
" Ayo, Rin ... kita harus segera berangkat ke bandara, biar bisa cepat menemui Ibu dan adik kamu." ucap Audrey yang sudah selesai berpakaian.
" Iya, gue juga udah selesai." sahut Rina semangat, karena hari ini, ia akan berjumpa dengan keluarga kecilnya.
" Koper kita udah di masukin ke bagasi sama pelayan. Buruan ..." Audrey pun melangkah keluar dari kamar di ikuti Rina.
" Bik, Audrey pergi dulu sama Rina." pamit Audrey melihat bik Imah yang memang sedang menunggunya.
" Iya, non ... di sana hati - hati, ya non." ucap Bik Imah lembut.
" Iya, bik ... bibi dan yang lain juga baik - baik disini, kalau ada perlu apa - apa hubungi Audrey langsung." ucap Audrey.
" Baik, non ... " jawab Bik Imah.
" Bik, saya juga pamit. " ucap Rina sopan.
" Ya, non Rina ... Semoga Ibu nona bisa segera sembuh." kata bik Imah sambil memberikan doa.
" Aamiin .... makasih bik atas doanya." ucap Rina dengan wajah terharu. Ternyata Audrey menceritakan sebab kepergian mereka pada bik Imah.
Mereka berdua segera masuk ke dalam mobil. Kali ini mereka naik mobil yang lebih besar dari mobil sport milik Audrey. Pak supir sudah bersiap di dalam untuk mengantar mereka hingga ke bandara.
" Drey, makasih ..." ucap Rina lagi, karena tak berhenti bersyukur dengan kebaikan Audrey padanya.
" Udah, ya ... sekali lagi Lo bilang kaya gitu, gue gak mau temenan lagi Ama Lo." ancam Audrey pura - pura kesal.
" Hehehe ... Iya, maaf. Gue hanya terlalu bahagia bisa punya teman kaya elo. Udah kaya, cantik, baik lagi. Iyakan ... Pak ?" ucap Rina sambil menanyakan pada Pak supir yang sudah mengenal Rina dengan baik, karena sudah beberapa kali menjemput Rina di tempat kerjanya atas perintah Audrey.
" Iya, nona Rina benar. Non Audrey ini memang sangat baik pada semua orang. Saya juga sering di bantu sama non Audrey." jawab pak supir semangat.
" Tuh kan benar ... Lo itu memang baik banget, Drey. " ucap Rina dengan wajah senang karena pak supir mendukung perkataannya.
" Kalau di film - film yang saya tonton, non ... Non Audrey ini ibarat malaikat yang di turunkan ke bumi buat menolong manusia." sahut pak supir semangat.
" Bapak ada - ada saja." ucap Audrey tertawa.
" Iya, benar pak. Malaikat." ucap Rina membenarkan dan ikut tertawa.
Tak terasa kini mobil sudah memasuki bandara. Setelah mendapatkan tempat parkir yang tidak terlalu jauh dari lokasi keberangkatan Audrey dan Rina, pak supir lalu memarkirkan mobil.
" Sini, non ... biar saya saja yang membawakan kopernya." pinta pak supir pada mereka berdua.
" Gak usah, pak ... biar saya aja.
Gak berat, kog ... " ucap Audrey.
" Tapi, non ... " ucap pak supir merasa gak enak.
" Udah, gak papa Pak ... saya dan Rina bisa membawa sendiri. Bapak sebaiknya segera pulang, jadi bik Imah bisa tenang karena bapak sudah mengantarkan kami dengan selamat ke bandara." Audrey sengaja memotong kalimat pak supir, kalau tidak drama ini gak akan selesai. Pak supir pasti akan terus berusaha memaksa untuk membawakan koper Audrey.
" Baiklah, kalau non Audrey mengatakan seperti itu. Saya akan pulang sekarang." jawab pak supir.
" Ya, hati - hati di jalan pak." ucap Audrey dan Rina bersamaan.
" Ya, non ... saya pamit." Pak supir pun melangkah menjauh dari mereka.
Audrey dan Rina lalu melangkah masuk kedalam boarding room, setelah melakukan berbagai tahap yang biasa di lakukan jika ingin bepergian menggunakan pesawat.
Sebenarnya, Audrey bisa saja menggunakan private jet milik keluarganya jika ingin berpergian seperti ini, karena Ibunya Rina juga sudah di rumah sakit yang ada di kota, bukan di kampung lagi, agar tidak perlu repot melakukan hal - hal yang harus di lakukan jika naik pesawat biasa.
Tapi ia tidak mau melakukannya, karena ia selalu ingin bersikap biasa layaknya yang di lakukan orang lain.
Ia menggunakan private jet jika berpergian ke luar negeri saja, terutama kalau ingin berlibur dan menjumpai kakaknya Kevin, karena ia ingin segera bisa bertemu dengannya.
Tapi yang di lakukan nya ini justru bagus, para bodyguard jadi bisa tetap mengikuti Audrey. Tanpa Audrey sadari, mereka sudah berada di dalam pesawat yang sama. Bahkan tempat duduk mereka tepat di belakang Audrey.
Setelah terbang selama satu jam, lima belas menit, mereka berdua sampai di bandara. Setelah Audrey mengurus beberapa hal, sebuah mobil menjemput mereka. Karena dari bandara masih harus menempuh waktu beberapa jam menuju rumah sakit tempat Ibu Rina di rawat.
" Rin ... Adik Lo udah di hubungi ?" tanya Audrey.
" Udah, Drey ... tadi sebelum kita naik pesawat, gue udah bilang ke dia kalau hari ini gue datang ke sana. Tapi maaf, gue lupa bilang kalau datangnya bareng elo. Habisnya tadi takut ketinggalan pesawat." jawab Rina dengan raut wajah menyesal.
" Gak papa, yang paling penting, elo udah ngasi kabar sama adek lo. Sekarang kita cari hotel yang terdekat dengan rumah sakit dulu baru pergi kerumah sakit." ucap Audrey.
" Baik, ada hotel yang lumayan bagus dekat rumah sakit Ibu di rawat." sahut Rina.
" Ya, udah ... Gue mau tidur bentar, ngantuk banget gue." Ucap Audrey lagi.
" Ya, tidur aja, Drey. Nanti kalo udah nyampe, gue bangunin elo." sahut Rina.
" Okey ... " Audrey lalu memejamkan matanya, Audrey benar - benar ngantuk karena semalam setelah ia dan Rina tertidur, Audrey terbangun karena mimpi buruk mengenai kedua orang tuanya. Setelah itu Audrey gak bisa memejamkan matanya lagi.
Rina memperhatikan wajah Audrey yang tertidur. Terlihat sekali kalau matanya kurang istirahat. Rina tadi tidak sempat melihatnya, karena harus buru - buru ke bandara.
" Kenapa Audrey kelihatan kaya kurang tidur gitu, ya ... bukankah semalam kami langsung tertidur ?" tanya Rina heran.
Perjalanan yang memakan waktu hampir tiga jam lebih dari bandara dan sekarang sudah mendekati rumah sakit yang mereka tuju , akhirnya Rina mengatakan pada supir yang membawa mereka untuk menuju hotel terlebih dulu seperti yang di katakan Audrey tadi. Gak mungkin juga mereka membawa koper ke rumah sakit.
__ADS_1
" Drey, ... kita udah nyampe di hotel." Rina membangunkan Audrey yang masih tertidur dengan menggoyangkan bahu Audrey.
" Hah ... udah nyampe ?" tanya Audrey dengan mata heran.
" Iya, Drey ... nih, udah di depan hotel yang aku bilang tadi." jawab Rina
" Oh, berarti gue lama juga tidurnya, ya ... ? " ucap Audrey
" Sepanjang perjalanan dari bandara hingga sampai kemari, lo tidur. " jawab Rina memandang Audrey dengan senyum di kulum.
" Hehehe ... Sorry, Rin ... gue ngantuk banget. Kasihan elo gak ada teman ngobrol dong jadinya." ucap Audrey dengan perasaan gak enak.
" Gak papa lah, Drey ... lagian elo keliatan capek banget, gue gak tega buat bangunin jadinya." ujar Rina tersenyum.
" Makasih, Rin ... sekarang kita check in dulu, yuk ..." ucap Audrey sambil keluar dari mobil.
Setelah pak supir membantu untuk membawakan koper mereka berdua hingga ke lobby hotel, Audrey pun segera memesan satu kamar buat mereka berdua.
Pelayan hotel membawa mereka untuk menunjukkan kamar mereka yang terletak di lantai dua.
Hotel ini bersih dan adem, walau tidak terlalu luas tapi Audrey menyukainya. Yang paling penting ada tempat untuk istirahat.
Audrey dan Rina pun segera turun kembali menuju lobby setelah meletakkan koper mereka di kamar. Mereka pun kembali masuk ke dalam mobil menuju rumah sakit tempat Ibu Rina di rawat.
" Drey, Lo gak papa tinggal di kamar hotel yang kaya gitu ? " tanya Rina gak enak, karena membayangkan Audrey yang biasanya tidur di kamar yang mewah harus tidur di kamar hotel seadanya.
" Kenapa Lo nanya kaya gitu sama gue ? " tanya Audrey dengan wajah heran.
" Kamarnya kecil, Drey ... jauh banget kalau di bandingkan sama kamar yang Lo tempatin." jawab Rina merasa bersalah.
" Biasa aja kali, Rin ... yang penting kita bisa tidur. Lagian gue suka, kamarnya bersih dan nyaman." ucap Audrey santai.
" Drey, Lo emang beda, dengan orang - orang kaya yang pernah gue jumpai. " ujar Rina lagi - lagi menatap kagum pada Audrey.
" Lebay, Lo ... udah nyampe, nih." ucap Audrey begitu melihat mobil yang membawa mereka udah tiba di depan rumah sakit.
" Hehehe ... Iya, udah nyampe." sahut Rina sambil tertawa.
Mereka berdua segera turun dari mobil dan bergegas berjalan masuk ke dalam rumah sakit.
Rina pun membawa Audrey ke ruangan tempat Ibunya di rawat.
Setelah mengetuk pintu terlebih dahulu, mereka pun masuk kedalam kamar Ibu nya Rina.
Terlihat Ibu nya sedang tertidur, begitu pula dengan adiknya, ia tertidur di kursi.Melihat hal ini, ia langsung mengeluarkan air mata,
Audrey memeluk Rina untuk menguatkannya.
" Lo, jangan nangis. Harus kuat, kasian adek Lo. Kalau dia melihat elo lemah, dia nanti ikutan lemah." ucap Audrey memberi semangat pada Rina.
" Iya, Drey ... " Rina buru - buru menghapus air matanya sebelum terlihat oleh Ibu dan adiknya.
Dengan langkah pelan, Rina mendekati adiknya, mengusap bahunya agar terbangun.
" Dek ... " panggil Rina dengan lirih.
Adek Rina yang bernama Rifky, langsung membuka mata begitu mendengar suara Rina.
" Mbak ... " ucap Rifky lalu memeluk Rina dengan erat.
Audrey yang melihat hal ini merasa terharu. Rina dan adiknya terlihat sangat saling menyayangi.
" Mbak udah disini, kamu jangan bingung lagi. Besok Ibu akan segera di operasi." ucap Rina menenangkan adiknya.
" Tapi, mbak ... biaya operasinya dari mana ? " tanya Rifky lirih takut membangunkan Ibu mereka.
" Oh, ya ... maaf, mbak lupa ngenalin teman mbak. Drey, ini kenalin adek gue." ucap Rina.
" Audrey ... " ucap Audrey menyebutkan namanya.
" Rif .. Rifky." jawab Rifky dengan gugup karena terpesona melihat kecantikan Audrey.
" Kenapa gugup, teman mbak cantik banget kan ? " ledek Rina.
" Hee ... Iya, mbak. " jawab Rifky malu.
Audrey dan Rina tersenyum mendengar jawaban polos dari Rifky. Rifky terlihat seperti Rina awal bertemu dengan Audrey.
" Kita bicara luar aja, Rin ... takutnya Ibu Lo kebangun karena mendengar suara kita." usul Audrey.
Rina mengangguk setuju dengan usulan Audrey. Biar Ibunya puas beristirahat. Mereka bertiga pun melangkah keluar dari kamar.
" Jadi, dek ... Mbak Audrey ini, yang akan membayar biaya operasi Ibu. " ucap Rina memberitahu Rifky.
" Apa, mbak Audrey yang bayarin ?
Dari mana, mbak ini dapat uang sebanyak itu ? " tanya Rifky heran.
__ADS_1
" Mbak Audrey ini juga bekerja, sebagai model. Model ngetop malah. Jadi bayarannya besar. Selain itu, ia juga anak seorang pengusaha yang sukses di kota tempat, mbak tinggal sekarang." Rina mencoba menjelaskan.
" Oh, tapi mbak ... bagaimana kita nanti membayarnya ? Apa mbak Audrey mau di cicil ? Biar nanti kalau Ibu udah sehat, Kiky bekerja juga. Jadi uang gaji mbak sama gaji Kiky bisa nyicil buat bayar hutang ke mbak Audrey." ujar Rifky sambil menatap Audrey.
" Kamu gak usah mikirin itu. Sekarang yang paling penting Ibu kalian bisa segera sembuh dan sehat. Gue gak minta uang yang buat biaya operasi Ibu kamu, di bayar. Gue ikhlas menolong karena mbak Lo teman gue." kata Audrey balas menatap Rifky.
" Apa ? " tanya Rifky gak percaya dengan pendengarannya.
" Iya, kamu gak salah dengar, dek.
Audrey yang bilang sama mbak kalau akan membiayai semua biaya operasi transplantasi Ibu." ujar Rina meyakinkan Rifky.
" Makasih mbak Audrey ... " ucap Rifky tulus.
" Ya. Tapi gue kog agak risih ya dipanggil mbak sama adek Lo, Rin ... kayanya kami sebaya, deh. Memangnya umur Rifky berapa, sih ? " tanya Audrey.
" Delapan belas, Drey ... " jawab Rina.
" Tuh, kan ... cuma beda setahun doang. Gue, sembilan belas.
Udah, Ky panggil nama gue aja gak usah pake embel - embel mbak, risih gue soalnya." ucap Audrey senang.
" Oh, jadi kog bisa temenan sama mbak Rina ? " tanya Rifky penasaran.
" Udah, nanti aja jelasinnya. Sekarang kita harus menemui dokter untuk mengatakan kalau Ibu Lo berdua besok jadi di operasinya." ucap Audrey
" Audrey benar, dek ... kamu sebaiknya kembali ke kamar temani Ibu biar kami menemui dokter, jadi Ibu besok bisa langsung di operasi." Rina membenarkan perkataan Audrey.
" Baik, mbak ... " Rifky pun masuk kembali ke dalam kamar.
Audrey dan Rina melangkah menuju ruangan Dokter yang akan melakukan operasi buat Ibunya Rina besok.
Setelah melihat hasil diagnosa dari dokter, yang mengatakan bahwa ginjal Ibunya sudah rusak dan memang jalan satu - satunya harus melakukan transplantasi ginjal, akhirnya Rina menanda - tangani persetujuan dari pihak keluarga agar besok bisa di operasi. Operasi akan di lakukan pukul sembilan pagi.
" Terima kasih, dokter." ucap Rina.
" Besok saja ucapan terima kasihnya, jika saya sudah berhasil melakukan transplantasi ginjal Ibu kamu." jawab dokter dengan senyum ramah.
" Baik, dokter." ucap Rina membalas senyuman dokter tersebut.
" Baiklah, dokter ... kalau begitu saya dan teman saya permisi." pamit Rina .
" Ya ... jangan lupa berdoa buat Ibu kamu." ucap Dokter mengingatkan.
" Baik, dokter. Terima kasih." ucap Rina lalu keluar dari ruangan dokter segera.
Kini setelah Audrey membayar biaya buat operasi, mereka kembali berjalan menuju kamar Ibu Rina. Ternyata Ibunya sudah bangun.
" Kamu datang, nak ? " ucap Ibu begitu melihat Rina.
" Iya, Bu ... gimana, Ibu udah enakan sekarang ? " tanya Rina.
Audrey hanya diam memperhatikan interaksi antara Rina dan Ibunya.
" Ibu hanya sakit perut seperti biasanya, nak ... adik kamu ini aja yang terlalu takut sampai memaksa Ibu nginap di rumah sakit, " jawab Ibu Rina yang tidak tahu kalau ginjalnya sudah rusak parah.
" Rina yang menyuruh Rifky langsung menghubungi kalau Ibu sakit. " ucapnya membela Rifky.
" Tapi kamu jadi repot, nak ... nanti kamu bisa di pecat kalau harus pulang kesini."
" Gak papa, Bu ... Rina gak merasa direpotkan. Ini sudah jadi kewajiban Rina dan Rifky."
" Itu siapa yang bersama kamu, nak ? Cantik sekali wajahnya kaya orang bule ... Artis ya, ?" tanya Ibu yang baru menyadari keberadaan Audrey.
Audrey pun berjalan mendekat kearah Ibu nya Rina.
" Saya Audrey, Bu ... temannya Rina."
" Oalah ... kog, bisa, ya Rina punya teman secantik kamu ?"
" Bisa dong, Bu ... Rina kan cantik juga ... hehehe." canda Rina.
Mendengar omongan Rina semua jadi ikut tertawa.
" Rin, karena kamu udah datang, Ibu mau pulang kerumah aja, sekarang. Ibu gak betah di rumah sakit."
Rina dan Rifky terlihat pucat mendengar permintaan Ibunya.
Mereka bingung harus menjawab apa. Sedangkan besok Ibunya harus menjalani operasi.
Audrey yang mengerti kalau mereka sedang bingung, lalu menjawab " Bu, apa boleh besok siang aja pulangnya. Tadi saya dan Rina baru saja sampai, kasihan Rina kalau pulang sekarang. Dia belum sempat istirahat. Saya mendengar dari Rina, dari sini butuh dua jam buat sampai ke kampung. Besok pulangnya, ya Bu ... ".
" Baiklah, nak ... kamu benar. Kalian butuh istirahat. Jalan ke kampung kami masih sangat jelek, nanti kalian lelah kalau pulang sekarang."
Rina menatap Audrey dengan pandangan berterima kasih. Mereka sangat lega, Ibu mau mendengar perkataan yang di ucapkan Audrey.
Mereka saling bertukar cerita. Ibu nya Rina banyak bertanya mengenai Audrey dan Audrey selalu menjawab nya dengan sopan. Rifky dan Rina yang diam - diam memperhatikan, tersenyum melihat Ibu begitu terlihat semangat membahas tentang kehidupan masa lalu saat Rina dan Rifky masih kecil. Ibu sangat bahagia ketika mengenang waktu masih ada suaminya yang begitu menyayangi mereka.
__ADS_1
**********************************