Cinta Dan Dendam Audrey

Cinta Dan Dendam Audrey
Episode 89


__ADS_3

Zia begitu bingung ketika ban mobilnya harus bocor di tengah jalan. Padahal ia sudah memeriksanya terlebih dahulu sebelum pergi. Sementara ia harus masuk kuliah hari ini. Apalagi kali ini jadwalnya Pak Abdi, dosen killer yang sedingin kulkas itu mengajar di kelasnya.


Ia gak ingin mendapat kata - kata ketus dan tatapan dingin dari Pak Abdi. Sialnya saat ia menghubungi handphone Dea, nomernya sedang sibuk.


" Sial ... ! Dea, Lo lagi telepon siapa sih ? " gumam Zia kesal.


" Apa gue harus menelepon Bella ? Tapi gak, ah ... males banget gue ! " Zia menggelengkan kepalanya.


" Sial banget gue hari ini ! Udah telat bangun ... mogok lagi !" keluh Zia.


Tanpa ia sadari, sebuah mobil sedang menepi dan memperhatikannya. Ia tersenyum tipis ketika melihat Zia ngoceh - ngoceh sendiri dengan wajah kusut.


" Hmm ... apa aku harus membantunya ?" ucap pria ini dengan perasaan ragu.


Akhirnya ia memutuskan keluar dari mobil untuk membantu Zia.


Apalagi ia tahu hari ini, Zia harus masuk ke kelasnya.


" Percuma punya mobil bagus kalau gak bisa merawatnya !" ujar pria ini dengan wajah dingin setelah berdiri di dekat Zia.


Zia yang sedang berusaha menghubungi Dea lagi, memalingkan wajahnya ke arah suara yang mencibirnya.


Ia tertegun begitu melihat wajah dingin yang ia takuti selama Zia kuliah di kampus. Ya, pria sinis itu, Pak Abdi, dosen killer yang baru saja terlintas di pikirannya.


" Maaf Pak ... Saya udah merawatnya dengan baik tapi memang lagi sial aja !" ucap Zia berusaha menjawab dengan sopan walaupun dalam hati rasanya ingin sekali ia mengumpat dengan kasar pria yang berdiri di dekatnya ini.


" Kalau dirawat gak akan mungkin bisa mogok ! atau jangan - jangan karena kamu memang mau bolos dari kelas saya, jadi sengaja bawa mobil yang bermasalah !" ujar Abdi datar.


Tangan Zia mengepal dengan erat menahan rasa kesal dihatinya begitu mendengar omongan Abdi.


Kalau saja pria ini bukan dosennya dan nilai Zia tidak tergantung padanya ... mungkin Zia akan memakinya dengan kasar.


Seenaknya aja dia ngomong kalau Zia melakukannya dengan sengaja agar bolos mata kuliah yang di ajarkan nya.


" Kenapa kamu diam ? Benarkan kata - kata saya, kamu mau bolos kuliahkan ?" ujar Abdi lagi.


" Maaf Pak Abdi ... saya memang mahasiswa di kelas bapak tapi bukan berarti bapak bisa menuduh saya sembarangan. Kalau saya memang niat bolos, ngapain juga saya harus capek - capek bawa mobil mogok ! Mending saya tidur aja di rumah.


Toh, orang tua saya gak melarang dan marah sama saya kalau lagi males kuliah ! " bantah Zia akhir nya karena gak tahan dengan


kata - kata pedas yang keluar dari mulut Abdi.


Abdi menarik sudut bibirnya mendengar jawaban berani dari Zia.


" Hmm ... kalau kamu memang niat kuliah, sekarang ikut saya !" ujar Abdi.


" Maksud bapak ?" tanya Zia dengan wajah terkejut.

__ADS_1


" Masuk ke mobil saya ! " ujar Abdi dengan wajah dinginnya.


" Buat apa saya masuk ke mobil bapak ?" tanya Zia gak paham.


" Gak usah banyak tanya ! Kamu mau kuliah apa gak ? atau kamu mau gak lulus lagi mata kuliah saya !" ujar Abdi dengan menatap tajam pada Zia.


Zia terperanjat mendengar omongan Pak Abdi. Ia gak menyangka kalau maksud Pak Abdi mengajak nya pergi bersama ke kampus.


" Hee ... gak usah, Pak ... ! Saya naik taksi aja !" tolak Zia dengan sopan.


" Ya, terserah kamu kalau gak mau menerima tawaran saya ! Kamu yakin bisa mendapatkan taksi disini ! Hmm ...Ya, sudah pokoknya jika sampai kamu datang terlambat di pelajaran saya. Jangan harap kamu bisa masuk !" ujar Abdi.


Zia gelagapan mendengar ancaman Abdi.


" Ih, dosen satu ini nyebelin banget ! Padahal ganteng tapi sayang wajahnya kaku , kaya es batu !" umpat Zia dalam hati dengan kesal.


Abdi berjalan menjauh meninggalkan Zia sendiri, lalu masuk ke mobilnya. Kemudian mobilnya melaju dengan kencang.


Sementara Zia walaupun lega karena Abdi sudah pergi meninggalkannya tapi mulai merasa khawatir. Bagaimana jika ia tidak menemukan taksi online disini, bisa terlambat beneran dia ke kampus.


Ia semakin cemas saat udah beberapa kali taksi yang ia pesan mendadak mengcancel tanpa alasan yang jelas.


Belum lagi, Dea tetap gak bisa ia hubungi. Pengen menelepon Audrey, tapi ia tahu gak mungkin mengganggunya saat sedang kerja.


Zia terpaksa masuk kembali ke dalam mobil, karena gak mau jadi pusat perhatian dari beberapa kendaraan yang lewat.


Zia menghela nafas dengan berat memikirkan hal ini. Dia harus minta tolong sama siapa ?


Tiba - tiba ada yang mengetuk kaca mobilnya. Zia yang lagi melamun kembali terkejut saat melihat Pak Abdi kembali menemuinya. Ia pun terpaksa keluar dari dalam mobilnya.


" Kamu ikut gak ? " tanyanya dengan dingin.


Zia yang sudah mulai lelah dan bosan menunggu taksi yang ia pesan akhirnya menerima tawaran Pak Abdi.


" Ikut, Pak ... !" ucap Zia.


" Hmm ... masuk ke mobil saya sekarang ! Jangan pikirkan mobil kamu. Sebentar lagi tukang bengkel langganan saya akan datang memperbaiki mobil kamu !"ujar Abdi tetap dengan mode dingin.


" Baik, Pak ... Terima kasih !" Zia menuruti perintah Abdi kali ini karena ia ingin secepatnya sampai ke kampus dan memarahi Dea yang handphonenya sibuk terus dari tadi.


Abdi melirik Zia dengan sudut matanya saat mereka berdua sudah berada di dalam mobilnya. Ia tersenyum tipis melihat gadis yang duduk di sebelah nya ini.


Sebenarnya kebetulan ia melewati jalan ini dan melihat Zia yang berdiri di dekat mobilnya. Karena ingin mencari tahu kabar mengenai Audrey, Abdi pun menghentikan mobilnya.


Sedangkan Zia gak berani bergerak dan mengeluarkan suara sama sekali karena takut Abdi akan memarahinya, seperti yang sering ia lakukan di kelas saat mengajar.


" Kamu masih sering ketemu dengan Audrey ?" akhirnya Abdi menanyakan pertanyaan yang sejak tadi ingin ia tanyakan.

__ADS_1


" Hah ... ? Sekarang sudah gak terlalu sering, Pak ... tapi masih ada ketemu." jawab Zia dengan perasaan kaget.


" Hmm ... kenapa kalian udah jarang ketemu ? Bukankah dulu kalian sangat dekat ?" tanya Abdi lagi.


" Audrey udah kerja di perusahaan orang tuanya, jadi gak mungkin bisa gabung lagi setiap hari seperti dulu. Paling kami bisa ngumpul kalau sedang weekend aja, Pak ... ! Tapi terkadang kami suka menginap di mansionnnya." Zia gak mengerti kenapa ia harus menjelaskan secara rinci pada Pak Abdi.


Abdi mendengar dengan serius semua yang di katakan Zia.


" Bagaimana kabar Audrey ? Bukankah kedua orang tuanya meninggal baru - baru ini. Apa dia baik - baik saja ? " tanya Abdi.


" Audrey baik - baik aja, Pak ... dia sudah bisa menerimanya dengan ikhlas. Tapi kenapa Pak Andi menanyakan Audrey ? Apa jangan - jangan bapak suka, ya sama Audrey ?" ujar Zia tanpa basa - basi.


Abdi berusaha menutupi perasaan gugup di hatinya karena pertanyaan mendadak Zia ini.


" Kamu bicara apa ! Lancang kamu ! Saya menanyakannya karena saya menyukai mahasiswa yang pintar dan berprestasi seperti Audrey bukan seperti mahasiswa lain yang bisanya hanya bermain dan gak pernah serius dalam pelajaran." ujar Abdi menyindir Zia, setelah berhasil menenangkan hatinya yang bergejolak saat membicarakan. Audrey.


Zia langsung terdiam mendengar sindiran yang keluar dari mulut Pak Abdi.


" Nanti kamu turun di depan gerbang kampus. Saya tidak mau


mahasiswa lain dan dosen - dosen lain berpikir yang gak benar melihat kamu keluar dari mobil saya. Mengerti kamu !" ujar Abdi menatap Zia dengan wajah dinginnya.


" Baik, Pak ... !" sahut Zia berusaha tetap bersikap sopan meskipun dalam hati ingin sekali ia mencakar mulut pria disampingnya ini yang begitu pedas kalau menyampaikan sesuatu.


Tidak terasa, mobil yang dibawa Abdi susah mendekati gerbang kampusnya.


" Turun kamu !" ujar Abdi sembari menghentikan mobilnya.


Zia menghela nafas dengan kesal, karena ia harus berjalan lumayan jauh jika harus turun dari depan pintu gerbang. Tapi ia terpaksa menurut, karena apa yang di sampaikan Pak Abdi ada benarnya.


Ia juga gak mau dianggap punya hubungan dengan dosen sombong ini oleh teman - teman di kampusnya.


" Baik, Pak ... kalau begitu terima kasih atas tumpangan yang bapak berikan !" ucap Zia sebelum keluar dari mobil Abdi.


Begitu Zia keluar dari mobil Abdi,


Abdi segera menjalankan mobilnya kembali. Tapi kali ini tidak kencang seperti tadi.


Sementara Zia melotot dengan kesal ke arah mobil yang tadi memberikan tumpangan. padanya.


" Mau gak mau biar gak telat ... gue harus lari, kalau gak mau kena semprot lagi sama dosen killer itu !" ucap Zia menggerutu, tapi ia tetap melakukan niatnya.


Ia gak ingin berurusan lagi dengan pria es itu.


Zia pun mulai berlari, ia tidak perduli walau ada beberapa mahasiswa tersenyum


ke arahnya. Sekarang yang paling penting ia harus bisa lebih dulu masuk ke kelas di bandingkan dosen tengil itu.

__ADS_1


**********************************


__ADS_2