
" Loh, Bella mana, Drey ... ? " tanya Dea heran melihat hanya Audrey dan Rina yang kembali.
Zia juga terlihat sama ia heran karena tak melihat keberadaan Bella.
" Gak tahu itu anak kemana. Gak ada dia di toilet. " jawab Audrey.
" Iya, De, Zi ... Bella gak ada di toilet." Rina ikutan menjawab.
" Kemana sih perginya, Bella ... ? " gumam Dea sambil berpikir.
" Maaf, teman - teman. Pasti kalian nyariin, ya ... gue tadi ngobrol disana. Gue dapat kenalan cowok, ganteng banget. Sayang kalau di tinggal ... hehehe. " bohong Bella begitu berada dekat Audrey dan yang lain.
" Apaan sih Lo Bel ... kalau mau pergi itu bilang kenapa. Audrey sama Rina sampai nyusul Lo ke toilet. Sementara Lo malah enak - enakan ngobrol sama cowok." Zia langsung dengan mode bawelnya.
" Maaf, deh ... gue gak tahu kalau Audrey sampai nyariin. " Bella pura - pura menyesal dengan memasang wajah sedih.
Rina dalam diam mengamati wajah Bella. Ia merasa ada yang di tutupi oleh Bella.
" Bel, Lo ikut kepesta ini karena Audrey yang bawa. Jadi, bisa dong elo sedikit menghargai Audrey. Kami gak ngelarang Lo mau ngobrol ama siapa aja, tapi seharusnya Lo tadi ngomong dulu biar kami gak kecarian." Dea yang biasanya gak terlalu banyak bicara, berkata dengan serius pada Bella.
Bella meredam rasa marahnya mendengar perkataan Dea. Lagi - lagi karena Audrey.
" Ada apa Queen ... ? " Drake tersenyum menghampiri Audrey karena melihat ada perdebatan.
" Gak ada apa - apa, D ... " Audrey memberi kode agar Drake tenang.
" Hmm ... kalau ada apa - apa bilang ke gue. " sahut Drake merubah wajahnya jadi dingin saat melihat Bella sedang menatapnya.
" Huh ... ganteng tapi dingin banget. Penasaran gue, siapa sih ini cowok ? " ucap Bella dalam hati.
" Ya ... don't worry. " Audrey tersenyum menenangkan Drake.
" Drey, kenalin kita dong sama teman Lo .... " Zia nyeletuk.
Audrey melihat Drake untuk meminta persetujuannya. Setelah Drake mengangguk baru Audrey mengenalkan mereka pada Drake dan teman - temannya.
" Davis ... " Drake sengaja menyamarkan namanya. Begitu pula dengan yang lain, tidak ada yang memberitahu nama aslinya pada Zia, Dea, Rina dan Bella.
Bella sangat senang karena akhirnya bisa berkenalan dengan Drake. Siapa tahu pria ini juga bisa menjadi sumber uangnya. Ia sengaja memasang senyum paling manis di bibirnya.
Tapi Drake hanya bersikap dingin, begitu juga yang lain.
" Boleh, dong minta nomer ponsel kamu. " Bella dengan suara menggoda.
" Queen ... maaf, kami harus pergi." kata Drake tak mengacuhkan permintaan Bella.
" Baiklah, jangan lupa sebelum kalian pulang datang ke mansion gue." Audrey mengingatkan Drake.
" Okey, bye Queen ... " pamit Drake dan yang lain lalu beranjak pergi.
Merasa permintaannya tidak dikabulkan oleh Drake, lalu diacuhkan, Bella semakin bertambah iri sama Audrey.
" Drey ... kita juga pulang, yuk.
Lo kan mau nunggu telepon dari Tante dan Om ... " ajak Dea yang sudah mulai bosan berada di tempat seperti ini.
" Bentar lagi, dong Dea ... gueasih pengen disini. " protes Bella.
__ADS_1
Ia masih ingin lama berada ditempat ini. Tadi Bella sempat berkenalan dengan seorang pria tampan, pengusaha lagi.
Walaupun ia melihat pria itu bersama pasangannya tapi Bella tak perduli dan yakin kalau pria itu tertarik padanya. Buktinya begitu pacar pria itu pergi untuk ngobrol dengan teman wanitanya, pria itu langsung mendekati Bella. Bahkan mereka berdua saling bertukar nomer dan sudah janjian akan bertemu lagi malam ini di sebuah hotel.
Bella ingin sebanyak - sebanyaknya mengoleksi pria tampan dan kaya. Jadi ia mendapatkan uang yang banyak dengan mudah, seperti bersama Reno.
" Benar yang dibilang Dea, gue juga udah pengen rebahan. Dari pagi belum ada istirahat." Zia mendukung perkataan Dea.
Rina gak berani ikut berkomentar karena ia tahu diri, merasa belum pantas, walaupun sebenarnya ia juga ingin segera pulang dan istirahat seperti kata Zia.
" Udah, kita pulang duluan aja, Drey ... Bella kalau masih pengen lama disini, biarin aja." kata Dea lagi.
Audrey hanya bisa tersenyum mendengar perkataan Dea. Walaupun ia juga ingin cepat pulang agar bisa menerima telepon dari kedua orang tuanya. Tapi gak mungkin juga dia ninggalin Bella di pesta ini, sementara Audrey yang mengajaknya.
" Lo, kenapa sih De ... dari tadi gue lihat jutek terus sama gue." Bella bertanya dengan nada tidak senang melihat Dea.
" Siapa yang jutek sama Lo. Gue cuma pengen pulang, kita juga harus mikirin Audrey. Dia kan mau nunggu telepon dari orang tuannya." bantah Dea datar.
" Audrey nya aja biasa aja, kog malah Elo yang protes." balas Bella gak mau kalah.
" Itu karena Audrey terlalu baik jadi orang. Dia gak enak sama Lo, kalau harus memaksa kita pulang. Masa gitu aja gak ngerti ... " Zia sekarang ikut terbawa emosi melihat Bella yang egois.
" Udah, udah ... kog malah ribut sih. Gak papa kalau Bella masih pengen disini. Sebentar lagi aja kita pulangnya." Audrey berusaha menengahi perdebatan para sahabatnya.
" Maaf, Drey ... kamu itu terlalu baik. Benar kata Zia. Tapi jangan karena kebaikan elo, malah memberi kesempatan pada orang untuk memanfaatkannya. " Rina yang sedari tadi tidak ikut campur memberikan pendapatnya.
Rina yang sudah bisa menilai sikap dan sifat masing - masing walau baru bergabung dengan mereka merasa Bella bukanlah orang yang baik.
Bella tersenyum sinis mendengar Rina berani ikut berkomentar.
" Udahlah, sekarang kita pulang aja. Sorry, kalo gue egois ... gue cuma pengen kita sebentar lagi pulangnya. Gue jarang - jarang bisa ada di pesta seperti ini kalo gak karena diajak Audrey. Tapi karena elo semua gak mau, gak papa." Bella berusaha pura - pura mengalah walaupun sebenarnya ia kesal sekali melihat Audrey.
" Nah, gitu dong ... " sahut Zia senang.
" Tapi gue gak jadi nginap di mansion Lo ya, Drey ... tadi waktu gue di toilet, mama telepon minta malam ini gue pulang kerumah. Papa sakit jantungnya kumat." dusta Bella.
" Oh, kog Lo gak cerita sama kami, Bel ... ? " tanya Audrey perhatian.
" Gimana gue mau cerita, belum - belum udah diomelin sama Dea dan Zia." Bella sengaja menyudutkan mereka agar merasa bersalah.
" Sorry, Bel ... kami kan gak tahu." Zia dan Dea tampak menyesal.
" Gak papa ... " Bella berusaha terlihat baik seperti biasanya.
" Ya, udah ... jadi sekarang Lo ikut ke mansion gue dulu atau langsung di antar kerumah orang tua Lo ? " tanya Audrey.
" Gue ikut ke mansion Lo aja dulu, baru setelah mandi dan ganti baju pulang kerumah." Bella cepat - cepat menolaknya, dia tak ingin mereka mengantarnya kerumah.
Bisa ketahuan kalau ia cuma berbohong.
" Okey ... " Audrey lalu bangkit dari duduknya.
Begitu pula dengan yang lain.
Setelah berpamitan dengan Sheira, mereka pun melangkah keluar dari ballroom hotel.
Audrey memacu dengan kencang mobil sportnya karena ingin cepat sampai di mansion. Begitu pula dengan Dea dan Zia.
__ADS_1
Mereka balapan di jalan raya.
Zia dan Dea tertawa senang, karena sudah lama juga mereka tidak balapan seperti ini. Cuma Rina yang menjerit karena ketakutan.
Orang - orang yang melihat mobil mereka begitu kencang hanya bisa menggelengkan kepalanya.
" Dasar, kelakuan orang - orang kaya, ada - ada saja." ucap salah - satu pengguna jalan raya.
" Seru, Drey ... Udah lama juga kita gak balapan. " kata Zia begitu sampai di mansion.
" Hehehe ... tapi tadi ada yang jerit melulu di mobil, gue." Audrey sengaja meledek Rina.
" Maaf, jantung gue kaya mau lepas tadi. Abisnya gue takut. Seumur hidup baru kali ini gue ngerasain dibawa ngebut. Kalau di bus sama angkot gak seberapa kencangnya." jawab Rina masih dengan wajah pucat.
Mendengar perkataan Rina yang sangat polos membuat Audrey dan yang lain tertawa lebar. Cuma Bella yang merasa muak mendengarnya.
" Dasar kampungan, mobil sport bisa - bisanya disamain sama angkot." umpat Bella pelan.
" Drey, masuk yuk, gue risih banget nih, pengen mandi. " ucap Bella.
" Eh, iya ... lupa gue kalau Lo mau buru - buru." sahut Audrey.
Merekapun masuk ke mansion dan langsung naik ke lantai dua menuju kamar Audrey.
" Udah pada mandi sana, gue mandi di kamar mommy aja." ucap Audrey setelah terlebih dahulu mengambil baju tidur.
" Okey, deh ... " sahut Zia.
" Baju tidur buat Lo semua, ambil sendiri aja. " kata Audrey sebelum menghilang dibalik pintu kamarnya.
Setelah Audrey pergi, Bella langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh yang lengket akibat pertempurannya dengan Reno.
Setelah selesai ia langsung memilih pakaian yang bagus milik Audrey. Sengaja ia memilih tank top merah ditambah blazer dan rok mini jeans agar masih terlihat sexy, karena Bella akan menemui pria yang di pesta tadi.
" Bel, Lo kan mau pulang kerumah orang tua Lo, kog dandanannya kaya mau kencan. " tanya Dea karena merasa curiga melihat penampilan Bella.
" Iya, jangan - jangan emang benar Lo mau pergi kencan ya ? bukan mau kerumah orang tua Lo." Zia juga ikutan curiga.
" Ya, gak mungkinlah. Gue mau langsung pulang, kog. Lo berdua kan tahu, gue belum punya pacar.
Lagian mana ada waktu gue buat pacaran, sibuk kerja terus cari uang buat bayar hutang. " dengan pintar Bella memberi alasan.
"Hmm ... iya juga sih." Zia percaya juga dengan omongan Bella.
Sementara Dea masih melihat Bella dengan pandangan serius. Ia masih merasa sedikit curiga. Apalagi Rina, ia merasa kalau Bella sedang menyembunyikan sesuatu dari mereka.
" Udah, ah ... gue pulang ya. Takut kemalaman nyampe rumahnya. " Bella buru - buru mengambil tasnya agar bisa segera pergi.
" Hati - hati Lo ... " ucap Zia.
" Ya ... " sahut Bella lalu melangkah keluar dari kamar Bella.
" Kog, gue kurang yakin ya sama Bella ." kata Dea.
Rina ingin ikut mengatakan kalau ia merasakan hal yang sama dengan Dea, tapi ia memutuskan untuk diam. Karena ia gak mau Dea dan Zia berpikir kalau Rina masih belum memaafkan perbuatan Bella.
" Udahlah biarin aja. Yang penting sekarang kita mandi biar segar." sahut Zia cuek lalu masuk ke kamar mandi.
__ADS_1
**********************************