
" Kali ini harus berhasil ! Jangan sampai wanita kampung itu masih tetap berada disini !" ujar Lily dengan senyum smirk di wajahnya .
" Tenang aja, gue juga udah bosan lihat wajahnya yang kampungan itu !" sahut Bella.
" Ya, udah ... sekarang Lo ajak wanita c***t itu pergi biar rencana kita bisa di laksanakan hari ini." Lily terlihat sudah sangat gak sabar.
" Okey ... !" sahut Bella sembari mengancingkan jempol.
Perlahan Bella keluar dari kamarnya, dan melangkah dengan tenang ke kamar Audrey. Sedangkan Lily masih tetap berada di kamar Bella. Ia masih harus menunggu di sana sebentar. Baru setelah semuanya aman, Lily akan keluar.
" Hmm ... hari ini harus berhasil ! Kalau gak sia - sia saja gue ngasi keringanan buat si ca**t itu selama beberapa hari ini. " gumam Lily sinis.
Ya, demi melancarkan rencananya, Lily tidak memberi obat ramuan pada Audrey agar kondisi nya membaik selama beberapa hari ini. Ia sudah mulai bisa memakai pakaiannya sendiri lagi, tangan dan tubuhnya sudah tidak terasa lemas, meski kakinya tetap saja belum bisa ia gerakkan. Perutnya juga sudah tidak terasa nyeri, hingga ia bisa makan dengan normal.
Seringai mengerikan terbit di - wajah Lily membayangkan bahwa sebentar lagi perempuan kampung itu sudah tidak bisa lagi menemani Audrey. Hal ini akan mempermudah jalannya yang ingin menguasai kekayaan Audrey dan sekaligus menyiksanya.
Sudah cukup dia mengalah belakangan ini karena harus melihat dan membiarkan Reno berdekatan dengan Audrey.
Bahkan terkadang tanpa di sadari oleh Reno, Lily bisa melihat tatapan mengagumi di mata Reno saat menatap Audrey. Padahal keadaan Audrey sekarang sudah tidak sama seperti ketika ia masih sehat.
" Kita jadi keluar hari ini kan Bel ... ?" tanya Audrey dengan senyum di bibirnya.
" Tentu saja ! Biar Lo gak bosan karena terus - terusan di kamar, Drey ... ! Tapi badan Lo beneran udah enakan, kan ... Drey ?" Bella pura - pura perhatian agar Audrey yakin dengan niat baiknya.
" Ya, gue senang, Bel ... karena kesehatan gue udah semakin membaik. Jika terus begini, gue seperti nya bisa mulai terapi lagi." kata Audrey terlihat bersemangat.
" Hahaha ... kasihan ! silahkan aja Lo bermimpi tapi sayangnya Lo akan jadi perempuan ca**t dan gak berguna selamanya !" ujar Bella dalam hati menertawakan nasib Audrey.
" Pasti ! Lo pasti akan sembuh, Drey. Semangat .... !" tapi dengan manis Bella mengeluarkan perkataan palsu dari mulutnya.
Bella benar - benar sudah di - butakan oleh keserakahan dan iri hati hingga tidak mengingat kebaikan yang di berikan Audrey padanya. Padahal ia pernah tersentuh dan merasa menyesal karena melihat ketulusan Audrey, walau hanya sekali.
Tapi setelah ia bekerja sama dengan Lily dan di beritahu kalau Audrey akan di buat ca**t untuk selamanya, Bella malah semakin semangat.
Karena rasa iri dan dendam yang selama ini Bella pendam akhirnya bisa terbalas.
Audrey akan menjadi wanita yang tidak sempurna bukan lagi jadi wanita yang selalu di kagumi setiap orang.
Awalnya sebelum Bella akhirnya memutuskan untuk bekerja sama dengan Lily, ia mengancam Lily dengan video yang sempat beberapa kali direkamnya ketika
Lily menaruh obat di makanan buat Audrey. Karena waktu itu ia masih berharap dengan cinta nya Reno. Tapi setelah ia pikirkan kembali, apa gunanya cinta jika Reno saja sudah tidak pernah menganggapnya lagi.
Sikap Reno akan membaik jika ia membutuhkan sesuatu untuk melancarkan rencananya buat mendekati Audrey. Tapi setelah itu ia akan melihat Bella dengan tatapan jijik dan menghina.
Walaupun sering Bella mencoba untuk meluluhkan hati Reno, tapi Reno mengacuhkannya. Hal inilah yang memicu Bella untuk menerima tawaran dari Lily untuk bekerja sama. Lily menjanjikan pada Bella akan memberikan butik itu jadi miliknya dan membagi sebagian perhiasan dan barang - barang Audrey untuknya. Ia juga boleh memiliki mobil yang ia sukai. Lily juga menjanjikan akan memberi sejumlah uang setiap bulannya buat Bella. Belum lagi Lily tetap mengizinkan dirinya untuk tetap tinggal di mansion jika rencana mereka berhasil. Asalkan Bella tidak berharap untuk bisa bersama dengan Reno lagi.
Ia harus benar - benar melupakan Reno.
Tentu saja Bella setuju dengan semua kesepakatan yang di - berikan Lily. Yang paling penting dalam hidupnya ia tidak mau hidup dalam kemiskinan lagi.
Butik dan perhiasan Audrey sudah cukup bisa menjamin kehidupan nya kelak. Sedangkan uang bulanan dari Lily bisa ia gunakan untuk bersenang - senang.
Memikirkan hal ini tanpa sadar kalau Audrey berada di dekatnya, bibir Bella tersenyum lebar.
" Bel, makasih atas semangat yang Lo berikan buat gue. Kita jadi pergi gak ?" tanya Audrey yang melihat Bella tersenyum.
" Hah, oh ... jadi, dong ! Gue udah gak sabar bisa jalan lagi dengan Lo." jawab Bella berusaha menutupi kegugupannya.
" Ayo, sini gue aja yang dorong kursi roda, Lo Drey ... pokoknya Lo gak boleh menolak. Gue tahu Lo udah bisa tapi sebagai sahabat gue pengen melakukan sesuatu yang berarti buat Lo ... !" ujar Bella sembari tersenyum lembut.
" Karena sebentar lagi harta Lo akan jadi milik gue ! " sambung Bella dalam hati sambil mentertawakan kebodohan Audrey.
" Makasih Bel ... !" kata Audrey dengan tulus.
" Hmm ... Ayo !" Bella pun mulai mendorong kursi roda Audrey dan membawanya keluar dari kamar.
__ADS_1
Setelah masuk ke dalam lift, mereka berdua pun sampai di - lantai bawah dan menuju garasi mobil Audrey.
" S**l ... kalau gak gara - gara mau mengusir perempuan kampung itu . Males banget gue jalan dengan dia ! Nyusahin ... !" umpat Bella kesal dalam hati, sembari melirik Audrey karena tadi ia harus bersusah - payah mengangkat badan Audrey ke - dalam mobil.
Bella sengaja memacu mobil yang di kendarai nya dengan kencang demi meluapkan emosinya.
Setelah memakan waktu setengah jam, Bella dan Audrey pun sampai di pantai. Hal ini sesuai dengan keinginan Audrey yang ingin menikmati suasana pantai. Sudah cukup lama ia hanya terkurung di kamar dan mansion. Jadi, Audrey ingin menghirup udara segar sepuasnya hari ini.
" Lo senang, Drey ... !" tanya Bella pura - pura perduli karena ia melihat senyum di wajah Audrey.
" Ya, gue senang banget, Bel !" sahut Audrey sementara matanya terus menatap ke arah laut.
" Cih, dasar ca**t ! apa bagusnya kesini. Enakan shopping !" umpat Bella dalam hati.
" Syukurlah, gue juga senang kalau melihat Lo bahagia seperti ini !" lagi - lagi Bella mengeluarkan kata yang berlainan dengan yang ada di hatinya.
Sementara itu, Lily mulai menjalankan rencana berikutnya.
Ia pun menunggu kedatangan Rina yang beberapa menit lagi pasti akan sampai di mansion setelah ia selesai kuliah.
" Sekarang kamu bawa pulang si ca*** itu ! Sudah cukup dia bersenang - senang di luar !" Lily mengirimkan pesan pada Bella.
" Okey ... !" balas Bella singkat.
" Drey ... kita udah bisa pulang sekarang ? Gue gak mau Lo sakit lagi kalau kelamaan kena angin pantai. " ujar Bella sok perhatian.
" Sebentar lagi, ya Bel ... gue masih pengen disini !" Audrey yang masih sangat menikmati keindahan pantai menolak perkataan Bella.
" Tapi, Drey kita sudah dua jam disini. Kesehatan lo baru membaik. Gue janji, deh ... kapan gue ada waktu kosong lagi kita akan pergi ke pantai manapun yang Lo inginkan atau kalau perlu sekalian kita pergi ke Bali bareng yang lain." Bella berusaha merayu Audrey.
Mendengar ini, Audrey pun jadi semangat.
" Okey deh ... gue setuju. Lo janji ya !".
" Tapi sayangnya setelah Lo pulang, Lo gak akan bisa kemana - mana lagi ! Karena ini hari terakhir Lo bisa menghirup udara bebas !" sambung Bella dalam hati.
Perlahan akhirnya mobil yang membawa Audrey pun meluncur di jalanan meninggalkan pantai.
Mata Audrey tak berhenti berbinar membayangkan jika ia kembali sehat, hal pertama yang akan dilakukannya membawa sahabat - sahabatnya pergi liburan ke luar negeri ke negara yang terkenal dengan pemandangan dan pantainya yang indah.
Sementara itu Lily langsung menghampiri Rina dengan wajah panik saat ia melihat mobil yang di pakai oleh Rina sudah terparkir di garasi.
" Non ... Non Rina ! Tolong non Audrey ... !" ujar Lily dengan langkah tergesa - gesa.
Mendengar nama Audrey di sebut oleh Lily, Rina sedikit terpancing.
" Ada apa dengan Audrey ? Katakan ... !" kata Rina berusaha tetap tenang sembari meneliti wajah Lily.
" Tadi, non Audrey telepon. Nona minta tolong agar saya segera menyampaikan pada non Rina untuk menjual beberapa perhiasannya !" ujar Lily mengerahkan segenap kemampuan yang ia punya agar Rina yakin.
" Menjual perhiasan nya ? Untuk apa ? " tanya Rina sambil mengerutkan dahinya.
" Itu non, tadi non Audrey minta tolong sama non Bella untuk di - bawa ke kantornya. Tapi rupanya di sana, karyawan sedang demo minta di bayarkan gaji mereka yang sudah di tunggak selama beberapa bulan ini." Lily begitu lihai dalam mengatakan kebohongan.
" Hah ....? Tapi kenapa Audrey gak langsung menghubungi saya ?" tanya Rina meski terkejut tapi masih belum terlalu yakin dengan perkataan Lily.
" Saya gak tahu, non ... ! Mungkin karena panik, non Audrey teleponnya ke mansion. Tadi juga sepertinya handphone non Audrey, batere nya sudah mau habis. " Lily dengan lihai memberikan alasan yang tepat.
" Hmm ... benar juga !" gumam Rina pelan.
" Jadi, Audrey menyuruh saya melakukan apa ?" tanya Rina.
" Seperti saya bilang tadi, non ... non Rina disuruh menjual beberapa perhiasan punya non Audrey. Baru setelah itu uangnya di bawa ke kantor biar non Audrey bisa bayar gaji karyawannya. Gitu non tadi pesannya !" wajah Lily benar - bener sangat meyakinkan saat mengatakan ini.
" Apa dia gak bohong ? Tapi wajahnya memang kelihatan panik ! " Rina membatin tapi masih belum beranjak dari hadapan Lily.
__ADS_1
" S**l ... ! kenapa perempuan kampung ini masih belum yakin juga !" umpat Lily geram dalam hati.
" Non Rina ... tolong lakukan secepatnya. Non Bella bilang mereka gak di bolehkan keluar dari kantor kalau belum membayar gaji karyawan nya !" Lily lebih mendramatisir agar Rina percaya.
" Hmm ... biar saya hubungi Audrey dulu !" kata Rina sembari menatap Lily. Ia sengaja karena ingin melihat perubahan yang terjadi pada wajah nya.
" Ya, silahkan non ... !" sahut Lily percaya diri karena ia sudah memikirkan hal itu pasti akan terjadi. Oleh karena itu Lily sudah berpesan pada Bella untuk menonaktifkan handphone Audrey. Karena Rina gak akan semudah itu percaya padanya. Lily juga tahu kalau Rina mencurigainya.
Dahi Rina kembali berkerut ketika ia tidak bisa menghubungi nomer Audrey. Ia mencoba lagi, hingga beberapa kali tapi tetap gak aktif.
" Apa jangan - jangan kali ini Lily gak berbohong ? Kalau memang apa yang di katakan Lily memang benar, kasihan Audrey. Dia baru saja sedikit membaik." ucap Rina dalam hati dengan wajah cemas.
Lily mengulum senyum smirk melihat wajah Rina yang mulai terlihat khawatir.
" Kenapa non ? " tanya Lily.
" Hmm ... gak papa. Ya, sudah saya ke kamar Audrey dulu. Kamu tunggu disini, siapa tahu Audrey atau Bella menghubungi lagi." kata Rina bergegas berjalan meninggalkan Lily.
" Baik, non ... !" sahut Lily berusaha terlihat tenang. Padahal ia sudah hampir berteriak keras karena Rina akhirnya berhasil ia bodohi.
Begitu Rina sampai di kamar Audrey, karena ia gak tahu yang mana harganya yang paling mahal. Rina masih menimbang perhiasan mana yang harus ia bawa buat di jual. Lalu setelah lama berpikir ia mengambil sejumlah perhiasan dan memasukkannya ke dalam tas.
Tapi karena Rina takut gak cukup, Ia pun melihat kembali.
Rina gak tahu kalau Audrey dan Bella baru saja tiba di mansion.
" Non Audrey ... !" ujar Lily dengan wajah pucat.
" Kamu kenapa, Ly ?" tanya Audrey heran.
" Anu ... anu ... itu non !" sahut Lily gugup.
" Coba kamu tarik nafas dulu biar tenang ! Baru setelah itu cerita ada apa ?" kata Audrey lembut.
Lily pun melakukan seperti yang di katakan Audrey.
Bella mengulum senyum melihat keahlian Lily dalam berakting.
" G**a ! wanita ini benar - benar berbahaya. Untung saja gue setuju kerja sama dengannya. Kalau gak, gue bisa habis juga di buatnya !" gumam Bella dalam hati.
" Non Rina ... !".
" Ya, kenapa dengan Rina ?".
" Itu, non ... tadi kebetulan ketika saya lagi naik ke atas buat memanggil non Rina buat makan siang, pintu kamar non Audrey gak tertutup rapat terus saya lihat non Rina sedang memegang beberapa koleksi perhiasan non Audrey sambil tersenyum." dengan sangat licik Lily merangkai kata agar Audrey gak curiga.
" Oh, mungkin Rina hanya sekedar memegang. Kalaupun ia mau memakai nya, saya juga melarang. " kata Audrey dengan santai.
" Tapi, non ... saya lihat ada yang sudah dimasukkan ke dalam tas nya non Rina ... !".
" Hmm ... !" Audrey mengerutkan keningnya mendengar perkataan Lily.
" Kamu jangan sembarangan ngomong. Gak mungkin Rina berniat mencuri perhiasan Audrey . Rinanya sekarang mana !" tanya Bella sengaja ikut menimpali agar Audrey terpengaruh.
" Masih di kamar nya non Audrey." sahut Lily.
" Ya, udah Drey, sekarang kita ke kamar Lo ... jangan dengerin omongan Lily. Mungkin dia cuma salah paham aja. Gak mungkin juga Rina mau mengambil perhiasan Lo ! " Bella memainkan perannya dengan baik.
" Ya, kita ke kamar Bel ... !" sahut Audrey. Meski hatinya mendadak gelisah tapi Audrey berusaha agar terlihat biasa - biasa saja.
Bella pun dengan semangat mendorong kursi roda Audrey memasuki lift. Ia ingin melihat wajah perempuan kampung itu saat di tuduh mencuri perhiasan sahabatnya sendiri.
Sementara Lily mengikuti mereka dari belakang.
**********************************
__ADS_1