Cinta Dan Dendam Audrey

Cinta Dan Dendam Audrey
Episode 108


__ADS_3

Audrey tidak mendengar suara langkah kaki yang menuju kamarnya di pagi hari ini. Padahal matahari sudah bersinar dengan teriknya di luar, karena ia bisa merasakan sinarnya yang masuk ke dalam kamarnya melalui jendela kamar yang sudah terbuka.


Saking lelahnya ia baru terbangun. Ia tidak tahu jam berapa baru bisa tertidur karena menunggu kabar dari Titi tentang pria yang akan menetap sebagai calon suami dari Lily. Walaupun ia sangat yakin kalau pria itu adalah Reno.


Sementara itu di lantai bawah Titi dan Mina sedang mengerjakan tugasnya yang terakhir sebelum ia berhenti kerja disini. Semalam ia sudah menyampaikan keinginannya untuk berhenti kerja di mansion.


Awalnya Lily tidak setuju Mina berhenti kerja, karena ia malas mencari orang lagi untuk bekerja di mansion. Tapi dengan cepat Titi dan Mina mengatakan kalau sudah ada pengganti buat Mina. Mereka berdua mengatakan ada teman Mina dari kampung yang sedang butuh pekerjaan ini dan bersedia menggantikan Mina.


Lily sudah selesai memasak makanan khusus buat Audrey dan Reno. Ya, sekarang Reno sudah ikut tinggal di mansion.


Sementara buat dirinya dan penghuni mansion yang kini hanya tinggal beberapa orang saja, ia hanya membantu Nana, karena sekarang Nana yang mengerjakan tugas itu. Lily yang merasa sudah menjadi sebagai pemilik mansion hanya mengawasi yang di - kerjakan Nana.


Sedangkan Bella lagi tidak ada


di mansion. Ia tidak pulang semalam. Tidak tahu ia menginap di mana. Mungkin bersama pria, korban barunya Bella. Lily tak perduli tentang itu. Malah sebenarnya Lily berharap Bella gak usah kembali lagi ke mansion. Meski ia yakin kalau Reno sudah tidak menyukai Bella lagi, tapi tetap saja masih ada rasa khawatir di hatinya.


Ia takut Bella menggoda Reno dengan tubuhnya. Sementara Lily juga sadar bagaimana besarnya n***u yang ada di diri Reno. Apalagi jika hidangan itu terbuka dan disediakan secara gratis di - depan matanya.


Setelah menyelesaikan semua, Lily memanggil Titi untuk mengantarkan makanan buat Audrey. Sebenarnya ia malas harus membuat makanan tiap hari buat Audrey. Tapi jika dia menghentikannya, pengaruh ramuan yang di berikannya akan berkurang. Sementara Lily ingin, Audrey m**i secara perlahan agar tidak ada yang curiga dengan kematiannya nanti seperti yang terjadi dengan buk Imah.


" Bagaimana keadaan si c*c*t itu ? Apa dia masih tetap terbaring di tempat tidur seperti biasa ?" tanya Lily dengan wajah angkuh.


" Ya, non ... masih seperti biasa. " jawab Titi singkat dengan nada di buat sopan. Padahal dalam hatinya ia sedang mengutuk kelakuan Lily.


" Hmm ... bagus ! Kamu jangan lupa berikan obat itu padanya ! " perintah Lily.


" Baik non ... ! Apa saya sudah boleh naik ke lantai atas sekarang, non ... ?" tanya Titi yang ingin secepatnya pergi dari hadapan Lily.


" Nanti ! Sekarang kamu panggil Mina kemari ! Saya mau bicara dengannya buat memastikan orang yang akan menggantikan pekerjaan Mina !" perintah Lily


sembari menatap Titi dengan mata sinis.


" Baik, non ... kalau begitu saya panggil dulu Mina nya. " sahut Titi.


" Ya, sudah ... Cepat, jangan lelet !" ujar Lily dengan suara keras sembari menggerakkan tangannya seakan menghalau Titi


dari pandangannya.


Titi pun melangkah pergi meninggalkan Lily di meja makan sembari mengumpati Lily dalam hati. Kalau saja bukan karena ia masih ingin bekerja disini supaya bisa menolong nona nya, mungkin Titi sudah menjambak rambut Lily yang gak tahu malu ini sampai botak.


Reno yang baru saja selesai mandi keluar dari kamar yang ditempatinya bersama Lily.


Ia mencuri pandang ke lantai atas


ke arah kamar Audrey. Ia penasaran dengan keadaan Audrey sekarang. Sudah hampir sebulan ia tidak datang ke - mansion ini karena sibuk mengurus perusahaan Audrey yang sudah jadi miliknya.


Reno masih penasaran dengan tubuh Audrey. Meskipun dia tahu kalau Audrey sudah tidak berdaya dan hanya bisa berbaring di tempat tidur tapi minimal kecantikan dan tubuhnya masih bagus. Walau sekarang Audrey jauh lebih kurus di banding sewaktu ia masih sehat. Tapi Reno tak perduli, baginya yang paling penting bisa menyalurkan hasratnya yang sudah lama ia pendam selama ini pada Audrey. Ia harus pintar mengambil kesempatan ini agar Lily jangan sampai tahu apa yang ada di - pikirannya sekarang.


" Sayang kamu sudah mandi ? Kog gak nunggu aku sih biar mandi bareng. " ujar Lily dengan manja sembari memeluk pinggang Reno.


" Hmm ... aku gerah sehabis bangun. Jadi gak kepikiran buat nunggu kamu." ujar Reno melepas tangan Lily, lalu duduk di kursi meja makan.


" Kog tangan aku kamu lepasin sih ? Aku masih kangen tahu, sayang !" ujar Lily memasang wajah cemberut.


" Aku mau sarapan lalu berangkat


ke perusahaan. " ujar Reno tidak menanggapi perkataan Lily.


" Oh, kamu sibuk banget ya sayang ? Nanti pulangnya cepat kan ? Aku mau ngajak kamu pergi shopping. " ujar Lily dengan wajah menggoda.


" Aku gak bisa ! Hari ini aku lembur. Kamu pergi sendiri aja.


Lagian buat apa kamu shopping lagi. Bukankah barang - barang milik Audrey sangat banyak dan semua itu sudah jadi milik kamu." tolak Reno.

__ADS_1


Reno memang paling tidak suka dengan wanita yang manja dan menganggu kesibukannya karena hal yang tidak penting. Biasanya Lily tidak begini. Tapi sekarang kenapa sikapnya berubah dan lebih menuntut dari sebelumnya.


Reno memang menyukai Lily tapi bukan berarti ia serius dengannya. Bagi Reno semua wanita yang pernah bersamanya hanya ia manfaatkan sebagai teman t*d*r saja, tak lebih.


Meskipun ia sudah berjanji akan menikahi Lily jika mereka sudah berhasil menguasai perusahaan dan semua kekayaan milik Audrey tapi sebenarnya ia tidak suka dengan sebuah ikatan resmi. Ia masih ingin bebas dan merasakan tu**h wanita lain. Tapi Lily terus menuntutnya belakangan ini. Jadi Reno hanya bisa menjanjikan dalam waktu dekat ini mereka akan meresmikan hubungan mereka. Toh, Reno masih bisa menyalurkan hasratnya dengan wanita lain di belakang Lily.


" Aku tahu ... semua barang milik si c*c*t itu sudah jadi milikku. Tapi itukan bekas, sayang. Aku pengen yang baru." bantah Lily masih berharap Reno mau menemaninya pergi shopping.


" Hmm ... bukankah baru kemarin kamu pergi belanja dan membeli banyak barang ! Apa kamu pikir cari uang itu gampang hingga bisa di hamburkan setiap hari ! " Reno semakin kesal karena perkataan Lily. Apalagi ia harus


di ganggu pada saat sarapan seperti ini.


Wajah Lily langsung di tekuk begitu mendengar perkataan Reno. Memang hampir setiap hari ia sekarang pergi keluar untuk berbelanja, karena sekarang ia memiliki banyak uang. Tidak seperti dulu yang hanya mengandalkan uang pemberian Reno. Tapi tetap saja ia belum merasa puas. Lily ingin ia memiliki barang - barang baru dan lebih mahal dari yang pernah di miliki Audrey.


Selama ini semua barang milik Audrey masih ada di kamarnya. Hanya ada beberapa yang berlian nya paling besar, ia ambil dan di - simpan nya diam - diam tanpa sepengetahuan Reno dan Bella.


Lily sengaja tidak memindahkan barang - barang Audrey karena ia lebih mudah mencarinya sebab tempatnya lebih tertata rapi. Jadi ia tidak akan bingung jika ingin mencari sesuatu.


Lagi pula Audrey tidak akan mungkin bisa mengambil atau menyimpan perhiasan - perhiasan itu lagi meskipun masih ada di - kamarnya karena ia sekarang sudah tidak bisa melakukan apapun selain berbaring di tempat tidur.


Lagi pula Lily sengaja melakukan itu agar Bella tidak bisa menempati kamar Audrey. Sudah sering Bella menagih padanya agar ia bisa pindah ke kamar


Audrey tapi Lily tidak mengizinkannya dengan memberikan alasan yang masuk akal. Bella harus sadar posisinya di mansion ini. Lily lah pemilik mansion ini. Walau pada akhirnya Reno memaksa Lily untuk mengganti kepemilikan mansion menjadi namanya.


Reno melirik dengan sudut matanya ke arah Lily yang tak bersuara lagi sejak ia melarangnya pergi berbelanja.


" Aku selesai. " Reno segera bangkit dari tempat duduknya tanpa menunggu tanggapan dari Lily.


Lily tersadar dari lamunannya begitu mendengar suara Reno lalu menyusul Reno yang sudah berjalan ke arah kamar untuk mengambil perlengkapannya pergi ke perusahaan.


" Sayang, kog ninggalin aku sih ?" protes Lily manja.


" Aku tidak mau telat !" sahut Reno singkat dengan wajah datar.


" Maaf, sayang ... aku akan dengarin omongan kamu. Tapi, please jangan marah ya ... nanti aku kasi servis terbaik saat kamu pulang kerja. Gimana, kamu mau kan maafin aku !" rayu Lily dengan bahasa tubuh yang menggoda.


" Hmm ... " sahut Reno singkat.


Ia sengaja memberi pelajaran pada Lily agar tidak bertindak sesukanya lagi. Reno tidak rela wanita di hadapannya ini menghabiskan kekayaan Audrey.


Semua harta Audrey hanya boleh jadi miliknya sendiri.


Lily merasa sedih melihat sikap Reno padanya. Ternyata Reno benar - benar kesal padanya. Lebih baik ia diam saja agar Reno tidak bertambah kesal. Lily yakin Reno akan kembali bersikap seperti biasa sepulang kerja.


Ia harus lebih sabar dalam menghadapi sikap Reno agar pernikahan mereka bisa cepat


di laksanakan.


Setelah mengambil tas kerjanya, Reno melangkah keluar dari kamar. Sedangkan Lily tetap mengikuti di sisinya.


" Aku pergi !" ujar Reno ketika sampai di depan pintu keluar.


" I Love You, honey ... " Lily berjingkat dan mencium b*b*r Reno.


Sebenarnya Reno ingin membalas kecupan Lily tapi ia menahannya agar Lily tahu kalau ia sedang marah.


" Hmm ... !" sahut Reno masih dengan wajah datar lalu melangkah keluar menuju mobilnya yang terparkir di garasi mobil milik Audrey.


Tak lama mobil yang di kendarai nya melaju keluar dari mansion.


" Huff ... " Lily menghela nafas berat saat melihat Reno pergi tanpa membuka kaca mobilnya sama sekali.


" Ah, sudahlah ... nanti aku akan merayunya seperti biasa begitu Reno pulang kerja. Ia pasti akan luluh." gumam Lily dengan senyum tipis di wajahnya.

__ADS_1


Lily lalu kembali melangkah menuju meja makan. Ia bahkan belum sempat sarapan karena melamun tadi.


" Permisi non Lily, saya mau pamit ." suara Mina menyapa Lily yang lagi menikmati sarapannya.


Lily langsung menghentikan kegiatannya dan menoleh kebarah Mina dan Titi.


" Hmm ... teman kamu yang menggantikan kamu kerja di sini, jam berapa datangnya ?" tanya Lily dengan wajah angkuh.


" Mungkin pukul sepuluh, non, teman saya tiba di sini. Ia masih di perjalanan ketika saya menghubunginya tadi." jawab Mina lumayan gugup karena berkata bohong.


" Hmm ... Ini uang gaji kamu ! " Lily mengambil amplop yang ada di saku celananya lalu mencampakkan amplop berisi uang itu ke lantai dengan sombong.


Wajah Mina dan Titi menatap kesal ke arah Lily. Dalam hati mereka mengumpat Lily dengan semua sumpah serapah yang mereka tahu. Tapi mereka tidak berani melakukan protes.


Saat ini Lily yang menguasai mansion ini. Mina bersyukur bisa keluar dari mansion, karena tidak harus melihat wajah Lily dan Bella lagi yang selalu membuatnya dan Titi kesal karena sikap sombong mereka.


" Terima kasih, non ... !" ujar Mina setelah mengambil amplop berisi gajinya. Walaupun ia kesal tapi Mina membutuhkan uang ini untuk membiayai hidup keluarganya di kampung.


Lily tidak menjawab ucapan yang di lontarkan Mina. Ia malah melanjutkan mengunyah sarapannya.


" Kalau begitu saya permisi, non ... !" Mina lalu berjalan menjauh bersama Titi dari Lily yang tidak menanggapinya.


Mina berbisik pelan pada Titi begitu mereka sudah di depan pintu keluar mansion.


" Ti, semoga kalian berhasil menyelamatkan non Audrey. Jaga diri kamu baik - baik. Jangan sampai wanita jahat itu menyakiti kamu juga seperti yang dilakukannya pada nona Audrey."


" Ya, pasti. Doakan kami berhasil.


Kamu juga baik - baik saja disana.


Salam buat keluarga kamu di - kampung." balas Titi dengan suara lirih.


" Ya, aku pasti akan mendoakan kamu dan non Audrey agar tetap baik - baik saja di sini. Kalau begitu aku pergi, ya ... " ujar Mina dengan raut wajah sedih karena harus berpisah dengan Titi dan mansion ini.


" Ya ... sampai di sana kabari aku ya. Kita harus tetap berhubungan meskipun kamu udah gak kerja


di sini lagi." pesan Titi.


" Ya, pasti. Aku akan langsung kabari kamu begitu aku sampai di kampung." ujar Mina.


" Ya, sudah ... kamu sebaiknya pergi sekarang sebelum wanita 🦊 itu datang dan curiga melihat kita bicara seperti ini." ucap Titi.


" Baiklah. Aku pergi ya, Ti .. !" pamit Mina sebelum ia melangkah keluar.


" Ya, hati - hati di jalan !" ujar Titi.


Mina menganggukkan kepalanya kemudian melangkahkan kakinya keluar dari mansion.


" Hey, kamu ngapain masih berdiri di sana. Ambil buat makanan buat si c*c* itu dan bawa ke - kamarnya." bentak Lily dengan suara keras.


Titi terkejut begitu mendengar bentakan Lily. Ia pun bergegas menutup pintu mansion dan berjalan menuju dapur untuk mengambil makanan buat Audrey.


" Jangan sampai makanan itu gak di habiskan sama si c*c*t itu ! Kalau tidak kamu yang akan aku hukum." ancam Lily dengan mata melotot.


" Ya, baik nona !" jawab Titi dengan suara gemetar mendengar perkataan Lily.


Lily yang melihat Titi sudah berada di dapur kemudian masuk ke dalam kamarnya. Ia mau bersiap - siap untuk pergi keluar hari ini. Ia ingin membeli lingerie baru buat menyambut Reno pulang biar dia gak marah lagi padanya.


Titi buru - buru mengambil makanan di dapur yang sudah


di letakkan Lily di atas piring khusus buat Audrey.


Ia menatap ke arah kamar Lily dengan mata awas. Setelah ia merasa yakin kalau Lily tidak akan keluar dari kamarnya, Titi lalu mengambil beberapa lembar roti dan dessert yang ada di meja makan. Lalu Lily membawanya dengan cepat ke lantai atas sebelum Lily atau Nana melihatnya.

__ADS_1


**********************************


__ADS_2