
" Halo ... ya, saya Rina ! Ini siapa, ya ... ?" tanya Rina dengan dahi yang berkerut saat menerima telepon masuk di handphonenya, karena ia tidak mengenali nomer yang menghubunginya.
" Saya yang kemarin tempat mbak Rina servis handphone itu, loh ... yang handphone mbak sempat hilang, di counter kami !" sahut suara di balik handphone menjelaskan pada Rina.
" Oh, ya ... ada apa mas ? " tanya Rina heran karena ia sudah berhubungan lagi dengan mereka sejak handphonenya di nyatakan hilang.
Rina sudah menunggu kabar dari mereka tapi tidak juga di kabari, hingga akhirnya Rina mengikhlaskan handphonenya itu.
Ia pun berpikir kalau handphone nya tidak mungkin akan kembali lagi padanya.
Rina juga sempat merasa kesal karena mereka seperti tidak bertanggung - jawab sedikitpun dengan barang yang di titipkan di tempat mereka.
" Itu, mbak Rina ... handphonenya sudah ketemu." sahut pemilik toko.
" Hah ... apa ? yang benar, mas ... ?" tanya Rina gak percaya, karena setelah sekian lama, pria ini mengatakan kalau handphonenya sudah ketemu.
" Ya, mbak Rina ... handphone mbak sudah kami temukan. Ternyata, handphone mbak tercampur dengan handphone - handphone rusak di gudang, toko saya. Mungkin salah satu karyawan saya yang menaruhnya di sana. Tapi ketika saya menanyakannya mereka tidak ada yang mau mengaku. Jadi, saya minta maaf dengan sebesar - besarnya atas keteledoran yang telah dilakukan oleh karyawan saya." ujar pria itu dengan nada menyesal.
" Gak papa, mas ... gak papa. Handphone saya bisa ditemukan kembali saja, saya sudah sangat bersyukur karena itu handphone pertama yang di berikan oleh teman baik saya, mas ... dan itu sangat berarti buat saya." ucap Rina dengan mata berkaca - kaca karena teringat akan Audrey.
Ia tidak tahu kabarnya sekarang, karena Rina belum bisa kembali ke mansion. Masih banyak yang harus ia kerjakan seperti yang
di minta oleh Audrey, agar Audrey bisa keluar dengan selamat dari sana.
" Terima kasih, mbak ... atas pengertiannya. Jadi, mbak Rina bisa datang sekarang ke toko saya untuk mengambil handphonenya. Saya takut hilang lagi, mbak ... hee !" ujar pemilik toko.
" Tentu saja, doakan saja saya gak kena macet. Jadi biar bisa secepatnya tiba di toko, mas ... hehehe !" Rina tertawa kecil ketika mengatakan hal ini.
" Hehehe ... iya, mbak. " sahut pria itu ikut tertawa karena mendengar omongan Rina yang lucu menurutnya.
" Okey, di tunggu ya mas. Pegang dengan erat handphone saya agar jangan sampai hilang lagi !" canda Rina.
" Siap mbak ... pokoknya handphone ini sudah saya amankan. Ke kamar mandi pun akan saya bawa ... hee " jawab pria itu sembari membalas candaan Rina.
" Hee, ya sudah saya jalan dulu mas biar cepat sampai di tokonya ! " ucap Rina.
__ADS_1
" Ya, hati - hati mbak Rina ... !" sahut pria itu cepat.
Rina segera memutuskan sambungan teleponnya dan segera masuk ke dalam mobil Audrey yang di bawanya. Kebetulan saat ini, Rina sedang berada di luar untuk mengurus sesuatu dan tempatnya tidak terlalu jauh dari toko handphone tesebut.
Sementara itu, di mansion Lily dan Bella kini tertawa senang karena meski lewat dari perkiraan Lily bukan empat hari melainkan satu minggu kondisi Audrey kembali drop. Ia sudah tidak bisa bangkit lagi dari tempat tidur.
Bahkan makan saja harus di suapi oleh salah satu pelayan.
Sekarang Audrey tidak bisa makan yang terlalu keras, karena perutnya akan sangat kesakitan dan terasa perih. Jadi, sehari - harinya ia hanya bisa memakan bubur encer yang di buat oleh Lily.
" Hahahaha ... hebat lo, Li ... !
Wanita menyebalkan itu sekarang sudah benar - benar tidak berdaya sama sekali. " ujar Bella masih tertawa lebar.
" Iya, dong ... Lily ! Udah gue bilang wanita c*c*t itu akan mengalami hal yang sama seperti yang di alami oleh Nena dan wanita tua yang sudah ma*i itu, kesakitan !" ujar Lily dengan seringai mengerikan di mulut nya.
" Jadi, kapan kita mulai mengubah semua milik Audrey menjadi milik kita, Li ... ?" tanya Bella gak sabar.
" Tunggu sebentar lagi. Setelah Reno tinggal di sini, baru kita akan mengubah semua kekayaan yang atas nama Audrey menjadi milik Reno dan gue. Setelah itu, seperti janji gue sama Lo ... gue akan memberikan yang Lo inginkan. "
" Huh, kapan Reno tinggal di - mansion ? Kenapa lama banget , sih ... Gue udah gak sabar, Li ... !" ujar Bella.
" Udah, sabar aja ! Jangan banyak protes." bentak Lily dan memandang dengan wajah kesal ke arah Bella.
Bella langsung terdiam begitu mendengar bentakan Lily. Ia menyesali sikapnya yang bodoh dan gak sabaran. Bella tahu bagaimana watak Lily yang mengerikan. Ia masih ingin hidup dan menikmati kekayaan Audrey tanpa harus capek bekerja keras.
" Maaf, bukan gitu maksud gue, Li ... masa gitu aja Lo marah, sih ... ! " ujar Bella dengan hati - hati.
" Jadi, maksud Lo apa ? Lo jangan menguji kesabaran gue, Bel ... gue bisa gelap mata dan melakukan hal yang sama pada Lo seperti yang udah gue lakukan ke teman Lo yang c*c*t itu ! " ancam Lily dan menatap Bella dengan tajam.
" Sabar, Li ... sabar ! Jangan marah, dong ... ntar wajah Lo yang cantik ini bisa cepat keriput kalo marah - marah kaya gini." rayu Bella dan mencoba tersenyum untuk meredakan jantungnya yang berdetak dengan sangat kencang,
karena takut dengan ancaman yang di katakan Lily.
" Hmm ... Lo jangan mancing emosi gue, Bel ... Reno gak bisa datang sekarang karena dia masih ada urusan penting yang tidak bisa di tinggalkan. " suara Lily mulai berubah normal tidak sekeras tadi.
__ADS_1
" Hal penting apa, Li ... ?" tanya Bella penasaran.
" Udah, Lo tunggu aja. Ntar Lo juga tahu apa yang sudah disiapkan Reno buat perempuan yang sudah gak berguna itu !" sahut Lily kembali santai sembari menarik sudut bibirnya.
" Hmm .. Li, gue boleh nanya gak sama Lo ?" ujar Bella pelan.
" Apa ... Lo mau nanya apa ?" tanya Lily sembari menatap Bella.
" Eng ... Lo yakin Reno benar - benar mencintai Lo ? Gimana kalau dia malah jadi tertarik dengan Audrey ! Secara, beberapa bulan belakangan ini mereka sering ngobrol berdua. Apalagi sejak dia keluar dari rumah sakit, Reno semakin sering datang buat menghibur Audrey !" ujar Bella dengan hati - hati, karena tidak ingin memancing kemarahan Lily lagi.
" Hahaha ... kenapa gue harus cemas. Gue tau kalau Reno mencintai gue, seperti gue yang sangat mencintainya. Lagi pula kenapa gue harus khawatir. Reno gak akan pernah tertarik dengan wanita yang gak bisa memuaskan n*p*u nya. Mungkin, kalau dulu ketika Audrey masih normal bisa jadi Reno tertarik melihatnya. Tapi kalau sekarang .... hahaha. Apa yang bisa di harapkan Reno darinya. Untuk menggerakkan tubuhnya aja dia gak bisa. Gimana mau meladeni ha**at Reno yang selalu besar itu. Lo, tahu sendirilah gimana Reno. Elo kan juga pernah jadi simpanannya ... tapi sayangnya sekarang Reno sudah gak berminat lagi dengan t*b*h, Lo .. hehehe !" ujar Lily tertawa dengan percaya diri yang begitu besar, karena ia sangat yakin kalau Reno hanya akan mencintainya saja, sembari mengejek Bella.
Bella mendengus begitu mendengar Lily mentertawakan dirinya yang sudah di campakkan oleh Reno. Padahal jika bukan karena ia ketahuan bermain dengan pria lain di belakang Reno,
Bella yakin sikap Reno gak akan berubah padanya.
" Hahaha ... jangan tersinggung Bel. Gue hanya bicara fakta doang ! Sekarang Reno cuma milik gue dan gue gak akan pernah lagi membiarkan wanita manapun memiliki dirinya, karena dia udah janji ke gue buat menikahi gue jika gue berhasil menjalankan semua perintahnya ! " ujar Lily semakin tertawa puas melihat wajah Bella yang berubah kesal.
" Ya, ya ... terserah Lo, deh Li.
Sekarang yang paling penting dalam hidup gue, gue bisa jadi orang kaya dan bisa membeli apapun yang gue inginkan tanpa harus bersusah - payah kaya dulu !" ujar Bella tak perduli.
Benar, sekarang hanya itu yang ada dalam pikiran Bella, karena ia juga sudah menyerah untuk mencari perhatian dari Reno yang semakin dingin padanya. Ia hanya akan bersikap sedikit perhatian jika ia membutuhkan bantuan dari Bella. Lagi pula, Bella yakin jika ia memiliki kekayaan yang melimpah akan sangat mudah baginya untuk mencari pengganti Reno.
" Bagus ! Gue suka sikap Lo yang kaya gini. Jadi, Lo akan tetap mendapatkan bagian Lo seperti yang sudah kita sepakati." ujar Lily tersenyum penuh kemenangan.
" Udah, ah ... gue mau pergi jalan - jalan ke mall biar mata dan hati gue kembali segar. Gue muak, karena seharian harus melihat perempuan c*c*t yang menyebalkan itu ! " ujar Bella lalu bangkit dari tempat tidur.
" Okey, gue juga sama kaya Lo ... tapi bedanya gue mau ketemu dengan Reno. Dia udah gak sabar menunggu gue datang ke - apartment nya." ujar Lily gak mau kalah.
" Terserah, selamat bersenang - senang !" ucap Bella dengan nada datar, lalu ia berjalan keluar.
Sedangkan Lily menatap badan Bella yang menjauh dengan tatapan puas karena semua rencana nya berjalan sesuai yang ia inginkan. Ia tahu Bella, wanita yang serakah. Asalkan di beri sedikit kekayaan, dia pasti sudah puas.
" Reno, aku datang sayang !" ujar Lily keluar dari kamarnya dengan perasaan bahagia setelah lebih dulu mengganti pakaiannya.
__ADS_1
**********************************