
" Baru pulang dari perusahaan, non ? " tanya bik Imah pada Audrey yang baru saja tiba
di mansion.
" Gak bik ... tadi pergi ke mall sebentar setelah keluar dari
perusahaan." ucap Audrey.
" Mau langsung makan malam
sekarang non ... ? ".
" Bentar lagi aja bik ... mau mandi dulu. " ujar Audrey.
" Iya nih bik ... gerah banget. " ucap Rina menimpali.
" Baik ... " ujar bik Imah sopan.
Audrey dan Rina pun berjalan masuk ke dalam lift.
" Rin ... mulai besok kita latihan bela dirinya sore sepulang dari
perusahaan. Lo harus tetap latihan agar bisa menjaga diri." ucap Audrey.
" Drey, bisa gak latihannya jangan tiap hari. Badan gue gak sanggup harus di banting - banting tiap hari. Gue gak kaya Lo dan Rifky."
pinta Rina dengan wajah memelas.
" Hehehe ... Okey, deh. " sahut Audrey tertawa.
" Gue kirain udah gak harus latihan lagi karena Rifky gak ada.
Gak tahunya masih ... !" keluh Rina.
" Iyalah, bukan cuma Rifky aja yang harus bisa, elo dan gue juga.
Sekarang gak ada pria bersama kita. Jadi kita berdua harus bisa
menjaga diri sendiri. " ujar Audrey.
" Iya, deh ... !" sahut Rina.
" Udah, gue mandi dulu. Lo bisa pelajari berkas yang tadi kita bawa. " ucap Audrey sembari berjalan ke kamar mandi.
" Siap Bu Boss .... ! " ujar Rina bercanda.
Audrey cuma menggelengkan kepalanya melihat tingkah Rina.
Selagi Audrey mandi, Rina membaca berkas - berkas yang mereka bawa dari perusahaan.
Meski ia cuma tamatan SMA, tapi
Rina adalah murid yang pintar semasa di sekolah. Jadi hanya dengan mempelajari sebentar saja tadi di perusahaan bersama
Vina, sekretaris Daddy nya Audrey,
Rina sudah mengerti apa saja yang harus di kerjakan.
Rina membaca satu demi satu berkas tersebut dengan teliti. Tapi seperti Audrey, ia juga tidak menemukan kesalahan ataupun kecurangan yang ada di bagian
keuangan ataupun yang lain.
" Lo gak menemukan kesalahan
kan, Rin ... rapi banget. " ujar Audrey yang baru selesai mandi.
" Iya, Drey ... jika memang ada kecurangan. Mereka benar - benar profesional. " jawab Rina sembari menganggukkan kepalanya.
" Gue curiga, ini bukan berkas yang asli. " ucap Audrey.
" Maksud Lo, mereka berikan berkas palsu buat Lo ? " tanya Rina gak percaya.
" Iya, gue yakin. Tapi gue gak tahu harus minta tolong sama siapa
di perusahaan untuk mencarikan
berkas aslinya. Kalaupun gue mengecek langsung ke komputer atau laptop mereka pasti filenya sudah di hapus. Biar gak ada bukti. " ujar Audrey panjang.
" Iya juga sih ... pasti begitu mereka tahu kamu ingin melihat semua berkas, mereka akan segera menghilangkannya. " ucap Rina mendukung Audrey.
" Hmm ... udah, tenang aja. Nanti biar gue pikirkan caranya. Sekarang Lo mandi, sana ... !" ujar Audrey.
" Okey, gue mandi dulu, ya ... " kata Rina berjalan menuju kamar mandi Audrey.
Begitu Rina masuk kedalam kamar mandi, Audrey menuju ruang ganti. Ia lalu memakai
pakaian yang nyaman untuk tidur.
Audrey juga menyediakan buat Rina.
Audrey menunggu Rina sambil melihat - lihat album fotonya.
Matanya berkaca - kaca saat melihat foto Daddy dan mommy nya. Ia benar - benar gak bisa percaya bahwa mereka sudah gak ada. Audrey masih berharap mimpinya itu jadi kenyataan.
__ADS_1
Orang tuanya masih hidup, meski sekarang entah berada di mana.
Saat Audrey ingin menghubungi
Kevin, ia baru ingat kalau Kevin melarangnya menghubungi kakaknya lebih dahulu. Tapi ia sangat ingin tahu mengenai perkembangan pencarian kedua orang tuanya.
Tadi ketika Audrey dan Rina pergi
ke mall, ia membeli dua buah ponsel baru. Karena ponselnya yang lama tidak boleh di gunakan
lagi, karena disitu ada nomer Kevin, kakaknya. Tapi ia sudah mengirim nomer barunya pada
Drake agar mudah menghubunginya. Meski ia menyimpan nama Drake dengan nama samaran seorang wanita.
Sedangkan ponsel yang satu lagi, ia simpan di tempat yang aman
di dalam ruangan tersembunyi
di kamarnya.
Ia masih ingat semua yang
di katakan Daddy nya bahwa
di apartment nya, Daddy meletakkan sebuah ponsel yang sudah berisi nomer - nomer yang bisa ia hubungi jika terjadi sesuatu pada dirinya nanti.
Audrey menutup album fotonya, setelah puas melihat wajah kedua orang tuanya.
Rina keluar dari kamar mandi setelah selesai membersihkan dirinya.
" Lo, nanti tidur disini bareng gue, Rin ... ngapain elo tidur di kamar tamu sendirian. " ujar Audrey.
" Ya, gak mungkinlah gue tidur
di kamar Lo sedangkan lo gak
ada di mansion. Lagi pula gue sering di temani bik Imah, sejak ada penyusup yang masuk kesini.
Jadi gue gak tidur sendirian, Drey ... !" ucap Rina.
" Oh, ya udah buruan pakaian biar kita turun makan malam. " suruh
Audrey.
Rina menganggukkan kepalanya sembari mengambil baju tidur yang disediakan Audrey.
" Rin ... ntar baju - baju elo bawa aja ke kamar ini sebagian. Terus kamar itu elo kunci agar gak ada yang bisa masuk sembarangan kalau kita lagi gak ada. " ujar Audrey.
gue kerjakan. " jawab Rina.
" Ya, udah ... turun yuk. " ajak Audrey setelah melihat Rina selesai berpakaian.
" Yuk ... udah lapar memang gue ... hehehe. " ucap Rina sembari memegang perutnya yang berbunyi.
Mereka pun turun kembali
ke lantai bawah dan berjalan menuju meja makan. Disana sudah berdiri bik Imah yang sedang menunggu mereka.
" Bik Imah memang the best ...
tahu aja kalau kita udah kelaparan. " ucap Rina tersenyum.
" Makasih non ... " jawab Bik Imah
sopan.
" Bik ... duduk aja, sekalian makan bareng dengan kami. " ajak Audrey.
" Tapi non ... " belum selesai bik Imah menyelesaikan perkataannya sudah di potong
oleh Rina.
" Udah bu , jangan menolak. Biasanya kita berdua juga makan
bareng. Lebih enak kalau makan rame - rame. " ujar Rina tersenyum
ke arah bik Imah.
" Iya bik, ... ayo, dong. Masa sama Rina mau makan berdua sedangkan dengan saya gak gak mau. " Audrey pura - pura memasang wajah cemberut.
" Bukan gitu, non ... kesannya gak sopan banget kalau saya duduk
di meja yang sama dengan non Audrey. Nona Audrey itu anak majikan tempat saya bekerja. " jawab Bik Imah memberi alasan.
" Apaan sih, bik ... gak ada alasan kaya gitu. Bibi itu udah saya anggap sebagai ibu kedua buat saya selama ini. Jadi gak ada istilah majikan sama pelayan.
Lagi pula mommy dan Daddy juga pasti senang kalau bisa melihatnya, karena ada bibi
yang selalu setia menemani saya
di mansion ini. Jadi, sekarang
duduk bik ... kalau gak Audrey
__ADS_1
marah nih ....!" ujar Audrey.
" Iya, bu Imah ... anggap saja kami berdua ini anak ibu. Ibu kan udah janji sama Rina, kalau saya boleh
menganggap Ibu sebagai pengganti Ibu saya yang sudah
meninggal. " ujar Rina.
" Bik ... kalau bibi gak mau, Audrey gak jadi makan, nih ... !" ancam
Audrey.
" Ya, baiklah non ... " bik Imah kemudian menarik kursi dan duduk di depan Audrey.
" Nah, gitu dong bik ... " ujar Audrey tersenyum lebar.
Bik Imah membalas senyuman
Audrey dengan wajah bahagia.
Sebenarnya ia juga merindukan suasana seperti ini. Dulu saat
Audrey masih kecil dan setiap hari bersamanya, mereka sering makan berdua meski terkadang
makan di kamar. Tapi sejak Audrey bertambah dewasa, bik Imah sadar diri dengan kedudukannya yang hanya pelayan. Meski Audrey tak pernah menganggapnya begitu. Tapi bik Imah yang merasa gak enak dan gak pantas.
Lily yang melihat kedekatan mereka bertiga mendengus dengan sangat kesal.
" Cih, sok kebaikan banget !
Kenapa si tua bangka ini lama banget m*** nya. Apa obat yang gue kasi gak bereaksi sama sekali di jantung nya ? " ujar Lily kesal.
Baru saja Lily menyelesaikan perkataannya, bik Imah mendadak merasa sesak di dadanya.
Wajah bik Imah memucat menahan kesakitan. Ia berusaha agar Audrey dan Rina tidak
mengetahui perubahan yang terjadi padanya. Ia tetap meneruskan makan hingga mereka selesai.
" Bik ... kami naik ya. Bibi juga istirahat. " ujar Audrey setelah selesai makan.
" Baik non ... selamat istirahat. "
jawab Bik Imah menekan tangannya dengan kuat agar bisa menahan kesakitan di dadanya.
" Selamat malam bik ... !" ujar Audrey dan Rina kemudian berjalan menuju lift.
Setelah melihat Audrey dan Rina sudah masuk ke dalam lift, bik Imah menyuruh beberapa pelayan untuk membereskan meja makan.
Ia kemudian bergegas jalan menuju kamar tidurnya. Begitu tiba di kamar, bik Imah segera meraih obat yang biasa
di konsumsinya jika jantungnya
terasa sakit.
Ya, selama beberapa tahun ini,
bik Imah merahasiakan penyakitnya dari Audrey. Ia mengidap penyakit jantung. Bahkan ia sudah di operasi dan memakai ring di jantungnya.
Meski Tuan Eldric dan Nyonya Elif sudah menyuruhnya untuk istirahat dan berhenti sebagai pelayan, tapi bik Imah tetap ingin bekerja. Ia meminta mereka merahasiakan penyakit nya dari
Audrey.
Selesai meminum obat yang biasa
ia konsumsi, bukan sakitnya
hilang malah jantungnya terasa semakin sakit. Mendadak ia merasa curiga dengan obat tersebut.
Bik Imah melihat obat yang ia minum. Tapi tidak ada yang mencurigakan. Obatnya masih sama seperti yang biasa ia minum .
" Mungkin ini hanya pikiranku saja.
Gak mungkin ada yang berani masuk ke kamar ini tanpa izin
dariku. Lagi pula aku selalu
mengunci pintu kamar jika sedang berada di luar. Lebih baik, aku istirahat. Mungkin karena kelelahan makanya jantungku
mendadak sakit." ujar bik Imah.
**********************************
Selamat membaca .... 😘😘
Jangan lupa like, koment positif,
favorit ❤️
Buat yang sudah mendukung Mommy ... Terima kasih 🙏🙏😘
Jangan berhenti memberi dukungannya, ya ... 😍😍😍
Love You All ❤️❤️❤️
__ADS_1