
Setelah nama Audrey di panggil untuk naik ke pentas sebagai Mahasiswi yang mendapat gelar lulusan terbaik, dengan I.P. 4.00 alias cumlaude, untuk kedua jurusan yang ia ambil. Audrey pun berjalan menuju pentas. Semua mata yang ada di sana, memandangnya dengan rasa kagum. Karena selain cantik, Audrey juga sangat pintar. Sehingga wajar saja ia bisa memperoleh predikat itu.
Audrey merasa sedih, ketika ia melihat dari pentas, begitu banyak orang tua yang hadir, menemaninya anaknya yang juga wisuda seperti dirinya tapi tidak dengan Audrey. Bahkan untuk kabar sekalipun ia tidak mendapatkannya. Ia tersadar dari lamunannya ketika pembawa acara memintanya untuk memberikan sepatah dua patah kata dalam pidatonya. Audrey pun maju ke podium dan mengatakan
beberapa kalimat ucapan terima kasih dan penyemangat buat mahasiswa.
Suara tepuk tangan yang begitu
meriah mengiringi begitu Audrey menyelesaikan pidato singkatnya.
Rifky sibuk mendokumentasikan
semua yang di lakukan Audrey, dalam acara Wisudanya.
Ia bertekad akan meraih gelar dan predikat seperti yang Audrey dapatkan hari ini.
Bella menatap iri dari belakang melihat begitu banyak yang mengagumi dan menyukai Audrey.
Bahkan sesama wisudawan banyak yang meminta foto dengan Audrey sebagai kenang - kenangan.
Sebenarnya ia dibuatkan dua buah kebaya oleh Mommy nya untuk acara wisuda ini. Tapi ia lebih menyukai kebaya yang
di pakainya saat ini,
Ternyata Reno juga memakai warna yang sama dengan kebaya Audrey. Jadi seperti sudah di rencanakan, padahal gak sama sekali.
Setelah semua deretan acara wisuda selesai, Audrey pun mengabadikan kenangan ini dengan para dosen, termasuk juga dosen yang terkenal killer di mata mahasiswa, Pak Abdi.
Abdi yang selama ini diam - diam mencintai Audrey memanfaatkan waktu ini untuk mengambil foto beberapa kali dengan Audrey sebagai kenang - kenangan. Karena mungkin setelah hari ini,
ia akan sulit bertemu dengan Audrey. Apalagi calon suami Audrey adalah sahabatnya.
Abdi melirik Reno yang terlihat selalu mengitari Audrey. Ia tidak mengenal pria ini tapi kenapa ia bisa hadir di acara wisuda Audrey. Bahkan terlihat sangat akrab dengan Audrey juga teman - temannya. Abdi diam - diam mengambil foto Reno, lalu mengirimkannya pada Erland, pria yang dijodohkan dengan Audrey.
Abdi ingin melihat reaksi Erland.
Apakah dia cemburu atau dingin seperti biasanya. Kalau dia cemburu, pasti Erland akan segera menghubungi Abdi.
Erland yang sedang menghadiri rapat, begitu mendapatkan kiriman foto itu, langsung menghentikan rapatnya. Lalu dengan cepat ia melakukan video call dengan Abdi. Ia ingin melihat
langsung siapa pria yang berani
mendekati Audrey, calon isterinya.
Abdi yang gak menyangka kalau Erland langsung meneleponnya langsung tersenyum..Ternyata sahabatnya ini sangat mencintai Audrey. Meskipun ia tahu belum pernah sekalipun Erland menemui Audrey. Karena jarak dan janji yang ia ucapkan pada orang tua Audrey. Bahwa ia akan menjumpai Audrey jika sudah tiba waktunya.
" Halo, bro ... kenapa Lo telepon ?
Bisa cemburu juga, Lo ... " sahut Abdi menggoda Erland.
" Mana pria itu ... ? " tanya Erland tanpa basa - basi.
Abdi langsung mengarahkan handphone nya kearah Reno yang sedang berdiri di samping Audrey.
Kebetulan gak lama datang Ello, yang juga menyukai Audrey.
Ello langsung menghampiri Audrey dan memberikan ucapan selamat padanya.
Bahkan saat Ello mengatakan mengajak Audrey untuk pergi makan merayakan wisudanya Audrey, Erland juga ikut mendengar.
" Saingan Lo banyak, bro ... ini baru yang berani langsung mendatanginya, belum lagi yang
diam - diam mengaguminya. " Abdi sengaja memanasi Erland.
" Hmm ... termasuk Lo juga kan ?"
ujar Erland dingin.
Abdi tercekat mendengarnya.
__ADS_1
Ia gak menyangka Erland bisa tahu perasaannya. Padahal ia sudah berusaha sebaik mungkin menyembunyikan agar Erland dan Audrey tidak mengetahuinya.
Tapi kenapa Erland bisa tahu ?
" Hmm .. kenapa Lo diam .. Lo kirain gue gak tahu. Gue tahu, bro ... tapi karena gue yakin Lo gak akan berbuat macam - macam jadi gak masalah buat gue. " kata Erland sangat dingin.
" Sorry Land ... " hanya kata singkat itu yang bisa dikatakan Abdi pada Erland karena perasan
bersalah nya.
" It' s Okey ... itu wajar. Audrey cantik, pasti banyak yang suka sama dia. Udah, sekarang gue mau lihat dengan jelas wajah pria yang berani mendekati Audrey." kata Erland mengalihkan pembicaraan. Karena ia yakin Abdi gak akan mengkhianatinya.
Abdi mengarahkan kembali kamera ponselnya pada Reno dengan diam - diam.
" Gimana, Drey ... bisa kan hari ini kita keluar merayakannya ? " tanya Ello sambil memandang wajah Audrey dengan lembut.
Erland, Reno dan Abdi melihatnya dengan tatapan gak suka.
" Sorry, Audrey gak bisa. Dia udah janji mau pergi denganku dan teman - temannya. " Reno yang menolak ajakan Ello.
" Iya, Ello ... gue udah janji duluan dengan mereka. Tapi kalau lo
mau gabung, gak papa." kata
Audrey.
" Boleh deh ... dari pada gue gak jadi pergi sama Lo, mending gabung aja." ujar Ello.
Reno langsung menatap tajam pada Ello. Hal ini terlihat jelas
oleh Erland yang terus menyaksikan dari layar handphone. Hampir saja ia
tidak bisa menahan dirinya, untuk
memaki Reno. Rasanya ingin sekarang juga terbang ke Indonesia untuk menemui Audrey.
Tapi masih terlalu banyak yang harus di kerjakan nya.
Sebenarnya Erland ingin memberitahu kebenaran ini padanya. Karena ia tahu pasti,
Audrey sangat khawatir sebab sejak kepergian mereka, Audrey
tidak bisa menghubungi.
Tapi Kevin, kakak angkatnya melarang Erland untuk memberitahu Audrey. Ia sengaja menutupi hal ini agar Audrey tidak kepikiran. Kevin gak mau adiknya jatuh sakit karena ini.
Apalagi mereka belum mendapatkan kabar sedikitpun tentang Daddy Eldric dan Mommy Elif. Saat ini Erland dan Kevin masih terus berusaha untuk mencari mereka.
" Di, gue tutup dulu telepon Lo.
Ada panggilan masuk. Nanti gue
hubungi lo lagi, kalau udah selesai dan tolong Lo awasi pria yang bernama Reno itu." ujar Erland langsung menutup telepon.
Abdi hanya bisa mengumpat dalam hati melihat sikap Erland
yang kebiasaan suka langsung memutuskan sambungan teleponnya. Ia terus memperhatikan gelagat Reno.
Sangat jelas terlihat, kalau Reno sedang berusaha mendapatkan hati Audrey. Abdi akan segera
mencari tahu siapa sebenarnya Reno .
" Drey, Bapak mau bicara sebentar
dengan kamu." ujar Abdi.
" Oh, baik pak ..." sahut Audrey sopan.
" Kita bicara di sana saja, soalnya disini terlalu bising." kata Abdi, biasa dengan sikap dinginnya.
__ADS_1
" Ya, Pak ..." jawab Audrey lalu mengikuti langkah Abdi menjauh
sari Reno dan yang lain.
Abdi bisa melihat dari sudut matanya kalau Reno terus melihat
kepergian mereka.
" Pria tadi pacar kamu ? " tanyanya tanpa basa - basi sedikitpun.
Kening Audrey sedikit berkerut mendengar pertanyaan Abdi.
Karena ia gak menyangka jika hal ini yang ingin Abdi bicarakan.
Tadi Audrey mengira, Abdi ingin
menanyakan tentang ketidak hadiran orang tuanya. Karena Abdi pernah beberapa kali mengobrol dengan mereka, jika Daddy nya berkunjung ke kampus.
" Maaf, Pak ... kalau boleh saya tahu, kenapa Bapak menanyakan hal itu ? " tanya Audrey heran.
" Hmm ... karena saya pernah diamanatkan oleh Pak Eldric untuk melihat dan menjaga kamu selama di kampus." ujar Abdi memberi alasan, padahal Erland yang memberikan tugas ini padanya.
" Oh, ... Reno teman saya Pak.
Sama seperti yang lain."
" Teman ? Tapi sepertinya saya lihat dia itu suka sama kamu."
" Kalau itu saya gak mungkin bisa melarangnya Pak. Semua orang memiliki hak untuk menyukai orang lain. Jadi gak mungkin kan saya melarang Reno untuk gak boleh suka dengan saya."
Abdi terdiam mendengar jawaban yang di berikan Audrey. Memang benar yang di katakan nya.
Bukan salah Audrey juga kalau ada yang suka sama dia. Perasaan seseorang mana ada bisa yang mengaturnya saat suka pada seseorang, seperti haknya Abdi pada Audrey.
" Hmm ... kamu benar. Tapi sebaiknya kamu lebih berhati ; hati, apalagi dengan seseorang yang baru kamu kenal." ujar Abdi
menasehati Audrey.
" Baik, Pak ..." sahut Audrey singkat.
" Sudah selesai, Drey ... bicaranya ? " tiba - tiba Reno sudah berada dekat dengan mereka.
" Eh, ini baru aja selesai. Kenapa Ren ? " ujar Audrey.
" Gak, itu anak - anak udah pada heboh mau ngajak pergi." ucap Reno melirik Abdi sekilas.
Abdi gak suka dengan gelagat yang diperlihatkan Reno. Seakan
dia sengaja menyusul kemari untuk memotong pembicaraan mereka . Padahal Abdi masih ingin menanyakan hal lain.
" Oh, kalau begitu maaf Pak Abdi, seperti nya saya sudah harus pergi. Teman - teman udah pada gak sabar. Terima kasih, ya Pak atas nasehatnya." ucap Audrey sambil tersenyum.
" Hmm ... Hati - hati dan selamat
atas ketekunan kamu selama kuliah, sehingga bisa mendapatkan predikat mahasiswi
lulusan terbaik." kata Abdi memberikan ucapan selamatnya.
" Terima kasih, Pak. Saya permisi."
Audrey dan Reno pun berjalan meninggalkan Abdi.
Abdi masih sempat melihat tadi sebelum mereka pergi, Reno tersenyum dengan sinis padanya.
Ini membuat Abdi semakin curiga.
Apakah tadi Reno sempat mendengar pembicaraan mereka.
Karena tiba - tiba saja tadi ia muncul di dekat mereka
__ADS_1
*********************************