
Pagi mulai menjelang, Audrey dan kedua kakak beradik itu telah bersiap - siap untuk pergi dari kampung ini.
" Lo, sedih ya Rin ... karena harus meninggalkan kampung tempat Lo dilahirkan ? " Audrey bertanya sambil menyentuh bahu Rina yang sedang menatap setiap sudut dari rumahnya.
" Gue bukan sedih karena harus meninggalkan kampung ini. Malah gue senang banget karena bisa segera pergi dari tempat ini.
Cuma rumah ini terlalu banyak kenangan yang terjadi, mulai dari gue dan Rifky masih kecil hingga sudah dewasa seperti sekarang.
Saat bapak masih ada, kami sangat bahagia walau pun hidup dalam kekurangan tapi ada bapak yang selalu melindungi kami jika ada yang menyakiti ataupun menghina kami." Rina menceritakan hal ini dengan mata berkaca - kaca.
" Mbak ... jangan sedih. Bapak sama Ibu pasti bahagia dengan keputusan kita. Mereka pasti juga
ingin kita pergi dari kampung ini." sahut Rifky menenangkan Rina.
" Tuh, Rin ... dengar yang Rifky bilang. Sekarang yang paling penting, kalian berdua harus membuat orang tua kalian bangga dengan keberhasilan dalam hidup kalian kelak. Jangan nangis, justru kalau kamu menangis kedua orang tuamu akan bersedih. " Audrey ikut menguatkan Rina.
" Kalian berdua benar. Gue gak boleh bersedih. Gue akan datang ke kampung ini lagi suatu saat jika sudah menjadi orang yang sukses. " tekad Rina.
" Bagus ... Itu baru saudara gue."
sahut Audrey senang karena Rina kembali semangat.
" Kita berdua akan sukses, mbak ... Rifky akan kerja keras." Rifky juga berkata dengan semangat.
" Baiklah, kalau begitu sekarang kita keluar lalu setelah berpamitan dengan Pak RT dan istrinya, kita bisa segera pergi." ucap Audrey tersenyum.
" Ya, ayo ... " jawab kedua kakak beradik ini semangat lalu keluar dari rumah sambil membawa barang - barang mereka.
Ternyata di halaman selain Pak RT dan keluarganya sudah ada juga beberapa warga dan teman - teman Rifky yang ingin menemui mereka sebelum pergi ke kota.
Pak RT dan istrinya, langsung menghampiri begitu melihat mereka keluar.
" Selamat jalan nak ... semoga kalian berhasil di kota. " kata Bu RT tulus pada Rina dan Rifky.
Begitu pula dengan Pak RT, ia mengucapkan hal yang sama seperti yang di katakan istrinya.
Mereka sangat mengetahui apa yang telah di alami kedua bersaudara ini sejak bapaknya meninggal. Walau mereka tidak pernah cerita tentang kesulitan yang mereka alami. Tapi Pak RT, tahu karena mendengar dari beberapa warga yang tidak menyukai paman dan Bibinya Rina.
" Aamiin ... Terima kasih atas doanya Bu, Pak ... " jawab Rina dan Rifky.
" Ya, ... kalian berdua harus saling menjaga di sana. Kalau ada apa - apa, jangan sungkan untuk menghubungi kami." kata Pak RT.
__ADS_1
" Baik, Pak ... " Rina menjawab sambil tersenyum pada Pak RT dan istrinya.
" Nak Audrey, saya titip Rina dan Rifky. Mereka sudah saya anggap seperti anak sendiri. Tolong perhatikan mereka berdua, karena sekarang cuma nak Audrey satu - satunya teman yang ada di samping mereka." pesan Pak RT pada Audrey yang sedang melihat ke arah nya.
" Ya, pak ... jangan khawatir, saya menganggap mereka berdua sudah seperti saudara saya sendiri. Kami bertiga akan saling menjaga. " Audrey menjawab perkataan Pak RT dengan sopan.
Mereka pun berpamitan dengan beberapa warga dan teman - teman Rifky yang mengantarkan kepergian mereka. Rina tidak melihat kehadiran paman, bibi dan sepupunya. Tapi ia senang, karena ia tidak ingin terjadi keributan menjelang kepergian mereka.
Setelah memberikan kunci rumah pada Pak RT, mereka bertiga menaiki mobil yang akan membawa Audrey, Rina dan Rifky pergi dari kampung ini.
Sedang para bodyguard menaiki mobil yang lain.
Kini mobil yang membawa mereka sudah mulai bergerak perlahan. Ketika melewati rumah pamannya Tarmo, Rina melihat kedua pamannya, bik Tuti dan para sepupunya menatap dari depan rumah mereka dengan tatapan sinis.
Rifky yang juga melihat mereka hanya tersenyum mengejek, bahkan. ia sengaja membuka kaca jendela mobilnya untuk membuat mereka semua makin panas melihat ia dan Rina, bisa pergi ke kota bersama Audrey.
Tarmo dan lain semakin panas melihat Audrey tersenyum ke arah Rifky dan Rina tanpa melihat ke arah mereka.
Kalau di pikir mereka ini memang keluarga aneh dan tak tahu malu.
Mereka marah dan tidak menerima karena Audrey tidak mau berteman dengan anak - anaknya, malah lebih memilih berteman dengan Rina dan Rifky yang miskin.
" Ya, mbak ... biar gak bisa tidur Paman dan bibi melihat kita pergi dengan mobil bagus, bersama Audrey lagi. " Rifky membenarkan perkataan Rina sambil tertawa kecil.
" Usil banget, sih ... udah biarin aja. Yang penting mulai hari ini kita gak ketemu dengan mereka lagi." Rina menegur adiknya.
" Biarkan saja Rin ... mungkin Rifky hanya ingin membalas mereka dengan cara ini." dukung Audrey yang melihat tingkah dua kakak beradik ini.
Ia juga tadi sempat melihat keberadaan saudaranya Rina dan Rifky, tapi sengaja pura - pura gak lihat. Sejak Audrey mendengar sendiri niat buruk mereka pada dirinya, ia jadi tidak respek.
" Tuh, dengarkan mbak ... Audrey aja setuju. Santai aja, mbak ... "
Rifky perlahan mulai menutup kaca mobil, karena sudah puas melihat wajah marah dari mereka.
Sedangkan Tarmo dan keluarga besarnya hanya bisa melihat dengan tatapan yang penuh iri pada dua ponakan yang tak pernah di anggap oleh mereka.
***
Tidak terasa kini mereka bertiga sudah menuju bandara setelah menempuh perjalanan beberapa jam. Rifky begitu semangat begitu melihat pesawat. Seumur hidup baru kali ini ia bisa menaikinya. Audrey dan Rina hanya tersenyum kecil melihat sikap Rifky.
Para bodyguard membayangi mereka bertiga dari tempat yang tidak terlihat oleh orang lain.
__ADS_1
Sudah sepuluh menit, mereka berada di ruang tunggu tapi Audrey tidak melihat keberadaan Reno.
" Drey ... gue kog gak lihat si Reno, ya ... ? Bukankah dia bilang mau pulang bareng sama kamu ? " tanya Rina yang juga merasa heran. Karena kemarin Reno yang terlihat semangat karena bisa pulang bersamaan dengan Audrey.
" Gak tahu, Rin ... mungkin perkerja nya terluka parah, jadi dia membatalkan kepulangannya. "
Audrey merasa pasti inilah sebab
nya.
" Iya, ya ... Drey. "
" Udah, malah bagus dia gak jadi pulang bareng kita. Aku gak suka melihatnya." celetuk Rifky.
Audrey dan Rina saling pandang mendengar omongan Rifky.
Mereka hanya tersenyum kecil melihat wajah Rifky yang berubah karena Audrey dan Rina membicarakan Reno.
" Ya, sudahlah. Sekarang waktunya kita pulang." Audrey mengalihkan pembicaraan, sambil mengembangkan senyumnya.
Ia sudah rindu dengan kamar tidurnya, apalagi Audrey ingin segera bertemu dengan bik Imah untuk menanyakan tentang kabar orang tuanya.
" Nah, itu baru benar. Aku ingin melihat dimana tempat kerjanya mbak Rina." sahut Rifky senang.
" Jangan hari ini dong, Ky ... kita istirahat bentar, terus pergi beli pakaian buat kamu. Besok aja, hari ini kamu siapkan dulu lamaran kerja kamu. Siapa tahu ada lowongan kamu bisa langsung kerja. " Rina membantah perkataan Rifky.
" Iya, deh mbak ..." Rifky menyetujui alasan yang di katakan Rina.
Setelah pesawat membawa mereka terbang mengarungi langit biru, gak terasa Audrey dan yang lain akhirnya tiba juga di Ibukota.
Rifky yang baru pertama kali datang ke sini, langsung melihat dengan mata kagum begitu keluar dari bandara. Begitu banyak bangunan - bangunan tinggi.
Bahkan jalannya sangat lebar, tidak seperti di kampung.
Rina merasa iba melihat sikap adiknya.
Sikap Rina juga sama seperti Rifky, saat pertama kali datang ke Ibukota. Ia tak percaya melihat gedung yang begitu tinggi.
Apalagi setelah bekerja di cafe, ia melihat mall yang besar dan penuh dengan barang - barang bagus yang belum pernah di lihatnya di kampung.
**********************************
__ADS_1