Cinta Dan Dendam Audrey

Cinta Dan Dendam Audrey
Episode 100


__ADS_3

" Rin ... sudah hampir sebulan tapi tidak ada perkembangan sama sekali meskipun gue setiap hari melakukan terapi. Bahkan entah kenapa gue merasa sekarang fisik gue semakin lemah ! Apa sebaiknya gue berhenti saja !" kata Audrey dengan nada lirih, sembari memegang perut nya yang sering terasa perih setelah kecelakaan itu menimpanya.


Ia sengaja tidak memberitahu Rina agar ia tidak merasa cemas.


Audrey tahu, meskipun Rina berusaha menutupi hal itu darinya.


" Tidak, jangan pernah menyerah, Drey ... ! Belum juga sebulan. Mungkin Lo butuh waktu sedikit lebih lama tapi gue yakin, Lo pasti bisa berjalan lagi ! Masalah fisik Lo, mungkin karena elo terlalu stres memikirkan masalah kaki Lo ini ! Jadi, cobalah jangan terlalu memikirkannya dan tetaplah berusaha agar terapi ini membuahkan hasil ! ujar Rina terus menyemangati Audrey.


" Hmm ... tapi bagaimana jika tetap gak berhasil, Rin ?" tanya Audrey dengan wajah lelah.


" Berdoalah dan terus berusaha !


Yakinlah dengan pertolongan Allah, Lo pasti melewati semuanya !" ujar Rina dengan lembut sembari menyentuh lengan Audrey.


" Hmm ... Terima kasih, Rin karena gak pernah bosan memberi semangat buat gue ! Maaf, jika gue terus merepotkan Lo belakangan ini !".


" Gak, itu gak benar ! jangan pernah berpikir kalau Lo merepotkan gue. Ini sudah kewajiban gue sebagai saudara untuk selalu menemani Lo dalam keadaan apapun. Bukan hanya di saat senang aja.


Audrey begitu terharu mendengar


perkataan Rina. Rina selalu gak pernah lelah untuk terus menyemangatinya. Audrey gak pernah lupa untuk bersyukur karena sudah di pertemukan dengan Rina.


" Hmm ... ! Ya, udah, kalau gitu kita pulang sekarang, yuk Rin ... !".


" Ya, tapi kita boleh singgah sebentar kan buat ngambil handphone gue. Kalau gak di ambil, bisa - bisa gue lupa lagi."


" Bolehlah ... ! Tapi teringat gue, kenapa gak pakai handphone yang satu lagi. Handphone itukan lebih baru, Rin ... !".

__ADS_1


" Udah gue pakai dari kemarin, Drey ... tapi tetap aja gue lebih suka sama handphone yang sedang di perbaiki itu. Gak tahu kenapa, tapi gue ngerasa enak aja gunainnya. Mungkin karena gue udah terbiasa dan itu juga handphone pertama yang Lo kasi ke gue. Jadi, lebih berkesan aja."


Audrey mengembangkan senyum manis nya begitu mendengar omongan Rina. Ternyata ia sangat menghargai pemberian Audrey.


" Ya, udah ... buruan yuk ! Ntar keburu kena macet !" Audrey mulai menggerakkan kursi rodanya.


" Okey ... udah biar gue aja yang dorong, Drey ... Lo kan masih lelah habis terapi." Rina mengambil alih dan mulai mendorong kursi roda yang di gunakan Audrey.


Audrey tertawa kecil melihat sikap Rina, yang selalu saja perduli dengannya. Ia belajar untuk tidak tersinggung jika Rina membantunya setelah kemarin Rina mengingatkan akan hal itu.


Lagi pula Rina benar, tubuhnya memang lagi lelah.


Sementara itu tanpa Audrey dan Rina sadari ada sepasang mata yang melihat ke arah mereka dengan sorot mata tajam.


Sepasang mata itu milik Reno, yang sengaja datang setiap Audrey melakukan terapi di rumah sakit ini.


" Lo, tidur aja, Drey kalau lelah ... ! nanti kalau udah sampai di mansion gue bangunin."


" Hmm, gue tidur ya ... !". Audrey pun memejamkan matanya sembari menahan rasa sakit di perut dan kakinya.


Rina menganggukkan kepalanya sambil tersenyum kemudian ia kembali fokus menatap jalanan.


Setelah setengah jam berkendara, Rina menghentikan mobilnya perlahan dan mulai memarkirkan mobil. Rina sudah sampai di tempat ia memperbaiki handphonenya. Lalu dengan pelan ia membuka pintu mobil agar Audrey tidak sampai terbangun. Rina tidak mematikan mesin mobil agar AC tetap menyala agar Audrey tetap merasa nyaman. Lagi pula ia hanya keluar sebentar, untuk mengambil handphonenya. Ia tersenyum melihat Audrey yang masih tertidur dengan lelapnya, sebelum berjalan meninggalkannya.


Begitu melihat Rina berjalan menjauh dari mobil, Audrey yang pura - pura tidur kembali membuka matanya dan membuka pintu mobil.


Ia sudah tidak tahan menahan rasa mual di perutnya.

__ADS_1


Dengan menggeser tubuhnya sedikit agar tidak mengenai jok mobil, Audrey pun mulai mengeluarkan cairan kental dari mulutnya.


Kepalanya mendadak terasa pusing dan dadanya mulai sesak. Audrey merasa sulit untuk bernafas. Ia menekan dengan pelan dadanya agar ia bisa bernafas. Setelah merasa agak lega , Audrey meraih air mineral yang ada di mobil dan meminumnya.


" Kenapa gue terus merasa mual dan pusing belakangan ini ? Bahkan kakiku semakin terasa sakit ! Tapi kenapa waktu masih di rawat di rumah sakit gue tidak mengalami nya ? Apa ini efek dari obat dan terapi yang kujalani ?" gumam Audrey.


Audrey segera menutup pintu mobil setelah melihat Rina yang sedang berjalan di kejauhan menuju mobil. Kemudian Audrey memejamkan matanya kembali.


Tak lama, Rina yang baru masuk ke mobil dan segera memacu mobil agar bisa segera sampai ke mansion. Karena ia kasihan melihat wajah Audrey yang kelelahan dan gak nyaman tidur


di mobil.


Padahal Rina sedang menahan rasa kesalnya, sama counter handphone tempat ia memperbaiki handphonenya yang rusak.


Bisa - bisanya handphone Rina tidak ditemukan. Mereka memberi alasan, karena Rina terlalu lama mengambilnya. Jadi, mungkin ada yang tanpa sengaja memindahkan letak handphonenya.


Walaupun kesal tapi Rina berusaha memaklumi karena itu memang kesalahannya juga yang tidak mengambil handphone tepat waktu dengan tanggal yang telah mereka sepakati.


Akhirnya Rina kembali membuat kesepakatan dengan pemilik counter dan memberi waktu buat mereka untuk menemukan handphonenya. Nanti mereka akan menghubungi Rina jika handphonenya sudah di temukan.


Bella meluapkan rasa kesalnya di kamar, karena sampai hari ini Audrey belum juga memberi kepastian untuk nya mengenai butik yang ingin di kelola nya.


Padahal Bella sudah gak sabar untuk menguasai butik itu. Ia sudah merencanakan hal itu sejak lama. Sejak ia melihat pakaian - pakaian bagus dan mewah tergantung di sana dan menghasilkan uang yang sangat banyak. Sejak ia melihat begitu banyak pelanggan kelas atas datang kesana. Sejak ia melihat mommy Audrey bisa bergaul dengan designer - designer kelas dunia. Ia ingin bisa masuk ke lingkungan itu agar namanya juga di kenal oleh mereka.


Ia ingin segera bisa bergaul dengan orang - orang kalangan atas itu. Apalagi ia juga melihat sebagian besar langganan butik itu adalah isteri dan anak pengusaha besar di kota ini. Bahkan artis - artis ternama di negara ini pun langganan butik mommy Elif. Bella sering melihat wajah mereka saat menemani Audrey datang ke butik mommy nya. Tapi saat itu ia hanya bisa melihat dan sekedar menyapa. Ia lumayan beruntung kalau Audrey mengenalkan dirinya pada mereka. Tapi kebanyakan dari mereka banyak yang memandang Bella sebelah mata setelah mereka tahu ia dari orang kalangan biasa.


Mereka hanya pura - pura menghargai Bella, jika Audrey ada di dekatnya. Ini juga yang membuat keinginan Bella jadi semakin besar untuk bisa segera menguasai semua kekayaan Audrey. Meskipun sekarang ia harus merelakan sebagian kekayaan Audrey karena harus berbagi dengan Lily. Karena walaupun ia juga tidak menyukai Lily karena telah berhasil merebut Reno darinya, tapi Lily banyak mempermudah rencananya untuk menyingkirkan Audrey.

__ADS_1


**********************************


__ADS_2