
Bella menghubungi Zia seperti yang di perintahkan Reno.
Tapi setelah beberapa kali ia coba telefon, Zia gak mengangkat ponselnya.
" Apa Zia udah tidur ?" gumam Bella.
Bella terpaksa menghentikan panggilannya.
" Besok aja kali ya di kampus, gue beritahu Zia dan Dea." ucap Bella lirih.
Sementara orang di mansion sedang pada tidur, Lily mulai bergerilya untuk mencari ruang - ruang rahasia disini dengan menggunakan topeng yang ia gunakan waktu Reno dan yang lain ingin masuk ke mansion.
Ia menemukan tempat latihan Audrey dan Rina di belakang mansion yang ditutupi oleh pepohonan besar.
Selama ini Lily penasaran jika melihat Audrey dan Rina pergi
ke arah belakang mansion.
Makanya kali ini ia sengaja mencari tahu hal ini lebih dulu.
Setelah melihat isi di dalamnya, Lily lalu keluar dan berjalan kembali menuju mansion.
Ia berjalan dengan mengendap
ke lantai atas menggunakan tangga agar tidak ketahuan.
Setelah itu, Lily membuka satu demi satu ruangan yang ada.
Matanya melotot melihat begitu banyak lukisan - lukisan mahal dan beberapa barang antik
di letakkan di sana.
Sebenarnya ia ingin sekali melihat isi dalam kamar Audrey.
Selama ini, hanya bik Imah dan dua orang pelayan kepercayaannya yang bisa masuk untuk membersihkan kamar Audrey. Sedangkan Lily sebagai pelayan baru tidak di bolehkan
naik ke area atas. Karena pekerjaannya hanya sebatas membersihkan ruang tamu
di lantai bawah dan sekitarnya.
Pernah Lily hampir bisa masuk
kedalam kamar Audrey, ketika pelayan membersihkan ia lupa menutup pintu. Tapi saat ia ingin masuk pelayan itu kembali dan mengunci pintu kamar Audrey.
Waktu itu untung saja Lily bisa cepat bersembunyi di kamar sebelah. Kalau tidak ia pasti langsung di pecat sama bik Imah.
Sepertinya ia harus membuat kunci palsu agar bisa masuk
ke dalam kamar Audrey dan setiap kamar yang terkunci.
Termasuk juga kamar Tuan Eldric dan Nyonya Elif di lantai bawah.
" Hmm ... sepertinya aku harus bisa menjadi teman dekat Audrey, agar ia percaya denganku. " ujar Lily tersenyum licik.
Ketika turun ke lantai bawah ia berusaha mencari kembali ruangan cctv yang sampai hari ini belum bisa juga ia temukan.
Tapi saat itu ia jelas sekali mengikuti bik Imah dan Rina tapi kenapa tiba - tiba mereka bisa
menghilang. Hal inilah yang membuat Lily penasaran. Berarti ada ruangan yang tersembunyi yang tidak ia ketahui.
Lily sudah setiap hari mengulang kembali setiap arah yang di tuju bik Imah tapi ia selalu terhenti
di ruangan buntu di sudut mansion ini.
" Kayanya aku harus memberikan obat tidur pada semua pelayan
disini agar siang aku bisa bebas mencarinya. " batin Lily.
Lily akhirnya kembali ke kamar dan memutuskan untuk istirahat agar besok bisa menjalankan
rencananya.
Pagi sudah menjelang, Audrey dan Rina yang baru saja selesai sholat subuh turun ke lantai bawah. Entah kenapa hari ini Audrey ingin sekali masuk
ke kamar orang tuanya.
" Drey, gue gak papa nih ikut masuk kedalam kamar orang tua Lo ?" tanya Rina segan.
" Gak papa Rin ... gue mau Lo temani gue nyari sesuatu di kamar
Daddy. Gue yakin, sebelum Daddy pergi pasti sudah meninggalkan hal penting di kamarnya." ujar
__ADS_1
Audrey.
" Baiklah ... !" ucap Rina sembari ikut masuk kekamar setelah Audrey membuka pintu kamar Daddy Eldric.
Begitu masuk kekamar, Rina kembali menatap dengan mulut tercengang. Meski ia sudah sering melihat kemewahan di mansion ini tapi tetap saja ia terpana
dengan keadaan kamar orang tua Audrey. Kamarnya sama besarnya dengan kamar Audrey tapi lebih klasik. Sedangkan kamar Audrey lebih modern.
Audrey segera membuka lemari
di ruangan kerja Daddy nya. Ia kemudian mengeluarkan semua dokumen dan berkas yang ada didalamnya.
Audrey membaca satu demi satu dokumen dengan teliti, dibantu Rina.
Sementara itu para pelayan sudah mulai kembali beraktivitas. Termasuk juga Lily. Tapi ia belum melihat keberadaan bik Imah.
Padahal biasanya, ia selalu lebih dulu berada di bawah untuk mengatur tugas - tugas pelayan
setiap harinya.
" Apa jangan - jangan obat itu sudah mulai bereaksi ?" batin Lily.
Memikirkan hal ini Lily mendadak merasa senang. Berarti rencana
mereka sudah berjalan dan tinggal melaksanakan rencana selanjutnya.
Bik Imah yang baru saja selesai mandi, kemudian bergegas memakai pakaiannya. Ia sangat terkejut karena ia bangun kesiangan. Tapi ia bersyukur ternyata jantungnya baik - baik saja. Karena saat ia terbangun tadi, ia sudah tidak merasakan nyeri lagi di dadanya.
Bik Imah segera keluar dari kamar untuk mengerjakan tugas seperti biasanya. Ia melihat para pelayan sedang menunggu kehadiran nya.
" Maaf, saya telat ... ! Sekarang seperti biasa kerjakan tugas kalian. " perintah Bik Imah.
" Baik, Bu ... " jawab mereka serempak.
" Apa non Audrey sudah turun ?" tanya bik Imah pada asistennya.
" Belum, Bu Imah ... " jawabnya yang tidak mengetahui kalau Audrey dan Rina sedang berada
di kamar Tuan Eldric.
" Hmm ... kalau begitu, tolong kamu naik keatas dan bangunkan.
" Baik, bu ... " sahut pelayan sembari berjalan menuju lantai atas.
Lily yang melihat bik Imah masih baik - baik saja jadi merasa kesal.
" Ternyata si tua ini masih kuat juga. Apa obat itu gak ada pengaruh sama jantungnya ?" ujar Lily penasaran.
" Maaf Bu ... nona Audrey sepertinya tidak berada di kamar."
ujar pelayan yang di perintah kan bik Imah untuk membangunkan
Audrey dan Rina.
Dahi bik Imah berkerut saat mendengar perkataan pelayan.
" Kemana non Audrey dan Rina ?
Tidak mungkin mereka sudah pergi ke perusahaan. " ucap Bik Imah dalam hati.
Lily juga mendengar saat pelayan, atau salah satu tangan kanan bik Imah melaporkan bahwa Audrey tidak ada di kamar. Hal ini membuatnya berpikir hal yang sama seperti yang di pikirkan
oleh bik Imah.
Audrey yang masih berkecamuk dengan semua dokumen milik Daddy nya, merasa bingung karena tidak menemukan hal yang
ingin dicarinya. Ia kemudian menghentikan pencariannya.
Dokumen yang ada di lemari hanyalah dokumen biasa, bukanlah dokumen penting seperti yang diharapkan Audrey.
Lalu Audrey mencoba mengingat kembali semua perkataan dan pesan yang diucapkan Daddy dan mommy nya sebelum pergi meninggalkan dirinya, agar ia bisa
memahami maksud pesan tersebut.
Rina yang melihat Audrey duduk
dengan dahi berkerut merasa heran karena Audrey tiba - tiba berhenti membaca dokumen yang
di hadapannya.
" Drey ... Lo kenapa ? " tanya Rina.
__ADS_1
Audrey tidak menjawab pertanyaan dari Rina, karena ia baru mengingat hal penting yang
dikatakan daddynya. Saat itu, Daddy nya seakan - akan sudah bisa menduga kalau perusahaan akan segera mengalami masalah jika ia sudah tidak berada disini.
" Apa mungkin Daddy sudah tahu,
kalau perusahaan akan mengalami masalah jika ia tidak
ada ? Apa Daddy sebenarnya juga sudah tahu siapa yang berkhianat padanya di perusahaan. Sehingga ia sengaja menyisakan dua perusahaan ini atas namaku ? Sedangkan perusahaan yang lain dibuat seolah sudah di jual kepada Kimberly, agar mereka tidak bisa berbuat curang seperti yang mereka lakukan pada perusahaan yang ku jalankan ?
Atau Daddy sudah tahu, jika ada yang berniat mengambil perusahaan dari tanganku dengan cara membuat bangkrut perusahaan. Hmm ... sepertinya begitu. " ujar Audrey setelah berpikir dengan keras.
Akhirnya Audrey menemukan jalan keluar setelah memikirkan
alasan daddy sengaja menyisakan
dua perusahaan atas nama Audrey. Ia sudah tenang sekarang.
Audrey tidak perlu bersusah payah
menyelamatkan perusahaan lagi.
Karena pasti Daddy nya juga tahu,
perusahaan ini memang jadi target utama musuh yang mengincar mereka.
" Drey ... Lo lagi mikirin apa sih ? "
tanya Rina lagi dengan suara yang lebih keras.
Mendengar Rina memanggilnya membuat Audrey tersadar bahwa ia tidak sedang sendirian dikamar
ini.
" Oh, gak papa ... gue hanya mengingat kembali apa yang
dikatakan Daddy sama gue sebelum pergi. " jawab Audrey dengan senyum di bibirnya.
" Terus ... elo tahu sesuatu ?" tabah Rina penasaran.
" Hmm ... ya, udah sekarang lebih baik kita mandi biar segera pergi
keperusahaan. " ujar Audrey.
" Tapi kita belum menemukan apa yang elo butuhkan. " ucap Rina.
" Nanti juga elo tahu. Yuk, kita keluar sekarang. " ujar Audrey sembari mengembalikan semua dokumen daddynya ke lemari.
Rina memandang Audrey dengan tatapan tidak mengerti. Kenapa
Audrey malah terlihat santai dan
tidak bingung seperti tadi saat mereka memeriksa dokumen.
Tapi Rina tetap mengikuti langkah Audrey untuk keluar dari kamar Tuan Eldric.
Lily yang sedang bebersih segera menghentikan pekerjaannya ketika melihat Audrey dan Rina yang keluar dari kamar Tuan Eldric.
" Mereka sedang apa di kamar itu ? Ih, enak banget si Rina ... bisa ikut masuk kedalam. Pasti
dikamar itu banyak barang berharga. Aku harus secepatnya bisa berteman dengan Audrey agar bisa memudahkan rencana ku. " ucapnya dalam hati.
" Pagi, non Audrey, non Rina ... tadi Bu Imah mencari nona. " ujar Lily tersenyum kepada Audrey.
Meski sebenarnya ia sangat kesal karena harus bersikap baik pada mereka.
Sedangkan Rina melihat Lily dengan tatapan curiga.
" Pagi ... bik Imah dimana sekarang ?" kata Audrey.
" Sepertinya tadi naik keatas, non ... " jawab Lily sopan.
" Hmm ... baik. " sahut Audrey singkat lalu melangkah pergi bersama Rina meninggalkan Lily
yang melihatnya dengan tatapan marah karena Audrey mengacuhkannya.
" Gak papa ... elo bisa sombong sekarang. Tapi Elo liat aja nanti apa yang terjadi sama diri Lo kalau Reno sudah berhasil menjalankan semua rencananya. "
ucap Lily dengan seringai diwajahnya.
**********************************
__ADS_1