
" Rin ... Lo mau jual rumah ini sama siapa ? " tanya Audrey yang sedang menanti Rina memasak di dapur.
" Tadi pagi Rifky sudah menawarkan dengan Pak RT dan Alhamdulillah, Pak RT mau membelinya, buat anaknya kata Bu RT. Mungkin beliau kasihan melihat kami, jadi caranya membantu dengan membeli rumah ini. " sahut Rina yang tetap fokus mengaduk masakan.
" Oh, syukurlah kalau begitu.
Jadi sekarang kalian bisa tenang meninggalkan kampung ini."
" Iya, Drey ... buat apa kami harus mempertahankan rumah ini, Ibu juga sudah gak ada. Sebenarnya dulu gue juga udah pernah meminta Ibu untuk menjual rumah biar Ibu dan Rifky pindah ke kota aja. Tapi Ibu gak mau, Ibu bilang kasihan bapak kalau sendirian disini. Sekarang Ibu pasti sudah tenang karena bisa menemani bapak. Makanya, gue dan Rifky bisa mengambil keputusan untuk menjual rumah ini.'
" Hmm ... jadi rencananya kalian nanti mau beli rumah di daerah mana, Rin ? ".
" Di daerah tempat kos gue ada sebuah rumah kecil yang udah gak di tempati lagi sama yang punya, karena Ibu si pemilik rumah itu ikut tinggal dengan anaknya. Rencananya rumah itu saja, yang kami beli."
" Memangnya rumah itu dijual ? ".
" Dulu, pernah gue iseng nanya rumahnya mau di jual apa gak ? sama anak Ibu itu, karena seminggu sekali pasti dia datang buat menyuruh orang membersihkan rumah Ibunya.
Mbak itu bilang, memang rumah Ibunya mau dijual, karena Ibunya gak akan tinggal disana lagi.
Dia bilang, Ibu itu sudah mulai pikun, jadi gak mungkin tinggal sendirian."
" Jadi, begitu kita pergi dari kampung Lo, Lo berniat langsung membelinya ? ".
" Iya, Drey ... gue takut uangnya habis kalau gak langsung di belikan rumah. Kasihan Rifky kalau kost sendirian, ia gak terlalu pintar masak."
" Iya, benar ... jauh, gak dari mansion gue ? ".
" Ya, lumayanlah, Drey ... tapi kan masih bisa di tempuh dengan naik angkot atau gojek."
" Hmm ... terus rencananya Rifky mau kerja di tempat Lo juga, Rin ... ?".
" Kalau memang masih ada lowongan di cafe, gue senang banget, karena bisa bareng kerjanya dengan Rifky. Tapi, kalau gak ada, ya terpaksa dia harus cari di tempat yang lain."
" Iya sih ... atau kalau gak biar Rifky kerja di perusahaan Daddy aja, nanti gue bicarakan sama asisten Daddy, gimana menurut Lo ? ".
" Maaf, Drey ... gak usah. Bukan gue gak mau menerima maksud baik dari Lo. Tapi gue ingin, Rifky juga tahu gimana rasanya berjuang.
Jadi dia bisa menjadi lebih kuat dalam menghadapi segala hal, walaupun mungkin nanti hal itu sangat membuatnya lelah."
" Okey, gue ngerti alasan Lo.
Gue pasti mendukung apapun yang menjadi keputusan Lo berdua. Tapi jangan pernah segan atau pun merasa gak enak, jika suatu saat Lo membutuhkan bantuan, elo harus datang ke gue. Begitu juga, gue ... jika suatu hari gue butuh pertolongan dari Lo dan Rifky, pasti gue akan minta bantuan dari kalian berdua.
Gimana, setuju kan ... ? ".
" Tentu saja gue setuju, gue dan Rifky pasti akan selalu siap buat membantu Lo, Drey ... ".
" Harus, Lo berdua kan saudara gue ... hehehe."
" Iya, Lo saudara gue, Drey ... ".
" Wah, asyik banget ngobrolnya, mbak ... lagi ngobrolin apa, sih ... ? " tanya Rifky yang tiba - tiba sudah di dapur bersama mereka.
" Gak ada, cuma ngobrolin tentang rencana kita setelah pergi dari kampung ini. " ujar Rina.
" Tapi, tadi sebelum masuk Rifky sempat dengar masalah bantuan, pertolongan, terus saudara ... maksudnya apa, mbak ... ? " tanya Rifky penasaran.
Rina dan Audrey tersenyum melihat ekspresi wajah Rifky yang terlihat lucu.
" Oh, itu ... biar mbak aja yang jelasin. " kata Rina.
Setelah itu, Rina pun mengulang kembali isi pembicaraannya dengan Audrey tadi, dan Rifky terlihat serius mendengarkannya.
" Benar, Drey ... sama seperti mbak Rina. Gue juga akan selalu siap buat membantu Lo, walaupun harus berkorban nyawa sekalipun." kata Rifky serius memandang Audrey setelah selesai mendengarkan Rina.
" Ih, amit - amit ... siapa juga yang minta Lo harus berkorban nyawa.
__ADS_1
Gak ada, ya .... gue mau kita bertiga selalu sehat dan sukses bersama - sama." sahut Audrey langsung membantah perkataan Rifky.
" Aamiin ... " ucap Rina dan Rifky bersamaan.
" Maksud gue, gue ikhlas ngelakuin apapun buat lo, Drey ."
jawab Rifky masih serius.
" Iya, ya ... makasih. Gue ngerti maksud Lo ... ". Audrey menjawab dengan raut wajah yang terlihat menahan senyum.
" Udah, sekarang kita makan, yuk .. lapar gue. " ujar Rina lalu segera menata masakan yang sudah di masaknya di meja makan.
" Ya, mbak ... Rifky juga lapar banget. " sahut Rifky semangat.
" Memangnya kamu habis dari mana, kog sampai kelaparan gitu ? " tanya Rina heran.
" Oh, tadi Rifky ketemuan sama teman - teman sekolah main bola terus sekalian pamitan. Mereka gak nyangka, loh mbak ... kalau kita mau pindah dari sini. " jawab Rifky.
" Terus mereka bilang apa ? " tanya Rina penasaran.
" Ya, mereka sedih mbak ... tapi mereka juga ngerti kalau kita pindah. Mereka tahu kalau Rifky pengen kuliah sambil kerja."
" Oh, baguslah .. teman - temanmu pada kuliah juga ? ".
" Sebagian ada yang kuliah, ada yang mau nerusin usaha bapaknya, ada juga yang sama kaya Rifky pengen cari kerja di kota."
" Kamu sudah punya kontak semua temanmu ? ".
" Sudah, mbak ... bahkan Rifky bilang sama mereka yang mau cari kerja di kota juga ... kalau belum punya tempat tinggal, Rifky
menyuruh mereka tinggal bersama kita kalau belum dapat pekerjaan. Kasihan, mbak ... biaya kost di kota kan mahal. Gak papa kan mbak ... ? " tanya Rifky setelah mengatakan niatnya pada Rina.
" Ya, gak papa ... malah mbak bangga dengan niatmu yang tulus membantu teman - temanmu.
Audrey yang sedang menikmati makanan yang di masak Rina, yang mendengar pembicaraan kedua kakak beradik ini merasa sangat kagum. Karena di tengah keterbatasan mereka, Rina dan Rifky masih bisa berniat membantu orang lain. Audrey kini merasa tidak menyesali keputusannya untuk menjadikan mereka berdua saudaranya.
Setelah mereka menyelesaikan makan siangnya, dan membersihkan semua peralatan yang mereka pakai buat makan, kini mereka bertiga kembali duduk , tapi sekarang duduk di luar bersama para bodyguard yang juga baru selesai makan.
Tak terasa hari sudah sore, sebentar lagi malam kedua akan di adakan. Setelah menyusun semua buat acara nanti malam dengan dibantu para bodyguard, kerjaan ini jadi lebih cepat selesai.
Audrey dan Rina terlihat puas, selain makanan yang mereka sediakan, ada juga kue sumbangan dari Buk RT dan beberapa tetangga dekat rumah Rina. Mereka pun bergantian membersihkan badan.
Begitu selesai shalat Maghrib, Mereka bertiga melihat kedua pamannya, bik Tuti datang lengkap bersama pasangannya masing - masing berikut anak - anak mereka. Rina dan Rifky saling melirik satu - sama lain.
Sedangkan Audrey merasa heran karena tidak melihat kehadiran Reno. Padahal ia semalam menginap di rumah bibinya Rina.
" Apa, mungkin dia sudah pergi ke proyeknya ? Berarti memang benar, dia datang kesini karena tersesat. " batin Audrey merasa bersalah karena sempat berpikiran buruk pada Reno.
Dengan tak tahu malu, mereka semua langsung duduk dan menyapa Audrey dan mengenalkan diri satu persatu. Bahkan Paman Rina terlihat jelas maksudnya, ia menyuruh Tono anaknya untuk duduk di samping Audrey.
" Begini, nak Audrey ... maksud kami kesini datang lebih cepat sebelum acara di mulai karena ingin nak Audrey mengenal lebih dekat anak saya dan keponakan - keponakan saya. Semoga mereka berempat bisa menjadi sahabat nak Audrey, seperti Rina." ucap Pak Tarmo dengan sikap sopan.
Rina dan Rifky hanya memandang mereka semua dengan tatapan sinis. Mereka malas mencari ribut, karena sebentar lagi pasti warga mulai berdatangan.
" Oh, begitu ya Pak ... saya tentu saja bersedia. Mereka kan saudara nya Rina berarti teman saya juga." jawab Audrey juga dengan sopan.
Padahal Audrey sudah kurang respek melihat sikap mereka saat ketemu pertama kali. Tapi karena mereka lebih tua usianya dan juga Pamannya Rina, mau gak mau ia harus tetap bersikap sopan.
" Saya senang sekali, karena nak Audrey bersedia menerima anak - anak saya menjadi teman nak Audrey. Semoga kalian bisa menjadi teman dekat, terutama Tono, anak saya. Dia belum memiliki pasangan, mana tahu berjodoh ... hehehe." kata Pak Tarmo dengan tak tahu malunya.
" Kalau masalah itu, saya tidak bisa, Pak ... saya sudah punya calon suami seperti yang pernah di katakan Rina kemarin ... jadi saya tidak mungkin bisa berjodoh dengan Tono anak bapak." jawab Audrey tegas namun tetap sopan.
Wajah Tarmo dan yang lainnya langsung memucat mendengar jawaban yang di berikan Audrey.
Mereka yang terlalu percaya diri, karena menganggap Audrey terlihat baik pada Rina dan mereka juga lumayan kaya di kampung ini, jadi mengira ada kemungkinan Audrey bisa bersama Tono.
Rina juga Rifky tidak bisa menahan senyuman di wajahnya, begitu melihat wajah - wajah mereka berubah menjadi pucat, menahan malu.
__ADS_1
" Oh, begitu ya nak Audrey ... tapi kan masih calon belum pasti menikah. Jadi kita belum tahu, siapa jodoh nak Audrey, nantinya .... " ucap Pak Tarmo lagi tetap memaksakan kehendaknya.
" Bapak memang benar, kita memang belum bisa tahu siapa akhirnya jodoh kita. Tapi dalam kasus saya berbeda, sejak kecil saya sudah dijodohkan dengan calon suami saya, apalagi perusahaan keluarga kami sudah lama bekerja sama, jadi gak ada kemungkinan untuk membatalkan pernikahan diantara saya dan calon suami saya. Begitu maksud saya, Pak ... " jawab Audrey menjelaskan dengan tetap sikap sopan nya, bahkan ia memberikan senyuman manis di bibirnya.
Pak Tarmo langsung terdiam mendengar perkataan Audrey. Ia bingung harus mengatakan apa lagi. Sedangkan Tono yang begitu melihat kecantikan Audrey, langsung merasa tertarik dan bertekad untuk mendapatkannya.
" Kalau begitu, bagaimana jika nak Audrey membantu anak saya Desi dan dua keponakan saya ini, Dini dan Tina untuk bisa menjadi model terkenal seperti nak Audrey. Bagaimana, bisa kan ... ? "
tanya Bik Tuti mengatakan niatnya, tanpa perduli dengan raut wajah mas nya Tarmo yang masih pucat dengan penolakan dari Audrey, terhadap Tono.
Baru saja Audrey ingin menjawab pertanyaan bik Tuti, Rina langsung menyela.
" Aduh, bik ... kalau mau minta tolong itu, ... mbok ya ngaca dulu kenapa ... Bibi lihat sendiri perbedaan wajah dan tinggi Audrey dengan Desi anak bibi.
Apa pantas mereka di bandingkan dengan Audrey, teman saya ini ...?" ucap Rina dengan kasar.
Rina merasa malu pada Audrey karena melihat sikap keluarganya, yang memang sudah gak ada urat malunya lagi.
" Kog, kamu yang sewot, Rin ... atau jangan - jangan kamu takut kalau kami nantinya bisa lebih akrab dengan Audrey. Kamu takut, ya ... gak bisa memanfaatkan kekayaannya lagi. " tukas Desi dengan nada kasar.
" Gue takut ? Silahkan saja kalau memang Audrey mau berteman dengan kalian. Tapi, Lo jangan seenaknya bicara, kalau gue manfaatin kekayaan Audrey ... atau jangan - jangan Lo sama keluarga lo yang punya niat kaya gitu .... ! " bentak Rina marah.
Dia sudah gak bisa menahan emosi lagi jika menyangkut harga dirinya.
" Kamu ini benar - benar anak kurang ajar, ya Rina ... Lo, la, lo, gue ... ngomong mu itu kasar sekali. Ternyata sejak kerja di kota kamu semakin gak benar." Tuti memarahi Rina dengan geram.
" Maaf, buk ... apa yang di katakan Rina memang benar. Dia tidak pernah memanfaatkan saya sama sekali. Saya kan sudah pernah bilang sama Ibu dan Bapak kemarin. Jadi wajar kalau Rina marah. Terus mengenai permintaan Ibu yang ingin Desi dan yang lain menjadi model, yang di katakan Rina juga benar ... saya tidak bisa membantu, tinggi mereka tidak memenuhi syarat untuk menjadi seorang model profesional. " Ujar Audrey sopan meski sebenarnya menyindir mereka semua.
Karena Tuti dan yang lain keburu merasa sangat malu dengan perkataan Audrey, Tuti demi menutupi rasa malunya malah mengatakan hal yang semakin menunjukkan kebodohannya.
" Memangnya tinggi nak Audrey berapa ? Desi sudah termasuk tinggi loh, tingginya 1,58 cm ... di antara Dini dan Tina, anak saya yang paling tinggi. Itu gak termasuk si Rina ini, dia itu pemalas jadi sering tiduran, makanya badannya lebih tinggi dari Desi, anak saya. " ucap Tuti dengan percaya diri.
" Saya tingginya 1.78 cm buk ... " jawab Audrey singkat.
" Tuh, dengar ... tinggi model itu harus seperti Audrey biar cocok memakai baju apa saja. " sahut Rina sambil terkekeh kecil.
Audrey dan Rifky yang sejak tadi hanya diam mendengarkan terpaksa menahan tawa mereka.
Tuti yang mendengar tinggi badan Audrey langsung terdiam, ia tidak menyangka Audrey setinggi itu. Memang ia pernah melihat saat Audrey berdiri waktu itu, tubuhnya sangat tinggi. Tapi ketika itu, ia kira Audrey sama seperti anaknya yang terlihat tinggi jika sedang memakai high heels, setinggi sepuluh atau lima belas senti meter.
" Kenapa diam, bik ... sudah sadar perbedaannya dimana ? Mimpi itu boleh, bik ... tapi jangan ketinggian. Takutnya kalau jatuh, nanti sakit banget ....itukan yang dulu sering kalian katakan saat aku ingin kuliah." hina Rina puas bisa membalas rasa sakit di hatinya.
Melihat ini Tarmo merasa sangat tersinggung, ia mengajak semua keluarganya untuk pulang. Jelas sekali niat mereka datang bukan karena ingin menghadiri acara pengajian di rumah Rina, tapi demi mendekati Audrey.
" Sudah ... kita pulang saja. Buat apa kita datang kalau tidak dihargai." ujar Tarmo marah.
" Tapi, Tono masih mau di sini, Pak bersama dik Audrey ... " kata Tono sambil memandang ke arah Audrey.
Tapi Audrey pura - pura tak melihatnya.
" Tidak, kamu juga pulang. Dia sudah punya calon suami. Buat apa, kamu masih disini." bentak Tarmo pada anaknya.
" Tapi, pak ... " ucap Tono bermaksud ingin membantah lagi perkataan bapaknya, tapi dengan cepat di potong Tarmo.
" Pulang, bapak bilang ... kalau kamu ngeyel, gak usah pulang ke rumah sekalian." ancam Tarmo dengan wajah marah.
Terpaksa, walau sebenarnya Tono, dan adik - adik sepupunya masih ingin di sini tapi mereka gak berani membantah perkataan Pak Tarmo. Pak Tarmo terkenal kejam, ia tidak pernah main - main dengan ucapannya.
Dengan langkah berat, mereka mengikuti langkah Tarmo keluar dari rumah Rina. Tono bahkan sempat menoleh kebelakang lagi untuk melihat wajah cantik Audrey sebelum pulang.
**********************************
" Selamat Hari Raya Idul Adha buat yang merayakan ... 🙏🙏
* Mohon dukung Author terus ya ...
* Baca juga novel Author yang berjudul " Terpaksa Menikah dengan Tuan Arrogant " ... semoga kalian menyukainya.
__ADS_1
* Jangan lupa like, komentar yang baik dan positif, Vote dan Hadiah yang banyak.
* Buat yang sudah membaca dan memberikan like seta komentarnya saya ucapkan Terima Kasih ...🙏🙏😍😘