
" Berhenti, ijinkan aku ikut." kata Rifky menahan langkah Drake yang ingin masuk ke dalam mobil.
Drake melihat Rifky dengan tatapan tajam. Ia meneliti Rifky dari atas hingga kebawah.
Ia tahu jika anak muda di depannya ini adalah adik dari wanita yang bernama Rina.
Temannya Audrey yang berasal dari kampung. Selama ini, jika Drake sedang berada di I******** ia terkadang mengawasi orang - orang yang dekat dengan Audrey. Cuma karena ia lebih banyak berada di markas mereka ia jadi tidak mengetahui jika sekarang Audrey mulai dekat dengan Reno.
Ia tahu Rina dan Rifky, orang yang baik. Makanya ia yakin bisa mempercayai Rifky
" Lo, bisa ikut tapi dengan catatan
setelah ini Lo gak bisa memberitahu ke siapapun kemana Lo pergi bersama gue.
Termasuk ke saudara Lo ... bisa ?"
ujar Drake dengan nada dingin.
" Bisa, gue janji gak akan ngomong ke siapapun. Bahkan
ke saudara perempuan gue sekalipun. " janji Rifky, karena ia sangat penasaran dan ingin mengetahui Audrey mau dibawa kemana oleh mereka.
" Okey ... gue pegang janji Lo.
Jika Lo berani melanggar, Lo gak akan bisa menghirup udara lagi buat selamanya." ujar Drake
mengancam Rifky.
" Baiklah ... tapi aku gak bawa
apa - apa. Apa boleh aku mengambil beberapa pakaian untuk dibawa ? " tanya Rifky lega karena diperbolehkan ikut oleh Drake.
" Tidak perlu, disana banyak pakaian yang bisa Lo pakai.
Masuk lo ke mobil sebelum gue berubah pikiran." kata Drake dengan nada penuh penekanan.
" Baik ... " Rifky segera masuk
ke dalam mobil, karena ia takut
Drake merubah pikirannya lalu tidak mengijinkannya untuk ikut.
Rifky terkesima begitu melihat isi dalam mobil. Ia tidak tahu merk apa mobil yang digunakan Drake dan teman - temannya ini.
Dalamnya sangat mewah. Semua serba hitam seperti mobil - mobil
mafia di film yang pernah ia lihat di televisi
Mobilnya seperti ini, dalam imaginasi Author ... 😂
" Duduk Lo atau Lo mau berdiri terus ... !!! " perintah Drake dengan wajah datar pada Rifky.
" Eh, iya ... iya. " Rifky pun segera duduk sambil terus memperhatikan mobil ini.
Mobil pun mulai bergerak maju dengan cepat setelah Rifky duduk.
" Teman - teman Tuan tidak ikut ? " tanya Rifky heran karena Drake pergi tanpa menunggu temanya yang masih berada di mansion.
" Mereka bisa menyusul. Tugas
kamu sekarang perhatikan Queen
dengan baik. Jika ia sampai terjatuh, gue akan membuang Lo ke jalanan." ujar Drake dingin sambil menyetir mobil.
" Baik ... " sahut Rifky singkat.
Ia pun melihat Audrey dengan serius. Audrey masih belum juga sadar. Telepon dari Kevin membuatnya ingin tidur selamanya.
Sedangkan di dalam mansion masih terjadi keributan antara
Reno dengan teman - teman Drake. Reno masih mencoba
untuk keluar mengejar Audrey
meskipun sekarang wajahnya
sudah mulai babak belur dibuat
mereka.
" Tolong, sebaiknya non Zia dan non Dea pulang dulu. Bawa juga tuan - tuan ini karena Nona Audrey sudah pergi. " ujar
bik Imah pada Zia dan Dea.
" Tapi Audrey dibawa kemana bik ? " tanya Zia khawatir.
" Kalau itu bibi tidak tahu." jawab Bik Imah.
" Jadi kalau bibi tidak tahu dia dibawa kemana. Kenapa bibi mengijinkan pria tadi membawa Audrey ? " tanya Bella yang ikut penasaran.
" Karena pria tadi temannya non Audrey. Jadi saya yakin, ia tidak akan melakukan hal buruk pada Audrey. " jawab Bik Imah cerdas.
" Tapi kami tidak kenal dengan dia. Baru sekali kami ketemu dengan pria itu. Dimana Audrey
jumpa dengan pria itu ? " tanya Bella lagi karena rasa penasarannya semakin membesar.
" Maaf nona Bella, kalau mengenai itu bibi tidak tahu.
Karena tugas bibi disini hanya
memenuhi kebutuhan non Audrey saja tanpa berhak ikut campur dalam urusan pribadinya." jawab Bik Imah dengan tegas.
Bella jadi kesal dengan jawaban
yang diberikan bik Imah. Sepertinya ada yang sengaja ditutupi olehnya agar Bella dan yang lain tidak tahu
Begitu juga dengan Reno. Ia merasa hal ini sangat mencurigakan. Kenapa pria itu bisa masuk dengan bebas ke mansion tanpa halangan sedikitpun. Padahal jelas sekali, saat Reno pertama kali datang kesini tanpa Audrey, ia tidak bisa masuk tanpa menjelaskan semua tentang dirinya. Baru setelah itu semuanya lebih mudah untuk masuk ke mansion ini. Karena para penjaga sudah mulai mengenalnya dengan baik.
Rina yang baru menyadari tidak melihat keberadaan Rifky menanyakannya pada bik Imah.
" Bik, apa bibi melihat Rifky ?
Tadi ia berdiri di dekat bik Imah."
tanya Rina cemas.
" Maaf, non Rina ... bibi tidak melihatnya, karena sejak tadi
saya lagi memperhatikan. keributan yang terjadi." ujar bik Imah berbohong, padahal jelas sekali ia melihat Rifky lari keluar menyusul Drake dan Audrey.
" Oh, kemana Rifky ya ... apa kalian tidak melihatnya ? " tanya Rina pada yang lain.
" Tidak Rin ... tadi kita lagi mencoba menolong Reno dan Ello yang sedang berkelahi dengan mereka." ujar Zia dan Dea.
" Iya, gue juga gak lihat adik Lo Rin ... " kata Bella.
" Aduh, kemana perginya Rifky.
Mana ponselnya gak aktif lagi."
kata Rina cemas karena ia baru saja selesai menghubungi ponsel Rifky.
" Udah, Rin ... Lo tenang dulu.
Mungkin Rifky tadi berhasil keluar mengejar pria tadi tanpa kita tahu." ujar Dea menenangkan Rina.
" Tapi tadi bik Imah gak melihatnya keluar. " bantah Rina khawatir.
" Mungkin bik Imah gak lihat, jadinya gak tau." ujar Dea lagi
" Iya, ya ... ya udah. Biar nanti gue coba menghubungi Rifky lagi." kata Rina mulai agak tenang mendengar perkataan Dea.
" Bik, selama nona tidak ada di mansion jangan biarkan siapapun boleh datang dan masuk. Kecuali nona Rina. Ia harus tetap berada di mansion sampai nona kembali. Kami permisi. " ujar salah satu pria sambil menarik Reno keluar. Sedangkan yang lainnya membawa Ello.
" Baik Tuan ... " jawab Bik Imah.
Mendengar hal ini membuat Zia dan yang lain segera ikut keluar dari mansion Audrey.
" Baiklah, bik ... Kami pulang dulu.
Nanti tolong kabari Zia ataupun yang lain kalau Audrey sudah pulang ke mansion." ucap Zia.
" Ya, non Zia ... ".
" Rin ... kami pulang ya. Lo baik - baik aja disini. Nanti kalau Lo mau keluar, bisa hubungi gue atau Zia biar kami jemput." kata Dea.
__ADS_1
" Iya ... makasih De." ujar Rina sambil mengantar mereka sampai ke pintu mansion.
Setelah mereka semua sudah keluar dari mansion, bik Imah segera menutup pintu mansion.
Teman - teman Drake segera pergi menggunakan mobil Audrey yang memang khusus digunakan jika ada keadaan darurat seperti sekarang setelah melihat Zia dan yang lain sudah keluar dari dalam mansion.
Melihat hal ini membuat Bella dan yang lain merasa heran.
Terutama Reno. Ia benar - benar sangat ingin tahu, siapa sebenarnya mereka ?
Bagaimana mereka bisa memiliki
kunci mobil Audrey ? Padahal sejak tadi Reno tidak melihat mereka meminta kunci mobil pada bik Imah. Sepertinya mereka orang - orang yang terlatih. Karena tadi gerakannya sangat cepat dan susah di hindari.
Itu sebabnya ia jadi babak belur
begini.
" Ello biar gue yang bawa mobilnya." kata Dea sambil memapah Ello yang menahan sakit akibat berkelahi tadi.
" Makasih, De ... " jawab Ello, begitu masuk ke dalam mobil.
Dea membalas dengan senyuman dan anggukan kepalanya.
" Jadi yang bawa mobil dia
siapa ? " tanya Bella pura - pura gak mengenal Reno.
" Elo aja Bel .. gue kan harus bawa mobil gue. " sahut Zia.
" Baiklah ... " sahut Bella senang.
Reno yang sedang meringis menahan perih di bibirnya karena
terluka, memang membutuhkan
bantuan Bella saat ini untuk membawanya pulang. Lagi pula
hanya Bella yang tahu letak apartment Reno.
Setelah masing - masing masuk kedalam mobil, merekapun pergi meninggalkan mansion. Kini mansion kembali sepi. Hanya tinggal Rina dan para pelayan yang ada di dalam mansion dan penjaga di gerbang.
" Bik ... siapa mereka ? Apa bik Imah memang tidak mengenal mereka ? " tanya Rina begitu hanya tinggal mereka berdua di ruang tamu.
Bik Imah merapatkan badannya dengan Rina, lalu bicara dengan pelan pada Rina.
" Nanti di kamar aja baru kita bicara lagi. Soalnya bibi curiga ada penyusup di mansion ini."
" Hah ... baik bik." sahut Rina terkejut.
" Rina tidur di kamar yang mana bik ? gak enak tidur di kamar Audrey, sedangkan Audrey nya gak ada." tanya Rina sopan.
" Non Rina tidur di kamar tamu yang di atas aja."
" Baik bik, tapi bik Imah nanti tidur sama Rina, ya ... " ujar Rina.
" Ya ... sekarang non Rina sebaiknya bersih - bersih dulu.
Saya mau menyuruh mereka membersihkan barang - barang yang berantakan."
" Ya bik ... saya naik dulu."
" Ya, silahkan non .... ".
Setelah Rina menghilang didalam
lift, Imah segera menghampiri
Lily pelayan baru yang gerak - geriknya membuat bik Imah curiga.
Melihat bik Imah menghampirinya,
Lily berusaha menutupi kegugupannya. Ia gak menyangka
Imah bisa tahu kalau ia sedang
menguping pembicaraan sambil bersembunyi di balik lemari besar yang ada di dekat ruang tamu.
" Kamu sedang menguping saya bicara dengan non Rina ?" tanya
" Gak buk ... gak mungkin saya berani. Saya sedang mengelap lemari ini. " dalihnya sambil mengelap lemari. Untung saja, ia
selalu membawa kemoceng dan kain lap saat berkeliaran di mansion ini.
" Kamu jangan bohong. Jelas - jelas saya lihat kamu bersembunyi di balik lemari ini. Saya sudah pernah bilang ke kamu. Kamu akan saya pecat jika saya lihat
kamu membuat kesalahan lagi.
Sekarang juga beresi barang - barang kamu dan keluar dari mansion ini." ujar bik Imah dengan tegas.
" Tolong Bu ... jangan pecat saya.
Adik saya masih kecil - kecil di kampung. Saya harus kerja agar mereka bisa tetap sekolah. Sumpah saya tidak menguping pembicaraan Ibu dengan non Rina. Saya beneran lagi ngelap
lemari." ucap Lily berbohong dengan wajah memelas.
Mendengar alasan yang dikatakan
Lily, bik Imah agak merasa kasihan. " Apa mungkin aku yang salah ? Kasihan juga kalau adik - adiknya sampai tidak sekolah karena Lily aku pecat. Apa sebaiknya aku memberinya kesempatan satu kali lagi." ucap Imah dalam hati.
" Baik, kamu saya beri kesempatan satu kali lagi. Jika saya melihat kamu kembali melakukan hal yang mencurigakan, maka detik itu juga kamu saya pecat." kata bik Imah
akhirnya.
" Terima kasih banyak Bu ... saya
berjanji akan bekerja lebih baik.
Saya ingin tetap bekerja disini agar adik - adik saya bisa terus sekolah." ucap Lily dengan wajah
masih dibuat bersedih.
" Ya, sudah ... sekarang kamu bantu mereka membersihkan
barang - barang yang berantakan."
perintah Bik Imah.
" Baik Bu ... sekali lagi terima kasih." ucap Lily lalu berlalu dari hadapan Imah.
Lily segera merubah wajah memelasnya begitu membelakangi bik Imah.
Kini seringai licik memenuhi wajah Lily. " Sekarang aku harus lebih berhati - hati, karena sepertinya Imah sudah mulai
mencurigai ku." batin Lily.
Setelah mansion kembali bersih, bik Imah segera menuju kamar Rina. Ia ingin menjelaskan sesuatu karena pertanyaan Rina tadi. Imah yakin bisa mempercayai Rina. Karena tidak
mungkin Rifky bisa ikut bersama
Drake jika ia tidak bisa di percaya.
Jadi kesimpulannya berarti kedua
kakak beradik ini bisa ia percaya.
Lily yang terus memperhatikan
gerak - gerik bik Imah segera mengikutinya. Diam - diam Lily menyelinap pergi dari kumpulan pelayan yang sedang beristifahat
setelah selesai membersihkan mansion akibat kekacauan tadi.
" Eh, maaf bik ... " ujar Rina malu karena sedang rebahan di kasur ketika bik Imah masuk ke kamar.
Ia tidak mendengar ketukan di pintu karena sedang memikirkan apa yang sebenarnya terjadi pada Audrey dan Rifky.
" Gak papa non ... sambil rebahan aja kalau lelah. Biar bibi cerita sambil duduk di kasur aja." kata bik Imah lalu mengunci pintu kamar Rina.
" Saya duduk aja bik ."
" Baiklah."
" Jadi siapa mereka yang telah membawa Audrey, bik ... ? ".
" Sebentar, bibi mau lihat keluar dulu."
Lily yang mendengar langkah kaki mendekat kearah pintu segera lari
__ADS_1
menjauh.
" S*** ... si tua bangka itu benar -
benar waspada. Sebaiknya aku turun kebawah sebelum ketauan lagi olehnya. Lagi pula aku gak bisa mendengar suara mereka.
Kamar itu benar - benar bagus kedap suaranya." umpat Lily lalu melangkah turun.
Setelah Imah tidak melihat seorangpun di dekat kamar, ia segera menutup kembali pintu kamar itu.
" Ada apa sih, bik ... apa memang benar ada penyusup di mansion ini ?".
" Iya, non ... bibi curiga dengan seorang pelayan baru. Gerak -
geriknya sangat mencurigakan.
Sudah dua kali bibi melihatnya menguping pembicaraan, yang pertama ketika non Audrey sedang bicara dengan Tuan Reno di kolam renang. Terus saat tadi
kita bicara di bawah. Selain itu
sudah beberapa kali bibi lihat, ia sering memperhatikan non Audrey saat sedang sendiri."
" Hah, siapa nama pelayan itu bik ? ".
" Lily ... dia hanya pelayan sementara."
" Kenapa bik Imah gak memecatnya ? ".
" Tadi sebenarnya bibi hampir memecatnya tapi dia berkata kalau ia tidak ada menguping pembicaraan kita. Ia mohon agar jangan dipecat agar adik - adiknya bisa tetap bersekolah. Jadi bibi
memberikan satu kesempatan lagi padanya. Jika ia masih melakukan hal yang sama ia segera bibi pecat."
" Besok beritahu Rina ya bik ... orangnya yang mana. Jadi Rina
bisa ikut memperhatikan sikapnya."
" Tentu non ... Oya, tadi non Rina menanyakan siapa yang membawa non Audrey ."
" Iya bik .. siapa mereka ?".
" Namanya Drake yang membawa
non Audrey. Ia tidak akan muncul jika tidak ada hal yang sangat penting."
" Hal penting apa, bik ... ?".
" Itu yang belum bibi ketahui.
Drake dan teman - temannya tadi adalah anak - anak jalanan yang diangkat oleh Tuan Eldric dan Nyonya Elif, menjadi anak asuhnya. Mereka disekolahkan dan di didik dengan berbagai macam keahlian. Saat mereka datang pasti mengunjungi nona
Audrey. Mereka memanggil non Audrey, Queen karena nona adalah satu - satunya wanita di lingkungan mereka. Mereka menganggap non Audrey sebagai ratu mereka."
" Oh, kalau begitu sekarang mereka membawa Audrey pergi kemana ?".
" Ke negara kelahiran Tuan Eldric,
I******. "
" Hah ? Apa Rifky ikut bersama mereka bik ? ".
" Ya, maaf tadi bibi berbohong pada non Rina, karena bibi tidak ingin yang lain tahu. Ya, Rifky pasti ikut pergi bersama Drake. Karena bibi tidak bisa percaya dengan temannya non Audrey yang bernama Bella itu. Tingkahnya selalu mencurigakan dan menyebalkan jika datang
ke mansion. Sering bibi melihat dia sedang memperhatikan non Audrey dengan tatapan tidak suka. Apalagi pernah sekali, ia mencoba masuk ke kamar Tuan
Eldric saat menginap disini.
Cuma karena kebetulan bibi sedang lewat disitu, ia membatalkan niatnya."
" Masa Bella berani melakukan hal itu ? Tapi maaf sebelumnya bik, bukan berarti saya mau menjelekkan Bella. Tapi saya juga tidak percaya dengannya. Saya merasa tidak sebaik yang ia
perlihatkan di depan Audrey.
Tapi kenapa bibi bisa percaya pada saya ? Bisa saja saya juga berniat jahat pada Audrey."
" Drake tidak akan mungkin mau membawa Rifky jika ia tidak mempercayai kalian. Ia pasti sudah menyelidiki non Rina dan Rifky selama ini."
" Apa ? Kenapa pria itu menyelidiki kami ? Apa kami ada buat kesalahan selama dekat dengan
Audrey ?".
" Bukan begitu non ... Drake selalu
menyelidiki semua orang yang dekat dengan non Audrey demi
menjaga keselamatannya.
Karena ada yang sedang mengincar nyawa keluarga ini."
" Hah ... yang benar bik ?
Siapa yang berniat jahat seperti itu, padahal Audrey dan kedua orang tuanya sangat baik."
" Hmm ... pokoknya ada. Makanya bibi mohon sama non Rina dan Rifky agar selalu menemani non Audrey walau
apapun nanti yang akan terjadi.
Tolong jaga dia dari orang - orang jahat. "
" Kenapa bik Imah lebih percaya menceritakan pada saya dibandingkan dengan teman - temannya yang lain ? Bukankah mereka lebih lama berteman dengan Audrey dibandingkan saya, yang baru saja berteman dengannya. Lagi pula saya dan Rifky hanya seseorang yang datang dari kampung. Kami tidak punya kekuatan apalagi kekuasan."
" Bibi percaya pada non Zia dan Non Dea, karena mereka berteman sejak masih kecil. Tapi bibi khawatir mereka akan cerita ke Bella. Jadi bibi tidak
ingin meminta tolong pada mereka berdua."
" Bik ... sebenarnya apa yang terjadi pada keluarga ini ?".
" Suatu saat non Rina akan tahu
dari non Audrey. Untuk sekarang
cukup ini saja yang bisa bibi ceritakan. Sekali lagi bibi minta
tolong tetap terus bersama
non Audrey apapun yang akan terjadi nanti. Bantu dia dan lindungi. "
" Baiklah bik ... bibi jangan khawatir. Saya dan Rifky sudah
menganggap Audrey sebagai saudara kami. Jadi kami akan
selalu bersamanya."
" Terima kasih, non Rina."
" Ih, bik Imah apaan sih ? Gak perlu mengucapkan terima kasih pada Rina. Ini memang sudah jadi janji saya dan Rifky sebelum bibi
mengatakan hal ini pada saya."
" Baiklah, kalau begitu sebaiknya kita tidur sekarang. Agar besok kita bisa segera tahu apa yang terjadi pada non Audrey. "
" Kita tahu dari mana, bik ? Apa ada yang bisa bibi hubungi ?".
" Bibi akan mencoba menghubungi seseorang."
" Oh, Oya bik ... nomer ponsel Rifky tidak aktif terus. Apa bibi bisa meminta Drake agar Rifky
menghubungi saya."
" Untuk sementara ini, non Rina
lebih baik sabar menunggu. Karena biasanya jika dalam
situasi darurat, tidak akan ada yang bisa menghubungi Drake kecuali non Audrey dan seseorang."
" Seseorang itu siapa, bik ?".
" Nanti jika sudah tiba waktunya, non Audrey pasti akan memberitahunya sendiri."
" Hmm ... baiklah bik."
Setelah berbincang cukup lama, akhirnya Rina dan Bik Imah merebahkan diri ke tempat tidur.
Banyak pertanyaan yang seliweran di kepala Rina . Tapi untuk sekarang, ia harus bersabar.
Ia yakin, jika Audrey memang benar mempercayainya suatu saat ia akan memberitahu Rina.
*********************************
__ADS_1