Cinta Dan Dendam Audrey

Cinta Dan Dendam Audrey
Episode 34


__ADS_3

" Drey ... kalau gak, nanti elo tunggu di mobil aja. Biar gue sama Rifky aja yang turun ke kost." Rina menoleh pada Audrey yang sedang menyetir mobil.


" Loh, kenapa ... ? Gue mau bantuin Lo berkemas, biar lebih cepat selesainya. " bantah Audrey sambil menatap heran pada Rina.


" Barang gue cuma pakaian aja, kog ... selebihnya milik Ibu kost. "


Rina masih berusaha melarang Audrey, karena kondisi jalan menuju rumah kost nya sangat jelek. Ia takut mobil Audrey jadi rusak jika melalui nya.


" Ya, gak papa lah ... gue kan pengen liat tempat kost elo, Rin .."


Audrey bersikeras.


Rina terlihat gak enak kalau terus menolak keinginan Audrey, akhirnya ia mengatakan yang sebenarnya pada Audrey.


" Bukan gitu, Drey ... jalan ke tempat kost gue rusak parah. Gue gak mau mobil Lo jadi rusak. "


" Oalah, Rin ... gak masalah. Kita kan bisa jalan pelan - pelan atau taruh di pinggir jalan yang agak bagus. Ya, kan ... " sahut Audrey dengan senyum di bibir nya.


" Beneran gak papa ? " Rina tetap merasa gak enak karena merepotkan Audrey.


" Ya, gak papa la ... udah sekarang kita belok mana, nih ? " tanya Audrey pada Rina.


" Itu lurus dikit terus ada tikungan sebelah kanan ... di situ kost gue, Drey ... " Rina menunjukkan arah jalan ke rumah kost nya.


" Oh, udah dekat dong ... " sahut Audrey dengan mimik senang.


" Iya, udah mau nyampe kita, Drey ... tapi ntar Lo jangan kaget ya, lingkungan kost gue banyak yang resek. Apalagi biasanya di warung depan ada sekumpulan Ibu - Ibu yang suka nya bergosip


ria." Rina menjelaskan keadaan sekitar kost nya, yang memang agak ajaib.


" Gak masalah, Rin ... lumayan kan di gosipin nambah pahala buat kita .... hahahaha. " canda Audrey lalu tertawa lepas.


" Hehehe ... iya juga sih. " sahut Rina tertawa membenarkan omongan Audrey.


" Ky, Lo gak diam aja sih dari tadi ?" Audrey melihat Rifky dari spion mobilnya.


" Hmm ... aku masih kepikiran Reno sama teman kalian yang di kampus tadi. Bella, kalau gak salah namanya, ya ... ? Seperti nya Bella itu gak suka liat mbak Rina dan kamu, Drey ... " Rifky mengungkapkan pikiran nya yang sejak dari kampus tadi melihat tatapan gak suka dari Bella buat Audrey dan Rina.


" Eh, tapi ntar aja deh kita sambung lagi cerita kamu.


Udah mau nyampe soal nya,


nih ... " ujar Audrey.


" Pelan - pelan aja, Drey ... nah, kita berhenti aja di depan itu, lalu kita jalan aja dikit ... itu kost gue yang pagar hitam. " Rina memberitahu pada Audrey, agar mobilnya di parkir kan dekat lapangan.


" Okey ... " sahut Audrey lalu memutar mobil nya agar terparkir rapi.


" Yuk, turun ... " ajak Rina pada Audrey dan Rifky, begitu Audrey selesai memarkirkan mobil.


Mereka bergegas keluar dari mobil, setelah terlebih dahulu Audrey memastikan mobilnya aman.


Karena jalanan agak licin, mereka pun berjalan dengan pelan supaya tidak terjatuh. Seperti yang di katakan Rina tadi, begitu mereka akan melewati warung terlihat


Ibu - Ibu menatap ke arah mereka dengan rasa ingin tahu yang besar. Terlebih lagi setelah melihat Audrey yang cantik dan Rifky yang ganteng.


" Rina ... berhenti sebentar. Itu siapa yang sama kamu ? " tanya salah satu Ibu yang ada di sana langsung bangkit hendak menghampiri mereka, yang lain karena penasaran juga ikut di belakang Ibu yang bernama Minah


itu.


Rina yang mendengar perkataan Bu Minah , terpaksa menghentikan langkahnya. Ia tidak mungkin bersikap gak sopan, karena bagaimana pun Bu Minah lebih tua.


" Wah, siapa gadis cantik ini ?


Terus pria ganteng ini siapa lagi ?" berondong Bu Minah begitu sudah berdiri di hadapan mereka bertiga.


Audrey yang melihat sikap Bu Minah dan teman - temannya langsung mengembangkan senyum nya. " Berarti Ibu - Ibu ini yang di maksud Rina tadi, " batin Audrey.


" Ini teman dan adik saya, Bu ... " jawab Rina dengan sopan.

__ADS_1


" Oh, adik kamu, kog beda ya sama kamu, Rin ... ? Terus teman kamu ini kayak artis, pasti orang kaya ya ... soalnya pakaiannya kelihatan mahal, apalagi mobil teman kamu itu kan cuma konglomerat aja yang bisa membelinya." ujar buk Minah dengan suara nyinyir tingkat tingginya.


" Adik saya memang ganteng buk, beda dengan saya. Teman saya memang anak orang kaya, kaya banget malah. Oh, ya ... kami permisi, buk ... saya mau ke kost buat mengemasi barang - barang saya. Mulai hari ini, saya tidak tinggal disini lagi. Maafkan kalau selama ini kalau ada perkataan atau pun perbuatan saya yang membuat Ibu - Ibu gak suka. " Rina malas berlama - lama meladeni gerombolan tukang gosip ini. Bisa - bisa sampai sore kalau terus di tanggapi.


" Oh, ya ... ya .... " serempak Buk Minah dan gerombolannya menjawab dengan perasaan terkejut mendengar perkataan Rina sambil terus memandang ke arah Audrey dengan tatapan penasaran.


Rina bergegas berjalan bersama Audrey dan Rifky meninggalkan buk Minah dan gerombolannya, setelah terlebih dahulu menganggukkan kepala mereka dan tersenyum dengan sopan.


Buk Minah memandang dengan mata sinis ketika melihat Rina sudah mulai masuk ke dalam rumah kost nya.


" Aku yakin, pria tadi itu bukan adiknya. Terus wanita cantik tadi pasti simpanan om - om kaya, makanya bisa punya mobil mewah kaya gitu. Kalau anak orang kaya, mana mungkin mau berteman dengan Rina, dia kan cuma pelayan. " ucap Buk Minah dengan mulut culasnya.


Ia memang tidak menyukai Rina, karena pria yang sudah lama disukai anak gadisnya malah menyukai Rina. Buk Minah merasa kalau Rina sudah menggoda pria itu. Padahal Rina bahkan gak pernah mengobrol terlalu lama dengan laki - laki itu. Hanya pernah beberapa kali ketemu di jalan waktu Rina mau berangkat kerja dan pria itu menawarkan untuk mengantar Rina tapi ia selalu menolaknya dengan sopan.


" Ih, kamu gak boleh ngomong gitu juga Minah, mungkin benar temannya itu anak orang kaya." bantah salah satu Ibu yang ikut berdiri disana.


" Gak mungkinlah ... sekarang banyak anak gadis jadi simpanan om - om supaya terlihat kaya.


Mungkin si Rina itu, mau jadi simpanan juga, karena gak tahan hidup susah." buk Minah semakin menjadi menuduh Rina.


Temannya karena malas berdebat dengan Bu Minah memilih diam.


Karena susah untuk menang kalau berdebat dengannya.


Sementara itu Rina sudah selesai mengemas barang - barangnya.


Rifky membawa sebagian, sedang Audrey dan Rina membawa koper berisi pakaian.


Setelah pamit dengan Ibu kost dan teman - teman se kost nya, Rina pun keluar barengan dengan Audrey dan Rifky.


Bu Minah dan gerombolan nya yang masih saja betah di warung itu begitu melihat mereka keluar dari rumah kost langsung menghentikan obrolan mereka yang sedari tadi menggosipkan Rina.


" Ayo, kita samperin lagi. Aku mau nanya dia tinggal di mana setelah pergi dari sini." ujar Buk Minah.


" Sudahlah Minah, biarkan saja.


Itu kan bukan urusan kita. " ucap Ibu yang membantah Bu Minah tadi.


Ia pun bangkit berjalan diikuti teman yang karakternya sama dengan buk Minah. Sama - sama tukang gosip dan iri melihat orang lain.


"Aduh, males banget gue. Apalagi


mau si tukang gosip itu ? Yuk cepat aja kita jalannya." ucap Rina pelan, pada Audrey dan Rifky.


" Udah, sabar aja, Rin ... " kata Audrey yang juga melihat gerombolan tadi kini mendatangi mereka lagi.


Rina hanya menghela nafas dengan berat mendengar omongan Audrey.


" Rin ... Rin ... tunggu sebentar.


Jangan buru - buru gitu jalannya.


Ada yang mau kami tanyakan." panggil Bu Minah dengan suara agak keras karena melihat Rina berjalan dengan cepat.


Bahkan saking niatnya, mereka setengah berlari menyusul Rina.


" Maaf, buk ... ada apa lagi ya ? " tanya Rina terpaksa menghentikan langkahnya.


" Eh, itu ... kalau kamu gak kost disini lagi. Sekarang kamu tinggal di mana ? Apa kamu udah jadi simpanan orang kaya, makanya gak mau tinggal di tempat ini lagi ? " tanpa memikirkan perasaan Rina sedikitpun, Buk Minah langsung mengatakan apa yang ada dalam pikirannya.


Sementara yang lain hanya mengangguk - anggukkan kepala mereka tanda setuju dengan perkataan Buk Minah.


Rina yang mendengar tuduhan buk Minah terlihat sangat marah.


Selama ini ia berusaha memaklumi sikap buk Minah karena ia sudah tua. Tapi kali ini perkataannya benar - benar kelewatan. Rifky yang lebih emosi mendengar kakaknya di fitnah seperti itu langsung ingin membantah dengan keras.


Tapi dengan cepat, Audrey menghalanginya. Ia juga paling gak suka melihat orang - orang yang bersifat buruk seperti ini.


" Maaf, ya buk ... kenapa Ibu bisa berkata seperti itu pada teman saya Rina ? " tanya Audrey dengan sopan.

__ADS_1


" Saya bertanya pada Rina. Kamu gak usah ikut campur. " bentak buk Minah kasar.


" Tentu saja saya harus ikut campur, karena Rina dan adiknya sekarang sudah menjadi keluarga saya. Lagian Ibu ini siapa, sih ... kenapa terlalu mencampuri urusan Rina ? " kali ini walau masih terlihat sopan tapi terlihat tekanan di suara Audrey.


" Eh, saya tetangganya ... wajar saja kalau saya dan mereka semua mau tahu kemana dia pindah ? " ucap Buk Minah mencari alasan.


" Oh, tetangganya ... kalau begitu biar saya yang mewakili Rina untuk menjawab keingintahuan Ibu - Ibu semua ... Rina dan adiknya akan tinggal di apartment saya, kebetulan saya punya beberapa apartment yang tidak saya pergunakan karena saya masih tinggal bersama orang tua saya. Mubajirkan buk, dari pada dibiarkan kosong mending di tempati sama mereka. Lagian mereka bisa menghemat uang mereka untuk membeli kebutuhan mereka. Oh, ya ... Ibu - Ibu sekalian belum tahu ya ... mereka sekarang udah kuliah ... kemarin saat Ibu mereka meninggal, mereka berdua dapat warisan yang lumayan besar jadi bisa kuliah. Bukan menjadi simpanan seperti yang Ibu katakan.


Jadi, tolong ya Ibu - Ibu ... kalau belum tahu faktanya, jangan memfitnah orang seenaknya.


Jadinya dosa, loh .... " Audrey mengakhiri perkataannya yang memang sengaja ingin menyindir buk Minah dan yang lainnya.


Buk Minah dan antek - anteknya langsung terdiam dengan wajah memucat mendengar sindiran Audrey yang sangat pedas.


Ternyata di balik wajah cantik dan sikap baik yang di miliki Audrey,


ia juga memiliki sisi ini.


Audrey memang paling tidak suka dengan orang yang suka mencampuri kehidupan orang lain. Apalagi sengaja memfitnah orang.


" Sudah mengerti kan, buk ...


Kalau begitu kami permisi." pamit Audrey lalu menarik tangan Rina dan Rifky yang masih terkejut mendengar perkataan Audrey.


Bu Minah yang masih pucat, menatap kepergian mereka bertiga dengan tatapan kesal.


Ia sudah di buat malu dengan perkataan Audrey di depan tetangga - tetangganya.


Audrey langsung melepaskan tawanya dengan lebar, setelah berada di dalam mobil.


Rina dan Rifky yang sejak tadi masih kaget dengan sikap Audrey juga ikut tertawa.


Mereka benar - benar gak menyangka, ternyata Audrey bisa bersikap kasar juga.


" Sumpah, Drey ... gue gak nyangka ternyata Lo bisa kejam juga. " ucap Rina setelah menghentikan tawanya.


" Emang gue kejam tadi ? kalau menurut gue itu biasa aja." sahut Audrey dengan raut wajah santai.


" Gak nyangka gue, Audrey yang berhati malaikat bisa bersikap seperti Devil juga ... " Rina menoleh pada Audrey yang sedang menyetir mobil seperti tidak ada masalah.


" Iya, mbak ... aku tadi terkejut banget melihat perkataan Audrey.


Tapi menurutku Ibu tadi memang pantas di perlakukan seperti itu. Aku saja tadi sudah gak bisa menahan emosi. Mungkin kalau gak di tahan sama Audrey, aku sudah memaki Ibu itu. " ujar Rifky yang menyetujui perbuatan Audrey.


" Sekali - kali kita gak ada salahnya melawan perkataan orang kalau sudah terlalu kelewatan ... Apalagi Ibu tadi, jelas - jelas memfitnah kamu, Rin ... jadi sudah sewajarnya kita yang lebih muda menyadarkannya biar lebih ingat sama dosa." Audrey menoleh lalu tersenyum pada Rina yang duduk di samping nya.


" Benar kamu, Drey ... Bu Minah itu memang keterlaluan. Setiap hari suka banget cari masalah dengan gue. Biasanya memang gak pernah gue tanggapin, malas ribut aja. Lagian gue cuma seorang pendatang, dari kampung lagi. Gak ingin ada masalah, karena niatnya kemari buat kerja bukan cari musuh. Tapi syukurlah, akhirnya sekarang gue gak tinggal di sana lagi, jadi gak nambah dosa. " kali ini Rina mengutarakan


keluh kesahnya yang sudah di tahannya selama tinggal di kost itu.


" Udah, sekarang gak usah Lo pikirin lagi. Mulai hari ini, kalian harus lebih percaya diri. Gak ada perbedaan antara orang kota dan orang kampung. Begitu juga dengan orang kaya maupun orang miskin. Semuanya sama - sama


manusia ciptaan Allah. Yang membedakan cuma akhlak dan perilaku kita ke orang lain. Kalau kita baik ke orang lain, biasanya akan dibalas dengan kebaikan juga. Begitu juga sebaliknya.


Yang penting kalian harus percaya sama kemampuan kalian sendiri dan jangan minder karena dari kampung. Buktikan kalian juga bisa berhasil dan sukses , sama seperti orang lain. Udah, ah .... gue kog jadi kaya ustadzah jadinya ngasi ceramah buat Lo berdua .... " Audrey akhirnya mengucapkan candaan setelah bicara panjang lebar.


Mereka bertiga pun tertawa setelah mendengar perkataan Audrey.


**********************************


Sorry, baru sempat up sekarang,


karena tadi ada kesibukan yang gak bisa di tinggalkan.


Semoga kalian semua suka dengan lanjutan cerita nya.


Jangan bosan untuk memberi like, koment, vote dan hadiahnya๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿคฃ


Buat yang udah memberi dukungan pada cerita yang

__ADS_1


" Mommy " buat ... Makasih banyak ๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿฅฐ


Semoga kita semua selalu di beri kesehatan dan rezeki yang melimpah .... Aamiin.


__ADS_2