
Audrey dan Rina yang baru saja tiba di perusahaan di sambut oleh
asisten Daddy nya yang selama ini
menjalankan perusahaannya.
Kehadiran mereka berdua, apalagi
di dampingi dua orang bodyguard
membuat perhatian para karyawan tertuju pada mereka.
Karyawan sudah tahu, jika Audrey
yang akan menggantikan Tuan Eldric untuk memimpin perusahaan tempat mereka bekerja.
Mereka juga sudah mengenal Audrey sejak lama karena saat Tuan Eldric masih ada, Audrey dan Mommy Elif sering berkunjung
ke perusahaan.
" Pagi, nona Audrey ... selamat datang ke perusahaan." sapa
asisten Daddy nya dengan hormat.
" Pagi, tolong segera beritahukan
pada semua direktur dan manajer setiap bagian bahwa kita akan segera mengadakan rapat. " ujar Audrey dengan serius setelah
membalas sapaan asisten Daddy nya.
" Baik, nona ... mari kita
ke ruangan nona, agar nona bisa
melihat apa masih ada yang kurang dengan ruangan itu.
Karena saya sudah meminta sekretaris untuk merubah ruangan
Tuan Eldric agar sesuai dengan
selera nona." ucap asisten Tuan Eldric.
" Hmm ... kenapa harus diubah ?
Saya suka dengan ruangan Daddy. Bukankah saya tidak pernah memerintahkan pada
anda untuk merubahnya. " tanya Audrey heran.
" Maaf, itu karena saya pikir selera Tuan William tidak cocok dengan selera anda sebagai seorang wanita yang menggantikan Tuan Eldric memimpin perusahaan ini."
jawab asisten memberikan alasannya.
" Hmm ... saya ingin ruangan itu
di kembalikan lagi seperti saat Daddy masih memakai ruangan
itu." perintah Audrey tegas.
" Baiklah, nona Audrey." jawab asisten gugup, karena ia tidak
menyangka jika Audrey tidak menyukai ide nya.
Sedangkan Rina hanya diam mendengarkan pembicaraan mereka. Ternyata Audrey bisa
bersikap sangat tegas jika berada di perusahaan. Sikapnya jauh berbeda dengan kesehariannya.
Tapi Rina mengerti, memang seharusnya beginilah sikap seorang pemimpin agar tetap
di seganinoleh bawahannya.
Padahal Audrey bersikap seperti
ini karena untuk menutupi rasa
khawatir dan sedihnya yang teringat akan orang tuanya.
Biasanya ia selalu tersenyum bahagia saat datang mengunjungi Daddy nya. Tapi kali ini ia tidak
akan bisa melihat wajah Daddy nya yang sangat ia rindukan.
Apalagi kini ia harus mengemban tanggung - jawab yang besar untuk menjalankan perusahaan
milik keluarganya.
" Hmm ... " Audrey segera melangkahkan kakinya masuk
ke ruangan Daddy nya yang sekarang akan jadi ruangannya.
Ia melihat warna dinding ruangan Daddy nya sudah berubah menjadi
warna kesukaannya hutan dan
grey. Sebenarnya ia suka, tapi ia tidak ingin menghilangkan kenangan atas Daddy nya jika semua di rombak seperti ini.
" Ya, sudah ... beberapa menit lagi setelah kamu memberitahukan
semua direktur setiap bagian, kita akan ketemu lagi di ruangan meeting. " kata Audrey yang melihat asisten Daddy nya masih berada di dalam ruangan nya.
" Baik, nona ... " jawab asisten sigap, lalu ia pun segera keluar dari ruangan Audrey
Begitu melihat asisten sudah keluar dari ruangan Audrey, Rina
pun duduk di depan Audrey.
" Drey, Lo kog berubah jadi dingin gini, sih ... ?" tanya Rina penasaran.
__ADS_1
" Karena gue gak bisa mempercayai siapapun yang ada di perusahaan ini sebelum gue menilai sikap mereka masing - masing. Daddy pernah bilang ke gue, kalau ada penghianat yang bersembunyi di dekat nya tapi hingga Daddy menghilang ia belum bisa menemukannya.
Jadi gue harus lebih bersikap
hati - hati terhadap siapapun,
meski asisten Daddy sekalipun."
jawab Audrey serius.
" Oh, kalau begitu tindakan Lo udah benar. Tapi apa gue nanti
ikut juga rapat dengan Lo ?"
tanya Rina setelah menyetujui
tindakan Audrey.
" Ya, Lo sekarang jadi asisten merangkap sekertaris pribadi gue.
Jadi mulai sekarang hanya Lo yang boleh tahu tentang kegiatan
apapun yang gue lakukan di sini."
ucap Audrey.
" Terus bagaimana dengan asisten yang tadi dan sekretaris
yang duduk di depan itu ?" tanya Rina serius.
" Mereka tetap akan menjadi asisten dan sekretaris seperti biasa saat Daddy masih ada
di perusahaan. Mereka berdua akan melaporkan semua jadwal gue pada Lo. Baru Lo yang berhak memutuskan setelah diskusi dengan gue, apakah gue setuju apa gak dengan semua jadwal yang di buat." kata Audrey.
" Baiklah, tapi gue gugup nih, Drey .... " ucap Rina jujur.
" Lo harus santai, tarik nafas panjang biar Lo jadi lebih tenang dan nanti elo gak usah banyak bicara, karena elo disini asisten
pribadi gue. Lo harus bisa bersikap dingin kaya gue tadi.
Bisa kan, Lo ... ?" ucap Audrey
memberi tahu apa yang harus
di lakukan Rina.
" Baiklah, gue akan mencoba seperti yang Lo bilang, Drey ..."
jawab Rina dengan wajah yakin.
" Hmm ... bagus. Itu baru saudara gue. " ujar Audrey tersenyum.
Rina juga jadi tersenyum dan merasa lebih ringan bebannya
setelah mendengar perkataan
Tiba - tiba terdengar ketukan
di pintu ruangan Audrey dan setelah Audrey memerintahkan
untuk masuk, asisten Daddy nya
pun segera melangkah masuk.
" Nona, kita sudah bisa menuju
ruang meeting. Semua direktur dan manajer sudah berada di sana menunggu untuk rapat." lapor asisten.
" Hmm ... baik." jawab Audrey singkat sembari bangkit dari
tempat duduknya.
Audrey, Rina dan asisten Tuan Eldric segera berjalan keluar
dari ruangan Audrey dan menuju ruangan meeting.
Begitu Audrey dan Rina tiba disana, para direktur dan manajer
langsung berdiri, menyambut kehadiran Audrey.
" Selamat pagi nona Audrey ... "
sapa mereka semua yang ada
di ruangan meeting.
" Pagi, silahkan duduk." balas Audrey dengan singkat.
" Nona, kami atas nama perusahaan mengucapkan turut
berduka cita atas meninggalnya Tuan dan Nyonya Eldric. Semoga
amal kebaikan beliau berdua
selama hidup diterima oleh Allah
dan nona sebagai anak dari beliau
bisa menerima semuanya dengan
ikhlas dan tabah." ucap salah satu
direktur mewakili yang lain.
" Terima kasih atas ucapan belasungkawa nya. " jawab Audrey.
__ADS_1
" Iya, nona ... sama - sama." ujar
mereka bersamaan.
" Hmm ... baiklah, mari kita mulai rapatnya. Saya minta pada semua
direktur dan manajer yang mewakili setiap bagian masing -
masing untuk memberikan laporan pekerjaan kalian pada asisten saya, Rina ... selama beberapa bulan belakangan ini dan proyek apa yang sedang
di tangani sebelum Tuan Eldric
pergi. Begitu juga dengan bagian keuangan, saya minta berkas
laporannya tiba di meja saya sebelum jam makan siang. Karena saya akan mempelajarinya
terlebih dahulu sebelum mengambil tindakan apa yang akan di lakukan setelahnya." ujar
Audrey dengan wajah serius
sembari mengamati setiap wajah yang hadir di ruangan ini.
Audrey bisa melihat ada beberapa
wajah yang mendadak terkejut dan merasa gelisah atas perintahnya tadi.
" Bagaimana ... saya harap anda
semua bisa melakukannya. Karena menurut saya ini bukanlah hal yang sulit. Jadi, seperti yang saya katakan tadi, sebelum jam makan siang, semua berkas yang saya inginkan harus sudah ada
di ruangan saya. " ujar Audrey lagi,
karena melihat mereka hanya diam sambil kasak - kusuk gak jelas.
Audrey memandang mereka dengan sorot mata yang tajam dan dingin. Sangat berbeda dengan Audrey yang selalu melihat dengan mata ramah
pada mereka, jika sedang datang
ke perusahaan.
" Begini, nona Audrey ... sebenarnya sejak berita kematian
Tuan Eldric dan Nyonya Elif
di ketahui oleh publik, banyak masalah yang terjadi pada
perusahaan. Terutama bagian
keuangan, karena saham perusahaan menjadi turun drastis.
Jadi saya minta, untuk di berikan
waktu lebih panjang dalam mengumpulkan semua berkas
laporan. Belum lagi, perusahaan Tuan Eldric yang lain mendadak sudah berpindah tangan menjadi milik seorang wanita bernama Kimberly. Saya dan yang lain juga tidak mengerti kenapa Tuan Eldric menjualnya, sebelum beliau pergi. Hanya tinggal dua perusahaan saja yang menjadi milik nona. Hal ini menyebabkan perusahaan kita mengalami kekurangan dana." ujar Seno, direktur keuangan dengan wajah serius.
" Hmm ... Saya tahu masalah kematian orang tua saya akan
membawa dampak yang drastis pada perusahaan, terutama saham. Tapi itu bukan berarti hanya untuk sekedar memberikan laporan yang saya inginkan harus
butuh waktu yang lama. Bukankah semua sudah ada data dan filenya. Jadi saya rasa ini bukanlah sebuah alasan yang tepat. Mengenai masalah orang tua saya kenapa menjual perusahaannya yang lain, saya tidak berhak mencampurinya. Saya tetap dengan keputusan saya tadi, bahwa semua data yang saya inginkan harus sudah ada tepat sebelum jam makan siang
perusahaan.
Baiklah, karena saya rasa hanya itu yang mau saya sampaikan dalam rapat ini, maka dengan ini rapat saya tutup. Terima kasih."
ujar Audrey dengan tegas lalu
bangkit dari duduknya, kemudian
keluar dari ruangan meeting
di ikuti Rina dan asisten Tuan Eldric.
Begitu Audrey keluar dari ruangan
rapat, suasana berubah menjadi
riuh karena terjadi perdebatan
di antara beberapa direktur yang
tidak setuju dengan permintaan
Audrey tadi.
Tentu saja mereka yang tetap jujur dalam melaksanakan pekerjaannya merasa senang, karena Audrey bisa bersikap tegas dan sangat pantas menggantikan
Tuan Eldric dalam menjalankan
perusahaan.
**********************************
Selamat membaca ... 😘
Nantikan episode selanjutnya.
Seperti biasa, jangan lupa like,
koment positif, favorit ❤️
Buat yang sudah mendukung dan tetap setia berada di lapak Mommy yang receh ini ... Mommy
ucapkan terima kasih.🙏🙏😘
__ADS_1
Maaf, jika masih banyak kesalahan dalam penulisan kata ataupun kalimat dalam novel ini.🙏🙏🙏
Love You All ❤️❤️❤️