
Sudah dua Minggu ini, sejak beberapa pelayan dan chef berhenti bekerja di mansion, keadaan agak lumayan lebih teratur di bandingkan awal kepergian mereka.
Selama bik Imah di rumah sakit, salah satu asistennya sementara waktu akan menggantikan posisinya yang mengatur semua pekerjaan di mansion. Sekaligus mengurus mengenai masalah dapur. Sebenarnya bik Imah sudah sadar dan membuka matanya, tapi kondisinya masih terlalu lemah. Jadi, Audrey menyuruh bik Imah tetap di rawat di rumah sakit sampai benar - benar pulih kembali.
Tapi karena ia bukanlah seorang chef yang ahli dalam berbagai jenis masakan, membuatnya membutuhkan bantuan dari Lily yang ternyata selama ini sering belajar dan meminta resep masakan dan cake yang ia sukai secara diam - diam pada chef sebelumnya.
Ternyata Lily bisa membuat masakan dan beberapa dessert yang sering di sajikan oleh chef.
Meskipun pada awalnya Rina tidak setuju dengan keputusan yang diambil oleh Audrey. Karena ia masih tetap mencurigai kalau Lily lah orang yang menyusup dan membuat kekacauan yang terjadi di mansion belakangan ini.
Tapi ia juga gak bisa berbuat apa - apa mengingat, ini sudah menjadi keputusan Audrey. Audrey mengatakan padanya justeru sengaja memberi kesempatan ini agar lebih mudah memantau gerakan yang akan dilakukan Lily.
Tapi sampai detik ini, ia belum menemukan hal aneh yang dilakukan Lily. Justru ia malah bekerja dengan sangat baik.
Sikapnya juga sopan dan lebih memperdulikan Audrey. Misalnya, ia sering mengantarkan minuman atau cemilan kesukaan Audrey dan mengantarkannya langsung ke kamar, jika ia melihat Audrey kelelahan sepulang dari perusahaan. Hingga membuat Audrey sedikit demi sedikit mulai percaya dengan Lily.
Meskipun Rina pernah mengingatkan Audrey untuk tidak terlalu mudah percaya, karena Rina selalu merasa apa yang ditampilkan oleh Lily bukanlah hal yang sebenarnya dari dirinya.
Audrey juga sudah memperkerjakan dua orang pelayan baru , menggantikan tugas Lily untuk membersihkan mansion. Ia sengaja tidak memakai pelayan sebanyak waktu
masih ada orang tuanya. Karena ia rasa mansion juga tidak terlalu butuh banyak orang untuk membersihkannya. Selain itu ia lebih banyak menghabiskan waktu di luar di bandingkan mansion beberapa hari ini.
Sementara itu kejadian yang melanda mansion sampai hari ini belum juga terpecahkan. Audrey tidak bisa menemukan apapun, meski ia sudah melihat cctv dan meminta bantuan dari bodyguardnya untuk terus menelusuri kejadian hari itu.
Bahkan saat ia bertanya pada petugas yang menjaga cctv, ia mengatakan kalau tidak ada menemukan sesuatu yang aneh terjadi pada hari yang menimpa semua pelayan yang ada di mansion. Karena tidak ada bukti rekaman sama sekali di cctv.
Saat Audrey dan Rina bertanya, apakah pada hari itu ia mengalami hal yang sama dengan yang di alami oleh pelayan lainnya yaitu tertidur. Petugas itu mengatakan ya, tapi ia merasa mungkin itu terjadi karena ia sedang mengkonsumsi obat sakit kepala, hingga akhirnya ia bisa tertidur.
Hal ini membuat Audrey menemukan jalan buntu. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk menghentikan penyelidikannya.
Meski Rina sangat tidak setuju dan menyuruh Audrey untuk melaporkan saja pada pihak berwajib agar bisa di selidiki lebih lanjut.
Tapi Audrey menolak dengan alasan ia tidak ingin pelaku yang menginginkan kehancuran orang tuanya dan dirinya akan menggunakan ini sebagai senjata untuk menghentikan Audrey secepatnya. Karena kejadian misterius ini bisa mereka gunakan sebagai rumor untuk menggantikan Audrey sebagai pemilik perusahan. Walaupun ia tahu, perusahaan sudah tidak bisa lagi diselamatkan. Tapi ia masih berusaha untuk tetap bertahan. Minimal sampai ia mengetahui siapa pelaku dari semua masalah yang ada di perusahan. Karena kemarin ketika ia dan Rina keluar dari perusahaan, kebetulan Audrey seperti melihat direktur keuangan sedang berbicara dengan seseorang di sebuah cafe. Tapi sayangnya saat ia dan Rina memutuskan untuk masuk dan melihat dengan siapa ia bicara, mereka sudah tidak ada. Seakan pria misterius yang duduk bersamanya sudah mengetahui kalau Audrey dan Rina sedang mengintai dirinya.
" Drey ... dua hari ini gue lihat muka Lo agak pucat. Lo sakit, ya ... ?" tanya Rina sembari mengamati wajah Audrey.
" Hah, gak ... gue baik - baik aja.
Mungkin karena kelelahan. Lo kan tahu sendiri, bukan hanya perusahaan yang harus gue pikirkan, tapi butik mommy juga." Audrey berusaha tersenyum saat mengatakan hal ini.
" Iya, gue tahu ... Lo pasti lelah. Tapi muka Lo ini pucat kaya orang lagi ada penyakit gitu, loh ... apa gak sebaiknya kita periksa kedokter." ujar Rina.
" Gak ... gue yakin, gue gak apa - apa cuma lelah doang. Sama elo juga kelelahan kan selama ikut dengan gue. "
" Iya juga, sih ... tiga hari ini kita terus lembur. Jadinya kurang istirahat."
" Tuh kan ... yang kita butuhkan sekarang cuma tidur.
Gue yakin, setelah tidur yang cukup kita jauh lebih enakan."
Tiba - tiba saat Audrey dan Rina yang sedang asyik mengobrol
di dekat kolam di kejutkan dengan kedatangan Lily yang tergesa menghampirinya.
" Non Audrey ... itu, ada temannya non yang datang." Lily menutupi rasa kesalnya, karena ternyata Bella yang datang mencari Audrey.
" Bella ... ya, sudah ! suruh aja dia kesini." ucap Audrey.
" Baik, non ... non Audrey sama non Rina mau minumannya di tambah lagi ?" ujar Lily sebelum pergi.
" Hmm ... boleh, sekalian buatkan buat Bella juga." ucap Audrey sembari tersenyum.
" Baik, non ....!" Lily menyeringai saat membalikkan badannya lalu melangkah pergi meninggalkan Audrey dan Rina.
" Ada apa ya, kog tumben Bella datang sendiri ? gak bareng Zia dan Dea ....?" tanya Audrey.
Rina yang memang gak pernah suka dengan Bella sejak awal hanya mengerutkan dahi mendengar pertanyaan Audrey.
" Kamu disuruh nona Audrey ke dekat kolam !" ujar Lily ketus pada Bella.
Ia memang tidak pernah menyukai Bella karena harus berbagi tentang Reno. Meskipun ia tahu Bella belum mengetahui tentang hubungannya dengan Reno.
Tapi membayangkan mereka harus berbagi pria yang sama di tempat tidur membuat Lily sangat ingin melenyapkannya.
" Hey, yang sopan lo kalau bicara sama gue. Lo itu cuma pelayan dan perempuan j****g !" bentak Bella kesal.
__ADS_1
" Maaf, saya tidak mengerti maksud anda. Tapi kalau saya tidak salah, saya pernah dengar tuh ... kalau kamu pekerjaannya juga pelayan. Cuma karena nona Audrey baik aja mau berteman sama kamu ! " ujar Lily memandang dengan sinis, sebelum berlalu dari hadapan Bella.
Bella mengepalkan tangannya dengan perasaan marah. Ingin sekali rasanya ia mengejar Lily, sekarang dan menampar wajahnya. Tapi jika ia melakukan itu akan membuat keributan dan Audrey akan curiga.
Kenapa ia bisa sampai menampar dan bertengkar dengan Lily. Ini
akan membuat hubungannya dengan Reno akan terbongkar.
Sementara ada hal lebih penting yang harus ia lakukan sekarang ini. Akhirnya ia berusaha meredakan emosinya dan berjalan kearah kolam sembari memasang wajah sedih. Bella harus berhasil kali ini untuk meyakinkan dan mendapatkan simpati dari Audrey.
" Drey .... ! " Bella langsung mengeluarkan air matanya begitu melihat Audrey.
Tentu saja Audrey dan Rina terkejut melihat Bella yang tiba - tiba datang dengan wajah menyedihkan.
" Hei, ada apa ... kamu kenapa, Bel ... ? " tanya Audrey dengan wajah khawatir sembari berdiri menghampiri Bella.
" Gue malu mau cerita sama Lo, Drey ... ?" ujar Bella dengan suara lirih.
" Udah, Lo duduk dulu ... baru cerita apa yang buat elo jadi kaya gini ? Lagian ngapain elo mesti malu sih ....! Lo, temenan sama gue udah lama." Audrey menggenggam tangan Bella.
Rina hanya diam sembari memperhatikan Bella.
" Soalnya gue udah terlalu sering dapat bantuan dari Lo, Drey ... jadi gue malu kalau sampai kali ini harus menyusahkan Lo lagi." isak tangis Bella semakin besar.
" Apaan sih, Drey ... Lo jangan mikirin itu. Kebetulan aja gue lagi ada dan bisa bantu Lo ... siapa tahu, suatu saat elo yang bantu gue. Kitakan gak tahu hidup kita kedepannya gimana ... ?
Jadi jangan pernah mengatakan hal ini lagi. Lo sahabat gue, sama kaya Rina, Zia dan Dea.
Udah, jangan nangis lagi dan sekarang ceritakan apa yang terjadi dengan Lo ! Mudah - mudahan gue bisa membantu masalah Lo." ucap Audrey dengan wajah serius.
Bella semakin deras mengeluarkan air matanya begitu mendengar omongan Audrey. Meski awalnya ia hanya bersandiwara agar mendapatkan simpati Audrey. Tapi melihat rasa perduli yang di perlihatkan Audrey padanya membuat Bella merasa bersalah tiba - tiba.
Namun ia berusaha menepis, karena keinginannya yang besar untuk bisa bersama Reno dan merasakan kemewahan seperti Audrey.
Rina yang awalnya gak terlalu perduli dengan tangisan Bella, mulai merasa penasaran juga. Selama mereka bertemu, belum pernah ia melihat Bella dalam keadaan terpuruk seperti sekarang. Biasanya sikap yang selalu diperlihatkannya selalu angkuh.
" Udah, Bel ... coba Lo cerita.
Siapa tahu, masalah Lo bisa
" Gue ....gue, udah gak bisa tinggal di apartment lagi, Drey ... karena gue udah gak kerja lagi di tempat yang satunya lagi. Jadi karena sekarang gue cuma kerja di satu tempat, gue gak sanggup buat membayar sewanya. Sekarang gue gak tahu harus tinggal dimana ?" ujar Bella dengan suara terbata - bata.
Rina memandang Audrey. Ia mulai mengerti arah dari perkataan Bella.
" Orang tua lo tinggal di mana, Bel ... ?" tanya Rina dengan sengaja.
" Mereka gak perduli sama sekali dengan gue, Rin ... selama ini gue kerja buat membayar hutang yang mereka buat. Gue cuma jadi alat pencari uang buat mereka. Karena itu juga gue lebih memilih tinggal
sendiri di apartment dibandingkan harus tinggal bersama mereka."
ujar Bella dengan air mata yang mengalir deras.
Lily yang hendak mengantarkan minuman buat Audrey, lumayan kagum dengan akting yang
di perlihatkan Bella. Ia benar - benar terlihat meyakinkan.
Sayangnya tadi ia tidak sempat mendengarkan apa yang sedang mereka bicarakan. Hingga membuat Lily merasa penasaran, kenapa Bella sampai harus menangis di depan Audrey.
Lily kemudian berjalan mendekat kearah mereka bertiga. Bella yang sedang sedih kembali merasa kesal ketika melihat Lily.
" Non, ini minumannya ... silahkan di minum !" ujar Lily dengan sopan.
" Baik ... terima kasih. " sahut Audrey.
" Ya, nona ... saya permisi." ujar Lily lalu berjalan meninggalkan
mereka bertiga.
" Minum dulu, Bel ... biar Lo lebih tenang." kata Audrey.
Bella mengambil gelas berisi minuman yang baru saja di antar oleh Lily dan meminumnya.
Tapi tanpa sepengetahuan mereka, Lily bukan kembali ke dapur. Ia sengaja sembunyi dekat area kolam agar bisa ikut mendengarkan apa yang Bella katakan pada Audrey.
" Udah, Bel ... Lo jangan nangis lagi. Ini, sih gampang banget ... Gue punya solusi buat masalah lo. Lo tinggal bareng dengan gue dan Rina aja di mansion, biar disini semakin rame. Gimana ... Lo mau kan ?" ucap Audrey dengan tulus.
__ADS_1
Rina lumayan terkejut dengan apa yang dikatakan Audrey. Ia pikir Audrey hanya akan membayar sewa apartment Bella, bukan mengajaknya untuk tinggal bersama mereka. Ia tahu gak berhak untuk melarangnya, karena ini mansion milik Audrey.
Bukan karena Rina iri sama Bella tapi karena ia tidak percaya dengannya.
" Sialan ... Audrey ini memang sok baik. Ngapain juga dia ngajakin si j****g itu tinggal disini ! " umpat Lily dengan marah.
" Apa ... jangan bercanda, Drey ... gue gak mau merepotkan Lo disini. Biar gue ngekost aja. Gue cuma mau pinjam uang buat bayar sewa kamar kecil di kost - an teman gue kerja di cafe. " ujar Bella.
" Udah, Lo tinggal disini aja bareng gue dan Rina. Biar gaji Lo bisa buat bayar uang kuliah. Jangan merasa gak enak ... Lo, kan sahabat gue, Bel ... gue gak menerima penolakan !" ucap Audrey dengan mata mendelik.
" Tapi, Drey ... !" ujar Bella pura - pura menolak kebaikan Audrey, tapi hatinya sedang bersorak saat ini.
" Udah, sekarang kita pergi ke apartment Lo buat membawa barang - barang Lo kesini !" Audrey kemudian bangkit dari duduknya sembari menarik pelan tangan Bella.
Rina ikut bangkit dan berjalan berjejer dengan Audrey dan Bella.
Lily buru - buru pergi dari tempat persembunyiannya agar jangan sampai ketahuan.
" Baiklah, Drey ... makasih udah mau menampung gue disini." ujar Bella masih dengan suara serak.
" Gak usah lebay ... kaya orang lain aja. " seru Audrey dengan senyum tercetak di wajahnya.
" Nona Audrey mau pergi ? " tanya Nana yang kebetulan lewat di ruang tengah.
" Iya, mbak ... oh, ya mbak Nana, saya minta tolong bersihkan kamar yang disebelah kamar saya. Mulai hari ini Bella akan tinggal bersama kita." Audrey memberi perintah dengan nada lembut pada Nana.
" Oh, baiklah nona ... " ujar Nana sopan.
" Makasih ... saya pergi keluar sebentar, mbak ... !" kata Audrey.
" Ya, non ... ".
Audrey segera mengeluarkan mobilnya dari garasi dan setelah Rina dan Bella masuk ke dalam mobil, ia kemudian menjalankan mobilnya dengan cepat.
Setelah Audrey pergi, Nana menghampiri Lily yang sedang emosi akan keputusan yang
diambil oleh Audrey.
" Ly, tolong kamu suruh art yang baru buat bersihkan kamar yang
disebelah kamar non Audrey." ujar Nana.
" Baik, mbak ... !" Lily beranjak pergi menemui art baru.
" Kalian berdua bersihkan sekarang juga kamar yang di atas buat tamu nona Audrey !" perintah Lily dengan angkuh.
" Baik ... !" sahut mereka berdua lalu pergi menuju lantai atas.
" Eh, Mina ... Lo lihat kan gayanya si Lily itu ... perasaan nona Audrey yang punya mansion aja gak sombong kaya gitu gayanya !" ujar
Titi dengan wajah kesal.
" Iya, songong banget gayanya !
Padahal sama - sama pelayan juga ! " Titi setuju dengan omongan Mina temannya.
" Iya ... Apa karena dia merasa karena bisa dekat non Audrey, dia bisa bersikap seenaknya. Padahal statusnya sama kaya kita ... hahaha." ujar Mina.
" Hahahaha .... kamu benar !" timpal Titi.
" Udah, sekarang kita bersihkan kamar ini biar cepat beres. Jangan sampai Lily naik keatas kita belum selesai ... bisa sakit telingaku dengar omelannya."
" Iya, yuk ... aku juga malas dengar omelan nya yang kaya petasan itu."
Mina dan Titi dengan sigap membersihkan dan mengganti seprei di kamar ini agar kerjaan mereka cepat selesai.
Sementara Lily melampiaskan emosinya dengan rebahan di kamarnya sambil mengunyah cake yang tadi di buatnya.
**********************************
Jangan lupa like, vote dan koment
positifnya ya sayang - sayangku.
Buat yang udah mendukung ... Makasih banget ... 🙏🙏😘
__ADS_1
Love You All ❤️❤️❤️