untuk mengelola butik mommy nya. Tapi ia tidak mungkin melakukan itu di depan Bella. Jadi sekarang Rina hanya bisa berharap Audrey tidak mengizinkan keinginan Bella.
" Hmm ... ntar, ya Bel ... gue pikirkan dulu. Gue harus bicara dengan asisten mommy. Bagaimanapun sejak mommy gak ada, dia yang menjalankannya.
Gue cuma ngecek sesekali." Audrey masih berusaha menimbang permintaan Bella.
" Ah, please, terima gue ya ... ! butik itu kan punya orang tua Lo. Jadi terserah Lo mau ngambil keputusan siapa yang menjalankannya. Dia kan cuma asisten, sedangkan gue sahabat Lo. Kalau gue bisa mengelola butik, itu berarti elo udah meringankan beban gue. Biar gue gak perlu lagi pulang malam - malam karena kerjaan di cafe." Bella masih terus terus memaksa Audrey.
Rina mendengus melihat sikap Bella yang tetap memaksakan keinginannya. Rina bertambah yakin kalau Bella sedang merencanakan sesuatu yang buruk. Kalau gak, kenapa dia harus ngotot seperti itu.
" Hmm ... gini aja, Bel kasi gue waktu buat memikirkan hal ini. Nanti kalau gue udah bisa ngasi keputusan, gue akan beritahu Lo." ucap Audrey.
" Okey ... gue tunggu tapi jangan lama - lama ya, Drey. Biar gue bisa berhenti kerja di cafe secepatnya.
Sumpah, Drey ... gue lelah banget kerja di cafe itu. Belum lagi banyak pria b******k yang datang ke cafe itu. Gue sering di - lecehkan. " Bella sengaja berbohong dan mendramatisir keadaan agar Audrey tersentuh melihatnya, karena ia sangat mengenal sifat Audrey yang gak tega kalau melihat sahabatnya dalam kesusahan. Ia sudah sering memanfaatkan sifatnya itu untuk kepentingan pribadinya. Salah satu nya sekarang ia bisa dengan mudah tinggal di mansion bersama Audrey dan Rina.
" Lo sering di lecehkan Bel ... kenapa Lo gak lapor aja sama bos tempat Lo kerja biar mereka gak berani lagi berbuat hal serendah itu sama Lo." ucap Audrey dengan nada khawatir.
Bella menahan senyum mendengar omongan Audrey. Dugaannya benarkan, Audrey memang terlalu mudah untuk di - bohongi. Modal wajah dan cerita sedih aja dia langsung jatuh Iba.
" Gue udah ngomong sama manajer cafe, Drey ... tapi gue malah di bilang harus bersikap biasa saja, anggap seperti tidak pernah terjadi apapun. Dia bilang apa yang mereka lakukan itu cuma bercanda doang. Manajer gue bahkan mengatakan kalau gue harus diam dan jangan bicara ke orang lain. Dia gak ingin mereka sampai gak mau datang lagi ke cafe gara - gara gue buka mulut dan itu bisa membuat omset cafe jadi turun. Mereka itu pelanggan tetap dan hampir setiap hari datang ke tempat gue bekerja." ujar Bella mulai menampilkan wajah memelas agar lebih bisa meyakinkan Audrey.
" Hmm ... kurang ajar banget manajer Lo, Bel. Ya, udah kalau gitu secepatnya gue akan bicara ke asisten mommy. Lo tunggu kabar dari gue ! " kata Audrey dengan nada kesal sembari berusaha menggeser kursi rodanya. Ia ingin bergerak menuju kamar mandi.
Melihat hal ini, Rina pun bangkit dan berusaha membantu Audrey.
" Lo, mau ke kamar mandi, Drey ... sini biar gue bantuin." ujar Rina.
" Hmm ... gue bisa sendiri, Rin ... cuma p*p*s, doang !" mata Audrey mendadak sendu saat mengatakan ini. Ia benci dengan keadaannya sekarang, meskipun ia sudah berusaha untuk menerimanya. Tapi tetap saja ia merasa tak bisa sama lagi seperti dulu.
Rina membatalkan niatnya. Ia tahu kalau Audrey merasa tersinggung. Padahal tadi karena ia hanya reflek dan perduli untuk membantu Audrey, agar ia tidak kesusahan ketika masuk ke kamar mandi.
Sedangkan Bella menatap dengan mata mencemooh. Ia suka melihat keadaan Audrey yang tidak berdaya seperti itu. Sekarang sosok Audrey yang sempurna sudah hilang. Di - gantikan dengan sosok yang
menyedihkan.
" Ya, udah gue berangkat kerja dulu ya, Drey ... Lo hati - hati, jangan sampai jatuh di kamar mandi. Gue tunggu kabar baik dari lo. Dah ... ! " ujar Bella pada Audrey yang masih berada di dalam sembari mengulum senyum liciknya. Setelah puas bisa mengatakan kalimat sarkas itu, Bella lalu melangkah keluar dari kamar Audrey. Ia tidak perduli dengan tatapan tajam Rina yang sedang melihat ke arahnya.
__ADS_1
Ia hanya ingin semakin menjatuhkan mental Audrey.
Rina mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Ia ingin sekali mengumpat Bella karena telah berani menyakiti Audrey dengan kalimat nya yang memuakkan. Tapi jika ia melakukan itu Audrey pasti akan semakin bersedih. Ia tidak mau Audrey jadi semakin merasa tidak berguna.
Sementara itu Audrey yang mendengar omongan Bella menahan perasaan sedihnya, yang mendadak hadir.Ia tahu kalau Bella tidak punya niat buruk dengan mengatakan hal tadi. Ia hanya menunjukkan perhatian nya saja. Karena itu Audrey mencoba menepis rasa minder nya yang berlebihan dan berusaha untuk tidak tersinggung dengan perkataan Bella.
Tak lama, meski ia kesulitan waktu menggeser kakinya untuk naik kembali ke kursi roda tapi akhirnya Audrey berhasil melakukannya. Walaupun pakaian nya harus basah karena kena sempat terduduk di lantai. Kemudian ia pun membuka pintu kamar mandi dan segera keluar.
" Lo, kenapa basah kaya gini, Drey ... Lo jatuh ? Kenapa elo gak panggil gue aja !" ujar Rina terkejut begitu melihat keadaan Audrey.
" Gue gak papa, Rin ... !" sahut Audrey berusaha tersenyum.
" Drey ... maaf kalau gue harus mengatakan hal ini sama Lo. Tapi ini semua demi kebaikan Lo. Kalau gue bantu Lo, jangan pernah menganggap jika diri Lo itu gak berguna. Itu semua gue lakukan karena gue perduli dan gak mau Lo mengalami hal seperti ini lagi atau amit - amit lebih parah. Misalnya Lo jatuh, luka, dan berdarah. Itu justru akan membuat kaki Lo akan semakin lama buat pulih. Untuk saat ini, gak papa Lo minta bantuan dari gue. Bukan berarti Lo lemah. Justru elo tetap harus berusaha agar bisa kembali tegak dan jalan
sendiri lagi. Gue juga geli kalau terus - terusan nemani Lo ke - kamar mandi dan harus melihat hmm ... hmm, Lo ... hehehe !" Rina sengaja bercanda agar Audrey tidak sakit hati.
Audrey tersenyum kecil mendengar perkataan Rina. Benar, apa yang dikatakan Rina, saat ini ia masih butuh bantuannya dan gak harus minder dengan keadaannya. Ia juga tahu dan sadar kalau Rina tidak pernah berniat untuk merendahkan nya.
Hanya saja ia terlalu keras kepala.
Agar terlihat kuat, ia berusaha menolak bantuan dari Rina dan memaksakan diri nya, supaya ia tidak melihat tatapan iba dari mata mereka. Padahal kondisinya memang butuh bantuan mereka.
" Hei, Lo dengar gak omongan gue , Drey ... jangan cuma senyum - senyum doang !" ujar Rina.
" Hee ... iya, gue dengar ! Terima kasih karena udah mengerti dan sabar menghadapi sikap gue. Lain kali gue gak akan menolak bantuan dari Lo ! Udah puas sekarang !" jawab Audrey seraya mengembangkan senyum lebar di bibirnya.
" Dasar bawel, pantes aja Rifky lebih milih tinggal di L*n**n di bandingkan pulang kesini ! Pasti karena dia males ketemu mbak nya yang cerewet !" ejek Audrey sembari tertawa.
" Hah, apa ... Lo bilang apa ! Ayo katakan lagi ! " ujar Rina pura - pura marah sembari menggelitik badan Audrey.
Audrey semakin tertawa karena kegelian. Wajahnya memerah.
" Stop, Rin .... udah, gak kuat gue !" ucap Audrey berusaha menarik tangan Rina.
" Okey, gue lepas karena gue kasihan lihat muka Lo yang udah kaya kepiting rebus ! Tapi kalau Lo masih berani mengejek gue lagi, jangan harap gue lepasin lo !" ujar Rina dengan mata melotot seakan - akan dia beneran marah sama Audrey.
" Hehehe .... Okey, gak lagi ! Gue gak akan mengejek elo lagi. " sahut Audrey tertawa dengan nafas tersengal.
" Bagus ! " Rina lalu menarik tangannya dari badan Audrey.
" Rin, gimana menurut Lo, apa besok kita harus pergi ke - perusahaan. Udah cukup lama juga gue istirahat !" kata Audrey seraya menatap Rina.
" Hmm ... kalau menurut gue, apa gak sebaiknya Lo serahin aja tugas itu sementara ke asisten Daddy Lo. Lagian Lo bilangkan perusahaan itu terlalu banyak masalah. Selama kita di - perusahaan, kita juga hanya sekedar melihat laporan, meeting, jumpa klien. Jadi biar Lo bisa fokus buat penyembuhan kaki Lo, Drey ... !" ujar Rina mengemukakan pendapatnya.
" Hmm ... kayanya omongan Lo ada benarnya juga, Rin ... mendingan gue fokus buat terapi aja. Mudah - mudahan kaki gue bisa segera di gerakkan." sahut Audrey menyetujui perkataan Rina. Karena walaupun dia tetap kekeh mencoba mempertahankan perusahaan itu, tetap saja perusahaannya akan bangkrut.
Begitu banyak orang yang tidak jujur dan serakah yang ada disana. Sejak Daddy nya meninggal semua mulai berani menunjukkan sifat asli mereka.
__ADS_1
Walaupun mereka tetap tidak berani bersikap seenaknya pada Audrey, tapi di belakang nya mereka sudah berencana mencopot jabatannya dan menggantikan dengan orang baru.
Audrey sudah mencoba menyelidiki, tapi ia belum tahu siapa orang yang di calonkan oleh mereka.
" Aamiin ... mudah - mudahan ya Drey ! Yang penting Lo jangan pernah menyerah. Gue yakin Lo pasti bisa !" ujar Rina memberi semangat pada Audrey.
" Aamiin ... makasih Rin ! Udah sabar menghadapi sikap gue belakangan ini. " ucap Audrey lembut.
" Okey ... gue ngerti kog, alasan sikap Lo berubah menyebalkan tapi itu wajar. Mungkin gue akan melakukan hal yang sama jika itu terjadi dengan gue. " ujar Rina tersenyum.
" Thanks, Rin ... !" ucap Audrey lagi, ia kemudian menggeser kursi rodanya.
" Udah ... ngapain ngucapin terima kasih terus. Gue gak mau lagi ya dengar Lo ngucapin kata - kata itu terus. Biasa aja, lagipula apa yang gue lakukan gak sebanding dengan apa yang telah Lo lakukan pada gue dan Rifky." ujar Rina sembari membantu Audrey naik ke atas tempat tidur.
" Hmm ... baiklah. Tapi terima kasih sekali lagi, ya Rin ....!" ucap Audrey sengaja.
" Lo, ya ... mau gue gelitikin lagi sampai pingsan !" ujar Rina dengan mata mendelik.
" Hehehe ... jangan ! " sahut Audrey dengan mengibaskan tangannya mencoba menjauhkan tangan Rina yang sudah mendekat ke pinggang Audrey.
" Hehehe ... gue cuma bercanda, Drey ... ! ujar Rina sembari menoleh pada Audrey yang merebahkan diri di sampingnya dengan mata terpejam.
" Iya, gue tahu, kog !" sahut Audrey pelan.
" Hmm ... Drey, teringat gue elo beneran serius mau membiarkan Bella mengelola butik mommy Lo ... !" tanya Rina karena ia teringat kembali akan permintaan Bella.
" Belum tahu, Rin ... masih gue pikirkan. Besok selesai gue terapi, temani gue ke butik, ya ... gue mau membicarakan ini dulu sama asisten mommy." Jawab Audrey masih tetap memejamkan matanya.
" Kalau gue melarang Lo buat tidak mengizinkan Bella mengelola butik itu, apa Lo setuju ?" Rina yang sudah berusaha menahan sejak tadi akhirnya mengatakan nya juga.
" Hmm ... bukan gue gak mau mendengar omongan Lo, Rin ... tapi gue kasihan lihat Bella. Dia itu meskipun masih punya orang tua tapi semua biaya hidup dan kuliah nya, dia yang menanggungnya sendiri. Orang tuanya gak perduli sama sekali. Makanya setelah gue tahu kalau dia udah gak sanggup bayar apartment, gue langsung mengajak dia tinggal bareng sama kita di mansion." ucap Audrey panjang berusaha membuat Rina mengerti alasannya.
" Hmm ... ya, udah kalau Lo ngomong kaya gini gue udah gak bisa ikut campur lagi. Tapi gue tetap mengingatkan Lo untuk berhati - hati dengan Bella dan Lily. Gue gak mau Lo di apa - apain sama mereka !" ujar Rina pasrah.
" Ya, tapi kalau pun mereka memang punya niat gak baik seperti dugaan lo, kan masih ada elo yang melindungi gue. Jadi, tetaplah di sisi gue, jangan pernah tinggalkan gue ! Okey ....!" kali ini Audrey menoleh pada Rina dan membuka matanya seraya tersenyum tipis.
" Hmm ... baiklah !" sahut Rina merasa terharu sembari menganggukkan kepalanya.
" Udah, malam ... kita tidur sekarang, ya Rin ... badan gue lelah banget." ucap Audrey kembali memejamkan mata.
" Ya, tidurlah, biar badan Lo besok jauh lebih fit saat melakukan terapi ! " sahut Rina ikut memejamkan matanya.
Audrey hanya mengangguk tanpa bersuara dan tidak begitu lama, ia pun tertidur.
Rina kembali membuka mata ketika gak mendengar suara Audrey dan ia tersenyum tipis saat melihat Audrey sudah tertidur. Rina pun mulai memejamkan matanya, dan berdoa semoga Allah selalu melindungi dan menjaga orang setulus dan baik seperti Audrey.
**********************************
__ADS_1