
Audrey tersenyum smirk saat memikirkan Bella dan Lily yang sedang bersenang - senang melihat keadaannya sekarang. Hampir setiap hari mereka berdua selalu melecehkan keadaan Audrey yang hanya bisa terbaring di tempat tidur.
Bahkan Lily dan Bella teramat sering menghina fisik Audrey sekarang dengan kata kata kasar. Tak jarang mereka menyiksa Audrey, misalnya dengan cara memukul kaki dan tangan Audrey hingga menimbulkan luka - luka lebam di sekujur badannya. Lalu mereka membiarkan Audrey begitu saja dalam keadaan terluka, tanpa berniat untuk mengobatinya.
Syukurnya pelayan yang bernama Titi membantu Audrey. Ia akan masuk ke dalam kamar Audrey jika Lily dan Bella keluar dari mansion. Titi yang selalu membersihkan badan Audrey, lalu mengobati lukanya dan memberikan obat yang seharusnya. Sudah sejak lama mereka berdua tidak pernah lagi memberikan obat dari dokter buat Audrey dengan alasan hanya membuang uang saja. Mereka mengatakan dengan sangat yakin kalau Audrey gak akan pernah sembuh dari kelumpuhan yang sedang dideritanya.
Jika Lily yang berlaku kejam padanya, Audrey masih bisa memakluminya karena mereka tidak saling mengenal.
Tapi ia gak habis pikir dengan Bella. Mereka sudah lama berteman bahkan Audrey sudah menganggapnya seperti saudara. Namun ia tega melakukan hal buruk ini padanya. Hanya karena Bella iri pada semua yang dimiliki Audrey selama ini. Bagusnya Audrey segera menyadarinya hingga ia bisa mengeluarkan Rina dari mansion dan kedua wanita jahat itu tidak curiga padanya, dan tidak menyadari kalau sebenarnya Audrey sudah tahu mengenai rencana jahat mereka berdua.
Bahkan Bella sengaja berbohong pada Zia dan Dea pada saat mereka datang ke mansion untuk melihat keadaannya dengan mengatakan kalau Audrey sudah tidak lagi berada di mansion karena sedang berobat di luar negeri bersama Rina. Jadi sejak hari itu Dea dan Zia tidak pernah lagi berkunjung ke mansion.
Hanya Reno yang sesekali datang menjenguknya dan Audrey terpaksa bersikap pura - pura tidak mengetahui kalau Reno juga berkomplot dengan kedua wanita itu.
Tapi sejak ia sudah tidak bisa lagi bergerak dan hanya berbaring di tempat tidur, Reno sudah tidak pernah lagi menginjakkan kakinya ke mansion ini.
Sudah hampir dua Minggu ini mereka tidak lagi memantau kondisi Audrey. Mereka terlihat sibuk hingga mengacuhkan keberadaan Audrey. Audrey tidak tahu apa yang sedang di kerjakan oleh keduanya atau mungkin saja Lily dan Bella melupakannya karena sedang menikmati kekayaan milik nya. Terutama Bella, wajahnya terlihat bahagia sekali kata Titi pelayan setianya karena butik itu sudah berganti nama pemiliknya. Butik mommy Audrey sudah menjadi milik Bella.
Sejak Lily dan Bella berpikir kalau Audrey sudah tidak bisa bergerak dengan bebas lagi dari tempat tidur, ia lalu menugaskan Titi untuk mengurus dan mengantarkan makanan buat Audrey. Meski makanan dan minuman buat Audrey tetap Lily yang membuat nya.
Tetapi tanpa sepengetahuan Lily dan Bella, Titi selalu membuang makanan dan minuman itu dan menggantinya dengan yang baru meskipun makanan seadanya saja. Tapi minimal keadaan Audrey sudah lebih membaik dari sebelumnya. Badannya sudah jauh lebih sehat. Ia sudah dapat berbicara lagi dan sudah bisa menggerakkan tangannya dengan bebas meski ia tetap belum bisa berjalan.
Untungnya Audrey sudah menduga kalau kelainan yang terjadi pada tubuhnya pasti karena sesuatu yang telah di - campurkan pada semua makanan yang di berikan Lily. Jadi sejak Titi bertugas untuk merawatnya , Audrey meminta padanya untuk membuang semua baik itu makanan, cake, cemilan maupun minuman. Walaupun saat pertama ia ingin mengatakan itu pada Titi, Audrey mengalami kesulitan karena mulutnya susah untuk bicara dengan jelas. Ia meminta Titi untuk menulis urutan abjad agar apa yang ingin disampaikannya lebih mudah di pahami.
Namun Audrey tetap memasang wajah lemah dan tak berdaya jika Nana yang ditugaskan oleh Lily untuk memeriksa keadaannya.
Sejak Lily memberhentikan Nena, asisten kepercayaan bik Imah begitu ia keluar dari rumah sakit, dengan alasan kalau Audrey yang sedang berobat ke luar negeri dan memberikan perintah padanya untuk mengurangi jumlah pelayan selama Audrey tidak ada di - mansion nya.
Walau Nena pada awalnya tidak percaya dengan perkataan Lily dan Bella, tapi ia terpaksa mengikuti keinginan mereka, karena ia memang tidak menemukan keberadaan Audrey di mansion, saat ia bersikeras untuk melihat Audrey di kamar nya. Padahal yang terjadi sebenarnya ketika mereka tahu Nena pulang ke mansion, Audrey sudah di sembunyikan terlebih dulu oleh Lily dan Bella di gudang belakang yang ada di mansion. Sedangkan Nana masih tetap bekerja dan di angkat jadi kepala pelayan karena ia memihak pada Lily.
Tapi yang belum ia ketahui kalau hari ini penderitaannya akan semakin besar, karena Reno akan tinggal di mansion mulai malam ini. Reno sudah tidak sabar menjadi pemilik perusahaan Daddy Audrey.
" Ti ... kamu sudah melakukan seperti yang saya perintahkan ?" tanya Audrey pada Titi saat hanya mereka berdua di kamarnya, setelah Nana keluar mengecek keadaan Audrey.
" Sudah non ... Mina sudah bersedia. Ia akan meminta berhenti dan malam ini ia akan mengatakan alasannya berhenti kerja pada kedua wanita jahat itu. Baru setelah keluar ia segera mendatangi non Rina." ujar Titi lugas.
" Hmm ... bagus ! Jangan sampai mereka tahu apa yang sedang kita rencanakan. " ucap Audrey dengan lirih.
" Ya, non ... non Audrey tenang saja. Kami akan membantu nona untuk pergi dari kedua wanita jahat itu !" Titi dengan semangat mengatakan hal ini.
Ia sangat menyukai dan menghormati Audrey. Walau ia belum begitu lama kerja di mansion ini. Ia tahu kalau Audrey adalah orang yang baik. Hanya saja kebaikannya di manfaatkan oleh orang sekitarnya tanpa ada rasa kasihan sedikitpun padanya.
Makanya ia tidak takut untuk melakukan yang di minta oleh Audrey. Ia juga ingin nona nya kembali sehat dan bisa mengusir kedua wanita 🦊 itu secepatnya dari mansion milik nona nya.
" Sudah kamu katakan pada Mina untuk pulang ke kampungnya sementara agar Rina menggantikan tugasnya di sini ?" tanya Audrey setelah mengingat hal ini.
" Sudah non, Mina juga senang karena ia bisa keluar dari mansion ini dan tidak melihat kedua orang itu untuk beberapa waktu ini." ujar Titi menjelaskan pada Audrey.
"Ya, sudah ... kalau begitu sebaiknya kamu keluar dari kamar biar Nana gak curiga sama kamu karena terlalu lama di kamar saya." perintah Audrey dengan nada lembut.
" Baik non ... nanti kalau nona haus atau pengen makan sesuatu, hubungi saja saya lagi biar saya segera datang ke kamar nona." ujar Titi sebelum keluar dari kamar Audrey.
" Ya, kamu jangan khawatir. Saya pasti memanggil kamu jika saya butuh sesuatu." ucap Audrey.
" Baiklah, non ... selamat istirahat !" ujar Titi sopan.
__ADS_1
" Ya ... " Audrey lalu merebahkan dirinya kembali ke tempat tidur setelah ia duduk selama satu jam dan mengobrol dengan Titi.
Ia memang butuh istirahat agar pikirannya bisa berpikir dengan baik untuk merencanakan langkah selanjutnya. Walaupun ia masih belum begitu yakin kalau rencananya untuk keluar dari mansion ini tanpa di ketahui oleh mereka akan berhasil. Tapi ia akan tetap mencobanya. Ia harus pergi dari sini begitu Rina berhasil masuk kembali ke mansion karena ia sudah bertekad untuk segera sembuh dari penyakitnya.
Tak terasa hari sudah menjelang senja saat Audrey membuka kedua kelopak matanya yang indah. Ia sengaja tetap berbaring di tempat tidur karena gak ingin ketahuan kalau ia sebenarnya sudah bisa duduk sendiri tanpa bantuan orang lain. Nana ataupun kedua wanita itu bisa saja tiba - tiba masuk ke kamarnya, karena pintu kamarnya tidak pernah terkunci.
Audrey pura - pura menutup matanya kembali ketika terdengar suara langkah kaki mendekati kamarnya. Tak lama pintu itu di buka dan muncullah wajah Nana yang kemudian mendekati tempat tidur Audrey. Ia lalu mengguncang badan Audrey dengan kencang untuk membangunkannya. Tapi Audrey tetap tak bergeming.
Audrey paling benci dengan penghianat seperti Nana. Hanya karena di janjikan uang yang lebih dari Lily, ia tega mengkhianati majikannya yang sudah teramat baik padanya selama ini. Ternyata Audrey yang salah dalam menilainya. Nana yang terlihat lembut dan sopan padanya, tak lebih baik dari Lily dan Bella.
" Hey, bangun ....bangun ! " Nana menepuk tangan Audrey dengan keras.
" Mbak ... jangan kasar gitu dong ! Kasihan kan non Audrey nya. " ujar Titi yang baru saja masuk ke kamar Audrey.
" Alah ... kamu jangan banyak ngomong ! Nanti saya laporkan sama nona Lily baru tahu rasa kamu ! Sekarang yang jadi pemilik mansion ini nona Lily. Dia hanya seorang pesakitan sekarang ini. " ujar Nana dengan mata melotot tanpa mengindahkan perasaan Audrey.
" Mbak ... kenapa jadi berubah kaya gini sih ? Dulu mbak Nana sopan banget sama non Audrey." ujar Titi dengan raut wajah kesal.
" Dulu ya dulu ... sekarang udah beda. Karena pemilik mansion ini sudah bukan dia lagi. Saya hanya hormat dengan pemilik mansion ini !" ujar Nana tanpa merasa bersalah sedikitpun.
" Meskipun begitu tapi mbak Nana gak boleh berlaku kasar pada non Audrey. Nona Audrey sedang sakit . Kita gak boleh berlaku kasar padanya. Cukup non Lily dan Bella saja yang bersikap seperti itu. Kita jangan ikut - ikutan mbak. " Titi masih mencoba mengubah hati nurani Nana.
" Kamu gak usah nasehati saya. Saya lebih tua dari kamu. Saya lebih tahu mana yang terbaik untuk kehidupan saya. Untuk apa saya memihak pada orang yang sudah jelas - jelas gak berguna. " ujar Nana tetap ngotot.
" Ya sudahlah mbak ... terserah mbak Nana saja. Saya hanya mengingatkan. Jangan sampai menyesal dengan keputusan yang mbak Nana ambil saat ini." sahut Titi dengan nada melemah, karena ia sadar kalau Nana sudah tertutup pintu hatinya.
" Kenapa saya harus menyesal ! Non Lily lebih bisa menjamin kehidupan saya di masa depan.
Sekarang, sebaiknya kamu cepat membersihkan badannya. Tadi non Lily telepon, kalau malam ini calon suami nona Lily akan datang dan mulai hari ini akan tinggal di sini. Jadi non Lily tidak mau ada aroma bau yang menyebar di sekitar mansion gara - gara dia gak bisa membersihkan dirinya sendiri !" ujar Nana kasar lalu melengos keluar dari kamar Audrey.
Begitu pintu tertutup Audrey pun membuka matanya.
" Eh, non Audrey sudah bangun ? " tanya Titi dengan wajah terkejut. Ia khawatir Audrey sempat mendengar perkataan Nana tadi.
" Ya, saya baru saja bangun Ti. " sahut Audrey dan bersikap seakan - akan dia gak tahu yang baru saja terjadi.
" Oh, syukurlah. Sekarang kita makan dulu non, baru setelah itu kita mandi. " ujar Titi menarik nafas lega karena Audrey tidak mendengar omongan Nana yang kelewatan.
" Ya ... " ucap Audrey singkat.
Audrey segera mengangkat badannya dan duduk di tempat tidur. Ia sudah bisa makan sendiri tanpa harus disuapi oleh Titi lagi. Ia harus berusaha lebih keras dari ini agar kesehatannya semakin membaik.
" Non ... tadi kata mbak Nana, malam ini calon suaminya Lily akan datang dan mulai malam ini akan tinggal di mansion non !" ujar Titi menyampaikan pesan Nana tadi.
" Oh, apa kamu tahu siapa calon suaminya ? " tanya Audrey pura - pura kaget sambil tetap memasukkan makanan yang di - bawa Titi kedalam mulutnya.
" Gak tahu non ... tapi saya kog curiga kalau sebenarnya Tuan Reno itu pacarnya Lily. " ujar Titi pelan sembari melihat ke arah pintu. Ia takut kalau tiba - tiba ada yang masuk ke kamar.
" Hmm ... kenapa kamu bisa bilang begitu ?" tanya Audrey ingin tahu. Walaupun sebenarnya ia sudah menduga hal itu, karena ia percaya dengan apa yang pernah di katakan Rina padanya. Kalau sebenarnya mereka memiliki hubungan yang tidak biasa.
" Bentar non ... saya kunci pintu dulu. Takutnya ada yang masuk." ujar Titi lalu bangkit dan mengunci pintu kamar Audrey.
" Begini non ... soalnya saya pernah gak sengaja lihat kalau Tuan Reno masuk ke kamar orang tua non yang sekarang jadi kamarnya Lily setelah Tuan Reno selesai menjenguk non Audrey. Mereka lama di dalam kamar itu, non ... ! Pasti mereka berbuat yang gak senonoh di kamar itu !" ujar Titi menjelaskan alasannya.
Audrey menghempaskan nafas dengan kasar mendengar yang di katakan Titi. Ia mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Wajahnya memerah menahan amarah di hatinya. Ia tidak begitu masalah jika mereka menghinanya, menyakiti badannya. Tapi ia tidak bisa terima kalau kamar kedua orang tuanya di kotori dengan perbuatan mereka yang menjijikkan.
__ADS_1
Titi lumayan terkejut melihat tanggapan yang di berikan Audrey. Selama ia merawat nona nya tidak pernah sekali pun wajahnya terlihat marah seperti saat ini.
Ia selalu sabar meski di hina oleh Lily dan Bella. Tapi Titi bisa mengerti, mungkin karena Lily telah melakukan hal yang gak benar di kamar kedua almarhum orang tua non Audrey sehingga ia menjadi marah seperti sekarang.
" Maaf non ... non gak papa ?" tanya Titi khawatir karena Audrey masih diam dengan memasang wajah yang dingin.
" Hmm ... saya gak papa, Ti. Kamu jangan khawatir. " ucap Audrey masih dengan wajah dingin.
" Ya, non ... saya hanya gak ingin nona jadi tambah sakit karena memikirkan kelakuan mereka." ujar Titi pelan.
" Hmm ... mereka gak penting untuk saya pikirkan. Biarkan mereka melakukan apa saja sesuka hati !" ucap Audrey sudah bisa menguasai perasaannya.
" Non sudah selesai makan, mau langsung mandi atau gimana ?" tanya Titi begitu melihat Audrey sudah menghabiskan makanan yang ia bawa.
" Hmm ... bentar lagi Ti ! Kita ngobrol aja bentar. " kata Audrey.
" Baik non ... !" Titi pun lalu menarik kursi dan duduk di dekat Audrey.
" Kamu kenapa mau membantu. saya Ti ? Padahal kalau kamu memihak Lily pasti kamu akan di berikan uang yang banyak seperti yang di lakukan Nana." tanya Audrey ingin tahu karena selama ini ia belum pernah mendengar alasan Titi menolongnya.
" Non, saya memang hanya orang susah dan datang dari kampung.
Saya memang butuh uang untuk membantu keuangan orang tua saya di sana. Tapi saya niatnya cari uang halal non. Saya gak mau mengirimkan uang pada kedua orang tua saya dari hasil kejahatan. Apalagi saya tahu kalau semua yang ada disini adalah milik non Audrey. Mereka saja yang gak tahu malu dan gak punya hati. Non Audrey sudah bersikap baik sama mereka tapi mereka malah tega melakukan hal ini sama non. Apalagi si Bella itu, udah dikasi tempat tinggal sama non ... malah ngelunjak !" ujar Titi dengan wajah kesal ketika mengatakan hal ini.
Audrey tersenyum tipis mendengar omongan Titi. Ternyata memang masih ada orang yang berhati tulus di dunia ini dan gak di butakan oleh uang.
" Hmm ... kamu berapa bersaudara Ti ?" tanya Audrey lagi.
" Saya paling besar non. Adik saya masih sekolah di kampung. Tahun depan adik saya akan lulus dari SMA. Makanya saya memutuskan untuk bekerja di kota supaya adik saya bisa melanjutkan ke - pendidikan yang lebih tinggi. Cukup saya saja yang gak bisa melanjutkan sekolah, adik saya jangan. " wajah Titi terlihat bersedih ketika mengucapkan hal ini.
" Hmm ... bagus ! Kamu kakak yang baik dan bertanggung - jawab. Orang tuamu pasti bangga punya anak seperti kamu. " ucap Audrey tulus.
" Terima kasih, non ... itu memang sudah jadi tanggung jawab saya sebagai anak yang paling besar. " Titi dengan lugas mengatakannya.
" Kamu gak pengen kuliah ? " tanya Audrey.
" Hehehe ... kalau di tanya pengen sih, ya pengen non ... tapi saya sadar diri. Biar adik saya saja yang kuliah nanti. " sahut Titi sembari tertawa kecil.
" Hmm ... doakan saya agar bisa segera pergi dari mansion ini biar kamu bisa kuliah juga sama seperti adik kamu ! " ucap Audrey lembut. Ia sudah berjanji dalam hati, jika ia bisa keluar dari mansion ini dan berobat hingga sembuh dan bisa berjalan normal kembali, maka Audrey akan membayar semua biaya kuliah Titi dan adiknya.
Titi terlihat terkejut begitu mendengar perkataan Audrey.
Orang baik dan tulus seperti ini harus ia bantu. Di zaman yang penuh dengan kemunafikan dan keserakahan, orang - orang baik dan tulus seperti Rina dan Titi mungkin hanya tinggal segelintir saja. Mereka membantu bukan karena mengharapkan sesuatu dari Audrey tapi melainkan karena mereka masih memiliki rasa empati buat orang lain.
" Saya pasti doakan non Audrey selalu. Bukan karena mengharapkan sesuatu ataupun hal - hal lainnya. Tapi karena saya ingin non Audrey bisa segera sembuh dan gak di siksa lagi sama mereka. " ujar Titi dengan wajah tulus.
" Hmm ... terima kasih, Ti ... !" ucap Audrey.
" Ya, non ... sama - sama. Saya juga mau mengucapkan terima kasih karena sudah di berikan kesempatan untuk bekerja di - tempat sebagus ini. Non Audrey orang baik !" ujar Titi dengan senyum di wajahnya.
" Makasih ... sekarang saya mau mandi. Sebentar lagi mereka pasti akan pulang. " kata Audrey sembari menggeser badannya biar lebih dekat dengan kursi rodanya.
" Ya, non ... " Titi lalu membantu mengangkat badan Audrey dan mendudukkan nya di kursi roda.
Selama ini, baik Lily maupun Bella tidak ada yang tahu kalau Audrey mandi setiap hari. Mereka pikir, Titi hanya membantu dengan membersihkan badannya saja di - tempat tidur.
__ADS_1
**********************************