Cinta Dan Dendam Audrey

Cinta Dan Dendam Audrey
Episode 96


__ADS_3

Bik Imah baru ketahuan sudah tidak bernyawa lagi setelah keesokkan harinya, saat asisten masuk ke kamarnya. Bik Imah tertidur dalam posisi duduk di kursi rodanya.


Asistennya menyesali kenapa dia semalam tidak memeriksa lagi keadaan baik Imah. Meskipun kursi rodanya sudah dilengkapi dengan peralatan yang canggih agar bik Imah bisa naik sendiri ke tempat tidur tapi tetap saja ia harusnya membantu.


Ia terlalu lelah akibat pekerjaannya, sehingga memutuskan untuk tidur dan tidak sempat melihat bik Imah di - kamarnya lagi seperti yang biasa ia lakukan.


Ia langsung menjerit dengan keras ketika tidak dapat mendengar lagi detak jantung bik Imah, sehingga membuat Lily, Bella dan beberapa pelayan berlari menghampirinya ke kamar bik Imah.


" Ada apa ini ? Kenapa sepagi ini mbak sudah buat keributan !" ujar Bella dengan suara keberatan seraya menenangkan jantungnya yang berdetak kencang karena menutupi ketakutannya.


Sementara wajah Lily terlihat datar saja. Tidak ada ketakutan sama sekali terlihat di wajahnya. Ia seakan menganggap hal itu adalah hal yang biasa terjadi.


" Maaf, non Bella ... sepertinya Bu Imah sudah meninggal." ujarnya mulai terisak.


" Apa ? Mbak jangan bercanda !" ujar Bella pura - pura terkejut lalu mendekati bik Imah.


Begitu juga dengan semua pelayan, termasuk mbak Nana asisten bik Imah yang sekarang sudah dekat dengan Lily.


Tangannya sedikit gemetar saat menyentuh denyut nadi bik Imah. Ia benar - benar ketakutan harus menyentuh badan bik Imah yang sudah menjadi dingin.


" Be ... benar denyut nadinya susah tidak ada lagi ! Bagaimana ini ?" ujar Bella terbata karena gugup.


" Hmm ... sebaiknya kita panggil dokter untuk memastikannya." kali ini Lily ikut bersuara.


" Ya, kamu benar ... mbak Nana, sekarang tolong hubungi dokter biar kita bisa memastikan keadaan baik Imah." ujar Bella.


" Baik, non ... !" Nana buru - buru keluar dari kamar bik Imah dan segera menghubungi dokter dari telepon yang ada di mansion.


Setelah ia selesai menghubungi dokter, Nana pun kembali ke kamar bik Imah.


" Bagaimana, mbak ... dokternya sudah dihubungi ?" tanya Bella.


" Sudah nona ! Sebentar lagi dokter akan datang." jawab mbak Nana.


"Apa bu Imah beneran m*** ! Tapi kemarin saya lihat beliau masih baik - baik saja ! " ujar salah satu pelayan baru.


" Iya, mbak ... kemarin siang saya juga lihat waktu mbak, mengantarkan bu Imah ke lantai atas. Tapi sayangnya saya tidak lihat saat Bu Imah turun nya." sahut pelayan satunya menimpali perkataan temannya.


Bella gemetaran mendengar ini. Ia sangat takut kalau mereka sampai melihat kalau ia dan Lily yang telah membawa bik Imah turun ke lantai bawah.


Lily yang tahu kalau Bella ketakutan segera menggenggam tangan Bella agar dia bisa lebih tenang. Lily gak ingin karena kebodohan Bella membuat ulah mereka jadi ketahuan.


Bella terkejut saat tangannya di genggam oleh Lily. Tapi ia lumayan jadi sedikit lebih tenang karena hal itu.

__ADS_1


Perlahan detak jantungnya mulai kembali berdetak dengan normal.


Tidak lama dokter yang mereka tunggu pun datang dan masuk ke kamar bik Imah.


Dokter itu segera memeriksa detak jantung bik Imah menggunakan stetoskop. Ia juga meraih tangan bik Imah dan memeriksa denyut nadinya. Ia menghela nafas berat setelah ia memastikan bahwa bik Imah sudah meninggal.


" Maaf, bik Imah nya sudah meninggal. " ucap dokter itu.


" Tapi dokter ... kemarin beliau masih baik - baik saja. Apa karena jantung beliau ?" tanya asisten setia bik Imah.


" Ya, kemungkinan seperti itu terjadinya. Apalagi bik Imah kan baru saja keluar dari rumah sakit. Kondisinya belum terlalu membaik." ujar dokter.


" Jadi, apa kita tidak perlu memeriksa lebih lanjut di rumah sakit dokter. Siapa tahu ada penyebab lainnya !" ujar asisten bik Imah.


Bella kembali berdebar saat mendengarkan hal ini. Ia khawatir dokter menyetujui akan hal itu.


" Hmm ... saya rasa tidak perlu karena saya yakin ini disebabkan karena jantung beliau." sahut dokter.


Bella pun bisa menarik nafas dengan lega setelah mendengar jawaban dari dokter.


Sedangkan Lily hanya tersenyum sinis. Ia tidak khawatir sama sekali akan ketahuan. Karena cairan yang di berikannha tidak akan menimbulkan jejak apapun jika sampai harus di periksa.


" Oh, baiklah kalau begitu dokter.


" Ini sudah jadi kewajiban saya sebagai dokter. Kalau begitu saya permisi. Saya harus kembali ke rumah sakit sekarang. Tolong urus pemakaman beliau dengan baik, karena nona Audrey dan keluarganya pasti menginginkan yang terbaik buat beliau. " ujar dokter itu sebelum pergi meninggalkan kamar bik Imah.


" Baik dokter ! " ujar Bella singkat.


Kini rasa khawatirnya benar - benar sudah hilang. Ternyata Lily sangat hebat. Kejahatan mereka bahkan tidak diketahui oleh dokter pribadi buat mansion ini.


" Mbak ... tolong persiapkan semuanya buat pemakaman bik Imah. Saya tidak tahu apa dan siapa yang harus di panggil buat mengerjakan hal ini !" ujar Bella.


" Baik, non ... apa nona Audrey sebaiknya kita beritahu ?" tanya asisten bik Imah dengan wajah datar.


" Hmm ... terserah saja ! Audrey tidak mungkin bisa datang. Dia baru minggu depan kembali


ke mansion." sahut Bella cuek seraya keluar dari dalam kamar.


Ia tidak ingin berlama - lama dalam satu ruangan yang sama dengan bik Imah.


Sementara Lily terpaksa membantu mengangkat tubuh bik Imah bersama pelayan lainnya dan meletakkannya di atas tempat tidur.


Sementara itu di rumah sakit tempat Audrey di rawat, Reno kembali datang mengunjungi Audrey. Ia tidak ingin kehilangan kesempatan dalam mendekati nya.

__ADS_1


" Hai, Drey ... Rin ! Gimana keadaan kamu, udah lebih baikan ?" tanya Reno begitu berada di dekat Audrey seraya menaruh bingkisan yang ia bawa di atas meja.


Rina hanya bisa mendengus melihat kehadiran Reno. Ia benar - benar tidak suka melihatnya.


" Alhamdulillah, sudah jauh lebih baik Ren ... ! Terima kasih kamu sudah datang menjengukku lagi." ucap Audrey sembari tersenyum. tipis.


Ya, kini ia sudah berusaha untuk mencoba lebih ikhlas dan menerima takdirnya. Setelah Rina, Zia dan Dea terus memberinya semangat untuk lebih kuat menjalani hal ini. Ditambah lagi dengan perkataan Reno kemarin. Ia jadi sadar masih banyak orang yang sayang dan mengkhawatirkan dirinya.


" Gak perlu terima kasih, Drey ... ! Aku malah sangat senang melakukannya. Kalau gak kaya gini kita bakalan sulit ketemunya. Udah berulang kali janjian buat jumpa tapi ada aja yang menghalangi. Entah itu pekerjaan kamu atau pun kesibukan ku." ujar Reno dengan sangat licik memanfaatkan situasi ini.


" Hmm ... ya. Tapi tetap aku harus mengucapkan terima kasih karena dari semua kesibukan yang ada kamu malah tetap menyempatkan waktumu buat melihat aku !" ucap Audrey dengan nada lembut.


" Okey, baiklah ! Aku terima ucapan terima kasihnya ... hehehe." sahut Reno seraya tertawa kecil.


" Gimana, kamu jadikan melakukan terapi, Drey ... ?" tanya Reno perhatian.


" Jadi, Ren ... setelah semua lukaku sembuh aku akan melakukan terapi." ucap Audrey.


" Oh, baguslah kalau begitu ! Kamu harus tetap semangat, ya ...?" ujar Reno dengan senyum liciknya padahal ia sudah merencanakan hal lain dengan Lily mengenai Audrey.


" Ya ... tentu saja aku harus semangat. Aku bersyukur karena telah di berikan oleh teman - teman yang baik seperti kalian. " ucap Audrey dengan tulus.


" Kamu kenapa diam aja, Rin ... ? Gak senang ya, aku datang kesini !" tanya Reno seakan - akan tidak mengetahui kalau Rina tidak menyukainya. Padahal Lily sudah mengatakan pada Reno kalau Rina mencurigai mereka.


" Hah ... bukan ! Bukan karena itu, Reno. Aku hanya senang melihat keadaan Audrey yang sekarang sudah lebih baik." jawab Rina berusaha menutupi perasaan terkejutnya.


Ia gak menyangka kalau Reno menanyakan hal itu padanya.


" Oh, ya ... kamu benar, Rin ! Aku juga merasakan hal yang sama.


Terima kasih karena kamu sudah telaten dan tetap setia merawat Audrey." ujar Reno.


" Kamu gak perlu berterima kasih padaku. Ini sudah jadi tanggung jawab buatku. Audrey bukan hanya sahabat tapi sudah aku anggap sebagai adikku. Aku tulus menyayanginya. Tidak seperti orang lain yang hanya bersandiwara ! " kata Rina sengaja menyindir Reno.


Audrey tersenyum dan merasa bahagia mendengar omongan Rina. Ia harus semangat buat sembuh selain untuk dirinya sendiri juga demi sahabat - sahabatnya.


Reno menarik sudut bibirnya begitu mendengar perkataan Rina yang terdengar menyindir dirinya.


" B******k ... ! Dia berani menyindir gue. Lihat saja sebentar lagi Lo akan keluar dari mansion itu ! " umpat Reno kesal dalam hati.


Rina pura - pura tidak melihat wajah Reno yang langsung berubah ketika dia mengatakan kalimat tadi.


**********************************

__ADS_1


__ADS_2