
Bella baru saja keluar dari kelas karena baru selesai kuliah. Begitu ia melihat Zia dan Dea sudah berjalan menuju parkiran, ia berusaha segera menghampiri mereka.
Tadi pagi, ia gak sempat ketemu karena jadwal kuliahnya tidak sama dengan mereka hari ini.
Bella harus mengulang mata kuliah karena ia gak lulus akibat terlalu sering gak datang sedangkan Zia dan Dea tidak.
" Zia, Dea .. ! " panggil Bella.
Zia dan Dea yang asik ngobrol tidak mendengar panggilan dari Bella. Mereka tetap berjalan sembari sesekali tertawa.
Terpaksa Bella harus berlari agar bisa mengejar mereka.
" Ih, kalian berdua ini, ya ... gue udah teriak manggil nama elo tetap aja gak dengar !" omel Bella setelah berada dekat dengan Zia dan Dea dengan nafas tersengal karena harus berlari.
" Hehehe ... mana kami tahu kalau elo mau menyusul kami. Gue kirain elo gak masuk kuliah. " ujar Zia.
" Gak mungkinlah, gue gak mau ngulang mata kuliah ini lagi. Lo berdua keasikan ngobrol sih ... ! Gue udah teriak gak dengar juga. "
ujar Bella dengan wajah cemberut.
" Hehehe ... sorry, Bel. Kami tadi lagi bahas hal lucu, jadi gak dengar Lo manggil. Btw, elo mau langsung pulang atau ikut dengan kami ?" ucap Zia.
" Nanti aja bahas itu. Sekarang ada hal lebih penting yang mau gue ceritakan dengan elo berdua. " kata Bella berubah serius.
" Serius amat, cepat tua Lo nanti.
Lagian ada hal penting apa sih ?"
tanya Zia.
" Iya, Bel ... Lo mau cerita apaan ?"
ujar Dea.
Bella menarik nafas sebelum memulai cerita mengenai kepulangan Audrey agar mereka gak curiga kalau ia tahu dari Reno.
" Mau ngomong apa sih, Lo ... kog malah diam ?" tanya Zia mulai penasaran.
" Audrey sudah pulang !" ujar Bella
setelah berhasil menenangkan dirinya.
Mata Zia dan Dea langsung terbelalak dengan lebar begitu mendengar perkataan Bella.
" Hah ... ! yang benar Lo, Bel ... elo tau dari mana kalau Audrey udah pulang ?" ujar Dea masih belum percaya.
" Kemarin gue kebetulan lewat di depan perusahaan Daddy nya Audrey, terus gue melihat Audrey masuk ke sana. " ucap Bella dengan wajah meyakinkan.
" Hmm ... tapi kalau Audrey udah pulang, kenapa dia gak menghubungi kita ? Dia pasti tahu dari bik Imah dan Rina kalau kita semua khawatir dan menunggu kabar darinya. " ucap Dea lagi.
" Gak tahulah gue ... mungkin dia belum sempat mengabari kita karena langsung kerja. " ujar Bella memberikan alasan yang masuk akal.
" Benar juga sih, De ... pasti begitu pulang Audrey segera mengurusi perusahaan om Eldric. Karena mama gue kemarin sempat ngomong kalau sejak berita kematian orang tuanya, perusahaan om Eldric mengalami masalah. " ujar Zia.
" Iya, gue juga dengar sih dari mama. Tapi gak mungkinlah separah itu, hingga Audrey harus langsung kerja begitu sampai
di sini. Apalagi saat dia menghilang, Audrey dalam keadaan pingsan. Pasti dia masih tertekan karena kehilangan orang tuanya." ucap Dea.
" Udah, kalau menurut gue, dari pada kita bingung ... mendingan
__ADS_1
sore ini sepulang Audrey dari perusahaannya, kita bertiga datang ke mansion nya. Jadi kita bisa segera tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Audrey dan perusahaannya." ujar Bella.
" Iya, Lo benar Bel ... kita harus
datang ke mansion Audrey. Lagi pula kita udah lama gak ngumpul bareng." ucap Zia setuju.
" Kalau begitu, kita hubungi Rina aja biar lebih jelas. Jadi kalau Audrey memang udah pulang, kita bisa langsung datang ke mansion nya sekarang. Buk Imah pasti udah mengizinkan." ujar Dea memberi saran.
" Setuju, kita ke mansion Audrey aja jadi sekalian ngasi surprise buat menyambut kepulangannya." ucap Zia semangat.
" Iya, gue juga setuju. Kita pergi sekarang aja. " ujar Bella tersenyum kecil karena berhasil mengajak Zia dan Dea.
Bella akan menghubungi Reno untuk memberitahunya tentang rencana kepergian mereka
ke mansion Audrey.
" Kita pergi beli sesuatu dulu buat Audrey, cake atau apalah.Baru setelah itu pergi ke mansion." ucap Dea.
" Kalau menurut gue, kita gak perlu melakukan itu. Di mansion
Audrey udah ada semuanya. " ujar Bella menolak usulan Dea.
" Bel, gue juga tahu, tapi bukan itu masalahnya. Kita udah lama gak ketemu dengan Audrey. Apalagi saat ini Audrey pasti masih bersedih karena harus kehilangan kedua orang tuanya. Gue berharap dengan kita membawa sesuatu untuknya, itu bisa sedikit menghibur Audrey. Meski gue juga yakin, kalau Audrey gak mengharapkan hal itu dari kita." ucap Dea membantah omongan Bella.
" Iya, Dea benar, Bel ... elo kenapa sih ? Audrey memang punya semuanya dan bisa membeli apapun yang dia inginkan. Tapi gak ada salahnya kita membelikan dia sesuatu. Selama ini, Audrey sering memberi pada kita bertiga, terutama pada Lo, Bel. Jadi gak ada salahnya kali ini giliran kita yang memberi buat Audrey, meski yang kita beli itu cake atau hal biasa lainnya.
Tapi ini menunjukkan rasa perduli kita pada Audrey, meskipun gue yakin Audrey gak pernah berharap dapat balasan dari kita." Zia berkata dengan nada penuh tekanan karena kesal melihat omongan Bella.
" Iya, gue tahu ... !" sahut Bella berusaha menutupi rasa marah atas perkataan Zia yang terkesan merendahkannya.
" Hmm ... udah, jangan
" Yuk, De ... gue udah gak sabar ketemu Audrey. " ucap Zia semangat.
" Sama Zi, gue juga kangen dengan Audrey. " sahut Dea tersenyum kecil.
" Lo jadi ikut gak ... ?" tanya Zia
pada Bella.
" Jadi, Zi ... gue sama kaya elo berdua, kangen sama Audrey. " bohong Bella.
" Yuk, kita gerak sekarang !" ajak Zia sembari membuka pintu mobilnya, begitu juga dengan Dea.
" Gue ikut mobil siapa ? " tanya Bella.
" Udah, sama gue aja." ajak Dea, karena melihat Zia gak merespon pertanyaan Bella.
" Okey ... !" Bella lalu masuk
ke dalam mobil Dea.
Kemudian kedua mobil yang dikendarai Zia dan Dea perlahan meninggalkan kampus.
Sementara itu, mansion Audrey masih dalam suasana kacau karena ketika penjaga mencari penyebab semua pelayan jadi tertidur kembali, tapi mereka belum bisa menemukannya.
" Kenapa Bu Imah belum bangun juga, ya ... ? Apa jangan - jangan beliau sakit ?" gumam pelayan.
" Iya, ya ... gak biasanya Bu Imah
__ADS_1
melakukan ini ! Ini udah hampir waktunya ujar pelayan yang lain.
" Biar saya lihat Bu Imah lagi.
Siapa tahu Bu Imah beneran sakit." ucap pelayan kepercayaan Bu Imah.
Semua pelayan setuju dengan perkataannya.
Lily yang pura - pura bingung dengan keadaan di sana berjalan mendekati pelayan yang berkumpul di ruang tengah mansion.
" Sebenarnya ada apa ? Kenapa kelihatannya ada yang gak benar dengan mansion ini ? " tanya Lily.
" Kamu apa gak mengalami hal yang sama dengan kita ?" tanya salah satu pelayan.
" Maksud kamu ?" ujar Lily.
" Tadi kami semua tiba - tiba tertidur secara bersamaan. Bahkan chef yang hendak menyiapkan masakan juga ikut tertidur. "
" Oh, pantes ... aku juga tadi ketiduran di ruang depan. Aku pikir karena aku kurang tidur semalam. Jadinya aku kirain cuma aku doang, makanya gak berani bilang sama yang lain.
Takut kena marah sama Bu Imah."
ujar Lily dengan wajah meyakinkan.
" Iya, aku tadi aku juga sempat lihat kog, kamu baru terbangun sama seperti kita." ucap pelayan yang tadi memang melihat Lily mengalami hal yang sama dengan mereka semua.
" Tuh kan ... terus Bu Imah mana ?
Aku kog gak melihat beliau ?" tanya Lily lagi agar lebih terlihat meyakinkan.
" Itu yang jadi pertanyaan kita sekarang. Sejak kita terbangun,
Bu Imah belum juga keluar dari kamarnya. Kami khawatir beliau mendadak sakit. Makanya sekarang lagi disusul kesana."
" Oh, jadi sekarang kita harus melakukan apa ?" tanya Lily menutupi seringai liciknya.
" Ya, kita menunggu lah. Kalau memang benar Bu Imah sakit, kita
harus menghubungi non Audrey untuk memberitahu kejadian ini."
" Iya, harus itu. Tapi apa kalian semua gak merasa, sejak non Audrey menghilang dan kemudian kabar Tuan dan Nyonya meninggal dalam kecelakaan, ada aja kejadian aneh di mansion ini.
Mulai dari penyusup sampai kejadian aneh tadi !" ujar Lily berusaha mempengaruhi mereka.
" Maksud kamu, Li... ?" .
" Gak ada maksud apa - apa sih ... ! Cuma aku mulai khawatir aja, takutnya memang ada yang berniat jahat di mansion. Kalian tahu, Tuan dan Nyonya Eldric pengusaha terkenal, pasti mereka banyak musuhnya. Jangan - jangan mereka sekarang sedang mengincar non Audrey, makanya
banyak kejadian aneh di mansion ini. " ujar Lily mulai mempengaruhi pikiran mereka.
Semua pelayan terdiam dan mulai sedikit terpengaruh dengan perkataan Lily.
" Kalau memang benar seperti yang kamu katakan berarti mansion ini udah mulai gak aman."
" Aku gak bilang kaya gitu tapi aku mulai merasa khawatir sejak ada penyusup yang masuk ke mansion ini dan belum ketahuan hingga sekarang. Hari ini ada kejadian aneh ini lagi. " ujar Lily memasang wajah cemas.
Mendengar hal yang dikatakan Lily membuat sebagian pelayan mulai terpancing. Mereka merasa apa yang diomongkan oleh Lily ada benarnya juga.
Suasana mansion sudah mulai gak aman sejak kejadian penyusup itu. Meski mereka mencoba tidak memikirkan, karena mansion aman - aman saja setelah itu tapi tetap saja penyusup itu tidak tertangkap sampai sekarang. Ditambah dengan kejadian yang baru saja terjadi.
__ADS_1
**********************************