
" Tidak ... tidak mungkin ! Pasti kabar itu gak benar. Bik Imah gak mungkin meninggal. Dia masih baik - baik saja dan sedang menunggu gue pulang ! Ya, kan Rin ... gue benarkan !" ucap Audrey dengan tatapan gak percaya.
Rina terdiam dan menangis. Ia juga tidak percaya begitu mendengar berita itu. Meskipun bik Imah belum bisa berjalan dan berbicara tapi fisiknya sudah lebih membaik. Ia terlihat sehat.
" Bik Imah itu sudah seperti ibu kedua bagi gue. Beliau yang selalu menemani saat gue kesepian, ketika orang tua gue sering bepergian mengurus bisnis mereka. Jadi gak mungkin bik Imah pergi meninggalkan gue. " ucap Audrey gak bisa menerima saat mendengar kabar yang di sampaikan langsung oleh asisten bik Imah tentang kepergiannya yang mendadak.
Bahkan asisten bik Imah permisi segera pulang ke mansion untuk mengurus pemakaman nya setelah memberitahu Audrey dan Rina.
" Handphone ... mana handphone Lo, Rin ... biar gue telepon Bella. Kita harus keluar dari rumah sakit sekarang juga ! Gue mau lihat bik Imah. " ucap Audrey sembari menangis.
" Maaf, Drey ... handphone gue, semalam tiba - tiba rusak. Tadi, waktu Lo tidur baru aja gue antar ke tempat tukang reparasi handphone. Mungkin seminggu lagi baru bisa di ambil. Lagi pula kita gak mungkin pulang, Drey ... dokter pasti gak akan mengizinkan. Elo masih harus di rawat hingga semua luka di badan Lo sembuh. " ujar Rina dengan nafas tersendat.
" Gak, gak papa. Nanti di mansion kita bisa memanggil dokter untuk merawat gue. Pokoknya kita harus pulang sekarang, Rin ... ! gue gak mau tahu. Kita harus ketemu dengan bik Imah. " ucap Audrey gak perduli.
Rina tidak tega melihat Audrey yang terlihat begitu terpukul dengan kepergiannya bik Imah. Bahkan ia lebih histeris saat mendengar berita meninggalnya bik Imah di bandingkan ketika ia mendengar tentang kepergian kedua orang tuanya.
Rina juga sedih dan awalnya juga tidak bisa menerima ketika mendengar kalau bik Imah sudah pergi meninggalkan mereka untuk selamanya. Meskipun ia baru sebentar mengenal bik Imah, tapi Rina tahu kalau bik Imah adalah orang yang sangat baik dan bertanggung - jawab akan tugasnya. Ia tetap mengabdikan dirinya di mansion meskipun keadaannya sudah tak lagi sama.
Tapi, bagaimanapun ini sudah menjadi kehendaknya Allah. Mungkin Allah tidak ingin bik Imah menderita lebih lama dengan penyakitnya.
" Lo tahu, Rin ... saat gue mendengar berita orang tua gue pergi meninggalkan gue untuk selama - lamanya gue sedih banget karena sudah gak ada lagi yang akan melindungi gue. Tapi waktu itu gue masih bisa sedikit lebih tenang karena gue tahu masih ada bik Imah di sisi gue yang akan selalu menemani hari - hari gue di - mansion. Tapi sekarang apa ? Bahkan bik Imah pun ninggalin gue. Gue gak bisa terima, Rin .... !" mata Audrey terlihat kosong saat mengatakan hal ini.
__ADS_1
Ia benar - benar merasa terpukul, hingga bisa kehilangan akal sehatnya. Audrey yang biasanya selalu bijaksana terlihat mulai rapuh ketika ia tahu tidak bisa berjalan lagi seperti biasa dan sekarang ia semakin terpuruk ketika mendengar berita meninggalnya bik Imah.
Rina sebagai sahabatnya merasa tidak berguna sama sekali. Ia bahkan tidak bisa menghibur dan menenangkan Audrey, di saat ia bersedih seperti sekarang. Padahal dulu, Audrey lah yang menghibur dan memberi semangat saat Rina harus mengikhlaskan kepergian Ibu nya.
Ternyata, alasan Audrey histeris karena ia merasa bik Imah adalah pengganti dari orang tuanya.
" Drey ... gue ngerti kalau Lo belum bisa terima dengan kepergian bik Imah tapi semua ini sudah ketentuan dari Allah. Kita harus ikhlas. Mungkin ini yang terbaik buat bik Imah agar ia tidak merasakan sakitnya lagi." ujar Rina berusaha menenangkan Audrey.
Audrey terisak dengan keras. Ia sebenarnya mengerti, tapi ia tetap belum bisa menerimanya. Kenapa bik Imah harus pergi saat ia masih dalam keadaan seperti sekarang. Ia ingin ikut mengantarkan bik Imah ke tempat peristirahatannya terakhir. Ia ingin bisa ikut memandikannya. Audrey ingin melakukan semuanya. Karena ia tidak bisa melakukan itu pada saat kedua orang tuanya meninggal.
" Tolong, Drey ... Lo harus ikhlas. Gue yakin bik Imah udah tenang sekarang." ujar Rina lagi.
" Hiks ... yang paling buat gue sedih karena gue gak bisa ikut mengantarkan bik Imah. Padahal ini adalah hari terakhirnya." ucap Audrey.
" Hiks ... hiks ... tapi gue bakalan buat Lo repot, Rin ... kaki gue belum bisa di gerakkan. " ucap Audrey, balas memeluk Rina.
" Gak, gue gak merasa di repot kan sama sekali. Bukankah Lo bisa menggunakan kursi roda seperti yang di lakukan bik Imah.
Lo kan masih muda, pasti jauh lebih kuat tenaganya dibandingkan bik Imah.
Jadi gue gak perlu bantu Lo buat mendorong kursi rodanya ... hee.
__ADS_1
Apalagi setelah Lo keluar dari rumah sakit, Lo akan melakukan terapi. Jadi, gue yakin lo pasti bisa secepatnya berjalan lagi." ujar Rina.
" Please, Rin ... gue udah kehilangan orang tua. Sekarang harus kehilangan bik Imah. Gue harap, Lo jangan pernah ninggalin gue meski apapun yang terjadi nanti. Lo harus tetap berada disisi gue. " ucap Audrey mulai menghentikan tangisnya.
" Ya, Drey ... gue akan selamanya berada di dekat Lo. Lo adalah adik gue, jadi gak mungkin gue akan ninggalin Lo. Jangan sampai ada orang yang berhasil memecah belah kita." ujar Rina melepaskan pelukannya setelah ia melihat Audrey sudah lebih tenang.
" Ya, jangan sampai ada orang yang berhasil memisahkan kita. Lo dan Rifky adalah saudara gue." ucap Audrey.
" Benar ... kita saudara. Sekarang, sebaiknya kita mengirimkan doa buat bik Imah agar semua jalan nya di lancarkan." ujar Rina.
" Ya, Rin ... !" sahut Audrey.
Lalu mereka melantunkan surat alfatiha dan setelah selesai mengirmkan doa yang terbaik buat bik Imah.
Kini Audrey jauh lebih tenang. Ia sudah mencoba untuk mengiklaskan. Karena mau bagaimanapun ia mencoba menolak nya ini tetap tidak bisa
di elakkan. Pada akhirnya kita semua akan kembali pada Nya.
Rina kini bisa menarik nafas lega setelah melihat Audrey sudah mulai bisa mengembangkan senyumnya lagi.
Ia berharap setelah semua cobaan dan kejadian ini, kebahagiaan akan menghampiri Audrey lagi. Rina juga berdoa buat Audrey agar ia di jauhkan dari orang - orang yang berniat jahat padanya.
__ADS_1
**********************************