Cinta Dan Dendam Audrey

Cinta Dan Dendam Audrey
Episode 111


__ADS_3

Bella yang baru pulang setelah kemarin berpesta pora dengan teman - teman barunya segera naik ke lantai atas. Sebelum masuk ke kamar nya, ia berniat menganggu Audrey terlebih dulu.


Sekarang ada kepuasan tersendiri baginya jika melihat keadaan Audrey yang tak berdaya.


Dengan kasar ia membuka pintu kamar Audrey. Tapi melihat pintu itu terkunci, membuatnya emosi.


Bella mengetuk dengan keras sembari berteriak.


Sementara itu Audrey dan Rina yang sedang berada di kamar mandi sedikit terkejut. Mereka tidak menyangka kalau Bella udah pulang jam segini. Apalagi Titi tidak memberitahu mereka tentang kepulangan Bella.


" Hey, ca**t ... ! ngapain Lo di - dalam ? Buka pintunya ! " ujar Bella kasar.


Rina yang mendengar perkataan Bella langsung emosi. Ia tidak terima Bella menghina Audrey.


" Udah, sabar Ta. Kendalikan dirimu. Aku gak papa. Aku sudah terbiasa mendapatkan perlakuan seperti itu. Jangan sampai Bella curiga denganmu !" ucap Audrey menenangkan Rina yang menyamar menjadi Ita, pelayan.


" Tapi dia kurang ajar, Drey. Sikapnya gak bisa di biarin !" sahut Rina kesal.


" Hee, jangan di dengar. Dia udah sering memperlakukanku begitu. Jadi aku udah kebal. Kamu juga harus membiasakan diri. Sabar ya ! Sekarang tarik nafas, buang perlahan. Buang amarah di - hatimu !" kata Audrey sembari tersenyum.


Meski belum bisa terima tapi Rina mendengarkan saran dari Audrey. Kemudian ia memejamkan matanya dan berusaha menenangkan hatinya. Setelah berhasil Rina kembali membuka matanya.


" Udah tenang ? Sekarang buka pintunya sebelum dia teriak lebih keras lagi. " ucap Audrey.


Rina menganggukkan kepala dan berusaha tersenyum.


" Woi ... buka gak ? Kalau gak gue dobrak pintunya !" teriak Bella lagi.


Rina pun berjalan ke arah pintu setelah mendengar lagi teriakan dari Bella. Ia benar - benar berusaha keras agar wajahnya tidak kelihatan emosi.


Begitu pintu terbuka, Bella langsung menerjang masuk ke - kamar Audrey.


" Hey, ca**t ! sekarang Lo bukan hanya lu*puh ya tapi b*sudan tu*i juga. Apa Lo gak dengar gue teriak dari tadi, hah !" umpat Bella kasar pada Audrey dengan mata melotot.


Rina mengepalkan kedua tangannya dengan erat, hingga memerah. Ia menahan amarahnya yang hampir saja meledak mendengar omongan Bella yang kasar. Jika saja ia tidak teringat akan pesan Audrey, mungkin saat ini Rina akan menampar mulut Bella dengan keras.


Sedangkan Audrey yang sudah biasa melihat dan mendapatkan perlakuan kasar dari Bella dan Lily , hanya membisu. Ia harus tetap merupakan aktingnya yang berpura - pura tidak bisa bicara lagi.


" Hey, Lo gak dengar omongan gue !" ujar Bella semakin kesal karena Audrey tidak meresponnya. Ia lalu menampar wajah Audrey dengan keras.


Rina mengigit bibir bawahnya untuk menahan rasa marah di hatinya saat ini melihat apa yang di lakukan Bella pada Audrey. Rasanya ingin sekali ia membalas perlakuan kasar Bella terhadap Audrey. Ia gak tega melihat Audrey di perlakukan seperti itu.


Audrey yang selalu di hormati dan di kagumi setiap orang yang melihatnya, tapi malah di tempat tinggalnya sendiri ia mendapatkan penghinaan dan kekerasan.


Sementara Audrey yang sudah sering dikasari oleh Bella bersikap biasa saja. Ia menahan rasa perih di pipinya. Wajahnya terlihat datar.


" Maaf, nona. Tapi non Audrey sudah mulai tidak bisa bicara. Belakangan ini kondisinya semakin memburuk. Sepertinya telinga non Audrey juga sudah sulit untuk mendengar lagi. " ujar Titi yang tiba - tiba sudah masuk ke dalam kamar Audrey. Ia tadi kecolongan karena tidak melihat Bella pulang. Untung saja suara teriakan Bella terdengar sampai ke lantai bawah. Kalau tidak Titi gak akan tahu.


Tidak mungkin Rina yang menjawab, karena dia baru bekerja di mansion. Bisa - bisa membuat Bella curiga.


" Hah ? Apa yang Lo katakan tentang si ca**t ini benar ? Kenapa gue gak tahu ? Apa Lily juga udah tahu kondisinya ?" tanya Bella dengan tatapan gak percaya. Ia bahkan sudah tidak perduli penyebab rasa kesalnya karena pintu kamar Audrey terkunci. Bella lebih tertarik dengan apa yang di katakan Titi.


" Benar, non Bella. Saya gak berani bohong. Non Lily belum tahu, karena saya juga baru tahu kondisi non Audrey seperti ini tadi sewaktu memberikannya makan.


Dia tidak bicara sama sekali. Waktu saya memanggilnya, non Audrey juga gak menyahut !" ujar Titi berbohong dengan wajah meyakinkan. Ia bisa bicara dengan lancar karena hal ini sebelumnya sudah mereka bicarakan terlebih dahulu.


" Hah ... hahaha. Bagus, bagus ! Ini kabar yang sangat bagus. Lily memang sangat jenius !" tawa Bella terdengar menggelegar di - kamar Audrey.


Ia terlihat begitu bahagia mendengar apa yang di sampaikan oleh Titi.


Audrey hanya menatap Bella tanpa ekspresi sedikitpun di - wajahnya. Seakan - akan ia memang tidak bisa mendengar apa yang di katakan Bella. Ia dengan sangat pintar memainkan peran yang sedang di jalaninya.


" Lily mana ?" tanya Bella masih dengan tawa menghiasi wajahnya. Kehadiran Rina yang berdiri di dekat pintu bahkan tak di pedulikan olehnya.


" Non Lily, tadi keluar non. " jawab Titi.


" Oh, terus apa Reno sudah datang ke mansion ?" tanya Bella lagi. Kali ini wajahnya terlihat penasaran.


" Tuan Reno, sejak tadi malam sudah tinggal di sini, non Bella. " jawab Titi sopan.


" Hmm ... dia tidur di mana ? " tanya Bella ingin tahu meski sebenarnya ia sudah bisa menduga kalau Reno tidur bersama Lily.


" Tuan Reno tidur di kamar bawah bersama non Lily, non ... !" ujar Titi.


" Sudah gue duga. Gak mungkin Lily melepaskan Reno buat tidur di kamar lain. " gumam Bella pelan.


" Sekarang tolong siapkan air buat mandi gue ! " perintah Bella dengan gaya angkuh pada Titi.


" Baik, non ... tapi maaf sebelumnya saya mau memberitahu kalau ini Ita. Dia pelayan baru yang menggantikan Mina. Ita yang sekarang mengurus non Audrey. " ujar Titi mengenalkan Rina.


Rina langsung membungkukkan badannya dengan sopan ke arah Bella. Meski ia harus mengutuk dalam hati.


" Saya Ita, non ... " ujar Rina memperkenalkan dirinya.


Bella sempat terdiam sejenak begitu ia melihat wajah pelayan di depannya.

__ADS_1


" Hmm ... wajahnya terlihat tidak asing ? " gumam Bella dalam hati, sembari menatap serius ke arah Rina.


Jantung Audrey dan Rina berdetak lebih cepat melihat sikap Bella yang terlihat curiga.


" Apa dia mengenalku ? Padahal aku sudah menyamar sebaik mungkin." batin Rina.


" Ita, dari kampung yang sama dengan Mina, non. Dia lagi butuh pekerjaan. Karena Mina harus kembali ke kampungnya, jadi Ita yang menggantikan Mina. " ujar Titi sengaja mengatakan ini agar Bella tidak curiga.


" Oh ... !" sahut Bella acuh.


" Hmm ... mungkin hanya pikiranku saja. Perempuan ini dari kampung yang sama dengan Mina. Mana mungkin gue mengenalnya. " ucap Bella dalam hati.


" Ya, sudah ... siapakan air cepat !" perintah Bella dengan kasar pada Titi.


" Baik, non ... saya permisi. " ujar Titi, lalu melangkah keluar dari kamar Audrey.


Bella tak menjawab perkataan Titi, ia malah memandang ke arah Audrey dengan tatapan sinis.


" Hei, kamu ... tugas kamu hanya memberinya makan si ca**t ini. Gak usah terlalu mengurusi hal lain yang gak penting. Biarkan saja tidak mandi ! Kamu dengar ... !" ujar Bella pada Rina.


" Ya, non ... saya mendengarnya. " jawab Rina menekan emosinya.


" Bagus. Gak penting juga dia di - mandikan, karena perempuan ini cuma tergeletak di tempat tidur. " ujar Bella kembali memandang remeh Audrey.


" Baik, non !" sahut Rina.


" Hmm ... ya, sudah. Saya mau ke kamar. Kamu juga keluar dari kamar si ca**t ini. Gak perlu menemaninya. Kerjakan pekerjaan yang lain !" perintah Bella sembari melangkahkan kakinya ke arah pintu.


" Baik, non ... " sahut Rina cepat.


Begitu mendengar jawaban Rina, Bella pun berjalan keluar dari kamar Audrey. Setelah mendengar pintu kamar Bella tertutup, Rina kemudian menghampiri Audrey.


" Sakit, Drey ?" tanya Rina sambil menyentuh wajah Audrey.


" Tidak !" jawab Audrey singkat dengan senyum tipis di bibirnya.


Rasanya Rina ingin menangis melihat Audrey. Ia bahkan tersenyum untuk menutupi kesakitan nya.


" Apa mereka sering melakukan ini pada Lo, Drey ?" tanya Rina meski ia juga sudah tahu jawabannya.


" Hmm ... tapi itu gak penting. Gue masih bisa menghadapinya. Sekarang sebaiknya Lo keluar dari kamar gue, Rin ... Jangan sampai Bella tahu lo masih disini. Nanti Lo bisa kena marah sama dia. Gue gak papa. Nanti setelah Lo selesai kerja, elo bisa datang lagi ke kamar ini. " ucap Audrey dengan suara pelan.


Rina menghela nafas berat.


" Baiklah. Gue ke bawah dulu, ya.


" Ya, jangan khawatir. Gue baik - baik saja. " ucap Audrey.


" Hmm ... gue keluar ya." ujar Rina.


Audrey hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban atas omongan Rina.


Langkah Rina terasa berat meninggalkan Audrey sendirian


di kamar. Ia khawatir Bella melakukan hal kasar lagi padanya. Tapi jika ia tidak mengerjakan pekerjaannya yang lain akan membuat Bella semakin marah.


Rina lalu menutup pintu kamar Audrey begitu ia berada di luar. Ia berdiri sebentar di depan pintu Audrey untuk meredakan gemuruh di hatinya. Ingin sekali ia bisa secepatnya membawa Audrey keluar dari mansion ini. Tapi mereka tidak boleh gegabah. Ia tidak ingin apa yang telah di - rencanakan oleh Audrey jadi sia - sia.


Audrey menarik nafas panjang dan menghempaskannya dengan kasar sepeninggal Rina. Ia juga sedang menekan rasa marahnya.


Sejak ia sering di perlakukan kasar oleh Lily dan Bella, sifat Audrey yang biasanya lembut berubah menjadi lebih keras. Semua pengkhianatan dan penghinaan yang ia dapatkan dari mereka membuat hati Audrey menjadi dingin. Ia bahkan sudah bisa menahan rasa sakit dari tamparan, p***lan dan t****ngan yang di lakukan mereka berdua.


Sekarang ia harus menyiapkan diri menghadapi Reno. Ia yakin Reno akan bersikap lebih mengerikan di bandingkan mereka berdua.


Andai saja ia sudah bisa berdiri dan berjalan dengan bebas, ia tidak akan kesulitan seperti sekarang. Ia yakin bisa menghadapi Reno seorang diri.


" Kemana semua bodyguard mereka singkirkan ? Apa sudah mereka habisi ?" pertanyaan ini selalu memenuhi kepala Audrey. Karena sejak ia mengalami kecelakaan, Audrey sudah tidak pernah melihat keberadaan mereka lagi."


" Apa Zia dan Dea tidak curiga dengan alasan yang di berikan Bella ? Kenapa mereka percaya begitu saja dengan perkataan Bella ? Apa mereka berdua baik - baik saja ? Apa aku harus menghubungi kak Kevin dan memberitahu tentang keadaanku sekarang ? Ah, tapi sebaiknya tidak sekarang. Aku yakin masih bisa menanganinya. Kak Kevin pasti masih sibuk menangani perusahaan di sana. " ucap Audrey bicara pada dirinya sendiri.


" Hmm ... sebaiknya aku naik ke - tempat tidur. Aku yakin sebentar lagi Lily dan Reno akan pulang. Bisa berbahaya kalau mereka melihatku begini. " Audrey lalu menjalankan kursi rodanya dan perlahan naik ke atas tempat tidur.


Tepat, pukul delapan malam, Lily pun pulang setelah puas jalan dan shopping seharian.


" Selamat datang, nona !" sapa Rina sengaja mengambil hati Lily.


" Hmm ... Oya, Nana dan Titi mana ? Apa Nana sudah menyiapkan makan malam. Sebentar lagi suamiku akan pulang. " ujar Lily.


" Bu Nana dan saya sudah menyiapkan semuanya di meja makan, non. Sekarang beliau sedang berada


di kamarnya ? Kalau Titi, ia baru saja izin buat mandi, setelah tadi kami selesai membersihkan gudang." jawab Rina.


" Apa saja sih, yang dikerjakannya di kamar ! Sekarang sikapnya semakin kurang ajar saja. Dia bahkan tidak menyambut ku !" ujar Lily marah karena melihat sikap Nana yang semakin hari semakin bertingkah seenaknya saja.


" Maaf, non Lily. Tadi Bu Nana bilang kalau ia kurang sehat. Makanya beliau minta tolong pada saya untuk menyampaikan maaf pada nona, karena tidak bisa menyambut kepulangan nona." ujar Rina berusaha mengambil hati Lily.

__ADS_1


" Alasan ! Sudah mulai bertingkah dia rupanya !" ujar Lily geram.


Rina diam dan hanya mendengarkan perkataan Lily tanpa mengomentari.


" Apa nona mau mandi dulu atau langsung makan ? Kalau nona mau mandi biar saya siapkan air hangatnya." ujar Rina.


" Tidak, badan saya lengket, setelah seharian di luar. Jadi lebih baik mandi dulu. Lagi pula saya menunggu suami saya pulang. Sekarang, kamu siapkan air hangat buat saya !" ujar Lily dengan gaya angkuhnya.


" Baiklah kalau begitu, nona. " sahut Rina. Tapi saat ia hendak berjalan menuju kamar Lily yang dulunya merupakan kamar kedua orang tua Audrey, suara Lily menahan langkah Rina.


" Hey, kamu ... siapa nama kamu ? Saya tidak ingat." tanya Lily.


" Nama saya Ita, non. " jawab Rina.


" Hmm ... saya ingatkan sama kamu. Kamu hanya boleh masuk ke kamar menyediakan yang saya perlukan dan membersihkan kamar jika suami saya sedang tidak ada kamar. Kalau suami saya ada, jangan pernah berani lancang untuk masuk. Mengerti kamu !" perintah Lily dengan wajah sinis.


" Ya, saya mengerti non !" jawab Rina masih dengan sikap sopan.


" Hmm ... gimana perkembangan si ca**t itu ?" tanya Lily.


" Maaf, sebelumnya non. Tadi saya tahu dari Titi kalau non Audrey, kondisinya semakin buruk. Bahkan dia sudah tidak bisa mendengar dan berbicara. " ujar Rina sengaja ingin melihat reaksi Lily.


" Hah ... benarkah ?" tanya Lily tak percaya.


" Ya, non ... benar. Tadi non Bella juga sudah melihatnya sendiri. " ujar Rina memastikan biar lebih terlihat meyakinkan.


" Hahahaha ... bagus ! Ini baru berita menyenangkan. Akhirnya dia tidak bisa apa - apa sekarang !" tawa Lily yang kencang memenuhi ruangan. Ia begitu bahagia mendengar perkataan Rina. Lily bahkan tidak perduli dengan kepulangan Bella.


" Saya sudah boleh pergi, non ?" tanya Rina melihat Lily terus tertawa.


" Ya, ya ... pergi sana. Saya mau melihat sendiri kondisi perempuan ca**t itu ! Oya, saya ingatkan sama kamu, jangan berani lancang di kamar saya. Jika saya lihat ada yang hilang di kamar, saya akan menghukum kamu !" ujar Lily mengancam Rina.


" Saya gak mungkin berani, non. Saya sangat membutuhkan pekerjaan ini. " ucap Rina sembari membungkukkan badan dengan wajah yang di buat takut.


" Hahaha ... bagus, bagus ! Saya suka. " ujar Lily senang. Ia lalu melangkah pergi meninggalkan Rina.


Rina memandang kepergian Lily dengan mata yang penuh kebencian. Sebenarnya ia khawatir dengan keadaan Audrey saat ini. Ia takut Lily melakukan hal yang sama dengan yang di - lakukan Bella tadi. Rasanya ingin dia menyusul ke atas tapi jika ia melakukan itu pasti Lily akan curiga. Lebih baik ia mengerjakan apa yang di perintahkan oleh Lily.


" Semoga Audrey baik - baik saja." gumam Rina pelan.


Sementara itu, Lily sudah tiba di depan kamar Audrey. Ia sudah tidak sabar melihat dengan mata kepalanya sendiri kalau sekarang Audrey sudah semakin tidak berdaya.


Audrey yang mendengar langkah kaki di depan pintu kamarnya


buru - buru menutup mata. Ia segera memasang wajah seperti seorang pesakitan.


Lily membuka pintu kamar Audrey dengan kasar. Ia segera menghampiri Audrey yang terbaring dengan tak berdaya di - tempat tidur. Lily memperhatikan dengan serius wajah Audrey sejenak. Baru setelah puas melihat kondisi Audrey yang terlihat tidak baik - baik saja, ia langsung mengguncang badan Audrey dengan kasar.


Audrey terpaksa membuka kedua matanya agar Lily tidak curiga.


" Hey, ca**t ... aku dengar sekarang kamu sudah gak bisa bicara dan mendengar sama sekali. Kenapa kamu gak ma*i aja sekalian !" ujar Lily dengan seringai di wajahnya. Ia lalu mencengkram wajah Audrey dengan keras dan bahkan sengaja menekannya.


Audrey bersikap seakan ia tidak bisa mendengar sama sekali apapun yang dikatakan Lily. Ia menahan sakit saat wajahnya di - pegang oleh Lily. Walau hatinya begitu marah saat Lily menginginkan kematiannya. Audrey hanya menatap Lily dengan mata penuh kebingungan.


" Hey, kamu dengar tidak. Sebaiknya kamu m**i saja ! Kamu beneran menyedihkan. Kamu tahu, selama ini semua pujian yang kamu dapatkan tidak pantas buatmu. Sekarang kamu hanya seorang perempuan yang tidak berguna. Bahkan teman - teman dekatmu itu sudah tidak perduli lagi denganmu ... Hahaha.


Rina, si perempuan kampung itu juga sudah menghilang. Dia juga memanfaatkan kamu. Kamu tahu, dia hanya butuh fasilitas dan kekayaan kamu. Setelah tahu kamu ca**t, dia bahkan tidak pernah berusaha untuk mendatangimu lagi. Kasihan banget kan nasib kamu. Tuan putri yang selama ini selalu di agung - agungkan semua orang, sekarang hanyalah wanita yang tidak berguna !" ujar Lily menatap Audrey dengan pandangan yang merendahkan.


Audrey tetap tak terpengaruh dengan semua hinaan yang di katakan Lily. Akting yang sedang ia mainkan begitu alami. Audrey benar - benar terlihat seperti tidak bisa mendengar sama sekali.


Lily yang kesal karena melihat Audrey hanya menatapnya, langsung menampar kedua pipi Audrey dengan kuat hingga sudut bibir Audrey berdarah.


" Gimana, sakit gak ? Lawan dong ! Maki gue ... eh, sorry gue lupa. Elo kan udah gak bisa ngomong ... hahaha. " ejek Lily tertawa puas.


Bella yang kamarnya tepat di - sebelah kamar Audrey bersikap tidak perduli. Ia hanya tersenyum lebar mendengar Lily menghina dan menampar Audrey.


Audrey berusaha menahan sakit yang ia rasakan walau wajahnya mulai terasa perih.


Rina dan Titi yang mendengar teriakan Lily, ingin sekali mendatangi dan masuk ke kamar Audrey. Tapi jika mereka sampai melakukan itu pasti Lily tidak akan suka. Jadi, terpaksa mereka menahan keinginan itu.


" Kasihan non Audrey. Lily pasti menyiksanya lagi." bisik Titi lirih.


Rina hanya diam dan menahan kemarahannya. Sejak ia keluar dari mansion sudah begitu banyak penderitaan dan siksaan yang di rasakan Audrey. Sebenarnya Rina sudah lama menyuruh Audrey untuk pergi dari mansion, tapi selalu saja di tolak oleh Audrey.


Ketika ia menanyakan apa alasannya, Audrey hanya menjawab belum waktunya.


Tapi Rina tidak mengerti apa yang di maksudkan Audrey dengan kalimat belum waktunya itu. Kenapa ia harus rela mengorbankan keselamatan nya dengan tetap bertahan di mansion ini. Padahal sudah jelas - jelas hanya penderitaan yang ia dapatkan.


Setelah puas melakukan hal itu pada Audrey, Lily melangkah keluar dengan wajah angkuh. Ia bahkan sengaja membanting pintu dengan kencang.


**********************************


Hai, jangan lupa like, koment yang positif dan vote nya.


Terima kasih ... 🙏🙏😘

__ADS_1


Love You All ❤️❤️❤️


__ADS_2