
Begitu malam tiba, beberapa warga di kampung Rina pun mulai berdatangan. Begitu juga dengan Paman dan Bibi Rina dan Rifky.
Warga melihat dengan kagum melihat rumah dan makanan yang tersedia.
Kedua Paman dan Bibinya, juga sangat terkejut begitu melihat rumah Rina , dari luar sudah di cat dan atap rumahnya sudah di perbaiki. Rumah itu jadi terlihat seperti baru. Apalagi mereka melihat begitu banyak makanan - makanan enak dan terlihat mahal yang tersedia. Bahkan ada nasi kotak, yang mereka tahu itu di beli dari restoran terkenal dari kampung sebelah yang lebih dekat ke kota.
" Dari mana uang mereka untuk melakukan ini semua ? " tanya salah satu paman Rina pada adiknya, bik Tuti.
" Itu loh, mas ... yang aku bilang tadi sore ... Temannya Rina itu orang kaya, model ngetop kata Rina." jawab Tuti semangat.
" Oh, gadis yang datang bersama Rina itu ... yang wajahnya cantik ? tanya nya untuk lebih yakin.
" Iya, mas ... makanya aku nyuruh anakku dan anak mas berdua untuk berkenalan dengannya, biar mereka juga bisa berteman dengan nona kaya itu."
" Ya ... ya ... ya udah, Ayuk kita masuk. Mas mau bicara sama temannya Rina itu."
" Yuk, mas ... ".
Melihat Paman dan bibi nya datang, walau sebenarnya Rina malas menghampiri, tapi karena ada Pak RT dan istrinya, juga warga, dengan berat hati ia terpaksa bangkit dari duduknya.
" Silahkan, duduk ... Paman, bibi."
ucapnya sopan.
" Ya, tapi panggilkan dulu temanmu itu kesini, Paman mau berkenalan dengannya. Kata bibimu dia orang kaya. " perintah pamannya dengan nada angkuh.
" Maaf, paman ... teman Rina masih siap - siap di kamar, dia baru selesai mandi. Tadi kami habis beresin rumah." jawabnya malas.
" Apa benar, teman kamu yang buat rumah kalian jadi bagus seperti ini ? ".
" Ya, paman ...".
" Oh, terus semua makanan dan yang lain, dia juga yang belikan ? "
tanya paman Rina lagi.
" Iya ... memangnya kenapa paman bertanya seperti itu ? " Rina yang curiga, pamannya punya maksud tertentu dengan Audrey mulai merasa khawatir.
" Gak ada, paman cuma nanya aja.
Apa temanmu itu sudah punya pacar ? ", Paman Rina tiba - tiba punya ide bagus untuk menjodohkan anak sulungnya Tono yang masih pengangguran dengan Felicie. Jadi kalau berhasil, anaknya tidak perlu bersusah - payah lagi mencari kerja. Tinggal menikmati kekayaan Felicie saja.
" Sudah, paman ... dia sudah tunangan." jawab Rina sengaja berbohong, karena mulai mengerti maksud licik dari pamannya.
" Oh, ... tapi gak papa, masih tunangan saja belum menikah." sahutnya tersenyum.
" Hmm ... ayo, paman, bik ... silahkan duduk." Rina malas menjawab perkataan pamannya lagi.
" Pak Tarmo, Pak Tarno ... kog berdiri saja, ayo duduk di sini ... " ajak Pak RT.
" Eh, iya Pak RT ... ini saya lagi ngobrol sama ponakan saya. Saya cuma menanyakan apa masih ada yang kurang, kalau masih ada niatnya saya ingin membantu. Tapi Rina bilang, semua sudah ada." jawab Tarmo berbohong.
Rina hanya menatap sinis mendengar perkataan pamannya.
" Adikmu mana, paman gak lihat dia di luar ? " tanya Tarno karena belum melihat keberadaan Rifky sama sekali.
" Lagi jemput Pak Ustadz. " jawab Rina singkat.
" Oh, ya sudah ... kami duduk dulu.
Jangan lupa nanti bungkus kan dulu makanan sama kue buat Paman dan bibimu, sebelum habis di makan warga." ucap Tarmo pelan agar tidak terdengar yang lain dengan gak tahu malu.
Rina hanya menghela nafas dengan kesal begitu mendengarnya.
Reno yang sudah tiba di kampung Rina dan sedang menuju ke arah rumahnya sudah mempersiapkan dengan matang apa yang akan di katakan jika bertemu dengan Audrey nanti. Dengan percaya diri, ia mengucapkan salam sebelum masuk kedalam rumah Rina.
Sementara itu para bodyguard yang sudah berganti memakai pakaian layaknya orang biasa terus memperhatikan gerak - gerik Reno. Karena mereka pikir, pria ini adalah temannya nona mereka, Audrey. Waktu Audrey pergi menemui Reno dulu di sebuah cafe untuk mengganti uang laundry pakaian Reno yang terkena noda minuman, bodyguard mengikuti Audrey.
Jadi saat ini mereka hanya mendiamkannya saja, karena berfikir Reno merupakan teman Audrey.
Rina yang melihat Reno ada di rumahnya, sangat terkejut.
" Kenapa pria ini bisa datang ke kampung gue ? " batin Rina.
" Maaf, anak muda ini, siapa ya ? " tanya Pak RT menghampiri.
" Saya dari kota J, pak ... saya sebenarnya kesasar waktu mau menuju kampung " S " buat meninjau lokasi proyek saya. Karena saya lihat di rumah ini sedang ramai, jadi saya memutuskan untuk bertanya." jawabnya dengan lancar tanpa gugup sedikitpun.
" Oh, begitu rupanya ... silahkan duduk dulu, mas ... kebetulan saya Pak RT kampung ini. Nanti setelah acara tahlillan ini saya akan menyuruh warga saya untuk mengantarkan mas ke kampung yang mas maksud." ucap Pak RT ramah.
Kedatangan Reno yang memiliki wajah tampan, membuat ia jadi pusat perhatian dari Ibu - Ibu yang duduk di dalam, terutama Bik Tuti.
Mereka pun fokus mendengar obrolan yang terjadi di antara Pak RT dan Reno.
" Siapa pria tampan ini ? Dia juga terlihat kaya seperti temannya Rina itu ... kalau anakku bisa menikah dengannya, pasti hidupnya terjamin." ucap Tuti dengan licik dalam hatinya.
__ADS_1
" Maaf, tapi beneran ini tidak apa - apa nih Pak , saya tidak mengganggu kan ... ? Saya lihat disini lagi pada ngumpul, ada acara apa memangnya, Pak ? " tanya Reno pura - pura gak tahu.
Padahal ia sudah mencari data selengkapnya sebelum pergi kemari.
Rina terus melihat ke arah Reno.
Ia tidak percaya, kalau pria ini bisa tersesat hingga sampai ke kampungnya, apalagi kebetulan banget, kenapa tepat di rumah Rina.
" Tentu saja tidak, mas.
Ini acara tahlillan, ada warga yang baru saja meninggal." jawab Pak RT.
" Oh, saya turut berduka cita, pak ... " ucap Reno memasang wajah sedih.
" Terima kasih, bentar saya panggilkan dulu keluarganya, agar mas bisa mengucapkannya langsung." ujar Pak RT.
" Oh, ya ... silahkan pak." jawab Reno.
" Rina ... mas ini mau mengucapkan turut berduka cita sama kamu." panggil Pak RT.
Rina yang sejak tadi memang mencurigai kedatangan Reno, langsung bangkit dan berjalan mendekati Reno.
" Loh, kamu kog bisa disini ? " tanya Reno pura - pura terkejut.
" Ibu saya yang meninggal." jawab Rina datar.
" Mas ini kenal dengan Rina ? " tanya Pak RT heran.
" Saya mengenal teman nona ini, Pak. Kalau dengan nona ini, saya pernah ketemu sekali waktu di sebuah acara." jawab Reno menjelaskan pada Pak RT.
" Oh, begitu rupanya." ujar Pak RT sambil menganggukkan kepalanya.
" Saya turut berduka - cita atas meninggalnya Ibu kamu. Semoga beliau meninggal dalam keadaan Husnul khatimah. " ucap Reno.
" Aamiin ... Terima kasih. " jawab Rina.
" Ya, udah mas ... siapa namanya ? " tanya Pak RT.
" Reno, pak ... panggil nama saya aja, pak ... Reno, gak usah pake mas." jawab Reno memberitahu namanya dengan sikap sopan.
" Oh, baiklah nak Reno ... Rina, bisa kan, nak Reno ini berada disini dulu nanti setelah tahlillan, baru bapak menyuruh orang untuk mengantarkannya. " kata Pak RT.
" Silahkan Pak Rt..." terpaksa Rina menyetujui perkataan Pak RT.
" Baiklah, kalau begitu silahkan nak Reno duduk aja sambil ikut tahlillan di sini." ucap Pak RT.
Setelah berhasil ber basa - basi sebentar dengan Pak RT, Reno pun duduk di lantai bergabung dengan yang lain.
Audrey yang baru saja ingin bergabung dengan Rina di ruang tamu, menatap tak percaya begitu melihat keberadaan Reno.
" Kenapa, dia bisa di sini Rin ... ? bisik nya pada Rina.
" Tadi dia bilang sama Pak RT, kalau dia mau ke kampung sebelah, terus tersesat. Karena gak tahu jalan mana yang harus di tempuh.. dia mencoba menanyakannya. Kebetulan, karena dia melihat rumah sedang ramai jadi dia berhenti disini." Rina menerangkan sambil berbisik juga pada Audrey.
Reno tersenyum begitu melihat Audrey memandang ke arahnya.
Rifky yang baru saja tiba dengan membawa seorang ustadz, langsung duduk di sebelah Audrey.
Reno yang melihatnya, menatap Rifky dengan pandangan gak suka.
" Baiklah, saudara - saudara sekalian karena Pak Ustadz sudah datang, kita sudah bisa memulai acaranya." kata Pak RT.
Pak Ustadz, segera memulai membaca doa dan di ikuti warga yang datang. Setelah selesai tahlillan, Pak Ustadz memberikan ceramah dan nasehat untuk keluarga yang di tinggalkan.
" Terima kasih Pak Ustadz ... " ucap Rina dan Rifky lalu menyalami Pak Ustadz.
" Ya, sama - sama nak ... Kalian yang sabar, ya ... " kata Pak Ustadz menepuk bahu Rifky.
Setelah Pak Ustadz pergi, mereka kembali ke dalam. Sebagian warga juga sudah mulai pulang ke rumah masing - masing, setelah membawa bungkusan yang di - bagikan Rina dan Rifky juga Audrey. Hanya tinggal Pak RT, istrinya serta kedua Paman dan bibi Rina. Sementara itu Reno sengaja menunggu di luar, agar tidak terlalu kelihatan berbohong nya, sengaja datang kemari untuk menyusul Audrey.
" Maaf, Rifky ... bisa kamu tolong panggilkan nak Reno yang sedang menunggu di luar." kata Pak RT.
" Baik, pak ... " Rifky pun beranjak keluar memanggil Reno.
" Mas, di panggil sama Pak RT ..." ucap Rifky begitu berada di dekat Reno.
" Oh, baik ... terima kasih." jawab Reno sopan lalu berjalan masuk ke dalam rumah lagi bersama Rifky.
Begitu masuk ia di persilahkan duduk oleh Pak RT.
" Maaf, nak Reno ... saya lihat, anda sangat lelah.
Bagaimana kalau besok saja, nak Reno pergi ke kampung sebelahnya. Malam ini biar menginap di kampung ini saja. Bagaimana baiknya menurut, nak Reno ... ? "
tanya Pak RT setelah mengatakan alasannya.
__ADS_1
" Iya, nak Reno ... Anda bisa menginap di rumah saya kalau mau. " ujar Tuti, bibi Rina langsung melanjutkan rencananya yang ingin mengenalkan Reno pada anak gadisnya.
" Nah, itu Bu Tuti sudah menawarkan rumahnya untuk tempat nak Reno beristirahat." ujar Pak RT senang.
" Terima kasih atas perhatian yang Pak RT dan Ibu berikan pada saya. Tapi, apa saya nanti tidak merepotkan kalau menginap di rumah Ibu ? " tanya Reno pura - pura. Malah ia merasa senang dengan kesempatan ini, jadi ia masih ada waktu untuk bicara dengan Audrey.
" Tentu saja, saya tidak merasa di repotkan. Nak Reno, ini kan tadi saya dengar teman dari ponakan saya Rina, berarti tamu saya juga." Tuti makin semangat mengajak Reno untuk menginap di rumahnya.
" Baiklah, Bu ... kalau Ibu tidak keberatan, saya bersedia." jawab Reno.
" Tidak, saya malah senang nak Reno mau tinggal di tempat saya." mata Tuti langsung terlihat bersinar karena girang.
" Kalau begitu, saya ucapkan terima kasih pada Ibu, karena bersedia menampung saya di rumah Ibu." kata Reno dengan sangat sopan sambil tersenyum.
" Ya, sama - sama nak Reno ... kalau begitu, sebaiknya kita pergi sekarang biar nak Reno bisa segera beristirahat." ajak Tuti dengan semangat penuh.
" Maaf, Bu .... bisa saya sebentar lagi perginya ke rumah Ibu. Saya masih ingin disini buat ngobrol dengan teman saya." tolak Reno halus.
" Oh, baiklah ... gak papa. Saya akan menunggu nak Reno disini saja. Biar nanti sekalian pulangnya." ujar Tuti tersenyum.
" Kalau begitu, karena masalah nak Reno sudah selesai, saya permisi pulang, dulu ... " sela Pak RT lalu bangkit dari duduknya, diikuti istrinya Bu RT.
" Oh, baik pak .... " jawab Reno.
" Oh, ya Rina ... nanti buat malam ketiganya, saya mau menyumbang kue, boleh ... ? " tanya Bu RT ramah.
" Tentu saja boleh, Bu .. kalau tidak membuat Bu RT, repot." jawab Rina dengan ramah.
" Gak ... saya gak merasa repot. Tapi, ya itu, cuma kue - kue kampung saja.
Gak papakan ? " tanya Bu RT lagi.
" Ya, namanya kita orang kampung, kuenya juga kue kampung lah Bu, ... tadi yang menyediakan semuanya teman saya Audrey, Bu ... kalau saya mana mungkin bisa membeli kue - kue mahal kaya gitu." ujar Rina tersenyum kecil.
" Baiklah, kalau begitu buat malam ketiga, saya nyumbang kue, tapi ya seadanya saja." kata Bu RT.
" Ya, Bu ... Terima kasih atas perhatian Ibu." jawab Rina sambil menyalam bu RT dan Pak RT, diikuti Rifky dan Audrey.
" Ya, sudah ... kalau begitu kami pulang ya ... " ucap Bu RT dan diangguki oleh pak RT.
" Silahkan Pak, Bu ... " Jawab Rina sambil mengantarkan hingga ke depan pintu.
Sepeninggal Pak RT dan Bu RT, langsung saja Tarmo dan Tarno, dan Tuti, menyuruh Rina untuk mengenalkan mereka pada Audrey. Walau dengan sangat terpaksa, ia mengenalkan mereka juga.
" Drey, kenalkan ini paman dan bibi gue." ucap Rina datar.
" Oh, ya .... saya Audrey, Pak, Bu ... temannya Rina." ucap Audrey ramah sambil mengulurkan tangannya pada mereka.
" Lihat ini Rina, Rifky ... teman mu ini udah cantik, kaya, sopan lagi ... tidak seperti kalian berdua, gak ada hormatnya sama sekali sama orang yang lebih tua." ucap Tarmo memandang remeh pada kedua ponakannya.
Rifky yang langsung emosi, langsung menjawab perkataan pamannya.
" Ya, paman benar ... saya dan mbak Rina tidak sopan apalagi dengan orang yang memang tidak pantas buat di hargai." jawabnya sinis.
" Lihat itu, nak Audrey ... nak Reno ... keponakan saya ini memang kurang di ajar sama orang tuanya. Maklum saja, adik saya, almarhum bapaknya mereka sudah meninggal jadi tidak ada yang mengajari mereka sopan santun. Ibu mereka sering sakit - sakitan. Jadinya, ya begini, mereka jadi kurang dapat pengajaran darinya ... " ujar Tarmo tanpa merasa bersalah sedikitpun
karena menyalahkan Ibu Rina dan Rifky.
" Iya, nak Audrey sama nak Reno, kog bisa berteman dengan Rina ...? Apa nanti sikap mereka tidak membuat malu anak berdua ? " kali ini Tuti ikut menimpali.
Audrey yang melihat Rina juga sudah mulai emosi, menahan Rina agar tidak menjawab perkataan paman dan bibi nya.
" Maaf, sekali ... Pak, Bu ... selama saya mengenal Rina dan akhirnya juga mengenal Rifky, mereka berdua tidak pernah membuat saya malu. Mereka berdua sangat baik, dan polos waktu pertama saya mengenal mereka. Ibu mereka juga sangat baik, jadi saya sangat yakin, kalau mereka berdua juga anak yang baik. Makanya saya suka berteman dengan mereka." jawab Audrey sopan, membela Rina dan Rifky.
Paman dan Bibi Rina langsung memerah wajahnya mendengar jawaban yang diberikan Audrey.
" Bukan begitu, maksud kami ...
apa nak Audrey, tidak takut kalau mereka mau memanfaatkan nak Audrey saja ? " kata Tarmo masih berusaha menjelekkan kedua ponakannya.
" Tentu saja saya tidak perlu takut dengan mereka, Pak ... sebelum ini saya sudah menawarkan pada mereka berdua untuk tinggal di rumah saya, tapi mereka malah menolak ajakan saya. Rina dan Rifky malah lebih memilih untuk menjual rumah ini lalu menyewa sebuah rumah kecil saja buat tempat tinggal mereka di kota.
Rifky juga ingin bekerja untuk membantu Rina. Jadi, saya yakin mereka berdua bukan orang yang ingin memanfaatkan orang lain." ucap Audrey panjang masih dengan nada sopan dan lembut.
Walaupun sebenarnya, Audrey sudah mulai gak suka dengan paman dan bibi Rina yang sangat jelas ingin menjelekkan temannya Rina.
Paman dan bibi Rina langsung memucat wajahnya mendengar perkataan Audrey. Mereka benar - benar tidak menyangka, kalau kedua ponakannya ini sangat beruntung karena memiliki teman seperti Audrey. Jika saja anaknya bisa jadi temannya, tentu mereka akan sangat beruntung.
Reno yang awalnya hanya diam, mendengar pembicaraan antar mereka. Kini mulai ikut mengeluarkan suaranya.
" Oh, ya ... Drey. Saya benar - benar gak nyangka, bisa ketemu kamu disini. Kebetulan banget, ada yang ingin saya tanyakan sama kamu. Apa saya ada buat salah dengan kamu ? Karena, saya pikir, setelah pertemuan kita kemarin dan kamu tidak pernah mau mengangkat telepon dari saya.
Jadi saya terus berfikir, kesalahan apa yang sudah saya lakukan ke kamu ? " tanya Reno melihat mata Audrey.
Audrey agak bingung harus menjawab apa, atas pertanyaan Reno. Karena waktu itu, ia sebenarnya malas mengangkat panggilan dari Reno karena merasa urusan mereka sudah selesai, jadi gak perlu saling berhubungan lagi. Walau waktu itu, Ia terpaksa berbohong mengiyakan ajakan Reno untuk berteman dengannya.
__ADS_1
Visual Reno