
" Gak ada ... kamu gak ada salah apa - apa, sih ... cuma waktu itu lagi sibuk ngurusin wisuda aja." dalih Audrey.
" Oh, kapan kamu wisuda ? " tanya Reno pura - pura gak tahu.
" Dalam waktu dekat ini." jawab Audrey singkat.
" Oh, ya nak Audrey ... tadi saya menanyakan pada Rina, apa nak Audrey sudah punya pacar atau belum, Rina bilang kalau nak Audrey sudah punya tunangan.
Apa benar nak Audrey ? sela Pak Tarmo, paman Rina yang masih mencari celah agar bisa menjodohkan anaknya dengan Audrey.
Audrey berusaha menutupi rasa terkejutnya mendengar perkataan pamannya Rina. Walau, ia tahu pasti Rina mengatakan seperti itu karena ada sebabnya. Tapi tebakan Rina, memang tidak salah. Audrey sudah memiliki seorang tunangan, bahkan calon suami ... walau belum pernah sekalipun melihat wujudnya.
Rina langsung memberi kode ketika Audrey menatapnya, agar mengatakan iya pada pamannya.
Rina tahu maksud licik dari pamannya, pasti ingin berusaha untuk menjodohkan Audrey dengan sepupunya yang pemalas itu. Rina tidak akan membiarkan
hal itu terjadi.
Reno yang juga terkejut mendengarnya, ikut menunggu jawaban yang akan di berikan oleh Audrey.
" Maaf, paman ... itu sebuah hal pribadi. Saya tidak bisa mengatakannya pada paman." jawab Audrey dengan cerdas.
Dengan begini, ia tidak menyangkal atau mengiyakan pertanyaan yang di berikan Pak Tarmo.
Wajah Pak Tarmo terlihat agak kecewa, tapi Audrey tidak terlalu memikirkannya. Ia sudah berusaha untuk tetap sopan dengan menjawab pertanyaan itu.
" Paman, ini sudah larut malam. Sebaiknya paman dan bibi pulang.
Kasihan Audrey, dia juga butuh istirahat." Rifky sengaja mengusir mereka, ia sudah muak sejak tadi melihat perbuatan mereka.
" Iya, benar yang di katakan Rifky,
__ADS_1
Audrey butuh istirahat, dia pasti lelah karena belum terbiasa dengan keadaan seperti ini." sahut Rina setuju.
" Kalian mau mengusir kami ? " tanya Tarmo marah.
" Bukan seperti itu, paman. Tapi memang Audrey butuh istirahat.
Paman pikirkan saja, dari bandara kerumah sakit butuh waktu beberapa jam, belum lagi ke kampung ini, mana jalan nya banyak yang rusak. Kasihan Audrey, pasti dia belum terbiasa." ujar Rifky serius gak perduli walau ia melihat wajah pamannya yang memerah karena marah.
" Kalian memang anak kurang ajar." bentak Tarmo.
" Maaf, paman ini sudah malam. Jangan buat suara ribut, gak enak sama tetangga. Sebaiknya paman dan bibi pulang saja. " usir Rifky gak perduli.
" Baiklah, kami pulang ... baru aja punya teman kaya saja, sudah sombong." umpat Tarmo.
Rifky dan Rina tak membalas umpatan paman mereka. Mereka hanya ingin paman dan Bibinya segera pergi dari rumah ini.
Paman dan bibi Rina pun bangkit dari duduknya dengan marah. Mereka sebenarnya ingin memaki
" Maaf, sebaiknya kamu juga ikut pulang dengan bik Tuti. Kami ingin istirahat. Bukankah, tadi dia menawarkan kamu untuk beristirahat di rumahnya." ujar Rifky datar. Ia memiliki kesan yang tidak baik begitu melihat Reno.
Reno yang sengaja masih duduk di dalam rumah dan tidak ikut bangkit ketika bik Tuti keluar berharap ia bisa ikut menginap di rumah ini bersama Audrey.
Ia jadi merasa sangat marah mendengar perkataan Rifky, yang juga mengusirnya.
" Nak Reno ... ayo, pulang kerumah Ibu, biar bisa langsung istirahat. " ujar bik Tuti yang masuk kembali kerumah Rina, karena ia baru teringat saat melangkah keluar, Reno tidak mengikutinya.
" Tuh, udah di ajak pulang." ejek Rifky.
Rina dan Audrey hanya menahan senyum mendengar perkataan Rifky yang menyindir Reno.
Walau saat ini ia ingin sekali mematahkan tulang Rifky, karena sudah berani mengejeknya tapi ia dengan keras menahannya. Reno tidak ingin Audrey jadi gak respek sama dia.
__ADS_1
" Baik, Bu ... Drey, saya pergi dulu dengan buk Tuti. Permisi." ucap Reno menampilkan senyumnya.
" Ya, selamat istirahat." jawab Audrey sopan.
Setelah mereka semua pergi, Audrey dan Rina bangkit dan menemui bodyguardnya.
Mereka menawarkan bodyguard untuk tidur di dalam rumah, tetapi mereka menolaknya. Mereka mengatakan akan tidur di luar saja, di dalam mobil dan berjaga bergantian. Mendengar hal ini, Audrey dan Rina pun kembali ke dalam rumah.
" Drey, gue kog percaya, ya sama si Reno itu ? Katanya tersesat tapi kenapa bisa pas banget muncul di rumah gue ? " ucap Rina mengatakan kecurigaannya.
" Iya, mbak ... gue juga curiga sama tuh cowok ... sepertinya dia sengaja kesini buat nyusul Audrey. " Rifky juga membenarkan kecurigaan Rina.
" Gak baik berpikiran buruk sama orang lain. Bisa aja dia memang ada kerjaan di kampung sebelah dan terus tersesat." jawab Audrey.
" Tapi, Drey ... kenapa gue ngerasa seperti kebetulan, tersesatnya pas banget kerumah gue ? " ujar Rina masih gak bisa menerima yang di katakan Audrey.
" Benar tuh, Drey ... kog kebetulan banget ... " sahut Reno.
" Dia tadi kan udah bilang, karena di lihatnya rumah ini ramai, makanya dia memutuskan untuk bertanya. Udah, kalian jangan berpikir yang aneh - aneh. Lagian,
gue baru ketemu sama dia dua kali. Di pesta sama di cafe. Jadi gak mungkin dia punya maksud yang jelek sama gue. Terus jika seperti yang kalian pikirkan itu benar, dari mana juga dia bisa tahu kalau gue berada di kampung Lo, Rin ... " Audrey yang selalu berpikiran positif mengira orang sama baiknya dengan dirinya.
" Mungkin Lo benar, tapi gue minta ... Lo tetap harus berhati - hati." kata Rina khawatir.
" Iya, Lo sama Rifky kan ada sama gue, di sini ... jadi gak usah khawatir." ujar Audrey tersenyum.
" Iya juga, sih ... Ah, udahlah, sekarang kita tidur yuk ... " ajak Rina.
" Okey ..." jawab Audrey singkat.
Mereka bertiga pun lalu bangkit dan menuju kamar. Rina dan Audrey tidur di kamar Rina, sedangkan Rifky tidur di kamar Ibunya. Rumah Ini memang hanya memiliki dua kamar saja.
__ADS_1
Selama Rina pergi ke kota buat bekerja, Rifky juga tidur bersama Ibunya buat menjaganya.