Cinta Dan Dendam Audrey

Cinta Dan Dendam Audrey
Episode 62


__ADS_3

Semua berkas yang di minta Audrey kini sudah berada di mejanya. Tepat sebelum jam makan siang, seperti yang tadi dikatakannya di ruang meeting.


Audrey dengan sangat serius membaca dan mempelajari semua laporan yang terima.


Tapi ia tidak menemui keganjilan sedikitpun sejauh ini.


Ia yakin, laporan keuangan dan semua berkas yang diterimanya ini sudah di manipulasi terlebih dulu, sebelum di berikan kepadanya atau memang sudah sejak lama laporan keuangan seperti ini. Karena Daddy nya terlalu sibuk dengan urusan perusahaannya yang lain dan masalah orang yang ingin mencelakakan hidupnya. Jadi, ia tidak begitu fokus pada masalah keuangan di perusahaan ini.


Tapi jikapun begitu, gak mungkin juga perusahaan bisa menurun drastis secepat ini, seperti yang mereka katakan tadi. Harga saham mereka langsung anjlok setelah berita kematian orang tuanya. Keuangan perusahaan bahkan tidak dalam keadaan baik.


Rina yang baru saja masuk keruangan nya hanya bisa menghela nafas berat begitu melihat Audrey belum menyentuh makan siangnya. Sedangkan hari sudah sore. Bahkan Audrey tidak menyadari jika Rina sudah berada di ruangannya.


Perlahan Rina mendekati meja Audrey.


" Drey ... Lo bisa melanjutkan membaca semua berkas itu nanti.


Sekarang sebaiknya elo makan terlebih dulu. Makanan Lo udah sampai dingin gitu. Memangnya elo mau sampai jatuh sakit ? ".


ujar Rina dengan nada prihatin melihat wajah Audrey yang kelelahan.


Audrey yang mendengar suara Rina segera mendongakkan kepalanya. Ia tersenyum melihat


Rina yang menatapnya dengan tatapan khawatir.


" Bentar lagi, Rin ... masih banyak


berkas yang belum gue lihat.


Nanti aja, gue makannya." jawab


Audrey tersenyum kecil.


" Gak, Lo harus berhenti sekarang.


Lo tahu ini udah jam berapa sekarang !" ujar Rina sembari menggeser berkas yang sedang


di lihat Audrey dengan serius.


Audrey melihat Rina dengan pandangan gak terima.


" Jam berapa rupanya ?" tanya


Audrey yang tidak menyadari kalau hari sudah sore dan sebentar lagi akan tiba waktunya


jam pulang kantor.


" Lo lihat aja sendiri jam tangan yang Lo pakai !" sahut Rina.


Audrey melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya dan ia tidak percaya kalau sudah pukul lima.


" Kenapa, baru sadar Lo kalau udah sore ?" ujar Rina.


" Kog udah pukul lima aja ?


Perasaan baru aja gue nerima


semua berkas ini. " ucap Audrey


gak yakin.


" Ya, udah pukul lima dan sebentar


lagi waktunya pulang. Jelas aja elo gak merasa, karena elo terlalu


sibuk dengan berkas - berkas itu."


" Hee, ya udah ... biar gue selesaikan sedikit lagi, baru setelah itu kita pulang."


" Gak ... biar kita bawa pulang aja


semua berkas ini ke mansion agar elo dan gue bisa membacanya


di sana. Sekarang yang paling penting, Lo harus makan."


" Tapi, Rin ... gue belum lapar."


" Jangan cari alasan atau Lo memang mau sakit terus gak bisa datang ke perusahaan lagi. Pokoknya udah selesai, kita pulang agar Lo bisa makan


di mansion. Kalau Lo menolak,


gue gak akan bakalan mau besok ikut ke perusahaan lagi !" ancam


Rina.


" Iya deh ... gue baru tahu, Lo bisa


bawel juga ... hehehe." ucap Audrey tertawa melihat Rina.

__ADS_1


" Iyalah, belum tahu aja elo ... hahaha." jawab Rina tertawa juga


karena mendengar omongan Audrey.


" Ya udah, biar gue bereskan dulu


semua berkas ini." ucap Audrey.


" Biar gue aja."


" Okey, eh, tapi nanti kita mampir dulu ke mall, Rin ... ada yang mau gue beli."


" Okey, deh bu boss."


" Hahaha ... apaan sih Lo."


Setelah Rina selesai membereskan semua berkas, mereka berdua segera keluar dari ruangan Audrey.


Vina yang melihat Audrey sudah keluar dari ruangan, bangkit dari


tempat duduknya.


" Udah mau pulang, Bu Audrey ?"


ucap Vina kembali berakting seperti yang diinginkan Audrey.


" Ya, kamu juga sudah boleh pulang. " kata Audrey.


" Baik, Bu ... Terima kasih." jawab Vina tersenyum kecil.


" Hmm ... Ya. " ujar Audrey datar sembari berjalan bersama Rina, meninggalkan Vina yang masih harus membereskan mejanya sebelum pulang.


Saat Audrey dan Rina ingin masuk kedalam lift khusus buat para petinggi di perusahaan, suara asisten Daddy nya membuat Audrey terpaksa menghentikan langkahnya.


" Maaf, Bu Audrey. " ucap asisten daddy nya dengan sopan.


" Ya, ada apa ?" tanya Audrey dengan dingin.


" Apa Ibu sudah menemukan kesalahan atau kecurangan dari berkas yang diserahkan tadi ?"


tanya asisten ingin tahu.


" Hmm ... saya belum selesai


melihat semuanya." ucap Audrey


singkat.


" Hmm ... kamu tidak pulang ?" tanya Audrey karena ia melihat


asisten Daddy nya tidak membawa tas kerja yang biasa dipakainya.


" Sebentar lagi, Bu Audrey ... masih ada yang harus saya selesaikan. "


" Hmm ... baiklah. " ujar Audrey


singkat, kemudian masuk kedalam lift.


Begitu Audrey dan Rina sudah


di dalam lift, Rina segera menanyakan mengenai Rifky.


" Nanti aja, Rin ... kita ngobrol


di kamar gue. Okey !" ucap Audrey


menunjuk kearah cctv yang ada


di lift.


" Oh, Okey ... !" sahut Rina mengerti.


Begitu mereka berdua berada


di lobby, beberapa karyawan wanita yang juga ingin pulang karena jam kerja sudah selesai


berkerumun melihat kearah Audrey sambil bergosip.


" Eh, kau tau gak ... aku dengar nona Audrey sekarang beda banget sikapnya."


" Maksud kamu , beda kenapa ?".


" Sikapnya jadi dingin, gak ramah kaya dulu sewaktu masih ada Tuan Eldric. "


" Oh, kamu dengar dari mana ? ".


" Ada deh ... !".

__ADS_1


" Tapi sepertinya iya juga sih ....


biasanya nona Audrey, kalau datang kesini senyumnya ramah banget. Ini aku lihat, wajahnya jadi serius."


" Tuh kan ... berarti benar dong berita yang aku dengar. "


" Tapi mungkin ini karena nona Audrey masih sangat berduka


karena kehilangan Tuan Eldric dan Nyonya Elif, jadi sikapnya kaya gitu."


" Iya, menurut aku juga begitu.


Kehilangan orang tua memang adalah hal yang paling menyakitkan. Apalagi meninggalnya karena kecelakaan gitu. Kalau aku yang mengalami


sendiri, mungkin aku bisa stress.


Mana harus langsung menjalankan perusahaan lagi."


" Iya, sama ... aku juga bakalan kaya gitu."


" Iya, kita semua setuju sama omongan kalian berdua."


" Iyalah, bayangin aja ... usia Audrey masih muda, anak tunggal lagi. Biasanya dia hidup enak tanpa harus memikirkan perusahaan selagi ada Tuan Eldric . Nah, ini sekarang dia harus


mengelola dua perusahaan bahkan butik Nyonya Elif juga.


Siapa yang gak pusing coba ?"


" Iya ... masih belum hilang sedih karena orang tuanya meninggal,


tapi udah harus menjalankan perusahaan. Kalau aku sih jadi Audrey, pasti stress banget."


" Benar, belum lagi perusahaan


sedang mengalami masalah keuangan lagi !".


" Iya, eh ... tapi, emang benar ya berita yang aku dengar itu sebelum Tuan Eldric pergi lalu meninggal, beliau menjual beberapa perusahaan besarnya yang lain. Begitu juga dengan


butik Bu Elif, butik pusatnya dan beberapa cabangnya udah dijual juga ?" .


" Dari yang aku dengar begitu, sih ... mungkin sebelum pergi


perusahaan - perusahaan itu mengalami kerugian atau karena


Tuan Eldric seperti mendapat pertanda kalau dia bakalan meninggal. Jadi, biar nona Audrey tidak terlalu repot hanya dua perusahaan aja yang ditinggalkan buat dikelolanya. "


" Iya, mungkin seperti itu ... kayanya mereka udah tahu mau


pergi jadi melakukan hal itu."


" Tapi karena perusahaan - perusahaan lain dijual membuat


saham perusahaan ini jadi mengalami penurunan drastis."


" Gimana ya kalau tiba - tiba perusahaan ini bangkrut ? Kita mau kerja dimana ?".


" Makanya karena aku sudah memikirkan hal ini, aku sudah bersiap - siap untuk melamar pekerjaan di perusahaan lain.


Jadi, siapa tahu memang benar terjadi, aku sudah dapat kerja ditempat lain. "


" Benar juga kamu. Kenapa aku gak memikirkan sejauh itu, ya ... ?".


" Iya, ya ... aku juga mau melakukan hal yang sama kaya yang kamu lakukan, deh ... ".


" Aku juga, ah ... bahaya kalau sampai itu beneran terjadi ... bisa - bisa cicilan aku gak terbayar nanti kalau jadi pengangguran."


" Ya, udah ... kalau gitu mulai sekarang kita harus bersiap - siap.


Jangan sampai perusahaan ini bangkrut kita belum dapat pekerjaan."


" Iya ... besok kita bahas lagi.


Sekarang kita pulang, udah sore juga."


" Iya, yang punya perusahaan aja udah pulang dari tadi."


" Ya udah yuk ... ".


Sementara itu Agnes yang merupakan simpanan dari direktur keuangan di perusahaan ini tersenyum licik mendengarnya.


Ternyata beberapa karyawan sudah mulai panik atas keadaan yang dialami perusahaan.


Berita bagus ini akan Agnes sampaikan pada kekasihnya, agar dia semakin senang.


**********************************


Maaf, baru bisa Up sekarang ... 🙏🙏😘

__ADS_1


Semoga kalian suka.


Love You All ❤️❤️❤️


__ADS_2