
Audrey yang baru saja selesai berpakaian setelah selesai mandi. Tadi ia istirahat sebentar bareng Rina. Tapi begitu bangun ia gak melihat Rina di kamarnya.
Ia yakin Rina sekarang berada di bawah bersama Rifky, adiknya.
" Gue telepon Zia dan Dea ajalah.
Kangen juga sama mereka." gumam Audrey pelan.
Ia lalu menghubungi nomer Zia, tapi gak tersambung. Ia pun menghubungi nomer Dea, dan tidak butuh waktu lama teleponnya pun diangkat.
" Halo, dimana Lo, Drey ? Apa udah di mansion ? Elo pergi, kog gak ngomong, sih ? " tanya Dea beruntun begitu mengangkat telepon.
" Iya, gue di mansion. Sorry, soalnya waktu itu mendadak banget, Ibu nya Rina sakit terus mau di operasi, jadi gue gak sempat ngabarin. Lo sama Zia dimana, gue bentar lagi mau nemenin Rina dan adiknya belanja ke mall. Mau ikut gak ... ? " ujar Audrey menjelaskan.
" Ini gue lagi bareng Zia di mall.
Ya, udah Lo buruan kesini, biar kami tungguin." kata Dea.
" Loh, Zia sama Lo. Tadi ponselnya gue hubungi gak aktif ?" tanya Audrey.
" Iya, ponselnya mati, abis baterai."
jelas Dea.
" Oh, ya udah ... gue siap - siap dulu. Gue matiin ya ... " ucap Audrey semangat.
" Okey, kami tunggu gak pake lama." sahut Dea.
" Ya .. " Audrey lalu memutuskan obrolan mereka.
Dengan cepat ia menuju kamar Rifky, Audrey yakin Rina sekarang sedang berada disana.
" Mbak ... kita kapan bayar rumah yang mau kita tempati ? " terdengar suara Rifky bertanya pada Rina.
" Besok, Ky ... sebelum mbak kerja kita ke kost dulu, baru setelah itu pergi kesana." jawab Rina.
" Oh, iyalah ... Audrey belum bangun, ya ? " tanya Rifky lagi.
" Belum, kasian dia pasti kelelahan. Kamu lihat sendiri kan gimana kaya nya Audrey, tapi dia gak keberatan tinggal di rumah kita. " sahut Rina.
" Iya, ya mbak ... dia baik banget.
Ky gak nyangka dia sekaya ini, kirain cuma lebih kaya dari pada orang - orang di kampung kita.
Ternyata kaya banget ... " Rifky mengungkapkan rasa kagumnya.
" Iya, Audrey itu malaikat berwujud manusia, Ky. Mbak bersyukur banget di pertemukan dengan dia.
Orangnya gak sombong, tulus dan gak pernah beda - bedain status orang. " mata Rina menerawang mengingat kebaikan Audrey.
" Iya, mbak ... kita berdua harus membalas semua kebaikan Audrey. " kata Rifky serius.
" Iya, Ky ... " jawab Rina setuju.
Audrey yang sedari tadi sudah di depan kamar Rifky, dan mendengar semua perkataan kakak beradik ini merasa sangat terharu. Ia tidak pernah mengharapkan balasan apapun jika membantu orang lain. Apalagi ini adalah temannya sendiri.
Tapi ia tetap bersyukur karena sudah di berikan teman yang juga berhati baik dan tulus padanya.
Audrey lalu mengetuk pintu kamar Rifky.
" Rina, Lo di dalam ? " tanya Audrey pura - pura gak tahu.
" Iya, Drey ... " sahut Rina lalu bangkit membuka pintu kamar Rifky.
" Sorry gue lama ya tidurnya ? " ujar Audrey begitu melihat Rina.
" Gak, ah ... gue sama Rifky cuma lebih duluan aja bangunnya." ucap Rina.
" Oh, Lo bilang mau pergi beliin kebutuhan buat Rifky. Jadi, gak ... ? " tanya Audrey lembut.
" Jadi, Drey ... nee kami juga udah siap, tadi ngobrol bentar sambil nungguin Lo bangun." jawab Rina.
" Ya, udah kita pergi aja sekarang.
Gue tadi telepon Dea, Zia dan Dea sedang nungguin kita di mall. "
ujar Audrey menjelaskan.
" Oh, ya udah ....yuk Ky buruan. " sahut Rina lalu keluar dari kamar mengikuti langkah Audrey.
Rifky juga ikut bangkit dan jalan di belakang mereka berdua.
__ADS_1
" Bik, kami pergi keluar. Mungkin agak malam pulangnya." ucap Audrey pada bik Imah yang sedang berdiri di ruang tamu.
" Iya, non ... hati - hati." sahut Bik Imah.
" Iya, bik ... " jawab Audrey.
" Bik, kamu pergi ya ... " pamit Rina dan Rifky sopan.
" Iya, non , den ... hati - hati. " jawab Bik Imah dengan kata yang sama seperti pada Audrey.
Audrey bersama Rina dan Rifky segera berjalan menuju garasi mobil - mobil sport Audrey dan mobil Jeep nya di parkir kan.
Lagi - lagi Reno terkejut melihat mobil - mobil mewah berjejer dengan rapi di garasi milik keluarga Audrey. Mulutnya menganga dengan lebar.
Selama ini, ia hanya bisa melihat mobil - mobil ini dari layar televisi.
Dari film yang di tonton nya.
" Woi, masuk lalat nanti." goda Audrey.
" Hah ... hehehe. " Rifky tertawa mendengar perkataan Audrey yang menggodanya.
Sedang Rina hanya tertawa kecil melihat sikap adiknya.
Pasti Rifky merasa sedang bermimpi saat ini. Selama ini Rina, tahu kalau adiknya suka sekali melihat jika ada mobil sport di televisi. Sekarang ia melihat secara langsung bahkan bisa menyentuhnya.
" Udah, yuk naik .... " Audrey mengajak kedua kakak beradik ini
masuk ke dalam mobil. Kali ini ia sengaja memakai Rolls Royce agar muat bertiga.
Rifky dengan semangat menaiki mobil Audrey. Ia duduk di sebelah Audrey. Sedang Rina mengalah duduk di belakang.
" Lo belajar bawa mobil biar elo bisa nyetir mobil sport gue." ucap Audrey sambil memasang seat belt Rifky.
" Iya, aku akan belajar nyetir segera." sahut Rifky dengan mimik
bahagia.
" Sekarang Lo berdua pegang yang kencang, gue mau ngebut biar cepat sampai." ujar Audrey lalu menjalankan mobilnya dengan cepat.
Reno yang mendapat tekanan agar segera menjalankan rencananya, memerintahkan anak buahnya untuk mencari tahu keberadaan Audrey. Ia mendengus kesal karena sudah dua puluh menit, ia belum juga mendapat kabar. Reno lalu menghubungi Bella. Sejak ia pergi tidak pernah sekalipun mereka
saling menghubungi. Memang itu semua atas keinginan Reno agar ia gak merasa terganggu. Tapi kali ia membutuhkan bantuan Bella untuk mengetahui keberadaan Audrey. Baru saja ia ingin menelepon Bella, sebuah chat dari
anak buahnya memberitahu lokasi Audrey sekarang.
Ia lalu mengambil kunci mobil dan melaju dengan cepat di jalanan agar bisa bertemu dengan Audrey.
Kali ini ia sudah merencanakan sesuatu agar Audrey semakin terkesan padanya.
Audrey dan kedua kakak beradik itu kini sudah sampai di mall.
Setelah mobilnya terparkir dengan rapi, mereka pun melangkah bersama masuk ke dalam mall.
Mereka terlebih dahulu mencari kebutuhan buat Rifky. Rifky semangat sekali melihat pakaian - pakaian yang bagus terpajang.
Ia memilih beberapa kemeja, t-shirt dan celana jeans. Audrey membelikan sepatu buatnya.
Awalnya Audrey ingin membelikan sepatu yang bermerk, tapi dengan halus Rina menolaknya. Ia ingin Rifky terbiasa dengan keadaan mereka. Setelah itu mereka menuju cafe tempat Rina bekerja.
Ia ingin segera menanyakan apa ada lowongan kerja apa gak buat Rifky. Jika ada besok tinggal membawa surat lamaran kerja.
Wajah Rina terlihat sedih begitu selesai menemui manajer cafe.
Ternyata belum ada penerimaan pegawai baru di cafe.
Ia kasihan melihat adiknya. Padahal Rifky sangat ingin kerja agar ia bisa membayar uang kuliahnya.
" Udah, mbak ... gak papa. Mungkin nanti di tempat lain ada kerjaan buat Rifky. " ujar Rifky memberi semangat pada Rina.
" Iya, Rin ... ntar kita cari solusinya. Lo gak usah sedih.
Sekarang kita jumpai Zia dan Dea." sahut Audrey.
" Iya, deh ...." Rina berusaha bersikap biasa, walau ia masih tetap memikirkan nasib adiknya.
Reno yang sudah sampai di mall.
Segera mencari keberadaan Audrey. Ia ingin seolah - olah gak sengaja ketemu disini.
__ADS_1
Dari jauh, Reno sudah melihat Audrey bersama dengan kedua kakak beradik yang ikut dari kampung. Ia lalu memilih jalan memutar agar mereka bisa ketemu di depan biar kesannya gak di sengaja.
Benar aja begitu berpapasan Audrey terlihat terkejut. Ia gak menyangka bisa ketemu dengan Reno di sini. Reno juga melakukan hal yang sama seperti Audrey.
" Kamu disini juga, Drey ... borong sepertinya , nih ... " sapa Reno dengan ramah.
" Eh, gak kog, gue cuma nemani Rina sama Rifky belanja aja. " sahut Audrey.
" Oh, Oya Drey ... aku minta maaf ya ... kemarin gak jadi pulang barengnya. Mendadak ada urusan yang harus aku kerjakan." ujar Reno dengan muka menyesal.
" Gak papa, Reno ... gimana pekerja kamu yang sakit kemarin, apa udah sembuh ? " tanya Audrey
perhatian.
" Syukurlah, dia hanya luka - luka kecil aja. Dia pingsan karena asam lambungnya kumat. " ujar Reno berbohong tanpa beban.
" Oh, syukurlah kalau begitu." Audrey yang memang selalu bersimpati pada orang terlihat lega mendengar penuturan Reno.
" Jadi sekarang kalian mau kemana lagi, nih ... ? " tanya Reno sambil melirik ke arah Rina dan Rifky dan berusaha menampilkan senyumnya agar terlihat ramah.
Rina langsung membalas senyuman Reno. Sedang Rifky pura - pura gak melihat.
" Kami lagi mau menemui teman gue. " ujar Audrey.
" Oh, gue boleh ikut gabung gak ? "
Reno mulai memasang aksinya.
" Hmm ... boleh, sih tapi apa Lo
gak lagi buru - buru soalnya gue mau ngobrol sama mereka.
Biasanya kalau kami udah ngobrol, agak lama." Audrey menjelaskan pada Reno.
" Gak, gue memang lagi boring jadinya main kemari. Kalau gitu ajak teman - teman kamu makan di cafe sekalian. Kebetulan gue lagi lapar jadi kan enak kalau banyak yang nemani makan dari pada gue sendirian. " Reno dengan pintar memberi alasan.
" Hmm ... biar gue tanya mereka dulu ? " Audrey lalu menghubungi Dea.
" Halo, Drey ... Lo dimana sih ?
Kog lama banget ? Zia udah ngomel melulu, nih ... " ucap Dea begitu mengangkat panggilan dari Audrey.
" Sorry, Dea ... gue udah di mall, sih ... tapi ini ada teman baru gue
ngajakin makan ... Lo berdua mau ikutan gabung gak ?" Audrey bertanya sambil melirik ke arah Reno.
Reno tertawa senang dalam hati.
Ternyata trik nya berhasil.
Audrey bersedia menerima ajakannya.
" Lo di cafe mana ... biar kami samperin ? " tanya Zia merebut ponsel Dea.
" Ntar, gue tanya dulu sama teman gue." Audrey lalu menanyakan pada Reno. Setelah Reno menyebutkan nama sebuah cafe,
Audrey memberitahukan pada Zia dan Dea.
" Ya, udah ... kami kesana. " ujar Zia.
" Okey ... " sahut Audrey singkat, kemudian memutuskan percakapan mereka.
" Yuk, Drey ... Rin, siapa nama adik kamu ? " tanya Reno pada Rina.
" Rifky ... " sahut Rina singkat.
" Oh, yuk Ky ... untung ada Lo jadi aku ada teman cowoknya." Reno berusaha bersikap ramah padahal dalam hatinya sangat kesal melihat kehadiran Rifky.
" Yuk Ky ... " ajak Audrey sambil menarik tangannya dan Rina.
Beriringan mereka bertiga berjalan menuju cafe yang di maksud Reno. Reno berjalan di belakang mereka dengan menatap tajam ke arah Rifky.
" Hmm ... sepertinya anak ini gak suka melihatku." gumam Reno marah dalam hati.
Begitu tiba di cafe, Reno segera duduk di samping Audrey. Rina yang awalnya ingin duduk di dekat Audrey, langsung duduk di samping Rifky.
" Drey, mau pesan apa ? kalian juga, pesan aja." kata Reno menatap Rifky dan Rina.
Rifky melihat dengan tatapan gak suka pada Reno. Ia gak percaya pada Reno. Sebagai sesama lelaki, ia tahu kalau Reno mendekati Audrey karena menyukainya tapi ia merasa ada niat yang lain di balik itu semua.
**********************************
__ADS_1