Cinta Dan Dendam Audrey

Cinta Dan Dendam Audrey
Episode 25


__ADS_3

Hari ini adalah malam terakhir mereka bertiga, Audrey, Rina dan Rifky berada di kampung Rina.


Setelah nanti malam ketiga di laksanakan, besok mereka bertiga akan segera pergi dari kampung ini.


Bahkan Pak RT sudah memberikan uang pembayaran buat rumah Rina dan Rifky, semalam setelah selesai acara malam kedua.


" Rin ... semua barang Lo dengan Rifky udah selesai di bereskan ? " tanya Audrey.


" Sudah, Drey ... lagian gak banyak juga yang kami bawa. Hanya barang - barang kecil peninggalan orang tua kami.


" Oh, bagus lah ... besok kita berangkat pagi dari sini, jadi biar cepat nyampenya. Gue udah nyuruh mereka buat pesan tiket, untuk kita bertiga. Sekalian keperluan buat acara nanti malam. Nanti Lo berdua nginap di mansion gue aja dulu, baru setelah urusan rumah kalian selesai, terserah deh ... kalau mau langsung pergi." ucap Audrey memandang Rina.


" Baiklah, Drey ... makasih banget sudah berada di samping gue ... " ujar Rina lirih.


" Udah, jangan bahas itu melulu.


Yang penting sekarang, Lo dan Rifky harus tetap kuat. "ucap Audrey.


" Ya, Pasti Drey ... " jawab Rina tersenyum. " Eh, tapi, Drey ... semalam gue gak ngeliat cowok yang bernama Reno itu, apa dia udah pergi, ya ... ? " sambung Rina.


" Mungkin, gak tahu gue. " sahut Audrey.


" Berarti dia memang beneran ada kerjaan di kampung sebelah, ya ...


awalnya gue kirain dia berbohong." ucap Rina dengan nada bersalah.


" Iya, gue juga awalnya mikir sama kaya lo, Rin ... tapi ternyata kita salah." jawab Audrey.


" Iya, Drey ... jadi gak enak gue. " sahut Rina.


" Udah, gak papa Rin ... yang penting sekarang kita tahu, kalau dia gak seperti yang kita pikirkan." ucap Audrey bijak.


Sementara itu, Reno yang kemarin sengaja pergi agar Audrey gak curiga. Setelah di antar kan orang yang di suruh Pak RT, kini sudah kembali ke kampung Rina.


Ia bahkan memesan beberapa jenis kue yang akan dia sumbangkan buat acara malam ketiga tempat Rina, agar Audrey terkesan padanya.


Reno tersenyum lebar saat membayangkan wajah Audrey yang cantik.


Sedangkan di kota, Zia dan Dea yang datang ke mansion Audrey terkejut begitu mendengar kalau Audrey sedang pergi ke kampungnya Rina, karena Ibu Rina meninggal.


" Kog, Audrey gak ngabari kita, ya De ... ? " tanya Zia lirih setelah mereka pergi dari mansion Audrey.


" Mungkin mendadak, Zia ... jadi mereka gak sempat ngabari ke kita. " sahut Dea.


" Iya, ya ... tapi kalau kita mau nyusul juga gak bisa, kita gak tahu di mana kampungnya Rina." ucap Zia sambil menyetir mobil.


" Nanti aja kita temui mereka kalau udah kembali kesini, Zia ... ".


ujar Dea.


" Iya, sekarang kita mau kemana, nih ... gue bingung, karenakan tadi rencana nya cuma mau nongkrong tempat Audrey. " tanya Zia.


" Kita nonton aja yuk, Zia ... udah lama juga kita gak pergi nonton. " anjur Dea.


" Iya, yah ... ya, udah kita nonton aja. Lo hubungi Bella, biar dia nyusul kesana langsung." ujar Zia semangat.


Dea pun segera menghubungi nomer Bella, tapi sudah beberapa kali di hubungi tetap gak di angkat, walaupun jelas tersambung.


" Gak di angkat, Zi ... padahal nyambung, loh ... " ujar Dea heran.


" Oh, Lo ngerasa gak De ... sikap Bella belakangan ini semakin aneh. Sering menghilang gak jelas gitu. Terus kalau udah selesai kuliah, langsung pergi. Terakhir kita ngumpul bareng waktu nginap di mansion ya Audrey, setelah itu gak ada. " ucap Zia curiga.


" Iya, Lo benar, Zia ... gue juga merasa aneh melihat sikap Bella belakangan ini. Kaya ada yang sedang di sembunyikan sama dia.


Gue juga pernah gak sengaja ngeliat Bella, di jemput sama mobil sport waktu di kampus." ujar Dea membenarkan kecurigaan Zia.


" Hah, yang benar Lo, De ... ?


Kapan Lo ngeliatnya ... ? " tanya Zia terkejut.


" Kemarin, waktu itu Bella cuma masuk jam pertama terus dia keluar. Kebetulan gue mau ke toilet, ... itu kan ngelewati parkiran tuh ... di situ gue melihat Bella masuk ke sebuah mobil, dan kayanya cowok deh yang nyetir." Dea menjelaskan dengan serius.


" Oh, gue juga udah lama curiga dengan Bella. Kayanya dia beneran udah punya pacar, deh ... tapi kenapa dia harus sembunyiin dari kita, ya Zi ... ? " ujar Zia mengungkapkan kecurigaannya.


" Sepertinya kecurigaan Lo benar Zi ... Bella udah punya pacar. Tapi apa alasannya, dia gak ngomong sama kita ? " sahut Dea dengan wajah memikirkan sesuatu.


" Ya, udah De ... nanti kalau ketemu sama Bella, kita tanya langsung aja sama dia. Sekarang coba Lo hubungi dia lagi. "


Kembali Dea menghubungi nomer Bella, tapi tetap gak di angkat juga.

__ADS_1


" Gak di angkat juga, Zi ... " ucap Dea agak kesal.


" Ya, udah deh ... kita berdua aja yang nonton. Nanti kalau ada waktu lagi baru nonton lagi bareng Audrey dan Bella. " sahut Zia.


" Okey ... " jawab Dea singkat.


Setelah memarkirkan mobil, Zia dan Dea pun berjalan keluar.


Sementara itu Audrey , Rina dan Rifky sedang sibuk menata makanan yang akan di sajikan untuk acara malam ketiga.


" Rin ... gue mandi dulu, ya ... gerah nih." ucap Audrey setelah mereka menyelesaikan semuanya.


" Okey ... " jawab Rina singkat.


Audrey yang memang udah kegerahan segera menuju kamar Rina.


" Aduh, ngapain sih mereka datang lagi ? " ucap Rina kesal sambil melihat ke arah luar.


" Siapa mbak ... ? " tanya Rifky.


" Orang - orang resek ... Ky, tuh, lihat aja sendiri. Mbak ke dalam dulu, jumpai Audrey biar dia gak usah keluar dulu dari kamar." ucap Rina lalu bergegas menemui Audrey.


Rifky yang merasa penasaran, siapa yang di maksud mbak nya, segera melihat ke arah luar.


" Oh, ternyata mereka ... pantas aja, mbak Rina kesal kaya gitu." ucap Rifky pelan.


Rifky melihat Tono dan sepupunya yang lain sedang berjalan menuju rumah mereka.


" Drey ... " panggil Rina begitu di kamar.


" Ya, ada apa Rin ... ? Lo mau pake kamar mandi ? " tanya Audrey yang masih belum selesai.


" Gak, gue cuma mau bilang. Nanti kalau Lo udah selesai mandi, gak usah keluar dari kamar dulu, ya ..."


ujar Rina pada Audrey.


" Loh, emangnya kenapa Rin ... ? "


tanya Audrey heran.


" Udah, ntar Lo juga tau. Sebaiknya Lo jangan keluar dulu, ya Drey ... sebelum Lo pusing, ntar meladeni mereka." jawab Rina.


" Gue keluar dulu, Drey ... biar semua biang kerok itu gue suruh pergi." ucap Rina sambil keluar dari kamar.


Audrey yang merasa bingung dengan sikap Rina, hanya tersenyum kecil mendengar perkataan Rina.


Gak lama, Tono dan yang lain pun masuk kerumah Rina tanpa mengucapkan salam sama sekali.


" Rin, Audrey mana ? Mas mau bicara sama dia ... ? " tanya Tono tanpa basa basi sedikitpun.


" Ada perlu apa, mas dengan Audrey ? " tanya Rina balik.


" Gak ada , cuma mau ngobrol aja.


Rin, kamu dan Rifky itukan adiknya mas ... harusnya kalian mendukung agar mas bisa jadian sama Audrey. Kalau mas menikah dengan Audrey, kalian berdua kan bisa ikutan jadi kaya juga." ucap Tono dengan gak tahu malunya.


Wajah Rina dan Rifky langsung memerah karena marah, begitu mendengar apa yang di katakan Tono, sepupu mereka.


" Benar tuh, Rin ... apa yang di omongin mas Tono, kita sebagai saudara harus saling mendukung.


Jadi kita semua bisa merasakan kekayaan Audrey." ujar Desi membenarkan perkataan Tono sepupunya.


" Kalian berdua sudah gak waras ya ? Memangnya kalian pikir kalian ini, siapa ? Percaya diri banget, mau menikah dengan Audrey ? Hahaha ... Mas, ngaca dulu deh .... ! " ucap Rina sinis.


" Kamu jangan kurang ajar sama mas Tono, Rin ... dia saudara kita yang paling tua, loh ... " kini sepupu Rina yang lain, anaknya Pak Tarno, paman Rina ikut bicara.


"Aku kurang ajar. Terus kalian bilang kita saudara ? Apa selama ini kalian pernah menganggap aku dan Rifky saudara ? " ujar Rina dengan wajah marah.


Tono dan yang lain, wajahnya langsung memucat. Mereka gak menyangka, Rina yang selama ini selalu diam bisa jadi kasar kaya begini.


" Rin, sepertinya kamu berubah seperti ini sejak tinggal di kota. Kamu dulu gak seperti ini.


Apa kamu bergaul dengan orang yang gak benar di sana ? " Tono dengan wajah sok serius memandang Rina.


" Mas, salah besar ... di sana aku bahkan gak punya teman karena sibuk bekerja agar bisa mengobati penyakit Ibu. Mas Tono heran aku berubah, aku berubah karena kalian mas. Aku kurang ajar juga karena kalian. Buat apa aku tetap diam kaya dulu. Ibu udah gak ada, jadi gak ada lagi hati yang harus ku jaga. Selama ini, Ibu yang melarang ku agar tidak membalas perlakuan kalian pada kami.


Tapi, maaf sekarang aku tidak akan pernah diam lagi jika kalian berani kurang ajar pada kami." ucap Rina panjang dengan suara keras sambil berusaha agar air matanya jangan sampai keluar.


" Iya, apa yang di katakan sama mbak Rina, benar ... sekarang kami gak akan diam jika kalian berani melakukan hal - hal yang buruk seperti dulu yang sering kalian lakukan. Sebaiknya mas Tono dan yang lain segera keluar dari rumah kami. Kami gak butuh saudara seperti kalian." Rifky sangat marah melihat mbak nya

__ADS_1


di buat marah kaya begini.


" Kamu itu masih kecil, jangan ikut campur. Mana Audrey, cepat panggil dia kemari ... kalau gak mas akan mencarinya sendiri." ancam Tono dengan wajah beringas.


" Oh, coba saja kalau mas berani.


Aku akan teriak, biar semua warga kampung datang kesini." Rina balas mengancam Tono.


" Kamu itu ngeyel banget, jadi orang ... " Tono mau menampar Rina.


Tapi tangan bodyguard yang bertugas menjaga Audrey dengan cepat menahannya. Mereka yang sejak Tono datang kerumah ini terus mengawasi tidak akan membiarkan satu orangpun menyakiti teman Audrey.


" Eh, kamu siapa ? jangan ikut campur ... ini urusan saya dengan saudara saya." ujar Tono marah.


Tanpa banyak bicara, salah satu bodyguard itu menjatuhkan badan Tono kelantai hingga kesakitan.


" Kamu keluar atau ku patahkan semua tulang di badanmu." ancam bodyguard dengan wajah dingin.


Tono yang masih tetap keras kepala berusaha menyerang bodyguard setelah ia kembali berdiri. Dengan hanya menggunakan satu tangan, bodyguard itu membuat Tono jatuh kembali.


" Sebaiknya kalian keluar sekarang, sebelum Tuan ini membuat tubuh kalian semua jadi kaya kerupuk ... " usir Rina.


Desi dan sepupunya yang sudah sejak tadi ketakutan melihat Tono dengan mudah dibuat jatuh oleh orang yang membantu Rina, merekapun segera keluar dari rumah Rina. Hanya Tono saja yang tetap dengan keras kepalanya masih bertahan sendirian di rumah Rina.


" Mas, jadi orang itu jangan terlalu keras kepala. Lagian, mas itu terlalu percaya diri ... kita ini orang kampung, mas ... Keluarga mas Tono di kampung ini boleh merasa kaya tapi kekayaan mas itu gak ada secuilpun kalau di bandingkan dengan kekayaan keluarga Audrey. Apa mas pikir, orang tua Audrey bersedia punya menantu pengangguran dan tukang mabuk kaya mas Tono.


Audrey itu sarjana, mas ... pintar dan juga sangat cantik. Di sana banyak pria yang lebih tampan, berpendidikan dan juga kaya raya yang mencoba mendekatinya, tapi Audrey menolak mereka. Apalagi yang cuma kaya mas gini.


Mikir mas ... Terus mas juga sudah dengar sendiri dari Audrey, kalau dia sudah punya calon suami. Aku yakin sekali, calon suaminya Audrey itu pasti sama levelnya dengan keluarga Audrey, maka orang tuanya bisa setuju menjodohkan mereka." ucap Rina mencoba menyadarkan Tono.


Bodyguard yang ingin menarik Tono keluar, di tahan oleh Rina.


Ia berusaha untuk memberi pengertian padanya. Bagaimanapun marah dan sakit hatinya Rina pada mereka, tapi Tono tetaplah saudaranya.


Tono tercenung sesaat mendengar apa yang di ucapkan Rina. Ia masih tetap belum yakin,


kalau Audrey sudah punya calon suami. Tono juga merasa ia sangat tampan. Perempuan - perempuan di kampung ini dan di kampung tetangga banyak yang suka padanya. Tono dengan sangat mudah, menipu mereka.


Setelah berhasil merasakan madu mereka, Tono pun meninggalkannya. Jadi ia merasa sangat percaya diri, kalau ia pasti bisa mendapatkan Audrey juga.


" Biar mas tahu, mas ingat pria yang kemarin kesasar di kampung kita terus akhirnya menginap di rumah bik Tuti. Pria itu juga, sepertinya menyukai Audrey.


Di bandingkan dengan dia aja, mas ini gak ada apa - apanya, apalagi dengan calon suami Audrey. Pasti orang tuanya akan memilih yang paling terbaik dalam segala buat jodoh Audrey. Jadi sebaiknya, mas cepat sadar." Rina yang mulai lelah melihat sikap Tono yang keras kepala, akhirnya berkata dengan pelan.


Audrey yang mendengar semuanya dari kamar hanya bisa menghela nafas dengan kasar.


Ia tidak menyangka, saudara Rina bisa bersikap kasar seperti tadi.


" Mas Tono, pulang ya ... sebentar lagi hari sudah mau Maghrib. Acara malam ketiga Ibu ku bakalan di mulai. Aku minta tolong, mas dan keluarga mas jangan membuat keributan lagi di rumah ini. " ujar Rina lirih.


" Iya, mas ... tolong pulanglah." ujar Rifky memohon.


Tono yang hanya diam sejak Rina menjelaskan semua hal tentang Audrey padanya, akhirnya dengan langkah gontai pergi melangkah keluar dari rumah Rina. Begitu juga dengan bodyguard Audrey.


Rina pun langsung terduduk lemas di lantai sambil menangis dengan suara pelan. Ia merasa lega setelah tadi sempat mengeluarkan uneg - unegnya selama ini.


" Udah, mbak ... jangan nangis.


Ini hari terakhir kita di kampung , setelah ini kita tidak akan pernah melihat mereka lagi. " ucap Rifky menghibur Rina.


" Ya, kamu benar, Ky ... habis ini kita tidak akan melihat mereka lagi. " kata Rina mengulangi perkataan adiknya dengan menarik nafas lega.


Audrey yang mendengar sudah tidak ada suara ribut lagi, segera melangkahkan kakinya keluar dari kamar.


" Jadi, karena ini Lo nahan gue di kamar ? " tanya Audrey.


" Maaf, Drey ... gue gak ingin Mas Tono dan saudara gue yang lain menganggu Lo." jawab Rina.


" Gue gak papa, gue cuma gak enak sama Lo dan Rifky. Karena ngelindungin gue, Lo berdua harus bertengkar sama saudara Lo." ucap Audrey lirih.


" Gue gak ngerasa ngelindungin Lo, gue cuma mau mas Tono sadar. Lagian niat mereka dari awal gak baik sama Lo. Tadi Lo pasti dengarkan, kalau mereka menyuruh gue buat mendukung mas Tono bisa jadian sama Lo agar bisa menikmati kekayaan yang Lo punya. Gue gak akan pernah mau melakukan hal itu.


Lo bilang kita bertiga sudah menjadi saudara. Jadi gue akan


melawan siapa saja yang akan menganggu saudara gue." kata Rina panjang lalu memeluk Audrey erat.


" Makasih, Rin ... gue bahagia punya saudara kaya Lo berdua." ucap Audrey membalas pelukan Rina. Rifky juga akhirnya ikut berpelukan dengan mereka berdua.


Reno yang baru saja tiba, melihat dan mendengar semua yang mereka bertiga lakukan, berusaha menahan emosi di hatinya waktu mendengar perkataan Rina, karena ia harus terlihat baik di depan Audrey, Reno pun berusaha dengan keras agar tidak sampai terlihat.

__ADS_1


**********************************


__ADS_2