
" Sekarang kamu ceritakan selengkapnya, non Audrey ikut mendengarkan ." ujar Rina.
" Baik, saya Lily non ... Tadi pagi setelah non Audrey dan non Rina pergi, Bu Imah kembali masuk ke kamar, tapi ditunggu sampai jam segini, belum juga keluar. Makanya asisten Bu Imah langsung pergi melihat ke kamar tapi ditunggu sampai jam segini, belum juga keluar. Makanya asisten Bu Imah langsung pergi melihat ke kamar beliau. Tapi udah dicoba dibangunkan, tetap aja gak bisa.
Jadi tadi, langsung menghubungi
dokter. Baru kemudian dokter menyarankan untuk dibawa kerumah sakit." ujar Lily dengan
senyum terkembang di wajahnya.
"Siapa yang menemaninya
di rumah sakit !" timpal Audrey dengan cemas.
Rina kemudian memberikan ponselnya pada Audrey. Agar Audrey bisa mendengar dengan lebih jelas.
" Asistennya Bu Imah, nona Audrey. " ucap Lily.
" Hmm ... ya, baiklah. " ujar Audrey.
"Oya, nona Audrey, maaf kalau saya lancang. Saya juga mau melaporkan, sebelumya ada peristiwa aneh yang menimpa
semua pelayan di mansion." ujar Lily dengan sengaja.
" Apa maksud kamu ?" tanya Audrey dengan suara keras.
" Maaf, nona Audrey ... kalau bisa sebaiknya nona segera pulang ke mansion. Saya takut akan terjadi hal yang lebih buruk disini." ucap Lily sembari menahan tawanya yang hampir saja keluar karena mendengar suara Audrey yang terdengar kaget.
" Apa yang terjadi di mansion ?
Jangan bilang ada penyusup yang berhasil masuk kembali !". ujar Audrey mulai mengerutkan dahinya.
" Benar nona Audrey ... kami memang tidak ada melihat ada orang asing yang masuk
ke mansion. Tapi tadi kami semua mengalami hal yang menakutkan.
Mendadak semua pelayan tertidur
secara massal dan baru terbangun setelah beberapa waktu. " ujar Lily dengan seringai lebar di wajahnya.
" Hmm ... sudah diperiksa sama
petugas keamanan ?" tanya Audrey.
" Sudah nona, tapi tidak menemukan apapun. " ujar Lily.
" Hmm ... baiklah. Saya tutup telefonnya. " Audrey kemudian memutuskan sambungan teleponnya tanpa menunggu jawaban dari Lily.
Sementara Lily langsung merasa
kesal karena yang dilakukan Audrey padanya. Kesannya Audrey tidak terlalu perduli pada masalah yang ia ceritakan dan tidak menganggap Lily sama sekali.
Karena marah Lily kembali masuk
ke kamarnya dan merebahkan diri sejenak dan memikirkan hal apa yang harus ia lakukan lagi supaya Audrey marah besar dan akhirnya melakukan kesalahan yang fatal dan akan merugikan dirinya sendiri.
Lily ingin membuat Audrey, akhirnya tidak memiliki lagi seseorang yang bisa ia percayai dan dekat dengannya. Hingga Lily dan Reno bisa memulai aksinya segera.
Tiba - tiba terlintas ide bagus
di kepalanya. Lily tersenyum licik dan segera bangkit dari tempat tidur dan berjalan keluar.
Semua pelayan masih pada heboh membahas tentang kejadian yang mereka alami. Jadi tidak terlalu memperhatikan Lily yang berjalan menjauh dari mereka.
__ADS_1
" Kita ke rumah sakit sekarang, Rin ... !" ujar Audrey.
" Okey, kasihan Bu Imah ... ! Terus masalah yang terjadi di mansion bagaimana ? Apa gak sebaiknya lapor polisi. Bukankah ini udah sangat berbahaya. Kalau dibiarkan bisa bertambah parah."
ujar Rina.
" Hmm ... nanti kita bicarakan lagi
di mansion. Udah, buruan ... gue gak mau terjadi apa - apa sama bik Imah. Itu yang paling penting sekarang !". ujar Audrey bergegas keluar dari ruangannya.
" Tunggu gue dong, Drey ... !" Rina kemudian menyusul langkah Audrey yang panjang.
Vina, sekretarisnya yang melihat Audrey dan Rina keluar dan meninggalkan ruangan secara tergesa - gesa merasa heran.
Tidak biasanya Audrey pergi tanpa meninggalkan pesan buatnya.
Hal ini membuatnya berpikir pasti telah terjadi sesuatu yang buruk. Kalau tidak, mana mungkin Audrey wajahnya terlihat cemas seperti itu.
Vina merasa kasihan pada Audrey yang harus menanggung beban
dan masalah begitu memegang perusahaan. Harusnya ia bisa bersenang - senang setahun ini, dengan menikmati liburan dan seperti rencana awalnya ketika Tuan Eldric masih ada, sebelum ia harus serius menjalankan perusahaan. Karena itu perjanjian yang Audrey buat dengan Daddynya.
Sementara itu Zia, Dea dan Bella mobilnya sudah meluncur menuju mansion Audrey. Sebelum pergi
ke sini, Bella terlebih dulu mengirim pesan pada Reno. Agar ia juga bisa tiba bersamaan dengan mereka di mansion Audrey.
" Bella ... Lo kenapa. Gue lihat elo kaya punya masalah !" ujar Dea sembari melirik Bella.
" Huff ... gak ada De. Tapi gue merasa udah mulai gak sanggup untuk tinggal di apartment. Gue sekarang hanya kerja disatu tempat aja. Karena tempat kerja gue yang lain memperkerjakan
saudaranya. Jadi terpaksa gue harus berhenti. Gue udah mulai gak bisa memenuhi kebutuhan harian gue sejak berhenti kerja. Gue merasa gak enak aja kalau harus merepotkan Audrey terus untuk membantu gue bayar apartment. Tapi malah kejadian kaya gini." ujar Bella menghela nafas berat.
Sebenarnya ia sengaja melakukan
Audrey yang sok baik inilah yang membuat salah satu alasan Bella membencinya, selain hal lainnya.
Meskipun perkataannya tadi tidak sepenuhnya dusta, karena sejak Reno sudah tidak begitu perhatian padanya dan ia tidak berhubungan lagi dengan selingkuhannya, karena ketahuan sama tunangan pria itu. Bella sudah tidak memiliki pemasukan yang besar lagi. Sehingga ia sudah tidak bisa lagi shopping sesuka hatinya seperti dulu.
Jadi sekarang ia harus mulai memanfaatkan kebaikan Audrey dan hal ini juga bisa mempermudah rencananya dan Reno.
Ia ingin Reno segera merampas semua kekayaan Audrey dan menikahinya. Jadi ia tidak perlu lagi bersusah payah memikirkan kesulitan dalam mencari materi untuknya.
Meskipun Bella tahu kalau ia bukan wanita satu - satunya buat Reno. Tapi ia berusaha tidak terlalu memikirkannya. Ia yakin bisa menyingkirkan Lily pada saatnya nanti dan hanya tinggal ia satu - satunya yang akan bersama Reno. Kemudian menikmati keberhasilan mereka.
" Hmm ... ya udah, nanti kita bahas masalah elo, begitu sampai di mansion
Audrey. Sekarang yang paling penting kita ketemu dulu dengan Audrey. " ujar Dea berusaha mempercayai perkataan Bella.
Karena sejujurnya sejak beberapa tahun belakangan ini, Dea merasa ada yang sedang disembunyikan oleh Bella pada mereka bertiga.
Bahkan pernah beberapa kali, Dea melihat Bella menatap Audrey dengan tatapan yang sulit ia artikan. Makanya Dea sering mencuri pandang pada Bella tanpa sepengetahuannya.
Bella hanya mengangguk begitu mendengar jawaban dari Dea.
Ia tidak berusaha lebih dalam lagi meneruskan ceritanya. Karena ia juga sadar kalau diantara ketiga
temannya, Dea yang paling terlihat paling pendiam dan tidak banyak berkomentar. Tapi sekalinya ia memberi komentar akan terdengar pedas ditelinga yang mendengarnya.
Kalau Zia, ia bisa dengan mudah menanganinya karena orangnya lebih terbuka. Kalau suka ataupun tidak suka, Zia langsung memperlihatkannya seperti tadi.
Akhirnya sisa perjalanan mereka menuju mansion Audrey dilanjutkan tanpa adanya obrolan
diantara mereka.
__ADS_1
Sedangkan Audrey dan Rina yang baru saja keluar dari rumah sakit dan setelah mengetahui kondisi
bik Imah, kini meluncur pulang
menuju mansion.
Audrey benar - benar tidak percaya dengan keterangan dokter yang mengatakan kalau jantung bik Imah sudah lama bermasalah. Bahkan ia sudah melakukan operasi dan hal ini sengaja disembunyikan oleh
bik Imah dan kedua orang tuanya dari Audrey.
Sebenarnya saat ini Audrey sangat marah dan kesal, kenapa hal sepenting ini harus
disembunyikan darinya. Kalau tidak kejadian seperti ini tidak akan terjadi. Tapi ia tidak tahu harus marah pada siapa.
" Udah, Drey ... gue tahu elo marah saat ini. Tapi anggap saja bik Imah dan orang tua Lo sengaja tidak memberitahu karena gak ingin membuat elo jadi kepikiran.
Lagi pula gue yakin, bik Imah masih merasa baik - baik saja kondisinya. Makanya beliau tetap bekerja seperti biasa. Cuma mungkin karena kali ini beliau lagi banyak yang dipikirkan jadinya jantung bik Imah kambuh." ujar Rina berusaha meredakan emosi Audrey.
" Gue kesal kenapa harus disembunyikan dari gue. Kalau enggak kan gue bisa memanggil dokter ke mansion buat rutin memeriksa bik Imah agar jantungnya tetap dalam kondisi baik. Mungkin kejadian seperti hari ini gak akan terjadi. " ujar Audrey masih tidak bisa mengurangi rasa kesalnya.
" Semua ini udah takdir, Drey ... dan ini bukan kesalahan Lo. Jadi Lo jangan kesal lagi. Semuanya akan baik - baik saja. " ucap Rina.
" Ya, Rin ... gue harap omongan elo itu jadi kenyataan. Gue gak bisa membayangkan jika harus
kehilangan bik Imah juga. Jadi, Rin ... gue harap setelah kita belajar dari kejadian bik Imah hari ini, jangan ada sesuatu yang elo disembunyikan dari gue meskipun hal yang paling pahit sekalipun. " ujar Audrey dengan mimik sedih.
" Baik, Drey ... gue akan berusaha untuk selalu jujur sama Lo dan gue juga berharap elo bisa percaya dengan gue meski
apapun yang akan terjadi. Elo udah gue anggap adik kandung. Kedudukan Lo itu sama dengan Rifky." ucap Rina gak kalah sedih, karena ia merasa akan ada sesuatu hal buruk lagi yang akan terjadi.
" Tentu aja, kalau gue gak percaya seratus persen dengan elo... gak mungkin gue bisa dengan yakinnya dan membawa Lo sama Rifky pulang dan tinggal di mansion bareng gue." ujar Audrey.
" Makasih, Drey ... ingat ya, apapun yang terjadi gue adalah pendukung utama buat Lo. Gue akan berusaha untuk membantu semampu gue jika elo membutuhkan bantuan dari gue.
Meskipun taruhannya adalah nyawa." ucap Rina.
" Thanks, Rin ... kalau gak lagi nyetir sekarang udah gue peluk Lo. " ucap Audrey sembari tersenyum kecil.
" Bagus, kalau gak bisa kecelakaan kita ... hahaha." ujar Rina sembari tertawa lebar.
Tak lama mobil Audrey, mulai memasuki area mansion dan ia merasa terkejut saat melihat mobil Dea dan Zia sudah berada disana. Begitu pula dengan Reno, Audrey bisa melihat dari kejauhan kalau mereka sedang menunggu kedatangan Audrey.
Kenapa mereka bisa secara bersamaan datang ke mansion nya. Lalu dari mana mereka tahu Audrey sudah pulang. Sedangkan baik Audrey maupun Rina belum ada menghubungi mereka. Jadi bagaimana mereka bisa tahu.
Pertanyaan ini memenuhi kepala
Audrey.
" Apa elo memikirkan hal yang sama dengan gue, Rin ... ?" tanya Audrey.
" Pasti Lo berpikir bagaimana mereka bisa tahu, yakan, Drey ... ?" ucap Rina.
" Ya, apa elo gak heran ?" tanya Audrey.
" Tentu ... sementara elo belum ada menghubungi mereka sama sekali. Jadi gimana mungkin mereka tahu !".
" Benar ... itu juga yang gue pikirkan."
" Ya udah, Drey ... nanti Lo tanya aja sama mereka biar gak penasaran."
" Pasti ... !" .
**********************************
__ADS_1