Cinta Dan Dendam Audrey

Cinta Dan Dendam Audrey
Episode 101


__ADS_3

" Rin ... sepertinya hari ini gue gak bisa pergi lagi buat fisioterapi. Gue masih pengen istirahat." ucap Audrey dengan wajah pucat.


" Iya, gak papa, Drey .... wajah kamu kelihatan gak sehat. Istirahatlah." sahut Rina dengan lembut


tok ...


tok ...


tok ...


Terdengar suara pintu kamar Audrey di ketuk dari luar.


" Masuk ....!" kata Rina sembari melihat ke arah pintu.


Lily pun masuk dengan membawa nampan berisi makanan buat Audrey, karena tadi pagi ia hanya sarapan sedikit saja.


" Maaf, non ... sebaiknya nona makan dulu. Saya gak tega melihat nona sakit begini. Ini udah saya buatkan bubur ayam kesukaan nona !" ujar Lily dengan senyum di bibirnya.


" Hmm ... ya, taruh di meja, Li.


Terima kasih." sahut Audrey.


" Non ... apa gak sebaiknya nona makan selagi bubur nya masih hangat, biar badan nona lebih enakan. Soalnya pagi tadi saya lihat nona hanya sarapan sedikit." ujar Lily berusaha terlihat perduli.


" Nanti saya makan, Li ... taruh aja di sana." ucap Audrey gak semangat.


" Permisi non Audrey ... ada Tuan Reno di bawah, non !".Tiba - tiba pelayan lain datang dan mengatakan kalau Reno datang dan ingin melihat keadaan Audrey.


Lily langsung menyeringai begitu mendengar Reno datang mengunjungi Audrey. Sudah beberapa tiga hari ini, Reno rutin datang ke mansion untuk melihat kondisi Audrey.


" Hmm ... ya, suruh tunggu sebentar ! Saya akan turun." ucap Audrey berusaha untuk bangkit dari tempat tidurnya.


" Udah, Drey ... Lo tunggu di kamar aja ! Badan Lo masih lemas. Gak usah di paksakan buat turun. Biar gue yang jumpain Reno." ujar Rina menahan tangan Audrey.


" Tapi, Rin ... Reno datang buat lihat gue. Masa gue gak menghampiri dia ! Kalau gak, Reno nya suruh naik aja, Rin ... !" kata Audrey dengan suara lirih.


" Drey .... gak baik kalau laki - laki masuk ke kamar seorang wanita. Apalagi Lo dalam keadaan tiduran begini !" ujar Rina gak setuju dengan perkataan Audrey.


" Gak papa, Rin ... gue kan gak sendirian. Ada Lo juga yang nemani gue disini !" kata Audrey


" Hmm ... baiklah !" sahut Rina menarik nafas berat karena gak bisa menolak keinginan Audrey.


Lily mengulum senyum melihat Rina gak bisa berbuat apa - apa.


" Kamu ngapain masih disini, Li ....? sebaiknya kamu ikut turun bersama saya biar sekalian buatkan minuman buat tamunya Audrey !" ujar Rina melihat Lily yang masih betah berdiri di kamar Audrey.


" Eh, kirain karena non Rina mau turun saya disuruh nemenin non Audrey." ujar Lily berusaha memberikan alasan yang tepat.


Padahal ia sudah berharap bisa berdua dengan Audrey. Jadi dia bisa memaksa Audrey untuk memakan bubur yang ia buat khusus hanya untuk Audrey.


" Lo, gak papa kan sendiri, Drey .. ? Biar Lily buatkan minuman buat Reno !" Rina malah bertanya pada Audrey tanpa memperdulikan omongan Lily.


" Ya, gak papa, Rin ... ! Kamu turun aja, Li ... sekalian bawakan makanan ringan buat tamu saya !" kata Audrey setuju dengan apa yang di katakan Rina.


" Baik, non ... !" ujar Lily menahan rasa kesalnya.


Tak lama Rina dan Lily pun keluar dari kamar Audrey.


Sepeninggal mereka, Audrey pun duduk di tempat tidur.


Ia merapikan rambut nya dengan tangannya. Walaupun ia tidak menyukai Reno, tapi ia berusaha menghargainya. Bagaimanapun ia sudah meluangkan waktu nya yang sibuk untuk menjenguk Audrey.


Lily menatap Rina dengan mata penuh amarah saat di dalam lift.


Rasanya ingin sekali ia mencekik leher Rina agar tidak ada penghalang lagi buatnya. Lily sudah harus secepatnya membuat Rina terusir dari mansion ini.


Sementara itu Reno yang di - tinggal sendirian di ruang tamu, berdiri memperhatikan sekeliling dengan wajah serius.


Hingga ia tidak menyadari kalau Rina yang sudah keluar dari lift bersama Lily mendekat ke - arahnya.


" Kamu ngapain ikut ke ruang tamu ? Langsung buatkan aja minuman buat Reno !" ujar Rina dengan wajah datar menatap Lily yang berjalan di sampingnya.

__ADS_1


Meskipun Rina tidak bisa berpura - pura bersikap ramah pada Lily tapi ia juga tidak bisa terlalu terlihat tidak menyukainya. Ia harus bersikap seakan - akan tidak mengetahui rencana Lily dan Bella.


Andai saja ia memiliki bukti yang kuat atas keterlibatan Lily pada semua masalah yang terjadi di mansion ini, mungkin ia bisa melapor pada pihak berwajib. Bahkan perasaan kecil Rina mengatakan kalau kematian bik Imah ada sangkut - pautnya dengan Lily. Kalau gak mana mungkin bik Imah yang sudah mulai membaik bisa tiba - tiba kumat penyakitnya dan langsung meninggal. Meskipun Rina tahu ajal itu milik Allah, tapi tetap saja Rina yakin kalau Lily terlibat dalam hal ini.


" Eh, iya non ... !" sahut Lily dongkol, lalu dengan terpaksa ia berjalan ke arah dapur. Tapi ia masih sempat melirik Reno dan tersenyum tipis.


" Eh, Rin ... Audrey nya mana ? " tanya Reno berusaha menutupi rasa terkejutnya karena ketahuan sedang melihat ke arah kamar orang tua Audrey.


" Hmm ... di kamarnya. Audrey kurang sehat, jadi kamu di suruh naik ke atas, Ren ... !" ujar Rina berusaha agar tidak terlalu kelihatan gak sukanya pada Reno.


" Wah, benarkah ? Jadi aku sekarang, naik nih ?" tanya Reno dengan senang karena gak menyangka kalau ia bisa masuk ke kamar Audrey.


" Ya, bareng gue !" sahut Rina cepat, karena ia gak mau Reno berpikir kalau mereka hanya berduaan saja di dalam kamar.


" Oh .... iya, deh !" kata Reno berusaha tidak terlihat kecewa. Padahal ia sudah senang bisa berduaan dengan Audrey di dalam kamar.


" Yuk, ikuti gue Ren ... !" ajak Rina berjalan lebih dulu dari Reno menuju lift.


Reno pun berjalan di dekat Rina sambil diam - diam memperhatikan ke arah dapur.


Sementara itu Lily buru - buru keluar dari dapur setelah membuat minuman dan cemilan agar bisa naik bareng ke atas dengan Reno.


Benar saja, Lily melihat Reno dan Rina sudah beranjak menuju lift.


" Tunggu, non ....!" Lily menahan pintu lift yang hampir tertutup dengan kakinya.


Rina membiarkan Lily ikut bergabung dengan mereka karena ia juga gak ingin hanya berdua dengan Reno di dalam lift.


Lily sengaja berdiri di belakang Rina agar ia bisa berdekatan dengan Reno.


Rina pura - pura tidak melihat kalau Lily tersenyum pada Reno. Ia berdiri dengan tegak tanpa menoleh ke arah mereka.


Reno perlahan menyentuh pinggang Lily dan mengembangkan senyum tipis. Sudah lama ia tidak merasakan tubuh Lily yang s**y karena ia dan Lily masing - masing sibuk menjalankan misi mereka.


Lily yang memang sudah sangat merindukan kehangatan tubuh Reno, langsung menggesekkan badannya dengan pelan agar tidak menarik perhatian Rina yang berdiri di depan mereka.


Tapi sayangnya mereka tidak tahu kalau Rina sempat melirik kelakuan mereka yang memuakkan.


Reno dan Lily terkejut dan buru - buru menjauh agar tidak ketahuan Rina.


Begitu sampai di lantai atas, Rina pun bergegas keluar dari dalam lift. Ia merasa pengap karena harus berada di dalam ruangan yang sama dengan dua mahkluk menjijikkan itu.


Tanpa memperdulikan Reno, Rina berjalan menuju kamar Audrey.


Senyumnya terkembang begitu melihat Audrey sudah duduk menunggu mereka.


" Hai, Drey ... gimana keadaan kamu ? " tanya Reno yang muncul kemudian bersama Lily.


" Baik, Ren ... hanya aku gak terapi hari ini. Lagi pengen istirahat." Audrey memaksakan dirinya agar terlihat baik - baik saja, agar tidak membuat Rina cemas.


" Oh, untung aku tadi gak langsung datang ke rumah sakit. Kalau gak kita gak ketemu, dong !" sahut Reno.


" Eh, duduk Ren ... !" kata Audrey menyuruh Reno, karena Reno masih berdiri di tepi tempat tidurnya.


" Udah, gak papa aku berdiri aja biar bisa lebih dekat dengan kamu. Kangen udah tiga hari gak ketemu sama kamu !" ujar Reno sembari tersenyum.


" Hmm ... Li, letakkan itu di meja dan tolong geser sofa yang kecil itu ke dekat tempat tidur. Kasihan tamunya masih berdiri !" ucap Audrey pada Lily yang masih berdiri sambil memegang nampan berisi minuman.


" Eh, maaf nona ... baik !" sahut Lily yang baru saja tersadar karena terpaku melihat sikap Reno yang begitu lembut pada Audrey. Meskipun ia tahu Reno cuma berpura - pura tapi tetap saja ia merasa cemburu.


Lily pun segera menaruh nampan yang di pegang nya ke meja, lalu berniat menggeser sofa yang di maksud Audrey.


" Biar saya bantu !" ujar Reno menghampiri Lily.


" Eh, makasih Tuan ... !" ujar Lily menahan senyumnya yang hampir saja keluar melihat sikap yang di perlihatkan Reno. Ternyata Reno tetap memperdulikan dirinya.


Reno tak menjawab hanya menganggukkan kepalanya saja sembari tersenyum tipis.


Rina yang duduk di tempat tidur terus melihat interaksi yang di - lakukan Lily dan Reno.


Setelah mereka menggeser sofa itu, Reno pun duduk di dekat Audrey.

__ADS_1


" Eh, itu bubur ayam kamu, kog belum di makan, Drey ?" ujar Reno yang melihat Audrey belum menyentuh makanannya.


" Ntar aja Ren ... !" sahut Audrey.


" Udah, biar aku suapin ya ... bubur ayam itu enaknya di makan saat masih hangat begini !" Reno kembali bangkit dan mengambil bubur ayam di meja.


Sudut bibir Lily terangkat melihat hal itu. Meski gak rela, melihat Reno harus menyuapi Audrey tapi dengan ini berarti obat yang ia campur ke bubur ayam itu bisa segera masuk ke perut Audrey.


" Gak usah, Ren ...nanti biar aku makan sendiri aja. Aku masih belum lapar." kata Audrey menolak, karena ia memang belum selera untuk makan.


" Makan dikit aja, Drey ....biar kamu sehat dan bisa terapi lagi !" ujar Reno memaksa.


" Hmm ... baiklah ! Tapi biar aku makan sendiri aja, Ren ... tanganku masih bisa di gunakan dengan baik !" Audrey terpaksa menerima, karena gak enak juga kalau terus menolak niat baik Reno.


" Oh, baiklah ! " Reno memberikan bubur di tangannya pada Audrey.


" Kamu juga silahkan mencicipi cemilan yang di buat Lily, Ren ... kamu pasti suka setelah mencoba rasanya." kata Audrey dan mulai


memasukkan bubur ayam dengan suapan kecil ke mulutnya. Ia terpaksa menelan bubur ayam itu meski lidahnya terasa pahit.


Reno pun mengikuti keinginan Audrey, ia segera mengambil cemilan buatan Lily.


" Wah, kamu benar Drey ... ini enak banget !" ujar Reno sengaja memuji agar Lily senang mendengar nya, karena ia tahu pasti wanita yang berdiri di belakang nya cemburu melihat perhatian yang ia berikan pada Audrey.


Mata Lily berbinar senang saat melihat bubur ayam buatannya sudah berhasil masuk ke dalam mulut Audrey. Belum lagi Reno memuji cemilan buatannya.


Akhirnya setelah beberapa suap Audrey berhenti makan karena ia sudah tidak bisa menahan rasa tidak enak di mulutnya.


Audrey memberikan piring berisi bubur pada Rina " Udah, Rin ... !" .


" Sedikit banget, Drey ... !" ujar Reno.


" Ya, aku udah kenyang Ren ... !" sahut Audrey dengan lirih.


" Ya udah gak papa ... yang penting kamu udah makan. Sayang makanan enak begitu di - anggurin. " ujar Reno sembari tersenyum pada Audrey.


Walau badannya masih lemas Audrey membalas senyuman Reno.


" Kamu masih disini, Li ... tolong bawakan piring bekas makan Audrey ke dapur. " ujar Rina bangkit dari tempat tidur dan sengaja menyodorkan piring itu ke tangan Lily yang masih belum berniat keluar dari kamar Audrey.


" Eh, baik non !" sahut Lily kembali kesal melihat perlakuan Rina padanya. Ia seakan - akan memang sengaja ingin membuat Lily kesal. Meski sangat terpaksa tapi ia harus beranjak keluar dari kamar Audrey. Padahal Lily masih ingin di kamar ini dan melihat Reno.


Sebelum beranjak pergi , Lily masih sempat - sempatnya melihat ke arah Reno.


Ia menekan rasa marah dan cemburunya saat melihat Audrey dan Reno mengobrol dengan seru.


Bahkan sesekali Reno menyentuh lengan Audrey dan Audrey tidak menolaknya.


" Kenapa obat itu lama banget kelihatan reaksinya ke Audrey ! sedangkan ke Nena bisa cepat !" gerutu Lily dalam hati dengan kesal.


Rina yang melihat hal itu hanya menatap Lily dengan mengulum senyum sinis.


Setelah Lily keluar dari kamar Audrey, sesekali Rina sengaja ikut nimbrung dengan pembicaraan Audrey dan Reno. Hingga gak terasa Reno sudah hampir satu jam lebih di kamar Audrey dan kini ia berniat untuk pulang.


" Aku pulang ya, Drey ... sampai jumpa besok. " ujar Reno sembari tersenyum lembut.


" Ya, makasih udah datang menjengukku, Ren ... !" kata Audrey dengan senyum di - paksakan karena perutnya kembali terasa sakit.


" Rin, tolong antarkan Reno ke - bawah ya ... !" Audrey menoleh pada Rina yang duduk di - dekatnya.


" Iya, Drey ... yuk, Ren !" ujar Rina menatap Reno.


" Okey ....! " Reno pun bangkit dan sebelum pergi keluar dari kamar Audrey, ia melambaikan tangannya pada Audrey.


Begitu ia mendengar langkah kaki mereka yang mulai menjauh, Audrey pun mengambil obat - obatan yang di berikan dokter padanya di atas nakas di samping tempat tidurnya yang harus ia minum setiap hari demi membantu menyembuhkan syaraf - syaraf yang ada di kakinya. Setelah selesai meminum obat, Audrey pun menggeser badannya dan mulai membaringkan tubuhnya.


" Kenapa perutku sering sakit belakangan ini ? Apa sebaiknya aku memanggil dokter untuk memeriksa nya ? " gumam Audrey lirih.


" Ya, sebaiknya aku memang harus menghubungi dokter. Tapi nanti saja setelah aku istirahat sebentar. Obat ini membuat mataku mengantuk." kata Audrey mulai memejamkan mata.


**********************************

__ADS_1


__ADS_2