
" Seram Lo, Drey ... " ucap Rina
begitu sudah berada
di ruangan Audrey kembali.
" Hahaha ... santai aja Lo, Rin.
Gue harus bersikap begitu
di depan mereka kalau gak, bisa
habis gue." ujar Audrey tertawa.
" Iya, sih ... tapi Lo juga harus hati
hati, soalnya tadi gue lihat direktur
yang protes tadi sepertinya gak suka melihat elo." ucap Rina serius.
" Gue tahu ... makanya gue sengaja ngomong kaya gitu tadi."
sahut Audrey dengan santai.
" Sekarang gue ngerjain apa, nih ... ?" tanya Rina.
" Lo keluar dan panggil mbak Vina kemari ... baru setelah itu Lo ada kerjaan." kata Audrey.
" Okey ... " sahut Rina singkat lalu berjalan keluar untuk memanggil Vina, sekretaris Daddy Eldric.
" Mbak Vina ... mbak di panggil oleh Ibu Audrey keruangan nya."
ucap Rina sopan.
" Baiklah." jawab Vina sembari
membawa berkas dan catatan yang ia punya selama bekerja
dengan Tuan Eldric.
Rina dan Vina bersamaan berjalan menuju ruangan Audrey yang sedang menunggu kedatangan Vina. Ia terlihat serius membaca semua berkas yang ada
di ruangan Daddy nya.
Audrey segera memerintahkan masuk ketika pintu ruangan nya
di ketuk.
" Masuk." ucap Audrey.
Kemudian Rina dan Vina pun melangkah masuk kedalam setelah mendengar perkataan
Audrey.
" Pagi, Bu Audrey. " sapa Vina yang biasanya memanggil dengan sebutan nona sewaktu Eldric masih memimpin perusahaan.
Tapi sekarang ia tidak mungkin bisa bersikap sama seperti dulu lagi, karena walau bagaimana pun sekarang Audrey adalah pengganti Tuan Eldric.
Jadi ia harus menghormatinya.
" Pagi, mbak Vina. Oya, tolong kunci pintunya, ya ... " jawab Audrey lembut.
Ia tahu Vina adalah orang yang
bisa di percaya dan loyal terhadap
Daddy dan perusahaan ini.
Tapi tadi ia sengaja bersikap
tegas saat pertama kali bertemu
dengan Vina. Karena waktu itu,
ada asisten Daddy nya dan staf lainnya. Ia tidak ingin mereka curiga jika ia terlihat akrab dengan Vina.
" Bu Audrey ... ?" Vina melihat dengan tatapan gak mengerti, karena tadi sikap Audrey sangat berbeda saat berada di ruangan meeting.
Begitu juga dengan Rina. Ia memandang Audrey dengan tatapan heran. Bukankah tadi, Audrey bersikap dingin pada semuanya dan bahkan juga tidak mempercayai sekretaris pribadi Tuan Eldric, makanya Rina diangkat jadi asisten sekaligus sekretaris pribadinya Audrey.
Tapi kenapa sekarang ia bersikap seperti biasanya.
" Udah, mbak Vina ... kalau gak ada orang lain bersikap seperti biasa aja, seperti ketika masih ada Daddy dan Mommy.
" Hah, maksud Bu Audrey ?
Maaf, saya gak mengerti ?"
tanya Vina bingung.
" Udah, mbak Vina letakkan dulu semua berkas yang mbak pegang,
kemudian duduk. Banyak yang ingin saya tanyakan pada mbak, selama Daddy tidak bisa datang ke perusahaan. " ucap Audrey tersenyum.
" Baiklah . " jawab Vina heran sembari meletakkan berkas dan catatan yang dibawanya di meja
Audrey.
" Lo juga duduk, Rin ... ngapain
__ADS_1
bengong kaya gitu ?" ujar Audrey pada Rina dengan santai.
" Ah, okey ... !" sahut Rina langsung duduk, tapi matanya tak lepas melihat kearah sahabatnya
ini.
" Baiklah, begini mbak Vina.
Maaf, tadi saya harus bersikap
dingin dan tegas. Saya harus melakukannya agar tidak ada orang di perusahaan ini curiga.
Jika saya percaya pada mbak Vina."
" Maksud Bu Audrey ?".
" Udah, mbak ... panggil kaya biasa aja. Diruangan ini cuma ada kita bertiga. Maksud Audrey, aku
percaya dengan kesetiaan mbak Vina pada Daddy dan perusahaan.
Jadi Audrey minta, tanpa sepengetahuan yang lain ... tolong cari semua data yang disembunyikan oleh pihak - pihak
yang mencari keuntungan selama
Daddy tidak ada di perusahaan dan berikan pada Rina. Baru setelah itu Rina memberikan pada
Audrey.. Buat seolah - olah, mbak Vina sedang mengajarkan hal - hal yang belum di pahami oleh Rina dalam menangani masalah
semua jadwal yang akan Drey
jalankan. Jadi tidak akan menimbulkan kecurigaan buat
mereka yang berkhianat." jelas
Audrey dengan panjang.
Mata Vina langsung terbelalak
dengan lebar begitu mendengar penjelasan dari Audrey.
Ia sangat terharu, ternyata Audrey
mempercayainya.
Padahal tadi ia sudah sempat bersedih, karena melihat sikap
Audrey yang berubah dingin juga
padanya. Selama ini, ia sudah
menganggap Audrey seperti adiknya sendiri. Karena Vina sangat menghormati Tuan Eldric dan Nyonya Elif. Lagi pula, selama
ia selalu di perlakukan dengan
sangat baik. Vina bukan hanya dianggap sebagai karyawan biasa tapi diperlakukan layaknya keluarga. Tak jarang, Nyonya Elif
memberikan baju rancangannya
secara cuma - cuma buat Vina.
Belum lagi, mobil yang di pakainya sehari - hari adalah
pemberian dari Tuan Eldric dan
Nyonya Elif sebagai hadiah ulang
tahunnya. Makanya Vina begitu
bersedih saat mendengar berita
kematian mereka.
Hingga detik ini, ia masih belum bisa menerima bahwa kedua orang baik itu sudah tidak ada
lagi disini.
" Mbak ... " panggil Audrey pelan, karena melihat mata Vina yang berkaca - kaca.
Vina langsung bangkit dari tempat duduknya dan memeluk Audrey dengan erat dengan air mata yang
mulai bercucuran dari matanya.
" Maafkan, mbak Vina ... Drey.
Tadi mbak sempat berpikir kamu
sudah berubah dan tidak menganggap mbak sebagai kakakmu lagi." ujar Vina dengan suara terbata - bata.
" Mana mungkin aku berubah, mbak ... selama ini aku sudah
menganggap mbak Vina sebagai saudara bukan lagi sekretaris
Daddy. Tapi demi supaya mereka
tidak curiga sama mbak, aku terpaksa bersikap seperti tadi.
Agar kesannya aku mencurigai semua yang bekerja disini." ucap
Audrey membalas pelukan Vina.
__ADS_1
Air mata Vina semakin turun semakin deras begitu mendengar perkataan Audrey.
Rina yang melihat hal ini juga ikut merasa bersedih. Ia tahu kalau Audrey dan keluarganya adalah orang yang baik. Jadi, pantas saja
banyak yang sayang pada mereka.
" Baiklah, mbak akan berusaha keras untuk membantu kamu agar kita bisa segera mengetahui siapa
yang telah mengkhianati Tuan
Eldric." ujar Vina dengan suara serak karena menangis.
" Ya, mbak ... tapi mbak harus berhati - hati karena kita tidak tahu siapa yang ingin menghancurkan perusahaan Daddy. Jadi, mulai sekarang
mbak Vina harus terbiasa melihat sikapku yang dingin dan ketus
seperti tadi. Itu semua terpaksa
aku lakukan agar mereka tidak
curiga sama mbak Vina."
" Baik, mbak mengerti. Tapi apa kamu juga curiga dengan asisten
Tuan Eldric ?" tanya Vina serius.
" Aku harus mencurigai siapapun
yang berhubungan dengan Daddy
dan perusahaan. Tapi bukan berarti aku tidak percaya seratus
persen padanya. Aku hanya mencoba lebih berhati - hati, karena selama ini ia yang paling
tahu dan paham tentang perusahaan.
Bahkan setelah beberapa hari berita kematian Daddy dan Mommy, ia juga tidak mencoba
datang ke mansion, walau hanya sekedar datang untuk mengucapkan kata turut berduka. Bahkan, setelah masalah sebesar ini terjadi pada perusahaan, ia juga tetap gak berusaha untuk datang menemui ku dan memberitahukan semuanya.
Jadi, rasanya wajar jika aku
mencurigainya juga ... sama
seperti aku mencurigai yang lain."
" Mbak mengerti dengan kecurigaan kamu."
" Hmm ... ya sudah, mulai hari ini,
mbak Vina ajari Rina di ruangan
mbak ... buat mereka bisa melihat
kalau seakan - akan mbak Vina,
juga masuk dalam daftar orang
yang aku curigai."
" Baik, Drey ... kamu jangan khawatir. "
" Makasih, mbak ... ".
" Ya, kamu harus tetap kuat.
Tuan Eldric dan Nyonya Elif pasti bangga melihatmu."
" Ya, mbak ... Terima kasih."
" Sekarang mbak dan Rina akan
segera keluar dari ruangan kamu.
Nanti jika kamu butuh sesuatu
selain yang kamu katakan tadi,
langsung chat aja, mbak ... biar mbak Vina kerjakan."
" Okey ... !"
Setelah Vina paham akan tugas
yang diberikan Audrey padanya,
ia dan Rina segera keluar dari
ruangan Audrey agar tidak menimbulkan kecurigaan bagi yang lain karena ia sudah lumayan lama disini.
Audrey tersenyum saat melihat
keduanya keluar.
Ia yakin, semua kecurangan dan
pengkhianat di perusahaan ini akan bisa segera terungkap.
**********************************
__ADS_1