
" Non Audrey ... Maaf !" ujar Lily yang menemui Audrey di kamarnya.
" Ada apa ? Kenapa kamu minta maaf, Li ? " tanya Audrey lirih yang sedang berbaring di tempat tidur, karena perutnya kembali sakit. Padahal sudah seminggu ini ia baik - baik saja.
Belakangan ini keadaannya semakin memburuk.
Padahal ia sudah berobat ke - rumah sakit untuk memeriksakan kondisinya. Bahkan ia sempat bolak - balik menginap di rumah sakit.
Dokter juga bingung melihat hal ini, karena mereka tidak menemukan penyakit apa yang sedang di derita oleh Audrey. Semuanya dalam keadaan baik - baik saja. Bahkan saat cek darah dan melakukan serangkaian pemeriksaan, tidak di temukan masalah ataupun penyakit yang berbahaya. Tapi yang membuat dokter tidak mengerti , jika sedang di rumah sakit kesehatan Audrey akan membaik. Tapi jika sudah kembali ke mansion, Audrey kembali merasakan kesakitan. Saking seringnya menginap di rumah sakit hingga membuat Audrey tidak bisa melanjutkan fisioterapi buat kesembuhan kakinya.
Rina sudah minta pada Audrey agar ia di rawat saja lagi di rumah sakit hingga dia sembuh total. Tapi karena kata dokter ia tidak mengidap penyakit apapun, Audrey lantas menolak anjuran Rina. Ia sudah mulai bosan dan lelah, harus terus - menerus menerima suntikan di tubuhnya.
Audrey akhirnya memutuskan untuk di rawat di mansion saja dan sesekali dokter datang untuk melihat kondisinya. Karena ia yakin, kondisinya akan membaik.
Anehnya sejak Audrey memutuskan untuk tidak pergi kerumah sakit lagi, kesehatannya sedikit membaik.
Selain Rina, sekarang Lily ikut merawat Audrey dengan telaten. Meski awalnya Rina sempat menolak Lily untuk ikutan merawat Audrey tapi ia terpaksa menerima karena Audrey mengatakan ia gak enak kalau setiap hari terus merepotkan Rina. Apalagi sejak Rina mulai masuk kuliah. Audrey sering melihat wajah Rina yang kelelahan, karena itulah Audrey meminta Lily membantunya.
Awalnya Rina ingin membatalkan niatnya untuk kuliah demi bisa menjaga Audrey. Tapi Audrey melarangnya. Ini semua demi masa depan Rina. Audrey gak ingin karena harus merawatnya, Rina mengorbankan impiannya untuk menjadi seorang sarjana.
Jadi jika Rina pergi ke kampus Lily yang akan menjaga dan membantu Audrey. Hal ini membuat Lily semakin dekat dengan Audrey.
Sedangkan Bella sesekali ikut menemaninya jika ia sudah pulang dari butik.
Ya, akhirnya Audrey menyetujui permintaan Bella untuk mengelola butik milik mommy nya.Tapi meski begitu, Bella masih tetap di bantu oleh asisten mommy yang sudah lebih mengetahui semua tentang butik.
Begitu juga dengan Dea dan Zia yang datang bergantian menjenguk Audrey. Meski belakangan ini Dea sudah tidak bisa terlalu sering mengunjungi Audrey karena sebentar lagi ia akan mengajukan skripsi nya.
" Eng ... itu non, saya gak enak bilangnya. Takutnya non Audrey gak percaya !" ujar Lily memasang wajah serba salah.
" Memangnya ada apa, Li ? Katakan saja. Kenapa kamu kaya takut gitu ngomongnya !" kata Audrey lalu mencoba duduk di - tempat tidurnya. Meski sedikit kesulitan tapi ia bisa melakukannya.
__ADS_1
" Itu non ... tadi saya melihat non Rina sedang menjual sesuatu di - toko perhiasan." wajah Lily kelihatan gugup saat mengatakan hal itu.
" Hah, toko perhiasan ? memangnya kapan kamu pergi keluar ? Bukankah kamu terus di kamar saya sejak tadi pagi. " kata Audrey dengan wajah gak mengerti.
" Maaf non ... karena saya lihat nona sedang tidur dengan lelap saya menitipkan nona pada mbak Nana sebentar karena saya harus pergi keluar untuk membeli beberapa bahan kue kesukaan nona yang sudah habis. Nah, di dekat toko bahan - bahan kue itu ada beberapa toko perhiasan.
Disitulah saya melihat non Rina sedang menjual perhiasan."
" Oh, mungkin Rina menjual perhiasan dari almarhum ibunya, untuk membeli sesuatu yang ia inginkan. "
" Oh, mungkin ya, non ... tapi yang membuat saya heran non Rina kenapa kelihatan gugup saat saya menghampirinya dan melihat perhiasan yang ingin ia jual."
" Hmm ... Rina gak enak karena kamu melihatnya sedang menjual
perhiasan itu. Dia takut kamu menyampaikan nya pada saya."
" Oh ... iya, ya non .... tapi perhiasannya bagus banget non. Saya gak tahu apa namanya, kaya yang sering non Audrey pake itu, Lo ... yang ada batu nya kilat - kilat gitu ! ".
" Eh, mungkin non ... saya gak tahu namanya. Saya hanya pernah membeli cincin emas. Itu pun cuma kecil gramnya ... hehehe."
" Hee ... terus Rina nya mana sekarang ? Apa dia gak pulang sekalian dengan kamu ?".
" Gak non, non Rina tadi bilang masih harus ke kampus lagi. Ada tugas yang harus ia kerjakan bersama teman nya."
" Oh ... ya, sudah kalau gitu saya mau rebahan lagi. Nanti tolong kamu bawakan pie buah yang kamu buat, ya Li ... ?" Audrey pun mulai merebahkan dirinya kembali .
" Baik, non ... !" sahut Lily menahan kesal karena Audrey gak termakan pancingannya.
Lily dengan menahan kesal keluar dari kamar Audrey. Padahal ia pikir Audrey akan terpancing tadi dan menanyakan perhiasan apa yang sudah di jual oleh Rina.
" Hmm ... sepertinya gue harus merubah strategi agar rencana gue jangan sampai gagal. Si l**p*h itu terlalu percaya dengan wanita kampung itu ! " ujar Lily menatap kesal ke arah pintu kamar Audrey.
__ADS_1
Sementara itu, Audrey yang hanya memejamkan mata saat Lily keluar dari kamarnya kembali membuka mata setelah ia tidak mendengar lagi langkah Lily.
" Kasihan Rina, ia pasti lagi butuh sesuatu untuk perlengkapan kuliahnya hingga harus menjual perhiasannya. Tapi jika aku tanyakan padanya pasti Rina akan mengelak, karena ia gak akan mau menerima bantuan dariku. Ya, sebaiknya aku pura - pura gak tahu saja kalau tadi dia sudah menjual perhiasannya." gumam Audrey.
Setelah mengambil keputusan untuk tidak bertanya pada Rina, akhirnya Audrey mulai menutup matanya. Ia selalu begini jika selesai meminum obat.
Sementara itu, Lily yang masih di selimuti perasaan kesal, bukannya berjalan ke arah dapur untuk mengambil pie pesanan Audrey, ia malah menuju kamar nya.
Lily lebih baik tiduran sejenak agar bisa menenangkan emosinya
dan bisa mendapatkan ide yang lebih bagus untuk mendepak Rina.
Percobaan pertamanya tadi sudah gagal. Padahal jika Audrey terpancing, Lily akan menunjukkan foto perhiasan yang ia tuduh di ambil oleh Rina. Padahal ia yang dulu mengambilnya dan sengaja menaruh di dalam tas pakaian milik Rina, agar ia ketahuan mencuri.
Tapi waktu itu ia membatalkan niat untuk menjebak Rina, karena tidak pernah ada waktu yang pas untuk melakukan rencananya. Hingga akhirnya Lily mengambil kembali perhiasan itu.
Sekarang saat ia menemukan ide lain untuk menjebak Rina, tapi Audrey malah tidak berminat untuk bertanya lebih jauh tentang perhiasan yang sudah di jual oleh wanita kampung itu.
Sembari mengetuk - ngetuk dahinya, Lily memikirkan cara lain agar kali ini Rina tidak akan bisa lolos dari jebakan yang ia buat.
" Hmm ... sebaiknya kali ini gue mengajak Bella untuk membantu agar Audrey lebih percaya !" ucap Lily lalu tersenyum dengan licik setelah ia berhasil mendapatkan ide bagus.
Lily kemudian bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke dapur untuk menyiapkan pie buah yang ia buat khusus untuk Audrey.
Sementara menunggu Audrey bangun, Lily menikmati pie buah buatannya dengan secangkir teh hangat. Ia tersenyum melihat mansion yang sebentar lagi jadi miliknya dan Reno.
" Apa Reno akan datang lagi sore ini ? Sudah lama gue gak datang ke apartment nya gara - gara harus mengurus wanita c***t itu !" umpat Lily kesal membayangkan wajah Audrey.
Ya, Lily harus cukup puas hanya sekedar melihat dan bersentuhan tangan jika Reno datang ke mansion melihat Audrey. Mereka tidak bisa melakukan lebih dari itu disini.
" Sabar, Li ... sebentar lagi Lo akan bisa mempunyai banyak waktu untuk menikmati waktu berduaan dengan Reno !" ujar Lily pada dirinya sendiri.
__ADS_1
**********************************