Cinta Dan Dendam Audrey

Cinta Dan Dendam Audrey
Episode 110


__ADS_3

Mata Rina langsung berkaca - kaca mengingat semua hal yang telah di alami oleh Audrey. Sahabatnya yang sudah ia anggap sebagai adik perempuannya sendiri.


Audrey yang biasanya terlihat segar dan menakjubkan menjadi sedikit lebih kurus dari biasanya.


" Maaf, non Rina. Baru belakangan ini saya bisa memberikan makanan yang layak buat nona Audrey. Itu pun karena saya bekerja sama dengan Mina, pelayan yang non Rina gantikan. Kami harus sangat berhati - hati agar jangan sampai ketahuan Lily dan Bella. Belum lagi saya harus mengambil waktu dan kesempatan yang ada buat memasak atau membeli makanan buat non Audrey. " ujar Titi menjelaskan apa yang telah terjadi pada Audrey saat melihat mata Rina yang berkaca - kaca.


Audrey yang belum menyadari kehadiran Rina di kamarnya karena saat ini ia sedang duduk di kursi rodanya sembari menatap ke luar jendela yang ada di - kamarnya.


" Drey ... apa yang sedang Lo pikirkan ? Sekarang Lo akan baik - baik saja. Gue udah disini. Kita akan berjuang bersama." ujar Rina menghampiri Audrey.


" Hmm ... gue gak sedang bersedih atau mikirin apapun. Gue bahkan udah gak sabar buat menghancurkan mereka semua. Meskipun kita harus mencari cara untuk bisa segera keluar dari sini. Tapi sekarang kita harus lebih ekstra hati - hati karena Reno sudah ikut tinggal di mansion ini. Dia pria yang sangat licik. Dia juga pintar dan tidak mudah di bohongi seperti Bella dan Lily. Jadi gue harap Lo dan Titi lebih waspada dalam bersikap. Reno pasti akan sering datang ke kamar gue. Jadi gue harap Lo jangan sampai membuat dia curiga. Lo ngerti kan, Ta ? Mulai sekarang baik Lo ataupun gue harus membiasakan diri untuk memakai nama baru Lo agar tidak salah sebut di depan Reno dan yang lain." ucap Audrey panjang dengan wajah serius.


" Baik, non Audrey. Saya mengerti ! " sahut Rina sembari tersenyum. Ia juga sedang berusaha membiasakan dirinya memanggil Audrey seperti yang di lakukan Titi agar menghindari kecurigaan mereka.


" Hee ... good girl. Tapi gak juga kalau kita lagi berduaan di kamar. Gue risih mendengar Lo manggil gue kaya gitu !" ucap Audrey mengembangkan senyum manisnya.


" Gak Drey ... Lo harus terbiasa. Gue gak papa harus memanggil Lo dengan sebutan nona. Gue gak mau saat kita bicara seperti biasanya, tiba - tiba ada yang masuk ke kamar ini dan mendengar omongan kita. Jadi lebih baik kita memperkecil semua kemungkinan yang akan terjadi. " ujar Rina serius.


Audrey terdiam mendengar omongan Rina. Semua yang dikatakan Rina sangatlah benar.


Tapi hati kecilnya merasa gak enak pada Rina, karena harus bersikap layaknya pelayan dalam menemaninya.


" Udah Drey, Lo jangan khawatir. Jangan mikirin yang nggak harus dipikirin. Gue beneran gak papa.


Lagi pula kita sama - sama tahu kalau Lo gak akan pernah menganggap gue seperti itu. Ini kita lakukan demi melancarkan rencana kita." ujar Rina menyakinkan Audrey, karena ia tahu sahabatnya ini masih ragu dan tidak enak hati terhadapnya.


" Hmm ... Lo beneran gak papa, Rin, manggil gue kaya gitu ? Gue jadi ngerasa jahat dan bersikap gak adil melakukan hal ini sama Lo. " tanya Audrey dengan perasaan gak enak.


" Huss ! Udah gue bilang sama Lo. Gue gak papa. Lo jangan mikirin hal yang gak penting. Kita harus melakukan nya. Yang penting gue tahu elo gak pernah merendahkan gue. " sahut Rina sembari mengerucutkan mulutnya.


" Hmm ... baiklah ! Mari kita lakukan. " ucap Audrey senang karena Rina benar - benar tidak mempermasalahkannya.


" Okey ! Sekarang lebih baik menikmati makanan yang sudah gue dan Titi masak buat Lo sebelum semua iblis itu pulang !" ujar Rina.


" Baiklah ! Kita makan bareng ya.


Kamu juga Ti ... " ucap Audrey.


" Saya nanti aja non. Non Audrey aja yang makan duluan sama non Rina. " ujar Titi segan.


" Udah Ti, sekalian aja. Gak usah segan. Kalau kamu masih menganggap saya nona kamu , dengarkan kata - kata saya. Lagi pula mulai hari ini kita bertiga adalah keluarga. " kata Audrey sembari tersenyum lembut.

__ADS_1


" Iya, Ti. Benar kata Audrey, kamu makan bareng kita. Nanti kalau mereka udah pulang, kamu harus kerja rodi lagi. Jadi makan yang banyak biar kamu punya tenaga ekstra buat melawan mereka nanti. " ujar Rina.


" Baiklah non Audrey, non Rina. " ujar Titi dengan wajah segan.


" Hei, kamu juga harus membiasakan diri mulai sekarang memanggil nama baru saya. Jangan pakai non lagi. Takutnya nanti kamu lupa lalu keceplosan di depan mereka !" ujar Rina mengingatkan Titi.


" Benar kata Rina, Ti. Kamu harus memulainya biar gak gugup nantinya. " Audrey membenarkan apa yang di katakan Rina.


" Ya, baiklah non Audrey, Ita. " ujar Titi masih kaku karena ia gak enak harus bersikap tidak sopan pada teman majikannya.


" Bagus. Jangan gugup ! Santai aja kaya kamu ngomong dengan Mina. Sekarang status kita sama disini. Oke !" ujar Rina memberi semangat.


" Baiklah." sahut Titi pelan.


Mereka bertiga makan dengan lahap dan nyaman tanpa gangguan ketiga monster jahat yang menyamar dalam bentuk manusia.


" Non, sebaiknya setelah istirahat sebentar, kita latihan berdiri dulu biar otot yang ada di kaki non Audrey terbiasa untuk di gerakkan lagi. " ujar Rina mulai memainkan perannya sebagai Ita, sang pelayan.


" Baiklah, Ta. Saya juga udah muak dan bosan di perlakukan sebagai orang ca**t oleh Lily dan Bella. " ucap Audrey sembari menganggukkan kepalanya.


" Btw, Bella sering gak pulang ya, Ti ?" tanya Rina.


" Hmm ... mungkin Bella terlalu sibuk dengan kesibukannya menikmati hidup yang selama ini ia inginkan. Jadi dia tidak mau menyia - nyiakan sedetikpun untuk bisa bersosialisasi dengan kalangan atas. Sekarang Bella sudah pegang uang yang banyak, sejak dia jadi pemilik butik !" kata Audrey tersenyum kecut.


" Merampas harta non Audrey aja di banggain. Kalau saya sih, malu ! Pengen kaya, usaha dong. Bukan dari hasil merampas dan berbuat jahat sama teman sendiri !" ujar Rina dengan tampang kesal.


" Hee .. setiap orang kan berbeda cara berpikirnya, Ta. Mungkin Bella mau cara instan tanpa harus bersusah payah. Padahal andaikan dia tahu, semua kekayaan Daddy dan mommy mereka dapatkan dengan cara bekerja keras selama belasan tahun. Belum lagi mereka harus jatuh bangun ketika memulai semua usaha ini. Tapi balik lagi, Ta ... sifat dan sikap setiap orang berbeda. Andai saja aku tahu kalau selama ini Bella menyimpan rasa iri dan dendam pada ku. Mungkin hal ini gak akan terjadi.


Hmm ... jika saja aku percaya dengan semua rasa curigamu waktu itu ... " mata Audrey terlihat lesu saat mengatakan hal ini.


Jujur saja sampai detik ini ia masih susah untuk percaya kalau Bella bisa melakukan semua ini pada nya. Apalagi setelah semua yang pernah di lakukan Audrey buat Bella. Audrey memperlakukan Bella sama dengan sahabatnya yang lain. Tidak pernah sedikitpun ia merendahkan Bella, walau ia sering membantunya terutama dalam hal keuangan Bella. Audrey menyayangi sahabat - sahabatnya dengan tulus. Tapi hanya karena rasa iri atas yang semua yang di - miliki Audrey membuat Bella membenci dirinya.


Apa dia salah kalau terlahir dengan semua keberuntungan ini. Ia juga tidak tahu kalau terlahir pintar dan kaya. Apa dia juga yang salah kalau banyak pria mengagumi dirinya. Ia tidak merasa cantik. Tapi Bella malah mengatakan kalau dia sengaja menggunakan kecantikan dan kekayaan nya untuk menarik perhatian dari setiap pria. Sedangkan Audrey tidak pernah menginginkan rasa kagum dari pria - pria itu. Mereka suka, kagum, cinta itu hak mereka. Toh, Audrey tidak pernah membalas perasaan mereka. Ia hanya bersikap yang sewajarnya. Apa dia juga salah kalau bersikap baik dan ramah pada setiap orang. Sementara kedua orang tuanya selalu mengajarkan padanya untuk bersikap sopan dan baik pada semua, tanpa harus memandang status yang berbeda. Jadi di mana letak salahnya hingga membuat Bella bisa iri dan dendam padanya. Bahkan mengatakan kalau selama ini Audrey hanya berpura - pura bersikap baik pada Bella, padahal dalam kenyataan Audrey sedang merendahkannya.


" Non Audrey ! Jangan memikirkan hal yang tidak penting untuk di pikirkan. Bagaimanapun sikap baik yang nona berikan pada seseorang tapi kalau orang itu sendiri tidak pernah bersyukur dan selalu di penuhi rasa iri maka mata dan hatinya akan selalu tertutup buat melihat kebaikan yang nona berikan padanya. Jadi, jangan pernah merasa bersalah jika suatu saat dia mendapatkan karma yang setimpal !" ujar Rina seakan bisa membaca apa yang sedang di pikirkan oleh Audrey yang duduk melamun.


" Iya, non. Benar apa yang dikatakan Ita. Non Audrey jangan pernah merasa bersalah kepada orang yang tidak pernah merasa bersyukur. Ngakunya teman tapi malah menusuk dari belakang." Titi menimpali omongan Rina.


" Benar kata Titi, non. Selama ini Bella tidak pernah menganggap nona sebagai sahabatnya. Ia hanya memanfaatkan semua kebaikan yang nona berikan. Kalau tidak, mana mungkin dia tega melakukan hal ini sama nona. Jadi, jika dia bisa bersikap kejam seperti sekarang, nona harus lebih bisa kejam darinya !" ujar Rina dengan wajah marah.


" Hmm ... aku tahu. Aku juga gak sebaik itu kali, Ta. Hanya saja aku heran dan gak habis pikir padanya. Dia bisa menutupi rasa bencinya padaku begitu lama tanpa aku mencurigainya sama sekali. " ucap Audrey yang menyesali kebodohannya.

__ADS_1


" Itu bukan kesalahan non Audrey. Bella nya aja yang licik. Dia benci, iri tapi gak mau rugi. Tetap saja dia menerima semua pemberian dari nona. " ujar Rina ketus mengingat sikap Bella yang munafik.


" Hmm ... udah, udah ! Kita jangan bahas dia lagi. Aku sih gak papa, karena aku sudah terbiasa melihat orang - orang jahat dan munafik di sekitar Daddy. Cuma aku sempat lalai atas nama persahabatan. Kamu jangan emosi, Ta. Rasa amarah bisa menghancurkan semuanya. Kita harus tenang !" ucap Audrey dengan wajah dingin dan sorot mata yang tajam.


Rina dan Titi lumayan merasa takut melihat perubahan yang terjadi di wajah Audrey. Audrey yang selalu terlihat baik dan penuh dengan senyum ternyata memiliki sisi lain yang belum mereka ketahui.


" Sebaiknya kita latihan sekarang, Ta ! Aku ingin bisa bangkit secepatnya dari kursi roda ini !" ucap Audrey.


" Ya, baiklah. Nona memang harus berlatih agar bisa kembali seperti biasanya." sahut Ita.


" Kamu turun ke bawah, Ti .. ! Jangan sampai mereka pulang kita gak tahu. Kamu chat Ita jika mereka sudah tiba di mansion." perintah Audrey pada Titi.


" Baik, non. Kalau begitu saya turun sekarang. " sahut Titi cepat dan bergegas keluar dari kamar Audrey. Mereka memang tidak boleh lengah sedikitpun. Jangan sampai mereka tahu kalau Audrey sedang berlatih untuk menggerakkan otot kakinya. Kalau tidak mungkin mereka akan semakin menyiksa Audrey dan akan membuat Audrey menjadi lebih tidak berdaya dari sebelumnya.


Meski sakit, Audrey berusaha menahan rasa itu. Ia sudah bertekad untuk keluar dari penyakitnya ini. Dokter juga pernah mengatakan padanya kalau ia terus berlatih maka ada kemungkinan ia bisa berjalan lagi. Hanya saja selama beberapa bulan ini, ia tidak bisa melakukan hal itu karena kondisinya yang sempat drop di karenakan Lily.


" Aku harus bisa ! " tekad Audrey dalam hati.


" Ayo, non. Non Audrey pasti bisa. Perlahan saja awalnya jangan terlalu di paksakan. Kaki non sudah terlalu lama tidak di gerakkan. Jadi jangan berkecil hati jika hari ini belum bisa." ujar Rina memberi semangat pada Audrey.


" Hmm ... terus - terang gue risih dengan sebutan itu, Rin." bisik Audrey lirih di telinga Rina yang memegang kedua tangannya untuk bisa berdiri.


" Lo harus terbiasa, Drey. Anggap saja sementara ini gue, Titi atau Lily, diakan pelayan kamu juga .. hehehe !" bisik Rina gak kalah pelan.


Setelah melakukan terapi selama satu jam, akhirnya Audrey memutuskan untuk istirahat.


" Hari ini aku rasa cukup, Ta. Besok kita lakukan lagi. " ucap Audrey sembari mengelap peluh di dahinya.


" Siap boss .. hehehe. " ujar Rina sembari memberi hormat pada Audrey.


" Hee ... aku istirahat bentar, Ta. Nanti kamu bangunkan. Aku harus mandi sebelum mereka semua pulang. " ucap Audrey lalu meletakkan badannya ke tempat tidur.


" Okey. Istirahatlah. Selagi nona istirahat, saya turun ke lantai bawah dulu. " ujar Rina.


" Hmm ... " sahut Audrey sembari memejamkan kedua matanya.


Melihat mata Audrey yang terpejam, Rina pun keluar dari kamar Audrey. Ia harus ke bawah menyusul Titi. Masih banyak yang harus ia kerjakan disini.


Apalagi ia sudah gak sabar untuk melihat wajah Bella lagi. Sahabat yang sudah tega berkhianat pada sahabatnya sendiri.


**********************************

__ADS_1


__ADS_2