
Audrey yang baru saja tersadar dari tidur panjangnya membuka
matanya perlahan.
Ia melihat sekeliling dan ia tahu sekarang sedang berada di mana.
Ya, ini adalah kamar Audrey jika
sedang di mansion orang tuanya
yang ada di Lo**** .
Kenapa ia bisa ada di sini ? Sedangkan waktu itu ia baru saja
menerima telefon dari Kevin, kakaknya. Teringat akan hal ini,
Audrey kembali bersedih.
flash back
Di dalam tidurnya ia bertemu dengan kedua orang tuanya, Daddy dan Mommy.
Mereka terlihat sangat menyedihkan. Badan Mommy dan Daddy penuh dengan luka.
Bahkan wajah mereka juga.
Tapi mereka tetap tersenyum ketika melihat Audrey datang mendekati mereka.
" Mom, Dad ... I miss you so much. " Audrey memeluk orang tuanya dengan rasa rindu yang
besar sementara air matanya mengalir dengan deras
" Kami juga sangat merindukanmu, honey ... Why, you crying ? " kata Mommy Elif dan Daddy Eldric membalas pelukan Audrey.
Audrey semakin sulit untuk menghentikan tangisnya begitu
mendengar pertanyaan Mommy
Elif.
" Itu karena aku merasa takut kalian pergi meninggalkanku. " jawab Audrey dengan lirih.
" Why do you even think like that, baby ....? " tanya Mommy Elif dengan tatapan heran.
" I thought mom n ' dad have left me forever. " ujar Audrey dengan
air mata yang masih bercucuran.
" Tidak sayang, kami tidak mungkin meninggalkanmu sendirian. " ujar Mommy dengan lembut.
" Tapi kenapa kalian tidak pernah
mengabari ku ? Kak Kevin juga ...
Bahkan ketika ia menghubungi
Audrey, ia langsung mematikan telefon nya saat aku menanyakan
tentang Mommy dan Daddy." ujar
Audrey dengan suara mulai
serak karena menangis.
Eldric dan Elif saling berpandangan ketika mendengar
perkataan Audrey.
Wajah mereka sangat sedih melihat Audrey yang begitu mengkhawatirkan mereka.
" Sorry honey ... Itu karena terlalu banyak yang sedang kami kerjakan dan tempatnya terlalu jauh. Jadi kami tidak bisa menghubungi kamu, sayang.
Mungkin Kevin juga seperti itu,
ia tidak ingin menambah beban
di pikiranmu. Jangan menangis
lagi honey. Mata kamu bengkak
itu. Jelek, tau ... ". Daddy Eldric
sengaja menggoda Audrey agar berhenti menangis.
" Daddy ... ! Tapi Dad, Mom ... bahkan kalian dan kak Kevin tidak meneleponku dan mengucapkan
selamat saat aku wisuda." ucap Audrey protes dengan wajah
cemberut.
" Hahaha ... Maaf honey. Daddy dan Mommy gak bisa menghubungi kamu karena kami
sedang di tempat yang sangat
terpencil dan tempat itu tidak ada
jaringan sama sekali. Sedangkan
Kevin, mungkin sedang sibuk mencari keberadaan kami." Eldric
mencoba menjelaskan agar Audrey mengerti.
" Dad, itu bukan alasan. Terus kak Kevin kenapa gak bisa tahu keberadaan kalian ? Memangnya Daddy dan Mommy sedang
berada di mana hingga gak bisa
di temukan ? Lagian tempat mana yang hari gini masih gak ada jaringan." bantah Audrey.
Mommy Elif dan Daddy Eldric
terdiam mendengar bantahan
Audrey.
" Pokoknya Audrey gak mau tahu.
Audrey akan tinggal di sini bersama Mommy dan Daddy.
Audrey udah gak mau di tinggalkan lagi sama kalian. Audrey kan udah selesai kuliah, jadi sekarang udah bebas ikut
kemana pun kalian pergi."
" Maaf sayang ... sekarang kamu
harus pulang. Belum waktunya
kamu bertemu dengan Mommy dan Daddy. Nanti kita pasti akan bersama lagi. Jika waktunya telah tiba. Saat ini kami tidak dalam keadaan baik.
Yakinlah, nanti kita akan berkumpul kembali." selesai mengatakan ini Mommy Elif dan
Daddy nya berjalan menjauh dari
Audrey.
" Dad, Mom ....Audrey ikut." teriak
Audrey sembari berjalan mengikuti langkah mereka.
" Tidak, honey ... kamu harus
pulang. Dengarkan kata Daddy ... Kami akan pulang setelah berhasil menemukan jalan keluar dari tempat ini, meski akan memakan waktu yang panjang." seru Daddy semakin menjauh dan
menjauh.
" Mom, Dad ... Apa maksud kalian ? ". Setelah berteriak dengan keras, Audrey pun terbangun dan disini lah ia berada saat ini, di kamarnya.
" Apa ini cuma mimpi ? " tanya Audrey dalam hati.
" Tapi kenapa seperti nyata ? " ucapnya lagi.
Audrey segera bangkit dari tempat
__ADS_1
tidur. Ia harus menemui Kevin sekarang dan menanyakan apa yang sebenarnya telah terjadi pada kedua orang tua mereka.
Begitu ia membuka pintu kamarnya, Audrey terkejut melihat
keberadaan Rifky dan Kevin kakaknya.
" Kamu sudah bangun, baby ? Kenapa matamu sembab ?" ujar Kevin langsung memeluk
Audrey dengan sayang.
" Kak, sekarang katakan padaku apa yang terjadi dengan orang tua kita ? Terus kenapa Rifky bisa berada di sini juga ?" tanya Audrey
sembari membalas pelukan Kevin,
tanpa menjawab pertanyaan Kevin.
" Tenang dulu baby, kamu baru saja bangun. Kita duduk dulu ya ..." ucap Kevin dengan lembut,
lalu melepaskan pelukannya.
" Baiklah. " Audrey menuruti perkataan Kevin.
Mereka bertiga berjalan menuju sebuah ruangan yang ada di mansion.
" Kamu tidak apa - apa, Drey ... ? " tanya Rifky setelah kini mereka duduk di ruang khusus yang ada
di mansion ini.
" Aku gak papa. Tapi kamu kog bisa ada di sini, Ky ... ? Bagaimana dengan Rina dan yang lain ? " tanya Audrey penasaran.
" Baby, kamu harus tenang ya ...
biar kakak saja yang menceritakan ke kamu." Kevin yang menjawab.
" Okey, aku akan tenang. Tapi kakak harus berjanji gak akan
menutupi hal apapun lagi denganku. Aku sudah dewasa kak ... " ujar Audrey dengan wajah
serius menatap Kevin.
" Baik kakak janji. Tapi dengan catatan kamu harus kuat mendengarkan apa yang akan
kakak katakan padamu. Apa kamu bisa berjanji juga pada kakak ? " tanya Kevin setelah berjanji pada Audrey.
" Baiklah, aku janji akan kuat." sahut Audrey yakin sembari
menganggukkan kepalanya.
Sebelum memulai ceritanya, Kevin terlebih dulu menarik nafas dengan keras. Ia tidak tahu apa reaksi Audrey jika mendengar orang tua mereka sudah tidak ada
dan bahkan sudah di kebumikan tanpa menunggu kehadiran Audrey.
Begitu juga dengan Rifky. Ia yakin Audrey akan bersedih setelah mendengar orang tuanya sudah meninggal. Bahkan mereka meninggal dalam keadaan yang sangat tragis.
" Kak ... katakan. Tunggu apa lagi ? " desak Audrey gak sabar.
" Ya, baby ..... " ucap Kevin lirih.
Kevin pun memulai ceritanya.
Dari awal saat ia kehilangan kontak dengan orang tua mereka dan hal inilah yang membuat ia tidak mau menerima telefon dari Audrey. Karena ia tidak tahu mau menjelaskan apa dan tidak ingin
Audrey kepikiran sedangkan ia mau wisuda.
Lalu saat ia dan sahabatnya mencari keberadaan orang tua mereka selama menghilang.
Hingga akhirnya mereka di temukan dalam keadaan meninggal di sebuah jurang
yang terjal.
Kemudian Kevin menguburkan mereka tanpa menunggu kehadiran Audrey karena tidak bisa menunggu lebih lama lagi melihat jasad mereka.
Kevin terus melihat reaksi Audrey
saat ia menceritakan mengenai Mommy dan Daddy mereka.
Tapi sikap Audrey benar - benar
Hal ini membuat Kevin sangat heran. Ternyata Audrey lebih kuat dari dirinya saat pertama kali mendengar lalu melihat mayat kedua orang tuanya yang mengenaskan.
Rifky juga tidak menyangka melihat reaksi Audrey yang sangat tenang.
" Are you okay, baby ....?" tanya Kevin memastikan.
Ia tidak mau Audrey memendam perasaannya agar tidak terlihat sedih demi menepati janjinya pada Kevin.
" Yes, I' m okay ... because I believe Mom n' Dad are still alive." jawab Audrey yakin dengan wajah serius.
Kevin dan Rifky melihat Audrey dengan tatapan sedih. Mereka pikir karena sangat terguncang dan tidak menerima kematian
orang tuanya membuat Audrey berkata seperti ini.
" Maaf, baby ... kakak tahu ini sangat menyakitkan dan pasti kamu belum bisa menerima kematian mom n' dad. Tapi kakak melihat mayat mereka." ujar Kevin
berusaha menguatkan Audrey.
" Tidak kak, Mommy dan Daddy
masih hidup dan aku sangat yakin. Karena aku sudah bertemu dan melihat mereka. Bahkan aku berbicara dengan mom n ' dad." kata Audrey lagi dengan pasti.
" Please baby ... Why can you say like that ? Apa kamu tidak percaya
dengan kakak ? Kakak melihat mayat mereka, dengan mata kakak sendiri." ujar Kevin bertambah sedih mendengar yang di katakan Audrey.
" Okey, apa yang membuat kak Kevin yakin bahwa mayat itu jasad orang tua kita ? " tanya Audrey.
Kevin menghela nafas mendengar perkataan Audrey.
" Cincin pernikahan Daddy dan Mommy yang selalu mereka pakai ada di lokasi kejadian bersama
dengan mayat mereka." ucap Kevin dengan berat.
Audrey terdiam sejenak mendengar perkataan Kevin.
Benar, orang tua mereka tidak
pernah melepas cincin pernikahan itu. Karena keduanya pernah
mengatakan pada Audrey dan Kevin, bahwa cincin itu adalah bukti cinta mereka dan tidak akan pernah mereka lepaskan, kecuali ajal telah menjemput mereka.
" Tapi aku tadi bicara dengan mereka. Daddy dan Mommy mengatakan kalau mereka sedang tidak dalam keadaan baik - baik saja. Memang ketika aku bertemu dengan mereka, wajah dan badan
Daddy dan Mommy penuh dengan
luka tapi mereka masih tersenyum bahkan memelukku.
Tapi mereka berjanji padaku,
mereka akan kembali dan berkumpul lagi dengan kita jika keadaan mereka membaik." Audrey menceritakan kembali
pertemuannya tadi dengan kedua
orang tuanya.
" Dimana kamu bertemu mereka, baby ? " tanya Kevin dengan suara serak. Karena ia sudah hampir tidak bisa menahan air matanya yang ingin keluar mendengarkan
kata - kata Audrey.
Audrey tidak bisa menjawab pertanyaan Kevin . Mendadak lidahnya terasa kelu.
Apakah semua yang di alaminya tadi hanyalah mimpinya saja karena sangat merindukan dan takut kehilangan kedua orang tuanya. Pertanyaan ini memenuhi
benak Audrey.
" Tidak, jika itu hanya mimpi tapi terlihat seperti nyata sekali.
Bahkan orang tuanya berjanji
mereka akan datang menemui
Audrey jika mereka membaik." batin Audrey bergejolak saat ia
__ADS_1
membantah jika yang ia alami tadi hanyalah mimpi.
" Baby, kamu baru saja bangun dari pingsan sejak kamu di bawa oleh Drake dari mansion kita yang di I*******a.
Jadi bagaimana caranya kamu bisa bertemu dengan Daddy dan Mommy ? Pasti kamu bermimpi bertemu dengan mereka." ucap Kevin berusaha menyadarkan
Audrey.
" Ya, jika itupun hanya mimpi.
Tapi aku sangat yakin jika orang tua kita masih hidup dan saat ini sedang berada di sebuah tempat
yang jauh hingga kak Kevin belum menemukan mereka." Audrey masih tetap meyakini meski ia juga tahu tadi saat bertemu dengan keduanya ia dalam keadaan pingsan.
Kevin mengacak rambutnya dengan perasaan hancur. Audrey
masih bisa belum menerima
kenyataan jika orang tua mereka
telah tiada.
" Kak, aku tahu pasti kak Kevin
mengira aku tidak bisa menerima kematian mereka. Tapi aku tetap yakin bahwa mereka masih hidup.
Meskipun aku bertemu Daddy dan Mommy saat aku tertidur, tapi semuanya sangat nyata. Aku dan orang tua kita berada di sebuah tempat yang tidak pernah kita
kunjungi. Tempatnya seperti
di sebuah pedalaman dan di dalam hutan." Audrey tetap dengan pendiriannya yang percaya bahwa orang tuanya masih hidup.
Kevin mencerna semua yang
di katakan Audrey. Apa mungkin yang di katakan adiknya benar ?
Kenapa ia bisa begitu yakin, walau ia sadar bertemu dengan kedua orang tua mereka ketika Audrey masih tertidur.
" Baiklah ... untuk saat ini kakak
akan mencoba percaya pada
kata - kata kamu. Meski rasanya
kita seperti orang tidak waras karena mempercayai mimpimu.
Tapi sama seperti dirimu, kakak
juga berharap orang tua kita masih hidup. Jadi, kakak akan
mencoba untuk memerintahkan
anggota kakak mencari dengan
diam - diam keberadaan orang tua kita seperti yang kamu lihat di dalam mimpi." kata Kevin akhirnya mengalah, karena jauh
di lubuk hatinya yang paling dalam, Kevin juga sangat berharap orang tua mereka masih hidup.
" Terima kasih, kak ... karena
sudah percaya dengan ku." ujar
Audrey dengan raut wajah bahagia.
" Nanti tolong kamu gambarkan
tempat yang kamu lihat dalam alam bawah sadar mu tadi.
Agar anggota kakak bisa mencari
kira - kira di mana letak keberadaan Daddy dan Mommy.
Tapi jika dalam jangka waktu sebulan mereka tetap tidak bisa
menemukan keberadaan orang tua kita. Kakak mohon, tolong
ikhlaskan kepergian Daddy dan
Mommy agar mereka tenang.
Kakak pun sama seperti hal nya
dirimu, masih mengharapkan
orang tua kita masih hidup.
Tapi jika memang kebenaran nya,
bahwa mereka sudah tiada, maka
kita harus siap menerimanya."
ucap Kevin dengan serius.
" Baiklah, kak ... aku siap dan ikhlas. Jika memang dalam sebulan ini tidak menemukan
mereka, aku akan menerima
bahwa yang kulihat itu hanyalah
sebuah mimpi." Audrey menyetujui
perkataan kakaknya.
" Hmm ...Good Girl. Kemari lah baby, kakak
sangat merindukanmu." ujar Kevin melebarkan kedua tangannya untuk memeluk Audrey setelah
adiknya setuju dengan ucapannya.
Audrey bangkit dan bergerak maju ke arah Kevin lalu segera masuk
ke dalam pelukan Kevin.
Kevin menciumi kepala Audrey dengan sayang.
Rifky yang sedari tadi hanya diam dan mendengarkan semua percakapan antara Audrey dan Kevin merasa sangat senang melihat kedekatan kedua kakak
beradik ini, seperti ia dan Rina.
Mereka saling menyayangi dan
melindungi satu sama lain.
Apalagi setelah kepergian Ibu mereka.
Rifky juga berharap semoga Audrey dan Kevin bisa
seperti mereka, walaupun sakit tapi akhirnya bisa menerima dengan lapang dada atas meninggalnya Ibu mereka.
**********************************
Selamat membaca ...
Semoga kalian suka dengan lanjutan ceritanya.πππ
Nantikan episode selanjutnya ya ... πππ
Maaf, jika masih banyak typo atau salah dalam penulisan kata atau pun kalimat ππ
Tetap dukung terus ya .... Novel pertama yang Mommy buat ini.
Jangan lupa like, koment positif, vote, hadiah dan favorit β€οΈkan
agar jika Mommy mengeluarkan
episode selanjutnya kalian bisa mendapatkan notifikasinya.
Buat yang sudah mendukung,
Mommy ucapkan terima kasih ... πππ
__ADS_1
LOVE YOU ALL ... β€οΈβ€οΈβ€οΈπ