Cinta Dan Dendam Audrey

Cinta Dan Dendam Audrey
Episode 60


__ADS_3

Audrey dan Rina yang baru saja tiba di perusahaan di sambut oleh


asisten Daddy nya yang selama ini


menjalankan perusahaannya.


Kehadiran mereka berdua, apalagi


di dampingi dua orang bodyguard


membuat perhatian para karyawan tertuju pada mereka.


Karyawan sudah tahu, jika Audrey


yang akan menggantikan Tuan Eldric untuk memimpin perusahaan tempat mereka bekerja.


Mereka juga sudah mengenal Audrey sejak lama karena saat Tuan Eldric masih ada, Audrey dan Mommy Elif sering berkunjung


ke perusahaan.


" Pagi, nona Audrey ... selamat datang ke perusahaan." sapa


asisten Daddy nya dengan hormat.


" Pagi, tolong segera beritahukan


pada semua direktur dan manajer setiap bagian bahwa kita akan segera mengadakan rapat. " ujar Audrey dengan serius setelah


membalas sapaan asisten Daddy nya.


" Baik, nona ... mari kita


ke ruangan nona, agar nona bisa


melihat apa masih ada yang kurang dengan ruangan itu.


Karena saya sudah meminta sekretaris untuk merubah ruangan


Tuan Eldric agar sesuai dengan


selera nona." ucap asisten Tuan Eldric.


" Hmm ... kenapa harus diubah ?


Saya suka dengan ruangan Daddy. Bukankah saya tidak pernah memerintahkan pada


anda untuk merubahnya. " tanya Audrey heran.


" Maaf, itu karena saya pikir selera Tuan William tidak cocok dengan selera anda sebagai seorang wanita yang menggantikan Tuan Eldric memimpin perusahaan ini."


jawab asisten memberikan alasannya.


" Hmm ... saya ingin ruangan itu


di kembalikan lagi seperti saat Daddy masih memakai ruangan


itu." perintah Audrey tegas.


" Baiklah, nona Audrey." jawab asisten gugup, karena ia tidak


menyangka jika Audrey tidak menyukai ide nya.


Sedangkan Rina hanya diam mendengarkan pembicaraan mereka. Ternyata Audrey bisa


bersikap sangat tegas jika berada di perusahaan. Sikapnya jauh berbeda dengan kesehariannya.


Tapi Rina mengerti, memang seharusnya beginilah sikap seorang pemimpin agar tetap


di seganinoleh bawahannya.


Padahal Audrey bersikap seperti


ini karena untuk menutupi rasa


khawatir dan sedihnya yang teringat akan orang tuanya.


Biasanya ia selalu tersenyum bahagia saat datang mengunjungi Daddy nya. Tapi kali ini ia tidak


akan bisa melihat wajah Daddy nya yang sangat ia rindukan.


Apalagi kini ia harus mengemban tanggung - jawab yang besar untuk menjalankan perusahaan


milik keluarganya.


" Hmm ... " Audrey segera melangkahkan kakinya masuk


ke ruangan Daddy nya yang sekarang akan jadi ruangannya.


Ia melihat warna dinding ruangan Daddy nya sudah berubah menjadi


warna kesukaannya hutan dan


grey. Sebenarnya ia suka, tapi ia tidak ingin menghilangkan kenangan atas Daddy nya jika semua di rombak seperti ini.


" Ya, sudah ... beberapa menit lagi setelah kamu memberitahukan


semua direktur setiap bagian, kita akan ketemu lagi di ruangan meeting. " kata Audrey yang melihat asisten Daddy nya masih berada di dalam ruangan nya.


" Baik, nona ... " jawab asisten sigap, lalu ia pun segera keluar dari ruangan Audrey


Begitu melihat asisten sudah keluar dari ruangan Audrey, Rina


pun duduk di depan Audrey.


" Drey, Lo kog berubah jadi dingin gini, sih ... ?" tanya Rina penasaran.

__ADS_1


" Karena gue gak bisa mempercayai siapapun yang ada di perusahaan ini sebelum gue menilai sikap mereka masing - masing. Daddy pernah bilang ke gue, kalau ada penghianat yang bersembunyi di dekat nya tapi hingga Daddy menghilang ia belum bisa menemukannya.


Jadi gue harus lebih bersikap


hati - hati terhadap siapapun,


meski asisten Daddy sekalipun."


jawab Audrey serius.


" Oh, kalau begitu tindakan Lo udah benar. Tapi apa gue nanti


ikut juga rapat dengan Lo ?"


tanya Rina setelah menyetujui


tindakan Audrey.


" Ya, Lo sekarang jadi asisten merangkap sekertaris pribadi gue.


Jadi mulai sekarang hanya Lo yang boleh tahu tentang kegiatan


apapun yang gue lakukan di sini."


ucap Audrey.


" Terus bagaimana dengan asisten yang tadi dan sekretaris


yang duduk di depan itu ?" tanya Rina serius.


" Mereka tetap akan menjadi asisten dan sekretaris seperti biasa saat Daddy masih ada


di perusahaan. Mereka berdua akan melaporkan semua jadwal gue pada Lo. Baru Lo yang berhak memutuskan setelah diskusi dengan gue, apakah gue setuju apa gak dengan semua jadwal yang di buat." kata Audrey.


" Baiklah, tapi gue gugup nih, Drey .... " ucap Rina jujur.


" Lo harus santai, tarik nafas panjang biar Lo jadi lebih tenang dan nanti elo gak usah banyak bicara, karena elo disini asisten


pribadi gue. Lo harus bisa bersikap dingin kaya gue tadi.


Bisa kan, Lo ... ?" ucap Audrey


memberi tahu apa yang harus


di lakukan Rina.


" Baiklah, gue akan mencoba seperti yang Lo bilang, Drey ..."


jawab Rina dengan wajah yakin.


" Hmm ... bagus. Itu baru saudara gue. " ujar Audrey tersenyum.


Rina juga jadi tersenyum dan merasa lebih ringan bebannya


setelah mendengar perkataan


Tiba - tiba terdengar ketukan


di pintu ruangan Audrey dan setelah Audrey memerintahkan


untuk masuk, asisten Daddy nya


pun segera melangkah masuk.


" Nona, kita sudah bisa menuju


ruang meeting. Semua direktur dan manajer sudah berada di sana menunggu untuk rapat." lapor asisten.


" Hmm ... baik." jawab Audrey singkat sembari bangkit dari


tempat duduknya.


Audrey, Rina dan asisten Tuan Eldric segera berjalan keluar


dari ruangan Audrey dan menuju ruangan meeting.


Begitu Audrey dan Rina tiba disana, para direktur dan manajer


langsung berdiri, menyambut kehadiran Audrey.


" Selamat pagi nona Audrey ... "


sapa mereka semua yang ada


di ruangan meeting.


" Pagi, silahkan duduk." balas Audrey dengan singkat.


" Nona, kami atas nama perusahaan mengucapkan turut


berduka cita atas meninggalnya Tuan dan Nyonya Eldric. Semoga


amal kebaikan beliau berdua


selama hidup diterima oleh Allah


dan nona sebagai anak dari beliau


bisa menerima semuanya dengan


ikhlas dan tabah." ucap salah satu


direktur mewakili yang lain.


" Terima kasih atas ucapan belasungkawa nya. " jawab Audrey.

__ADS_1


" Iya, nona ... sama - sama." ujar


mereka bersamaan.


" Hmm ... baiklah, mari kita mulai rapatnya. Saya minta pada semua


direktur dan manajer yang mewakili setiap bagian masing -


masing untuk memberikan laporan pekerjaan kalian pada asisten saya, Rina ... selama beberapa bulan belakangan ini dan proyek apa yang sedang


di tangani sebelum Tuan Eldric


pergi. Begitu juga dengan bagian keuangan, saya minta berkas


laporannya tiba di meja saya sebelum jam makan siang. Karena saya akan mempelajarinya


terlebih dahulu sebelum mengambil tindakan apa yang akan di lakukan setelahnya." ujar


Audrey dengan wajah serius


sembari mengamati setiap wajah yang hadir di ruangan ini.


Audrey bisa melihat ada beberapa


wajah yang mendadak terkejut dan merasa gelisah atas perintahnya tadi.


" Bagaimana ... saya harap anda


semua bisa melakukannya. Karena menurut saya ini bukanlah hal yang sulit. Jadi, seperti yang saya katakan tadi, sebelum jam makan siang, semua berkas yang saya inginkan harus sudah ada


di ruangan saya. " ujar Audrey lagi,


karena melihat mereka hanya diam sambil kasak - kusuk gak jelas.


Audrey memandang mereka dengan sorot mata yang tajam dan dingin. Sangat berbeda dengan Audrey yang selalu melihat dengan mata ramah


pada mereka, jika sedang datang


ke perusahaan.


" Begini, nona Audrey ... sebenarnya sejak berita kematian


Tuan Eldric dan Nyonya Elif


di ketahui oleh publik, banyak masalah yang terjadi pada


perusahaan. Terutama bagian


keuangan, karena saham perusahaan menjadi turun drastis.


Jadi saya minta, untuk di berikan


waktu lebih panjang dalam mengumpulkan semua berkas


laporan. Belum lagi, perusahaan Tuan Eldric yang lain mendadak sudah berpindah tangan menjadi milik seorang wanita bernama Kimberly. Saya dan yang lain juga tidak mengerti kenapa Tuan Eldric menjualnya, sebelum beliau pergi. Hanya tinggal dua perusahaan saja yang menjadi milik nona. Hal ini menyebabkan perusahaan kita mengalami kekurangan dana." ujar Seno, direktur keuangan dengan wajah serius.


" Hmm ... Saya tahu masalah kematian orang tua saya akan


membawa dampak yang drastis pada perusahaan, terutama saham. Tapi itu bukan berarti hanya untuk sekedar memberikan laporan yang saya inginkan harus


butuh waktu yang lama. Bukankah semua sudah ada data dan filenya. Jadi saya rasa ini bukanlah sebuah alasan yang tepat. Mengenai masalah orang tua saya kenapa menjual perusahaannya yang lain, saya tidak berhak mencampurinya. Saya tetap dengan keputusan saya tadi, bahwa semua data yang saya inginkan harus sudah ada tepat sebelum jam makan siang


perusahaan.


Baiklah, karena saya rasa hanya itu yang mau saya sampaikan dalam rapat ini, maka dengan ini rapat saya tutup. Terima kasih."


ujar Audrey dengan tegas lalu


bangkit dari duduknya, kemudian


keluar dari ruangan meeting


di ikuti Rina dan asisten Tuan Eldric.


Begitu Audrey keluar dari ruangan


rapat, suasana berubah menjadi


riuh karena terjadi perdebatan


di antara beberapa direktur yang


tidak setuju dengan permintaan


Audrey tadi.


Tentu saja mereka yang tetap jujur dalam melaksanakan pekerjaannya merasa senang, karena Audrey bisa bersikap tegas dan sangat pantas menggantikan


Tuan Eldric dalam menjalankan


perusahaan.


**********************************


Selamat membaca ... 😘


Nantikan episode selanjutnya.


Seperti biasa, jangan lupa like,


koment positif, favorit ❤️


Buat yang sudah mendukung dan tetap setia berada di lapak Mommy yang receh ini ... Mommy


ucapkan terima kasih.🙏🙏😘

__ADS_1


Maaf, jika masih banyak kesalahan dalam penulisan kata ataupun kalimat dalam novel ini.🙏🙏🙏


Love You All ❤️❤️❤️


__ADS_2