
" Tidak ....ini gak benarkan ?
Gak mungkin mereka orang tua ku ? " ujar Kevin gak terima begitu
melihat kedua mayat mereka.
Walau Kevin berusaha menyangkalnya tapi kenyataan yang terjadi di depan matanya tidak seperti yang ia inginkan.
Kedua mayat yang sudah terbujur kaku dengan cara mengenaskan itu memang benar jasad Daddy dan Mommy nya.
Awalnya Kevin juga tidak yakin,
karena wajah mereka sudah rusak
karena ledakan yang terjadi pada
mobil mereka. Tapi ada sepasang cincin pernikahan yang selalu dipakai oleh keduanya tergeletak di sekitar mobil. Mobil nya juga dengan nomer plat yang sama
saat Daddy dan Mommy nya pergi
mengendarainya.
Kevin gak bisa menahan tangisannya melihat hal ini terjadi dengan kedua orang tuanya.
Mereka yang sudah mengangkat
Kevin dari jalanan dan memberikan kasih sayang sama besarnya seperti yang mereka lakukan terhadap Audrey.
Kalau saat itu, ia tidak bertemu dengan mereka mungkin saat ini Kevin hanya hidup sebagai sampah masyarakat.
Kenapa keduanya harus meninggal dengan cara tragis seperti ini ? Padahal mereka orang yang sangat baik. Tidak pernah berbuat jahat pada orang lain. Mereka juga tidak pernah memandang orang lain dengan sebelah mata walau status mereka berbeda.
Eldric dan Elif sering membantu para anak jalanan. Mereka membiayai sekolah dan kehidupan mereka agar jadi orang yang mempunyai masa depan lebih baik. Tapi kenapa masih ada juga orang yang bersikap jahat kepada mereka ? Hanya karena kekuasaan dan kekayaan.
" Bagaimana ini ? Apa yang harus
aku katakan pada Audrey ?
Apa yang terjadi, kenapa mereka harus mengalami hal mengerikan seperti ini ? B******k ... Akan aku b****h orang yang sudah
menyakiti mereka dengan tanganku sendiri." Kevin benar - benar sangat marah ia tidak bisa menerima dan seperti
kehilangan akal sehatnya.
Ia memeluk tubuh Daddy dan Mommy nya yang sudah tidak utuh lagi, sambil berteriak keras.
Erland dan semua yang ada
di lokasi kejadian ikut merasa sedih melihatnya. Selama ini Erland sudah menganggap Eldric dan Elif sebagai orang tuanya sendiri. Sejak kematian orang tuanya, ia kehilangan kasih sayang mereka. Hingga akhirnya
ia bertemu kembali dengan Eldric.
Sejak saat itu, Eldric sering mengunjungi Erland dan mereka sering berbincang mengenai banyak hal. Kematian Eldric dan Elif juga membuat Erland sangat
marah. Ia memerintahkan pada anak buahnya untuk. segera menemukan bukti yang menyebabkan terjadinya kecelakaan.
" Land ... aku harus pergi ke tempat itu. Bukankah Daddy pernah bilang pada kita, bahwa kemungkinan b******n itu sembunyi di sana ! " kata Kevin dengan mata memerah karena marah dan menangis.
" Sabar, Vin .. kamu jangan gegabah. Daddy memang pernah mengatakan hal itu pada kita, tapi
bukankah saat itu Daddy tidak begitu yakin. Karena anak buah Daddy juga sudah pernah menyelidiki kesana tapi tidak menemukan orang yang Daddy maksud. Kita harus tenang memikirkan hal ini. Mereka sepertinya benar - benar profesional. Buktinya, tidak ada jejak kejahatan yang mereka tinggalkan. Begitu pula tidak ada saksi yang menyaksikan saat mobil Daddy jatuh ke jurang.
Semua bukti seakan hilang di telan bumi. Berarti lawan kita kali ini bukan orang sembarangan."
ujar Erland mencoba membuka pikiran Kevin.
" Sekarang yang paling penting kita segera mengurus jasad Daddy dan Mommy. Biar mereka
tenang." kata Erland lagi.
Kevin baru tersadar begitu mendengar perkataan Erland.
Benar, yang penting sekarang adalah mengurus jasad kedua orang tuanya. Mereka pasti sangat menderita selama berada di jurang ini.
" Baiklah, tapi bagaimana caraku menyampaikan berita ini pada Audrey. Aku takut dia jadi kehilangan semangat. Karena justru di hari bahagianya, ia mendapatkan kabar kehilangan
kedua orang tua kami." Kevin benar - benar cemas memikirkan
hal ini.
" Kamu harus kuat saat mengatakan padanya. Beri dia
semangat supaya Audrey tidak terpuruk dalam kesedihan.
Dalam hal ini, Audrey yang paling kehilangan, karena selama ini ia
menunggu kabar dari kalian tapi tidak ada satupun yang menghubunginya. Sekalinya dia dihubungi justru kabar duka yang ia terima. Pasti ia sangat sedih dan sulit untuk menerimanya." kata Erland dengan menatap serius wajah Kevin yang tidak semangat.
Setelah mengangkat ketiga jasad ke dalam ambulance yang sudah di bawa oleh anak buah Erland.
Merekapun pergi membawa jasad
Eldric, Elif juga supir yang turut meninggal dalam kecelakaan itu.
Sepanjang perjalanan Kevin terus memandangi ambulance yang membawa kedua orang tuanya dengan perasaan hancur.
Sudah tidak ada lagi, tempat ia berbagi keluh kesah ataupun kebahagiaan. Walaupun sudah dewasa seperti ini, setiap kali Eldric dan Elif datang, Kevin sering
tidur di pangkuan Mommy nya jika sedang sangat merindukan belaiannya. Ia dan Daddy sering
latihan bela diri bersama di mansion. Bahkan tak jarang mereka tidur bertiga di kamar Daddy dan Mommy.
Sementara itu, saat ini Audrey dan yang lain sedang bersenang - senang di mansion.
Bahkan mereka akhirnya memutuskan untuk merayakan di mansion aja, karena chef yang ada ditempat Audrey juga bisa membuat semua jenis makanan
yang mereka inginkan.
Ello terlihat berusaha duduk didekat Audrey. Tapi dengan cepat Reno menghalanginya. Ia tidak akan memberikan kesempatan buat siapapun untuk mendekati
Audrey.
Sedangkan Bella yang masih tetap dicueki oleh Reno, mencoba mendekati Rifky agar jika Reno melihat ia menjalankan tugas yang ia berikan maka Reno akan kembali perhatian seperti biasa
terhadap Bella.
Seringai di mulut Reno tercetak saat melihat Bella mulai mendekati Rifky. Walaupun ia tidak menyapa Bella sejak tadi, Reno tetap memantaunya.
" Ky ... gimana, enak gak tinggal di kota ? " tanya Bella memulai pembicaraan.
" Hmm ... lumayan." sahut Rifky singkat. Karena ia heran kenapa tiba - tiba Bella mengajaknya bicara.
" Oh, kalian tinggal di apartment nya Audrey, ya ... kapan - kapan boleh dong gue main kesana." ujar Bella tetap berusaha membuka percakapan dengan Rifky yang masih terlihat acuh.
" Hmm ... ada perlu apa ? " tanya Rifky, lagi - lagi heran melihat sikap Bella yang mendadak sok akrab.
" Gak ada sih, cuma pengen main dan ngobrol aja sama kalian.
Sekalian bahas tentang kuliah.
Kamu dan Rina kan bakal kuliah di kampus yang sama dengan gue
jadi jika ada yang ingin kalian tanyakan mungkin gue bisa membantu."
" Sepertinya Audrey sudah memberitahu kami semuanya."
Rina yang sedang ngobrol bersama Zia dan Dea, segera mendatangi Rifky dan Bella.
Ia tidak terlalu suka jika adiknya,
terlalu dekat dengan Bella.
Rina selalu merasa, hatinya tidak bisa mempercayai Bella seperti pada Zia dan Dea.
" Asik banget, lagi ngobrolin apa, nih ... ? " tanya Rina duduk di dekat Rifky hingga membuat Bella harus menggeser badannya.
" Gak ada, mbak ... cuma ngobrol biasa." sahut Rifky.
" Iya, Rina ... gue tadi cuma nanya boleh gak kalau gue mampir ke apartment kalian buat ngobrol mengenai kuliah. Mana tau ada yang bisa gue bantu." Bella rasanya ingin muntah ketika harus bersikap ramah pada Rina.
" Oh, kami sudah dijelaskan sama Audrey kemarin. Jadi sepertinya tidak perlu. Lagian, emangnya Lo tau apartment kami dimana ?" tanya Rina melihat Bella curiga.
Karena Audrey tidak mengijinkan
untuk memberitahu di mana letak apartment mereka.
__ADS_1
" Belum sih, Rin .. makanya tadi gue mau nanya sama Rifky." ujar Bella menahan rasa kesal dihatinya, melihat sikap Rina.
" Oh, maaf Bel .. kami rencananya mau pindah dari apartment. Mau cari kontrakan aja. Rasanya gak enak harus merepotkan Audrey terus." ucap Rina sengaja berbohong.
" Loh, kenapa ? bukankah tinggal di apartment jauh lebih enak, nyaman dan aman dibandingkan kalian nyewa rumah kecil di luaran sana. Sayang, dong Rin ... Audrey kan sudah menawarkan kalian tinggal disana aja." ujar Bella gak mengerti dengan jalan pikiran perempuan kampung di sampingnya ini. Dikasi hidup enak malah mau cari susah.
" Gak papa, kami sudah terbiasa
tinggal dirumah kecil waktu
di kampung. Jadi gak masalah." kata Rina.
" Oh, gitu ya ... jadi setelah Lo berhenti kerja. Kegiatan Lo apa sekarang Rin ... ? " tanya Bella ingin tahu.
" Jualan online, lumayan bekerja dari rumah."
" Oh, modalnya dari mana ? " pikir Bella, Audrey yang memberikan.
" Dari hasil jual rumah kami
di kampung, Bel ... " jawab Rina.
Bella melirik Rifky, cowok kampung ini bahkan tidak melihat
ke arahnya. Ia begitu serius memandangi Audrey yang sedang tertawa bersama Reno.
Ello yang ingin ngobrol berdua dengan Audrey tidak ada kesempatan sama sekali. Karena Reno terus menghalangi
niatnya.
Sementara Dea diam - diam melihat Ello. Ingin rasanya ia mendekati dan bicara pada Reno
tentang perasaannya. Tapi ini gak mungkin ia lakukan, karena Dea sudah tahu jawabannya.
Ello menyukai Audrey. Walaupun Audrey tidak pernah menanggapinya, tapi Ello
tetap mengejar Audrey.
" Oh, gimana hasilnya, lumayan ?"
tanya Bella pura - pura perduli.
" Yah, lumayanlah bisa membeli kebutuhan kami." sahut Rina.
" Eh, Rin ... kita gabung sama Audrey. Kayanya mereka asik banget ngobrolnya. Dea sama Zia udah kesana juga, tuh ... " ajak Bella yang penasaran apa yang mereka bicarakan sehingga tertawa terus.
" Aku ikut ... " sahut Rifky langsung bangkit.
Mereka bertiga pun gabung dengan Audrey dan yang lain.
Ternyata Reno menceritakan tentang kekonyolannya saat masa sekolah.
" Non, silahkan makan. Semua makanan sudah dihidangkan." ujar bik Imah sopan.
" Iya, bik ... makasih." ucap Audrey.
" Yuk, makanannya udah siap tuh ..." ajak Audrey pada teman - temannya.
" Okey .... " ujar Zia yang paling semangat saat mengatakan ini.
" Drey ... belum ada kabar juga dari Om dan Tante ? " tanya Dea
saat menuju meja makan.
" Belum ada, De ... " jawab Audrey
berubah gak semangat.
" Kamu yang sabar, ya Drey ... mungkin mereka sedang ditempat yang susah untuk berhubungan." hibur Dea juga Rina.
Sedangkan Zia dan Bella sudah berada di meja makan.
Reno yang mendengar ini menarik sudut bibirnya. Ia tidak tahu kalau
Rifky lagi - lagi melihatnya.
Hal ini membuat Rifky, semakin
berhati - hati pada Reno.
Ada yang tidak benar dengan pria bernama Reno ini ... ! Ia akan terus mengawasi gerak - gerik Reno.
" Drey, selesai makan gue boleh ngomong berdua sama Lo bentar ? " tanya Ello yang berjalan di belakang Audrey.
" Boleh, nanti di dekat kolam renang aja kalau mau ngobrolnya." ujar Audrey.
" Okey ...." sahut Ello semangat.
Reno mendesis pelan mendengar Audrey mengijinkan untuk bicara berdua dengan Ello. Padahal sejak tadi ia sudah berhasil menghalangi niat Ello.
" S*** ... gue abisin juga nih anak."
katanya dalam hati.
"Sumpah, Drey ... chef Lo emang benar - benar top, makanannya
enak banget." ujar Ello kagum.
" Kalau chef nya Felicie, jangan di ragukan lagi. Lo belum pernah aja cobain masakan bik Imah. Maknyos .... " ucap Zia dengan. mulut masih berisi makanan.
" Hehehe .... abisin dulu yang dimulut, baru ngomong." ucap Audrey geli melihat ulah Zia.
" Iya, belepotan tuh mulut Lo ... " sahut Dea.
" Hahaha ... gak masalah. Yang penting kenyang. Tapi kita bakalan gak bisa sering - sering lagi nikmatin makanan enak kaya gini lagi kalau Audrey pergi." ucap Zia dengan mimik dibuat sedih.
" Emangnya kamu mau pergi kemana, Drey ... ? " tanya Reno terkejut karena Bella tidak ada memberitahunya mengenai hal ini.
" Oh, liburan Ren ... sebelum gue kerja di perusahaan Daddy."
" Liburan kemana ... ? Lama gak ... ? " tanya Reno lagi.
" Lumayanlah. Mungkin ke Eropa."
kata Audrey.
" Lo berangkat sendiri, Drey ... ? " tanya Ello memotong Reno yang masih ingin bertanya.
" Iya, gue udah biasa liburan sendiri."
" Mau ditemani gak ... ? " tanya Ello berharap.
Mata Reno langsung menatap tajam pada Ello begitu ia mengatakan hal ini.
" Gak, Lo kan harus kuliah.
Mau gak lulus, Lo ... ! "
Mereka tertawa mendengar perkataan Audrey.
Ello hanya bisa ikut tertawa mendengar jawaban Audrey.
" Bel, Lo ... gue perhatikan sejak dari kampus tadi,. Lo diam melulu.
Apa lagi ada masalah ... ? " tanya Audrey yang menyadari Bella sedikit beda sikapnya.
" Ah, gak ada Drey ... cuma lagi kepikiran tugas kuliah aja." ujar Bella berbohong menutupi kebohongannya.
" Ada yang bisa gue bantu, Bel ... ?" tanya Audrey perhatian seperti biasa.
" Gak papa, Drey ... gue Ama Zia udah janji akan belajar lebih giat.
Karena kami gak bisa mengandalkan lo terus. Apalagi sekarang elo kan udah selesai kuliah." ucap Bella dengan mimik wajah dibuat serius.
Hal ini hampir saja membuat Reno tertawa. Bella memang benar - benar pintar berakting.
Hingga Audrey bisa gak tahu kalau sudah dibohongi selama ini.
" Bella benar, Drey ... kami pengen
wisuda secepatnya kaya Lo." Zia menimpali obrolan mereka.
" Bagus dong, senang gue dengarnya." sahut Audrey dengan
senyum manisnya.
__ADS_1
" Drey, kita udah bisa ngobrol ? " tagih Ello setelah mereka selesai makan.
" Hmm ... baiklah." baru saja Audrey menjawab pertanyaan Ello,
terdengar nada dering di ponselnya berbunyi.
Audrey terkejut begitu melihat nomer Kevin kakaknya yang menghubunginya. Padahal selama ini, nomernya gak pernah bisa dihubungi oleh Audrey.
Mendadak perasan Audrey jadi gak enak.
" Bentar, gue terima telefon dulu." ujar Audrey buru - buru menjauh dari semuanya.
" Siapa yang menghubungi Audrey ? Kenapa wajahnya jadi pucat gitu ? " tanya Zia penasaran.
Reno juga memperhatikan tubuh Audrey yang berdiri agak jauh dari mereka, sehingga ia tidak bisa ikut mendengar Audrey bicara dengan siapa.
" Halo, kak ... Kak Kevin kemana aja ? beberapa kali Audrey hubungi, nomer kakak gak bisa terus. Kak Kevin lagi bersama Daddy dan Mommy, ya ... ?
Kak ... kak Kevin kog diam aja ?
Kak, ada apa ? ngomong dong kak ... jangan buat Audrey panik kaya gini. " Audrey khawatir, jika mimpinya benar - benar terjadi, karena semua pertanyaannya tidak di jawab oleh Kevin.
" Gak, gak mungkin ... pasti Daddy dan Mommy sengaja jailin gue."
katanya dalam hati berusaha menyangkal pikirannya.
" Drey ... hari ini juga kamu akan dijemput oleh Drake. Mungkin, sebentar lagi mereka akan tiba." Kevin berusaha agar suaranya tidak terdengar menahan tangis.
" Aku gak mau pergi kalau kakak gak bilang ada apa ? " ancam Audrey.
Kevin terdiam mendengar ancaman Audrey. Tapi ia tetap tidak ingin mengatakannya sekarang. Karena Kevin tidak mau,
terjadi hal yang buruk padanya.
Sementara ia tidak mungkin pergi
kesana.
" Kamu jangan membantah.
Sekarang juga bereskan barang kamu dan tunggu Drake menjemputmu. " perintah Kevin.
" Apa terjadi sesuatu pada Daddy dan Mommy ? " tanya Audrey cemas.
Kevin hampir saja tidak bisa
menahan dirinya untuk mengatakan ya pada Audrey, jika tidak teringat bahwa Audrey sendirian disana. Meskipun ada bodyguard yang ditugaskan Daddy, tapi itu tidak akan membantu jika ia tiba - tiba jatuh sakit karena mengetahui bahwa orang tua mereka sudah tidak ada.
" Kakak akan beritahu jika kamu sudah tiba disini." Kevin langsung menutup teleponnya agar Audrey
tidak terus bertanya. Karena ia sendiri bingung harus menjawab apa pada Audrey.
Ia segera menonaktifkan ponsel, agar Audrey tidak bisa menghubunginya.
Wajah Audrey semakin panik begitu sambungan telepon mereka terputus. Ia lalu menghubungi kembali nomer ponsel Kevin tapi sudah tidak aktif. Audrey benar - benar merasa jika mimpi buruknya jadi kenyataan. Memikirkan hal ini membuat tubuhnya mendadak
lemas hingga tanpa sadar ia terjatuh di lantai.
" Non Audrey .... " teriak bik Imah begitu melihat Audrey terjatuh.
Semua langsung lari menghampiri nya. Lalu Rifky dengan sigap segera mengangkat badan Audrey dan menaruhnya di atas sofa. Sehingga membatalkan niat Reno.
" Drey, Drey ... bangun. Kamu kenapa ? Apa yang terjadi ... ? "
tanya Rina sambil menepuk pelan pipi Audrey.
Sementara Reno menatap dengan
penuh tanda tanya. Siapa sebenarnya yang menghubungi
Audrey.
Zia dan Dea mengoleskan minyak angin di hidung Audrey, agar ia segera sadar.
Melihat Audrey tak berdaya seperti ini membuat Bella bersorak dalam hati.
" M*** aja Lo sekalian. " ucapnya menyumpahi Audrey dalam hati.
" Kabar apa yang Audrey terima tadi ? " tanya Ello khawatir.
Padahal ia tadi sudah berniat untuk kembali mengungkapkan
perasaannya meskipun ia sudah siap untuk ditolak kembali oleh Audrey.
Reno berusaha meraih ponsel. Ia ingin tahu siapa yang telah menghubungi Audrey tadi, tapi dengan cepat Rifky menghalangi.
Rifky segera menyimpan ponsel
Audrey disakunya.
Karena rencananya di gagalkan
Rifky, membuat Reno menatap dengan tajam.
" Drey, bangun dong ... jangan buat kami bingung." ucap Zia sambil menangis.
" Iya, Drey ... Lo kenapa ? Bangun, Drey .... " kata Dea dan Rina juga menangis.
" Lebay, biarin aja dia m*****s."
batin Bella.
Tanpa mereka sadari, karena semua terlalu fokus melihat kearah Audrey, mereka tidak
menyadari jika Drake dan teman -
temannya sudah masuk ke dalam
mansion.
" Queen, bangun ... kami datang menjemputmu." kata Drake lembut.
" Siapa kalian ? " tanya Reno gak senang. Karena melihat lima orang pria, sedang mengerumuni Audrey.
" Minggir semua, aku harus membawa Queen sekarang juga."
ujar Drake dengan dinginnya.
" Hei, siapa kamu seenaknya saja mau membawa Audrey ." protes Reno gak terima.
Drake tidak mengacuhkan perkataan Reno sama sekali.
Ia segera menggendong tubuh Audrey.
" Bik, segera bereskan barang - barang yang di perlukan oleh
Queen. Queen akan pergi bersama kami." ujar Drake pada bik Imah yang sedang menatap Audrey dengan sedih.
" Baik, Tuan ... " jawab Bik Imah tanpa membantah. Bik Imah sudah mengenal Drake karena sudah beberapa kali datang ke mansion menemui Audrey.
Ia membawa dua pelayan, untuk membantunya.
Drake melangkah keluar tanpa menghiraukan semua yang ada
di mansion yang sedang menatapnya.
Reno yang gak terima Audrey dibawa pergi oleh seorang pria, berniat mengejarnya tapi dengan
cepat dihalangi oleh teman -
teman Drake.
" Sebaiknya kalian segera keluar dari mansion ini."
" Tidak sebelum kalian jelaskan, mau dibawa pergi kemana Audrey." bentak Reno keras.
" Bukan urusanmu."
Karena Reno sedang berdebat
dengan pria ini, Rifky mengambil kesempatan untuk mengejar
Audrey dan ia berhasil.
**********************************
__ADS_1