Cinta Dan Dendam Audrey

Cinta Dan Dendam Audrey
Episode 67


__ADS_3

" Non Audrey dari mana ? " tanya bik Imah begitu melihat Audrey dan Rina berjalan ke arahnya.


" Tadi sehabis subuh kami ke kamar Daddy, bik ... " jawab Audrey lembut.


" Oh, pantes saja, gak ada yang melihat. " ujar bik Imah.


" Ya, udah bik ... kami mau mandi dulu, ya ... " ucap Audrey.


" Baik, silahkan non ... biar bibi siapkan sarapan di bawah. " jawab Bik Imah.


" Iya, bik ... tapi sarapannya yang simpel aja, karena kami mau buru - buru pergi." ujar Audrey.


" Baik, non ... " jawab Bik Imah setelah itu melangkah pergi.


Audrey dan Rina segera masuk


ke kamar dan bergantian menggunakan kamar mandi.


Mereka harus cepat selesai agar bisa segera pergi ke perusahaan.


Setelah selesai berpakaian, Audrey dan Rina pun turun kelantai bawah. Sarapan sudah tersedia di meja makan.


Tanpa banyak bicara, Audrey dan Rina menikmati sarapan mereka bersama bik Imah.


Tiba - tiba Lily datang membawa sebuah buket bunga di tangannya.


Ia lalu menghampiri dan memberikan pada Audrey.


" Ini non ... barusan ada yang mengirim bunga buat nona." ujar


Lily.


" Dari siapa ?" tanya Audrey.


" Tadi kata yang ngantar dari Tuan Reno. " jawab Lily menahan rasa kesalnya.


" Reno ... ? Oh, ya ... terima kasih." tanya Audrey penasaran lalu segera mengambil kartu yang ada di buket.


" Ya, non Audrey ... ". jawab Lily tanpa berniat pergi. Karena ia ingin melihat reaksi Audrey setelah membaca yang ditulis Reno.


Ia segera membaca apa yang dituliskan oleh Reno.


" Hai, Drey ... aku harap kamu bisa kembali secepatnya ke mansion.


Setiap hari aku melewati mansion sambil berharap kamu sudah ada disana. Tapi aku tetap tidak bisa menemukan keberadaan kamu.


Kamu dimana, Drey ... ? Apa kamu


baik - baik aja ? Aku ingin bisa masuk ke mansion tapi gak diizinkan jika kamu belum kembali. Apa kamu tahu, kalau aku begitu kehilanganmu sejak hari itu. Aku merindukan kamu, Drey ... bahkan sangat rindu.


Aku akan jadi pria yang paling bahagia jika kamu juga merindukan aku.


Love You


Reno.


Audrey tersenyum kecil setelah selesai membaca yang ditulis Reno.

__ADS_1


Melihat ini membuat Lily semakin kesal. Ia tadi membaca apa yang


di tulis Reno buat Audrey sebelum ia memberikannya pada Audrey. Hal ini membuat Lily terbakar cemburu, karena Reno mengatakan rindu dan cinta pada Audrey.


Kenapa Reno tidak ada memberitahunya kalau mau mengirimkan bunga buat Audrey.


Padahal mereka kemarin teleponan.


Sementara itu, Reno yang sedang bersiap pergi ke kantornya senyum - senyum sendiri membayangkan kalau bunga yang


dikirimkannya pasti sekarang sudah berada di tangan Audrey.


Reno memang tidak berniat memberitahu Lily, karena ia mempunyai rencana sendiri yang


tidak perlu diketahui olehnya.


Karena ia tidak ingin terlalu lama


menunggu untuk bisa bertemu dengan Audrey.


Reno segera memacu mobil dengan cepat menuju perusahaannya agar bisa melihat perkembangan dari masalah yang ia buat di perusahaan Audrey.


Hari ini orang yang bekerja sama dengannya untuk menghancurkan


perusahaan Audrey akan kembali menemui Reno.


" Bik ... kami pergi. " pamit Audrey dan Rina bersamaan pada bik Imah setelah mereka selesai sarapan.


" Iya non ... hati - hati di jalan." ujar bik Imah.


Ketika Audrey hendak melangkah, ia melihat ke arah Lily dan berhenti tepat di depannya.


Audrey hanya tersenyum lalu berjalan menjauh bersama Rina meninggalkan Lily yang masih terkejut.


Hal ini membuat Lily semakin marah pada Audrey. Tapi ia tetap harus bisa menahan, karena saat ini bik Imah lagi serius memandang ke arahnya.


" Permisi Bu ... saya mau melanjutkan kerjaan." ujar Lily ingin segera pergi dari bik Imah.


" Hmm ... " sahut Bik Imah singkat


sembari tetap memperhatikan Lily.


Lily kemudian berjalan dengan perlahan agar tidak membuat bik Imah semakin curiga padanya.


Sedangkan bik Imah setelah menyuruh pelayan untuk membersihkan meja makan, ia pergi menuju kamarnya. Dadanya kembali merasakan sakit. Meski tidak separah kemarin. Tapi ia memutuskan untuk istirahat sembari meminum obat buat penyakitnya.


" Gue harus menjalankan rencana itu hari ini. Untung tadi gue sempat menyelinap sebentar ke kamar si Imah. Jadi sekarang tinggal menangani yang lain." ujar Lily.


Lily tersenyum licik setelah mendapatkan ide bagus buat memuluskan rencananya.


Lily segera melakukan pekerjaannya dengan semangat agar lebih cepat selesai.


Ia kemudian mengendap masuk kedalam kamar untuk mengambil


obat tidur yang akan ia gunakan untuk memulai rencananya.


" Hmm ... sepertinya aku harus memberi dosis besar agar mereka

__ADS_1


tidur nyenyak." seringai Lily.


Setelah berhasil melaksanakan rencananya, Lily kembali melanjutkan kerjaan yang lain sembari memantau reaksi dari pelayan yang tidak menyadari kalau minuman dan cemilan yang mereka makan sudah dibubuhi nya dengan obat.


Perlahan mata bik Imah mulai tertutup. Rasa kantuk mulai menyerangnya. Tapi sebelum tertidur bik Imah masih sempat berpikir, kenapa belakangan ini


dadanya lebih sering sakit dari


pada biasanya.


Padahal kata dokter setelah ia check up terakhir , kondisi jantung nya sejak operasi sudah mulai baik - baik saja karena ia sudah menjalankan semua yang di katakan dokter.


Begitu juga dengan para pelayan yang ada di mansion. Satu - persatu mereka mulai tertidur. Chef yang mengurus makanan buat mansion, bahkan tertidur di lantai dapur.


Setelah Lily memeriksa keadaan mereka semua dan yakin tidak ada yang masih dalam keadaan sadar, ia kemudian pergi menuju kamar bik Imah untuk mengambil


kunci - kunci semua ruangan yang ada di mansion. Karena sebagai kepala pelayan, bik Imah yang menyimpannya, selain Audrey.


Kalau masalah penjaga dan bodyguard, ia tidak perlu khawatir karena jika masih sepagi ini mereka pasti tidak akan berani masuk ke dalam mansion jika tidak ada hal yang penting.


Lily mengambil semua kunci dari dalam laci yang ada di kamar bik


Imah. Senyumnya langsung terkembang begitu melihat kunci - kunci itu bahkan di tulis nama setiap ruangannya. Ia tidak perlu bersusah payah lagi untuk mencocokkannya.


Ia segera menuju lantai atas. Ya, selama ini Lily sangat ingin tahu bagaimana dan apa saja yang ada


di dalam kamar Audrey.


Lily dengan semangat membuka kamar Audrey dan matanya langsung melotot begitu melihat betapa besar dan mewahnya kamar ini. Ia pun masuk dan merebahkan dirinya di kasur milik Audrey.


" Sialan ... kasurnya empuk banget ! " umpat Lily kesal.


Setelah puas menikmati kasur Audrey, ia berjalan menuju kamar mandi dan membukanya. Lily tak percaya ada kamar mandi sebagus ini. Beda banget dengan kamar mandi yang ada di kamarnya.


" Kamar mandinya bahkan lebih besar dari kamar gue !" ucap Lily iri lalu berjalan keluar.


Ia kemudian melihat meja rias Audrey penuh dengan alat make up dan parfum mahal. Lily mencoba beberapa alat make up itu ke wajahnya. Tapi ia tidak berani menyemprotkan parfum, karena ia tidak ingin Audrey nanti curiga saat pulang. Setelah puas memakai make up Audrey, Lily mulai memasuki walk in closet.


Kali ini ia langsung tercengang dan terduduk lemas di lantai saat melihat begitu banyak barang - barang bagus dan mahal disana.


Ada pakaian, tas, sepatu, perhiasan dan lain - lain. Semuanya merk mahal. Lily tahu, karena ia sudah terbiasa membelinya sejak dekat dengan


Reno. Meskipun tidak semahal milik Audrey. Bahkan beberapa benda disini kebanyakan limited edition, yang gak akan mungkin terbeli oleh Lily sampai kapanpun.


Kecuali nanti setelah ia jadi pemilik mansion ini.


Lily seperti orang kesetanan ketika mencoba sepatu dan tas milik Audrey. Meski kebesaran, ia tidak perduli. Badan Lily tidak setinggi Audrey, jadi kakinya jauh lebih kecil dari Audrey.


Setelah puas mencobanya, ia lalu memakai perhiasan Audrey.


Matanya berbinar ketika melihat kalung dan cincin berlian yang begitu besar. Ia menyentuhnya dengan perasaan kagum.


" Pasti Audrey tidak akan sadar kalau aku mengambil beberapa perhiasannya yang tidak terlalu besar berliannya. " ujar Lily senang sembari mengambil perhiasan dan menaruh di saku nya.


Ia kembali mengitari semua yang ada di kamar Audrey. Lily memperhatikan dengan teliti, setelah yakin bahwa tidak ada ruangan lain di kamar ini, Lily pun keluar dari kamar Audrey dan segera menguncinya kembali. Untungnya Ia tidak mengetahui ada ruang rahasia disini.


**********************************

__ADS_1


__ADS_2