
" Lily, gue senang banget begitu mendengar Audrey gak bisa berjalan lagi ! Rasain, sekarang dia udah gak bisa sok kecantikan lagi. Siapa yang mau dengan wanita c***t kaya dia !" ujar Bella dengan semangat saat mengobrol sama Lily di kamar nya.
" Hehehe ... Iya Bel ! Sekarang jalan kita akan semakin mudah !" sahut Lily tertawa lebar.
" Iya ... tapi kapan Lo menyingkirkan perempuan dari kampung itu. Gue beneran udah enek melihat muka nya. " tanya Bella menatap serius pada Lily.
" Sabar ... belum saatnya. Sebentar lagi ! Pokoknya Lo lihat nanti apa yang akan terjadi sama perempuan kampung itu !" ujar Lily dengan seringai licik di wajahnya.
" Okey, deh ... ! Terus si nenek tua cerewet itu kapan kita buang keluar ? Kita bisa susah bergerak kalau ada dia ! " ujar Bella lagi.
" Hmm ... udah, Lo santai aja deh !Kita akan usir dia dari dunia ini ! Lo tahu gak, dia itu beruntung masih bisa selamat waktu itu. Tapi kali ini akan gue pastikan dia akan pergi buat selamanya !" ujar Lily dengan wajah menyeramkan.
Jantung bik Imah berdetak dengan kencang setelah mendengar pembicaraan Bella dan Lily.
Ia tadi memang sengaja minta di antarkan ke lantai atas sama asistennya. Karena ia curiga ketika tidak melihat keberadaan Lily di lantai bawah.
Ternyata kecurigaannya benar, Lily ada di kamar Bella dan sedang merencanakan kejahatan untuk menyingkirkan Rina dan dirinya.
Syukurnya bik Imah sempat merekam semua yang mereka katakan di handphone nya.
" Berarti memang benar kecurigaan ku selama ini. Lily yang sudah berusaha me**n*h aku saat itu !" kata bik Imah dalam hati. Bik Imah merasa gugup, tanpa sengaja ia menekan tombol jalan kursi rodanya hingga membentur pintu kamar Bella.
Hal itu tentu saja menarik perhatian dari Bella dan Lily.
"Diam Bel ... sepertinya ada yang sedang menguping pembicaraan kita !" ujar Lily pelan sembari bergegas berjalan ke arah pintu kamar.
Akibat keteledorannya tadi, ia mendengar langkah kaki yang hendak menuju ke arah pintu.
Bik Imah buru - buru menyembunyikan handphonenya di dalam saku celananya sambil tetap menyalakan rekaman nya lalu menjalankan kursi rodanya untuk segera menuju lift agar ia bisa cepat sampai ke lantai bawah.
Ia sekarang menyesal kenapa harus menyuruh asistennya turun tadi buat mengerjakan sesuatu
di ruangan belakang mansion.
Tapi sayang karena keterbatasan geraknya, membuat bik Imah jadi sedikit lebih lamban. Ia sudah terlihat Lily dan Bella ketika belum mencapai lift.
Lily dan Bella menahan kursi roda bik Imah dan segera menariknya masuk ke kamar Bella. Lily lalu mengikat tangan dan kaki bik Imah dengan ikat pinggang Bella.
" Hahaha ... tua bangka harusnya Lo tidak lancang seperti ini. Beraninya Lo menguping pembicaraan kami ! " bentak Lily.
Bik Imah berharap kali ini ia bisa menggerakkan kakinya agar dapat keluar meskipun ia tahu itu sangat tidak mungkin. Ia ingin lepas dari cengkraman dari kedua perempuan yang mengerikan di hadapannya sekarang.
" Kenapa ! Lo terkejut karena udah dengar kalau gue yang sudah membuat Lo jadi seperti ini. Bener ... gue menukar obat Lo sehingga jantung Lo semakin parah. Terus yang membuat Lo gak bisa bangun - bangun beberapa hari di rumah sakit itu juga gue yang melakukannya. Gue udah taruh obat berdosis tinggi
di minuman Lo ... hahaha ! " tawa Lily terdengar begitu menyeramkan.
Bella saja sampai merinding mendengarnya. Meskipun ia juga jahat tapi tidak mengerikan seperti Lily. Lily benar - benar seperti psikopat. Walaupun ia memang akhirnya tahu karena Lily sudah menceritakan padanya kalau ia yang sudah menyebabkan semua kekacauan di mansion ini.
Apalagi sekarang Bella melihat dengan jelas kekejaman yang tercetak di wajah Lily. Karena itu Bella memutuskan untuk lebih berhati - hati mulai detik ini. Ia gak ingin nyawanya ikut melayang.
Bik Imah terus meronta dengan keras. Ia berusaha melepaskan ikatan di tangan dan kakinya.
__ADS_1
" Sebenarnya gue masih ingin bermain - main sedikit lebih lama dengan Lo. Tapi karena Lo sudah mendengar dan mengetahui rencana kami, maka dengan berat hati, gue merelakan Lo pergi buat selamanya hari ini !" ujar Lily mencengkram bahu bik Imah dengan keras, hingga ia merintih kesakitan.
" Bel ... gue turun sebentar buat mengambil sesuatu di kamar gue. Biar tua bangka ini bisa pergi dengan cepat !" ujar Lily menatap bengis ke arah bik Imah.
" Okey ... okey Li !" sahut Bella gugup.
Sungguh Bella akui ia memang iri hati, dengki, jahat bahkan ia menginginkan harta Audrey dengan cara merampasnya. Tapi ia tidak pernah berani menyingkirkan nyawa seseorang dengan kedua tangannya.
Bik Imah menatap Bella dengan mata berkaca - kaca. Ia berharap Bella tersentuh melihat air matanya.
" Maaf, bik Imah ... ! Aku sebenarnya gak tega kalau sampai harus menyingkirkan bibi. Aku hanya ingin membuang bik Imah di tempat yang jauh agar bibi gak bisa membantu Audrey.
Tapi bibi bisa lihat sendirikan kalau Lily tidak akan bisa di cegah lagi. " Ujar Bella dengan suara lirih .
" Non Be .. Bella ! Sa .. saya ingin ke kamar ma .. mandi. Sa .. saya ingin bu .. buang air kecil !" ujar Bik Imah dengan terbata - bata.
Akhirnya ia bisa mengeluarkan suaranya setelah berusaha dengan sekuat tenaga.
Bella terkejut mendengar bik Imah bisa berbicara lagi meskipun terbata - bata.
" Bik Imah bisa bicara ? " tanya Bella gugup.
Ia jadi ketakutan kalau bik Imah sampai lolos, dan mengatakan semuanya pada Audrey dan Rina tentang rencana mereka yang tadi sudah sempat di dengar olehnya.
" Ba ... baru saja, non ... Sa .. saya juga tida ... tidak menyangka ! Tolong, non Bella, lepaskan. sebentar ikatan saya. Jangan takut, saya gak mungkin bisa melarikan diri. Saya sudah tidak bisa menahannya, non. Izinkan saya pergi ke kamar mandi. " kata bik Imah mulai lancar bicara dengan wajah memelas.
Ia harus berhasil masuk ke kamar mandi sebelum Lily kembali ke kamar ini. Bik Imah tahu pasti kalau hari ini adalah hari terakhirnya bisa melihat dunia.
" Hmm ... !" sahut Bella singkat dengan wajah masih tidak percaya kalau bik Imah sudah bisa bicara kembali.
" Makasih non Bella." ucap Bik Imah berusaha tersenyum dan segera menjalankan kursi rodanya ke arah kamar mandi.
Bella hanya mendengus melihat hal ini.
Bik Imah segera mengunci pintu kamar mandi agar ia bisa menyembunyikan handphone nya disini tanpa ketahuan Bella.
Sebelum itu ia mengirim pesan pada Rina dan memberitahukan tempat ia menyembunyikan handphone.
" Rin ... jika bik Imah sudah gak ada hari ini, tolong kamu cari handphone bibi di kamar mandi Bella. Di handphone itu ada bukti tentang semua kejahatan yang di lakukan Lily dan Bella. Bik Imah menyembunyikannya di kamar mandi Bella, di dalam tutup closet ." bik Imah menarik nafas lega setelah melihat pesan iri terkirim ke Rina.
Sekarang ia harus mencari tempat ia bisa menyembunyikan agar jangan sampai ketahuan oleh Lily dan Bella.
Bik Imah mengerahkan semua kekuatannya untuk bisa membuka tutup closet. Akhirnya ia berhasil dan segera meletakkan handphonenya setelah lebih dulu membalutnya dengan plastik sampah yang ada di dalam kamar mandi.
Sekarang ia sudah bisa ikhlas jika memang ini adalah hari terakhirnya menjadi pelayan di - mansion buat keluarga Audrey.
Ia sedang mencoba membantu nona kecilnya sampai detik terakhir di hidupnya.
Lily yang baru saja masuk ke kamar Bella sambil membawa segelas minuman di tangannya langsung melotot begitu melihat ikat pinggang yang ia gunakan untuk mengikat bik Imah sudah tergeletak di lantai. Apalagi ia tidak melihat keberadaan bik Imah.
" Mana si tua bangka itu !" ujar Lily menatap Bella dengan mata yang menyeramkan.
__ADS_1
" Dia lagi di kamar mandi, Li ... " jawab Bella dengan nada takut.
" B***h ... ! Kenapa Lo mengizinkan dia masuk kesana ! " bentak Lily dengan suara keras.
" Gue gak mau kalau dia sampai b***g air di kamar gue. " ujar Bella.
" Dasar b**o ! " Lily lalu berjalan menuju kamar mandi dan mencoba membuka pintu kamar mandi. Ia curiga bik Imah sedang melakukan sesuatu di dalam.
" Hei, tua bangka buka pintunya sekarang !" ujar Lily sembari menggedor pintu dengan keras.
Bik Imah berusaha agar ia bisa tetap terlihat tenang dan tidak membuat Lily curiga.
Perlahan ia mulai membuka pintu kamar mandi.
Lily langsung menatap bik Imah dengan tajam begitu melihat wajahnya dan menarik kursi roda keluar dengan kasar. Ia lalu masuk ke kamar mandi sembari mencoba memeriksa yang terlihat agak mencurigakan. Tapi ia melihat tidak ada yang aneh, Lily pun bergegas keluar dan menghampiri bik Imah.
" Hey, tua bangka kali ini Lo gak akan selamat dari tangan gue." ujar Lily kemudian mengikat kembali tangan dan kaki bik Imah.
Bik Imah hanya diam dan menatap Lily dengan mata pasrah. Ia sadar ini adalah waktunya. Bik Imah berdoa dalam hati untuk memohon ampun pada Allah atas semua kesalahan yang pernah ia lakukan di dunia.
" Hahaha ... karena gue baik hati dan kasihan melihat Lo menderita dan gak berguna. Jadi gue akan mempercepat Lo untuk bisa segera pergi meninggalkan dunia yang indah ini. Selamat jalan ... !" ujar Lily datar seraya membuka dengan paksa mulut bik Imah dan menaruh minuman yang sudah ia campur dengan cairan mematikan. Setelah itu Lily menutup mulut bik Imah dengan kedua tangannya agar minuman itu tidak sampai keluar.
Bella hanya bisa terdiam dan menatap dengan wajah takut melihat apa yang di lakukan Lily.
Tak butuh waktu lama, badan bik Imah yang awalnya mengalami sedikit kejang akhirnya kepalanya kini terkulai dengan lemas.
Ya, bik Imah sudah menghembuskan nafas terakhirnya dengan tenang.
Bella terpaksa menutup mulutnya agar tidak sampai menjerit melihat hal itu.
Ia bisa melihat wajah Bik Imah yang kesakitan saat harus meminum cairan yang di berikan Lily.
" Dia sudah m*** ! Sekarang kita aman, Bel ... !" ujar Lily tersenyum lebar seperti tidak ada kejadian.
" Ta .. tapi bagaimana kalau kita sampai ketahuan, Li ? " tanya Bella khawatir.
" Lo tenang aja ! Sekarang kita bawa dia ke bawah dan taruh di kamarnya. Tidak akan ada yang curiga saat mereka menemukannya sudah m***. Paling mereka pikir ia m*** karena jantungnya kumat !" ujar Lily santai.
" Benarkah, Lo yakin ?" tanya Bella takut.
" Hmm ... sekarang Lo lihat keadaan biar gue yang bawa sia ke kamarnya." ujar Lily dengan wajah datar.
" Ya, baik ... !" sahut Bella gugup.
Lily pun mulai mendorong kursi roda itu keluar dari kamar Bella dan kemudian masuk ke dalam lift bersama Bella.
Bella berusaha meredakan detak jantungnya yang berpacu dengan kencang saat ia mengamati situasi di lantai bawah. Ia takut ada yang melihat mereka.
Tapi setelah memperhatikan dengan seksama, dan tidak ada seorangpun di dekat kamar bik Imah, Bella bisa menarik nafas lega. Ia pun memberi kode pada Lily untuk segera membawa bik Imah ke kamarnya.
Setelah mereka berhasil menaruh bik Imah di kamarnya, Lily dan Bella pun berpisah dan kembali
__ADS_1
ke kamarnya masing - masing.
**********************************