Cinta Dan Dendam Audrey

Cinta Dan Dendam Audrey
Episode 20


__ADS_3

Reno yang sekarang sedang berada di dalam pesawat untuk menyusul Audrey. Karena ia sudah mengetahui tentang keberadaan Audrey sekarang, setelah anak buahnya berhasil mendapatkan berita mengenai Audrey.


Sementara itu Audrey, Rina dan Rifky beserta mayat Ibunya yang ada di ambulance sudah sampai di kampung tempat rumah keluarga Rina berada setelah menempuh waktu beberapa jam.


Begitu melihat ada sebuah mobil yang bagus dan ada juga ambulance berhenti di depan rumah Rina, membuat warga kampung berkumpul dan menunggu, mereka ingin tahu siapa yang sedang berada di dalamnya.


Tak terkecuali ketiga paman dan bibi Rina, mereka langsung bergegas datang setelah di beritahu oleh anaknya yang kebetulan lewat di rumah Rina. Mereka juga ingin tahu karena penasaran, dari mana Rina dan Rifky memiliki uang untuk membayar biaya berobat dan ambulance. Terlebih tadi anaknya juga memberitahu mereka, ada juga mobil mewah yang biasa di pakai artis ikut bersama Rina. Hal inilah yang membuat mereka semakin penasaran.


Tak begitu lama, pintu ambulance pun terbuka ... Rina dan Rifky pun keluar. Rina langsung meminta tolong salah - satu warga untuk memberitahu Pak RT kalau ibunya sudah meninggal dan akan segera di kebumikan. Mendengar hal ini, warga kampung turut prihatin dan mengucapkan turut berduka cita pada Rina dan Rifky. Paman dan bibi nya juga pura - pura memasang wajah bersedih, tapi Rina tidak begitu perduli. Ia masih sakit hati mengingat saat dirinya dan Rifky di perlakukan dengan hina saat meminta bantuan.


Audrey yang masih berada di dalam mobil, karena sedang menghubungi bik Imah untuk memberi kabar kalau ia sudah sampai di kampung Rina. Setelah selesai barulah Audrey keluar dari mobil Rubicon yang membawanya.


Begitu ia keluar dari mobil, semua perhatian warga kampung, tak terkecuali ketiga paman dan bibi Rina langsung tertuju padanya.


Mata mereka semua langsung terbelalak tak percaya.


Wajah Audrey yang sangat cantik dengan tubuh yang tinggi layaknya seorang model di tambah penampilannya yang kelihatan sekali kalau ia orang kaya membuat mereka mengerumuninya.


Para bodyguard yang terus mengikuti Audrey hingga sampai kesini dengan sigap menghalangi. Audrey sedikit terkejut melihat kehadiran bodyguard yang tiba - tiba ada di dekatnya. Tapi ia langsung tersenyum dan merasa bahagia, mengingat pasti daddynya yang menyuruh mereka untuk tetap mengawasi dan melindungi Audrey. Walau selama ini Audrey selalu menolak keinginan daddynya untuk di kawal oleh bodyguard, tapi saat ini ia memang sangat membutuhkan mereka.


Warga kampung terkejut melihat empat pria bertubuh besar dan tinggi melindungi Audrey. Mereka semua pun langsung mundur, gak berani mendekat lagi. Apalagi paman dan bibi Rina. Mereka semakin yakin, kalau Audrey bukan orang sembarangan. Mereka langsung iri melihat Rina, dari mana ia bisa mengenal orang seperti Audrey, sedangkan setahu mereka ia hanya bekerja di cafe.


" Maaf, Bapak - Bapak, Ibu - Ibu ...


bukankah sebaiknya kita menolong jenazah terlebih dahulu.


Saat ini teman saya Rina ingin segera mengebumikan Ibunya.


Jadi saya mewakili Rina dan Rifky yang saat ini sedang berduka, sangat memohon kesediaan para warga di sini untuk bisa membantu teman saya. Terima kasih. " ucap Audrey panjang dan sopan tapi dengan wajah serius.


Begitu Audrey selesai berbicara, Pak RT pun datang.


" Maaf, nak Rina ... bapak baru dapat kabar kalau Ibu kamu telah meninggal. Tadi bapak sudah menyuruh pihak pemakaman untuk menggali kuburan, mungkin sekarang sudah selesai. Ini apa langsung di kebumikan atau masih mau di letakkan di dalam rumah buat di ngaji kan dulu ? " tanya Pak RT.


" Terima kasih, Pak ... tapi saya dan Rifky ingin Ibu langsung di kebumikan saja. Tadi di rumah sakit selesai di mandikan juga udah di ngaji kan, jadi saya sebagai anaknya memutuskan agar Ibu langsung di kebumikan saja, biar Ibu tenang." jawab Rina sopan.


" Eh, kamu gak boleh begitu, Rina ... walau bagaimanapun kamu harus menanyakan terlebih dahulu pada kami sebagai saudara dari almarhum ayahmu. Kami belum memberikan doa pada Ibu kamu." tiba - tiba bibi Rina berkomentar.


Mata Rina langsung memerah mendengar omongan yang di lontarkan bibinya, adik dari almarhum ayah Rina.


Emosi langsung memenuhi kepalanya. Audrey lalu menghampiri dan menggenggam tangan Rina begitu melihat ini.


" Maaf, bik ... kalau bibi mau mendoakan bisa melakukannya nanti saja. Kami akan menggelar pengajian di malam pertama Ibu di rumah ini. Sekarang Ibu kami harus segera di makamkan, biar Ibu merasa tenang. Saya dan mbak Rina gak ingin, melihat Ibu kami bersedih karena mengetahui kalau yang selama ini di anggapnya sebagai keluarga bahkan tidak memperdulikannya sama - sekali saat Ibu benar - benar membutuhkan pertolongan di rumah sakit dan lagi yang paling berhak memutuskan hanya saya dan mbak Rina sebagai anak kandung Ibu. " ucap Rifky tegas dengan muka emosi.


Mendengar yang di katakan Rifky, langsung saja bibi dan kedua pamannya melototkan mata mereka ke arah Rifky. Tapi Rifky tak peduli, bahkan tidak menatap sedikitpun kearah mereka.


" Kurang ajar, kamu ... " umpat salah satu paman Rina dan Rifky.


" Sudah, Pak, jangan dengarkan yang lain ... kami ingin Ibu segera dikebumikan. " ucap Rifky lagi.


Rina langsung meneteskan air matanya begitu melihat sikap dari adiknya, Rifky terlihat tegas dan lebih dewasa.


" Baiklah, sebaiknya kita semua segera pergi ke pemakaman. Agar bisa dikebumikan sekarang." ucap Pak RT.


" Ya, Pak ... memang itu yang kami harapkan." jawab Rifky tegas.


" Ayo, kita berangkat sekarang." ucap Pak RT lalu melangkah pergi dan di ikuti para warga. Begitu juga, kedua Paman dan bibi mereka dengan wajah gak ikhlas mengikuti Pak RT.


Sedangkan Rina dan Rifky kembali menaiki ambulance menemani jenazah Ibu mereka. Begitu juga dengan Audrey, mengikuti dari belakang dengan mobil yang dinaikinya.


Karena lokasi pekuburan tidak terlalu jauh, dari rumah Rina ... mereka semua pun akhirnya sampai.


Bergegas para warga yang laki - laki menolong Rina dan Rifky mengangkat keranda yang berisikan jenazah Ibu mereka dari ambulance dan berjalan memasuki areal pemakaman. Ternyata, di sana sudah ada Ustadz yang di panggil oleh Pak RT, menunggu untuk membacakan doa sebelum almarhumah di kebumikan.

__ADS_1


Setelah semua tata cara dalam menguburkan jenazah di laksanakan, para warga pun kembali pulang untuk membantu membersihkan rumah Ibu Rina dan mempersiapkan segala sesuatu, untuk nanti malam saat di adakan tahlillan , setelah terlebih dahulu meminta kunci rumah pada Rifky. Begitu juga dengan paman dan bibi Rina dan Rifky, mereka bergegas pergi.


Rina dan Rifky yang masih berada di kuburan terus membacakan doa buat almarhumah Ibunya. Air mata terus mengalir di mata kedua bersaudara itu. Mereka terlihat begitu sedih, tapi sekarang mereka sudah ikhlas seperti yang di katakan Audrey tadi pada keduanya bahwa Ibu mereka sekarang sudah tenang karena tidak menderita kesakitan lagi.


Audrey yang ikut merasakan kesedihan sahabatnya juga menangis. Ia tidak bisa membayangkan jika hal ini terjadi padanya. Saat ini saja, ia sangat khawatir karena belum mendapatkan kabar sama sekali dari kedua orang tuanya dan Kevin.


Setelah satu jam Audrey menemani mereka berdua di - pemakaman akhirnya Rina dan Rifky memutuskan untuk pulang kerumah mereka. Karena mereka juga harus mempersiapkan buat acara tahlillan nanti malam.


" Bu, kami pulang, ya ... Ibu gak usah khawatir dengan kami, kami akan baik - baik saja di sini. Ibu yang tenang disana, ya ... " ucap Rina dan Rifky bersama sambil berpelukan saling memberi kekuatan satu sama lain.


Audrey yang melihatnya sedikit iri, karena melihat kedekatan kakak - adik di depan matanya. Sedangkan dia harus berjauhan dengan Kevin, kakaknya.


" Yuk, Drey ... " ajak Rina yang menghentikan lamunan Audrey.


" Eh, ya ... " jawab Audrey cepat


Mereka bertiga melangkah keluar dari pemakaman dan kali ini Rina dan Rifky ikut di dalam mobil Audrey, karena ambulance langsung kembali ke rumah sakit begitu jenazah di turunkan.


Begitu tiba di rumah Rina, mereka bertiga pun turun dari mobil.


Rifky membantu supir menurunkan koper.


" Drey, Lo gak papa tidur di rumah gue ? rumah gue kecil dan kotor." tanya Rina gak enak sebelum masuk ke dalam.


" Apaan sih, yang penting masih bisa istirahatkan. Udah, Lo gak usah pikirin itu. Sekarang sebaiknya kita menyiapkan untuk tahlilan nanti malam. " jawab Audrey.


" Makasih, Drey ... Lo mau nemenin gue sampai sejauh ini.


Kalau gak, gue pasti bingung harus ngelakuin apa tadi di waktu rumah sakit." ucap Rina lirih.


" Udah, masuk yuk ... biar kita tahu apa yang kurang buat nanti malam." ajak Audrey.


" Bodyguard Lo mana, Drey ... suruh masuk juga ke dalam. Biar Lo nanti gak di ganggu."


" Tuh, gak usah Lo suruh, mereka udah masuk duluan."


Selain karena ingin membantu, mereka juga ingin tahu siapa gadis cantik yang bersama Rina.


Begitu mereka melihat Rina masuk bersama Audrey, benar saja mereka langsung bangkit dan ingin mengerumuni Audrey lagi tapi syukur bisa di cegah oleh bodyguard yang selalu siaga.


" Maaf, Ibu - Ibu ... saya minta tolong agar duduk kembali. Saya selaku pihak yang sedang berduka mengucapkan banyak terima kasih, atas bantuan dari semuanya yang telah membantu membersihkan rumah kami dan rencananya saya dan Rifky, akan mengadakan tahlillan untuk mendoakan almarhum Ibu kami.


Insya Allah, kami akan mengadakan malam ke tiga juga, secara sederhana. Jadi saya memohon kebaikan hati dari Ibu - Ibu dan teman - teman semua, semoga berkenan untuk membantu." ucap Rina sopan dan panjang, setelah semua pada duduk kembali.


" Iya, Rin ... Insya Allah Ibu dan yang lain akan membantu." jawab Bu RT.


" Oya, Ibu mau nanya, dari yang Ibu dengar dari bibi mu, Ibumu cuma sakit perut biasa ... jadi kenapa tadi suami saya bilang, adikmu mengatakan kalau Ibu kalian meninggal saat mau di operasi ? " tanya Bu RT heran.


Rina menghela nafas pelan sebelum menjawab pertanyaan Bu RT.


" Ibu saya memang meninggal saat baru saja mau di operasi. Almarhumah mengalami kerusakan pada ginjalnya, jadi bukan sakit perut biasa seperti yang di katakan bibi saya. Waktu semalam saya dan teman saya datang ke rumah sakit, Ibu sudah sangat kesakitan. Harusnya, pagi ini pukul sembilan, Ibu di operasi buat transplantasi. Tapi pagi pukul tujuh Ibu terlihat kesakitan hingga gak bisa membuka matanya. Jadi dokter memutuskan untuk mempercepat operasinya. Tapi belum juga operasi di mulai, Ibu sudah meninggal." Rina menjelaskan panjang lebar.


" Ohh .... " terdengar suara ramai di rumah Rina begitu mendengar penjelasannya.


" Pasti yang membantu biaya operasi Ibu kamu, paman dan bibimu, ya Rin .... " ucap salah satu Ibu yang ada di ruangan ini.


" Bukan, Bu ... Teman saya ini yang memberikan biaya buat operasi dan biaya rumah sakit, secara gratis. Ia tidak mau saya membayarnya. Ia ikhlas membantu saya dan Rifky." ucap Rina mulai menitikkan air mata begitu mengingat kembali kesulitannya saat mencari pinjaman buat operasi Ibu nya.


Audrey yang duduk disamping Rina, menggenggam tangan Rina agar ia kuat dan tidak terlalu bersedih. Sebenarnya ia ingin melarang Rina untuk tidak menceritakan, tapi keburu Rina cerita.


" Oalah, baik sekali temanmu ini, Rin ... Udah cantik, baik hati lagi." kata mereka yang hadir.


Sedangkan bibinya Rina yang baru saja datang dan masih berdiri di - luar mendengarnya dengan perasaan tidak percaya. Uang sebesar tiga ratus juta diberikan cuma - cuma, bukan pinjam.

__ADS_1


" Berarti teman Rina ini, sangat kaya. Aku harus mengenalkannya pada Desi, anakku biar bisa berteman dengan gadis kaya itu " ucapnya senang dalam hati


Bibi Rina yang bernama Tuti pun masuk dengan gaya yang dibuat sedih. Ia lalu duduk dan kemudian memeluk Rina.


" Yang sabar ya, nak ... Ibumu pasti sudah bahagia di sana." ucap Tuti pura - pura menangis.


Ia sengaja meletakkan obat tetes mata di rumahnya sebelum datang kesini.


Rina hanya menganggukkan kepalanya. Ia tahu kalau bibinya cuma bersandiwara. Tapi saat ini, ia lagi tidak ingin ribut.


" Siapa nama teman kamu yang cantik ini Rin ? " tanya Tuti penasaran.


" Namanya Audrey, dia seorang model terkenal di Ibukota. Dia juga seorang sarjana dan anak pemilik dari beberapa perusahaan besar. " ucap Rina sengaja biar Tuti makin panas mendengarnya.


Audrey mencubit paha Rina pelan, ia hampir saja tidak bisa menahan tawanya begitu melihat mata bibinya Rina langsung terbelalak dan menatap kagum pada Audrey.


" Wah, kalau begitu nak Audrey benar - benar orang kaya." sahut yang ada di ruangan ini.


" Maaf, Ibu - Ibu ... saya orang biasa, cuma kebetulan di berikan sedikit rezeki berlebih dari Allah. Karena Rina sahabat saya dan dia memang membutuhkan, sebagai teman saya harus membantunya." jawab Audrey sopan.


" Benar sekali kamu, nak ... kalau kita punya rezeki berlebih sebaiknya memang di gunakan untuk membantu orang lain." ucap Tuti sok baik.


Audrey hanya membalas dengan senyum ketika mendengar ucapan Tuti. Sementara Rina cuma meringis.


" Oya, Bu RT ... apa di kampung ini, ada toko kue atau sejenisnya ? " tanya Audrey.


" Kalau di sini hanya menjual kue - kue kampung saja, nak ... tapi kalau di kampung sebelah ada satu toko kue yang banyak menjual kue - kue enak seperti di kota." jawab Bu RT.


" Oh, jauh gak dari sini, buk ? " tanya Audrey lagi.


" Gak begitu jauh, paling cuma sejaman. Kenapa nak Audrey ?" tanya Bu RT.


" Ah, gak papa Bu .... cuma mau nanya aja." jawab Audrey sopan.


" Oh, iya ... " sahut Bu RT ramah.


" Udah, Ibu - Ibu semuanya, sebaiknya kita pulang dulu kerumah. Biarkan Rina dan Audrey temannya istirahat sebentar. Mereka pasti lelah karena harus menempuh beberapa jam di perjalanan. Nanti sore kita datang lagi buat membantu." ucap Bu RT pada warganya.


Mendengar perkataan Ibu RT, langsung semua yang ada di dalam rumah langsung keluar. Mereka setuju dengan ucapan Bu RT, Rina dan temannya pasti sangat lelah. Hanya Tuti, bibinya Rina yang masih bertahan dirumah Rina. Ia lagi mencari cara agar bisa membawa Audrey, ke rumahnya.


" Maaf, bik ... sebaiknya bibi juga pulang biar teman saya bisa istirahat." ucap Rina datar.


Kini ia tidak perlu lagi menjaga sikap seperti tadi, waktu masih Bu RT dan lainnya.


" Tapi, Rin ... bibi masih ingin menemani kamu disini. Paman kamu juga sebentar lagi kemari." jawab Tuti memberi alasan.


" Terima kasih, tapi Rina sudah ada Audrey yang menemani. Jadi Rina rasa, itu sudah cukup." sahut Rina menahan rasa kesal di hatinya.


" Iya, Bu Tuti, sebaiknya kamu pulang dulu. Biarkan keponakanmu dan temannya istirahat. Kasihan, mereka pasti lelah karena di perjalanan dan harus mengurus ini semua. " ucap Bu RT yang tiba - tiba kembali, karena mengambil ponselnya yang terjatuh dari kantong roknya, di tikar saat ia bangkit tadi.


Terpaksa dengan raut kesal, Tuti pun bangkit dari duduknya. Ia harus pulang, karena gak mau bu RT nanti terus menceramahi nya.


Tanpa permisi sedikitpun, ia langsung keluar dan pergi.


Bu RT hanya bisa menggelengkan kepala melihat sikap yang di tunjukkan Tuti.


" Istirahat dulu ya, nak ... biar agak enakan." ucap Bu RT pada Rina dan Audrey.


" Terima kasih, Bu .... " jawab mereka bersama.


" Oya, nanti kalau ada butuh sesuatu buat nanti malam, jangan sungkan ... bilang aja ke Ibu." ucap Bu RT lagi sebelum pulang.


" Iya, Bu ... makasih." sahut Rina.

__ADS_1


Bu RT yang memang di kenal selalu perduli sama warganya, melangkah keluar dari dalam rumah Rina.


**********************************


__ADS_2