Cinta Dan Dendam Audrey

Cinta Dan Dendam Audrey
Episode 74


__ADS_3

Reno sengaja memasang wajah datar, agar Lily ketakutan dan gak akan berani bertindak lancang lagi tanpa sepengetahuan Reno.


Lily menundukkan kepalanya. Ia gak berani melihat mata Reno. Ia tahu, pasti Reno marah atas perbuatannya.


" Hmm ... baiklah. Jadi, sekarang bagaimana keadaan yang lain, mbak ... ? "tanya Audrey.


" Kami semua baik - baik aja sejauh ini, non ... hanya chef yang masih agak pusing. Tapi tadi ada beberapa pelayan yang menyampaikan pada saya bahwa mereka ingin berhenti kerja." Nana menjelaskan dengan perasaan gak enak, karena ia merasa serba salah.


Di satu sisi ia mengerti ketakutan para pelayan. Tapi disisi lain, ia kasihan melihat nona nya. Kenapa cobaan gak berhenti menerpanya. Baru saja kehilangan orang tua, harus bekerja dan memimpin perusahaan. Di tambah kejadian aneh ini hingga menyebabkan harus kehilangan pelayan. Pasti nona nya sangat sedih sekarang.


Lily lumayan terkejut mendengar berita yang di sampaikan Nana pada Audrey. Ternyata usaha yang ia lakukan gak sia - sia. Para pelayan merasa ketakutan dan termakan hasutan yang ia katakan tadi.


" Hmm ... baiklah. Nanti,setelah teman saya pulang, tolong panggilkan mereka yang mau berhenti, mbak. Temui saya


di ruangan samping. " ujar Audrey


berusaha bersikap seperti biasa.


" Baik, non ... kalau begitu saya permisi. " ucap Nana.


" Silahkan ... " jawab Audrey tersenyum.


" Ayo, Ly ... kamu ikut saya


ke belakang." ajak Nana.


" Iya, mbak ... " sahut Lily cepat.


Karena ia juga ingin menghindar dari Reno. Agar gak melihat tatapan marahnya.


" Mansion sekarang udah gak aman, Drey ... apa gak sebaiknya sementara ini, elo pindah aja dari mansion. Elo bisa tinggal di rumah gue ataupun rumah Zia.


Terserah Lo mau milih tinggal


di mana ?" ujar Dea gak bisa menutupi rasa cemasnya.


" Iya, Drey ... benar omongan Dea.


Sebaiknya Lo, ikut kami. Gue gak mau terjadi hal buruk sama Lo. "


ujar Zia.


Reno hampir saj tidak bisa menutupi perasaan kesalnya , mendengar Zia dan Dea mengajak Audrey tinggal bersama mereka.


Jika Audrey menerima ajakan mereka maka Reno akan kesulitan menjalankan


semua yang telah ia rencanakan.


" Makasih, Zi, De atas rasa sayang Lo berdua ke gue. Gue tahu elo berdua khawatir. Tapi gue gak bisa bersikap egois. Gue gak mungkin ninggalin mansion demi menyelamatkan diri sendiri." ujar Audrey menghela nafas berat.


" Gue ngerti, Drey ... tapi kami gak mau kejadian tadi menimpa Lo dan Rina. Apalagi pelakunya gak ketahuan. Sama kaya penyusup kemarin. Bik Imah bahkan sampai melihat cctv, tapi pelaku nya gak terlihat sama sekali. Gue yakin, pelakunya orang yang ahli dan tahu mengenai mansion ini. Jadi, gue minta kali ini, Lo dengarkan


saran gue dan Zia buat ikut dengan kami." ujar Dea serius.


" Hmm ... Sekali lagi, makasih banget, De, Zi ... tapi tolong dengarkan alasan gue kenapa terpaksa harus menolak kebaikan dari Lo berdua. Daddy dan Mommy memberi tanggung - jawab ke gue sebelum mereka pergi buat menjaga semua yang ada disini. Baik itu bik Imah dan pelayan yang sudah bekerja dengan begitu setia kepada keluarga gue selama ini. Kecuali mereka semua udah gak ingin bekerja lagi. Mungkin gue bisa mempertimbangkan kemungkinan lain. Apalagi saat ini bik Imah sedang sakit. Gak mungkin, gue meninggalkannya sendiri dalam keadaan seperti itu.


Gue harap Lo berdua bisa mengerti. " ujar Audrey berusaha


memberi pengertian pada kedua


sahabatnya.


" Bik Imah sakit ? " tanya Dea dan Zia terkejut.


" Ya, tadi gue ke rumah sakit dan Bik Imah belum sadar juga. " ujar Audrey menghela nafas berat.

__ADS_1


" Sakit apa, Drey ... kog, bisa sampai gak sadar gitu ?" tanya Dea.


" Jantung, De ... gue juga baru tahu tadi waktu ke rumah sakit.


Ternyata buk Imah udah lama sakit jantungnya. Gue aja yang gak tau. " ujar Audrey sedih.


" Oh, tapi bik Imah kaya baik - baik aja, ya selama ini ... " ucap Dea.


" Itu dia, makanya gue gak nyangka sama sekali. Tadi pagi


saat gue berangkat kerja, bik Imah masih baik - baik aja. Tau - tau dapat berita kaya gini ... !" ujar Audrey.


" Semoga bik Imah cepat sembuh dan kembali dengan keadaan baik - baik seperti biasanya. " ujar Dea.


" Iya, Drey ... rumah sakit mana ?


Kami mau jenguk bik Imah juga, deh ... !" ucap Zia.


" Rumah sakit bunda Asifa, Zi ... tapi kalau mau kesana sebaiknya besok aja ... ini udah sore. Gue juga besok kesana lagi." kata Audrey.


" Okey, besok kita jumpa disana aja." ujar Zia.


" Gimana dengan tawaran kami tadi, Drey ... Lo mau kan ikut


ke rumah gue ? tanya Dea lagi.


" Maaf banget, gue gak bisa.


Gue harap Lo berdua bisa mengerti alasan gue menolak ajakan kalian." ujar Audrey.


" Tapi, Drey ... !" Zia berusaha protes atas penolakan Audrey tapi


segera di potong oleh Bella.


" Kita harus memahami akan keputusan yang diambil Audrey.


" Baiklah, gue ngerti alasan Lo menolak ajakan gue dan Zia tapi gue harap mulai sekarang elo lebih berhati - hati. Oya, gue turut berduka cita atas meninggalnya Om dan Tante, Drey ... ! Gue harap Lo tabah dan tetap tegar. Lo harus bisa mengikhlaskan agar kedua orang tua elo tenang disana. "ujar Dea.


" Iya, Drey ... gue juga turut bersedih atas kepergian om dan Tante. Gue yakin mereka sudah mendapatkan tempat yang indah disana. Om dan Tante orang baik, pasti banyak yang mendoakan mereka." ucap Zia dengan raut wajah sedih.


" Gue juga, Drey ... turut berduka,


gue gak menyangka om dan Tante bisa secepat ini meninggalkan kita. Harapan gue juga sama dengan Dea dan Zia. Semoga Lo tabah dan tegar. Sekarang Lo sendiri, jadi harus kuat. Apalagi elo harus memimpin perusahaan peninggalan kedua orang tua Lo. Kalau Lo butuh bantuan gue


buat menghandle butik, gue siap buat membantu Lo. " ujar Bella.


" Drey ... Aku juga turut berduka atas meninggalnya kedua orang tua kamu. Semoga mereka mendapatkan tempat yang terbaik di surga. Aku harap kamu jangan berlarut dalam kesedihan. Kamu harus ikhlas. " ucap Reno.


" Makasih atas doa kalian semua.


Gue udah gak papa, kog ... ! Gue yakin meski Daddy dan mommy gak ada disisi gue sekarang tapi mereka pasti berada ditempat yang indah." ujar Audrey berusaha agar tidak menangis, karena ia yakin kalau orang tuanya masih hidup.


" Kamu wanita yang kuat, aku bisa melihat dan yakin akan hal itu. " kata Reno memberi semangat.


" Thanks, Reno ... !" ujar Audrey.


" Btw, sekarang cerita dong kemana aja Lo setelah dibawa pergi dari mansion ?" tanya Bella sengaja kembali ke topik yang ingin mereka ketahui.


" Iya, Drey ... terus kenapa ketika Lo pulang gak ngabarin kita ? Elo juga, Rin ... kog gak ngabarin gue atau Dea, sih ... !" ujar Zia.


" Hmm ... Maaf, bukannya gue gak mau cerita sama kalian. Tapi gue beneran gak tahu dibawa kemana. Sepanjang perjalanan gue masih pingsan. Begitu gue sadar, tahu - tahu udah berada disebuah bangunan tua seperti kastil. " ujar Audrey berbohong.


" Kastil ... ? Berarti kamu dibawa


keluar negeri ?" tanya Reno penasaran.

__ADS_1


" Aku juga gak tahu, Ren ... aku baru sadar besok harinya dan setelah sadar aku sudah terkunci didalam kamar dan tidak boleh


keluar. Hanya pelayan yang selalu mengantarkan makanan buatku yang ada disana. " bohong Audrey, karena ia gak mungkin cerita tentang kebenaran yang terjadi padanya.


" Hah, jadi kemarin itu Lo diculik, Drey ... !" ujar Zia terkejut.


" Gue juga gak tahu, Zi ... " ucap Audrey berusaha menutupi perasaan bersalahnya karena membohongi teman - temannya.


" Tapi pria yang bawa Lo pergi itukan teman, Lo Drey ... bahkan Lo sama pria itu terlihat dekat dan sempat ngobrol waktu ketemu di pesta ulang tahun. Dia terlihat sangat khawatir waktu lihat Lo pingsan. Jadi kenapa dia harus menculik Lo ?" ujar Bella gak percaya.


Reno menatap Audrey dengan tatapan curiga. Ia mulai merasa ada yang sedang disembunyikan


oleh Audrey dari mereka.


" Ya, apa yang Lo omongin benar, Bel ... Kalau mendengar cerita dari bik Imah, gue tahu siapa yang membawa gue pergi. Dia memang teman gue. Tapi sampai gue di pulangkan kembali kesini, gue gak pernah ketemu sekalipun dengannya. Dia mendadak hilang, kaya di telan bumi." ujar Audrey.


" Hmm ... terus kamu bisa pulang kesini gimana caranya ? " tanya Reno.


" Aku juga gak ngerti, mungkin aku dibius atau disuntik supaya tertidur, agar mereka mudah membawaku dan supaya aku tidak mengetahui sedang berada di kota mana. Tiba - tiba begitu buka mata, udah didepan mansion aja." ujar Audrey.


" Hah .... kog kayanya seram banget dengarnya, Drey ... tapi selama elo terkurung disana, mereka gak pernah menyiksa kamu kan, Drey ... ?" tanya Zia.


" Selama gue sadar, sih gak ada, gue cuma gak dibolehin keluar aja. Tapi gak tahu juga saat gue pingsan. Makanya sampai sekarang gue masih bingung, apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang mereka inginkan dari gue. " ucap Audrey dengan yakin, seakan hal ini memang terjadi pada dirinya.


Rina berusaha keras menahan senyum mendengar cerita yang dikarang Audrey. Ternyata sahabatnya ini bisa juga berbohong dan wajahnya terlihat sangat meyakinkan. Jika Rina belum tahu cerita yang sebenarnya, mungkin ia juga akan percaya sekarang, bahwa hal ini beneran terjadi menimpa Audrey.


Reno mengerutkan dahinya. Ia jadi semakin bingung. Kalau menilai dari cerita Audrey rasanya gak masuk akal. Tapi wajah Audrey tidak terlihat sedang berbohong.


Jadi, ia gak bisa menebak apa yang sebenarnya terjadi.


" Kalau si tua itu yang menyuruh anak buahnya menculik Audrey.


Pasti Audrey sudah tewas. Tapi ini dia kembali dan dalam keadaan baik - baik aja. Tapi kalau yang menculiknya itu temannya, masa Audrey gak dibolehkan keluar dari kamar. Bahkan sampai dibius segala ? Jadi, siapa sebenarnya dibelakang ini semua ?" batin Reno dengan penuh kebingungan.


" Apa yang Lo alami kaya di film - film, ya Drey ... menegangkan.


Syukurnya Lo bisa kembali dengan selamat. " ujar Zia sembari meringis.


" Iya, syukurlah. Udah, gue gak mau mikirin kejadian itu lagi.


Anggap aja gue lagi dapat mimpi buruk. " ucap Audrey.


" Iya, Drey ... yang paling penting sekarang Lo harus terus berhati -


hati. " ujar Dea.


" Tentu, De ... btw, gimana kalian semua bisa tahu gue udah pulang ? Gue kan belum ada menghubungi Lo semua ?" tanya Audrey heran.


" Oh, kemarin pagi gue gak sengaja lewat depan perusahaan Daddy Lo, terus gue kaya ngeliat Lo masuk ke perusahaan. Jadi, buat memastikan gue ngajak Dea dan Zia datang kesini. Ternyata gue gak salah lihat hari itu." Bella menjelaskan kebohongan yang dibuatnya dengan fasih.


" Oh, kalau Reno ... siapa yang ngabari ?" ucap Audrey.


" Sejak Lo dibawa pergi dan gak ada kabar sama sekali, hampir tiap hari aku sengaja lewat depan mansion. Karena aku berharap melihat kamu kembali kesini.


Hingga akhirnya harapanku terkabul, tadi pagi aku melihat kamu pergi dengan Rina. Tapi sayangnya, mobil kamu gak bisa aku susul. Jadi, aku memutuskan untuk datang lagi ke mansion kamu dan kebetulan bertemu dengan mereka bertiga." dengan lancar Reno mengarang cerita agar bisa meyakinkan Audrey.


" Oh ... gitu ! gue kira barengan datangnya." ucap Audrey.


" Enggak, mereka lebih dulu nyampe dibandingkan aku." ujar Reno dengan pasti.


" Sorry, Gue bukannya gak mau telfon lo semua tapi sejak Daddy gak ada, gue harus ke perusahaan segera dan menggantikannya.


Maksud gue hari ini setelah pulang kerja baru menghubungi kalian. " ujar Audrey.


" Gak papa, Drey ... kami ngerti kog. Kami cuma ingin ketemu dan tahu kabar Lo aja, Drey ... !" kata Dea sembari tersenyum.

__ADS_1


" Thanks all ... " ujar Audrey tersenyum ke arah mereka semua.


**********************************


__ADS_2