Cinta Dan Dendam Audrey

Cinta Dan Dendam Audrey
Episode 93


__ADS_3

Bella dan Lily tertawa bahagia di kamar setelah tahu Audrey belum juga sadar.


" Bel ... seharusnya Lo datang ke rumah sakit biar Bik Imah dan Rina gak curiga kalau Lo senang atas kecelakaan yang menimpa Audrey. " ujar Lily.


" Males gue ... lagian gue udah ngasi alasan yang kuat. Gue kuliah dan banyak tugas. Belum lagi gue harus kerja. Jadi sampai mansion udah capek banget. Mungkin kalau dia gak sadar juga hari ini, besok terpaksa deh, gue melihatnya." ujar Bella sembari tersenyum lebar.


" Tapi hari ini Lo kan gak kuliah, Bel ... jadi gak ada alasan sama sekali. Kalau gue yang pergi ke rumah sakit pasti gak dikasi izin sama nenek tua itu !" Lily mencibir dengan sinis.


" Hmm ... kalau gak gini aja biar gue yang minta izin sama bik Imah biar Lo bisa ikut lihat Audrey." ujar Bella.


" Tapi gue yakin si tua bangka itu gak bakalan ngasih Lo izin. Dia kan curiga sama Lo juga !" Lily tertawa lebar.


" Benar juga Lo ... ! Kenapa juga nek lampir itu harus selamat ya ... kenapa gak m*** aja sekalian biar kita bisa bebas berbuat apa saja di mansion ini. Secara Audrey kan lagi sekarat !" .


" Hehehe ... tenang aja. Meskipun dia masih hidup tapi si tua itu udah gak sama kaya dulu lagi. Walau dia curiga dan mengawasi gue, tapi dia udah gak bisa berbuat apa - apa lagi. "


" Iya, juga sih ... hahaha ."


" Udah, sekarang Lo jadi pergi gak lihat nona besar. "


" Gak ah ... gue mau pergi ke mall aja, refreshing. "


" Huh ... ngapain Lo ke mall. Tuh, di kamar Audrey banyak barang bagus. Semua itu bisa kita pakai."


" Sekarang masih belum bisa. Dia kan masih hidup. Kalau udah mati baru bisa."


" Makanya kita doain biar dia gak selamat .... hahaha."


Bella ikut tertawa mendengar perkataan Lily.


Sementara itu di rumah sakit, Rina masih setia menemani Audrey yang terbaring tak sadarkan diri bersama Dea dan Zia.


" Gue keluar bentar ya, cari makanan buat kita !" ujar Zia seraya bangkit dari sofa yang tersedia di kamar Audrey.


" Di kantin aja belinya, Zi ... makanan di rumah sakit ini enak - enak, kog !" kata Rina.


" Hee ... gue beli di luar aja sekalian cuci mata." ujar Zia sembari nyengir.


" Oh ... ya, udah !". sahut Rina.


" Okey ... tapi jangan lama Lo, Zi ... ! Soalnya Lo kebiasaan suka nongkrong gak jelas kalau jalan sendiri." Dea mengingatkan kebiasaan Zia yang suka membuang waktu.


" Hehehe ... tau aja, Lo ! Tapi kali ini gak usah khawatir. Gue bakalan cepat balik kesini. Gue tahu Lo pasti udah lapar kan ?" ujar Zia.


Rina cuma tersenyum tipis melihat tingkah Zia dan Dea. Ia merasa sedikit terhibur dengan keberadaan mereka berdua.


" Gue pergi, ya ... !" kata Zia sebelum melangkah keluar dari dalam kamar Audrey.


" Hati - hati Lo ... jangan ngebut !" pesan Dea.


" Okey ... !" sahut Zia.


Setelah Zia pergi, Dea menghampiri Rina yang duduk dekat tempat tidur Audrey.


" Semoga Audrey bisa sadar hari ini ya, Rin ... !" ujar Dea.


" Aamiin. Gue juga berharapnya kaya gitu, De ... ! Kita doakan saja semoga Audrey bisa pulih secepatnya. "


" Iya ... Rin, malam ini gue dan Zia harus pulang karena besok kami kuliah. Tapi sepulang kuliah kami akan datang kesini lagi buat nemani Lo. "


" Iya, gak papa. Gue ngerti, kog ... ! Lo berdua gak mungkin bisa tiap hari nginap disini. "

__ADS_1


" Rin, yang nganterin pakaian dan perlengkapan Lo selama menjaga Audrey disini, siapa ? ".


" Oh, bik Imah menyuruh supir untuk mengantarkan semua kebutuhan gue."


" Oh, syukurlah ... karena kasihan kalau Audrey ditinggal sendirian."


Rina menganggukkan kepalanya mendengar omongan Dea.


" Rin, pokoknya Lo harus ingat hubungi gue dan Zia kalau Lo butuh bantuan dari kami. Kami siap buat bantuin Lo dan Audrey."


" Ya, pasti ! Tolong pantai terus Bella di kampus ya, De ... biar di - mansion jadi urusan gue."


" Ya ... Lo, jangan khawatir."


" Tapi Lo harus tetap hati - hati, ya Rin dengan Lily. Kalau memang dia yang melakukan hal itu, dia berarti lumayan berbahaya."


" Ya, De ... makasih udah mengingatkan gue. "


Karena terlalu asyik mengobrol Rina dan Dea tidak menyadari kalau Audrey baru saja menggerakkan kedua tangannya, meski masih lemah.


Perlahan Audrey mulai membuka kedua matanya. Ia bisa melihat kalau kedua sahabatnya, Rina dan Dea sedang duduk di samping tempat tidur yang ia tiduri. Audrey lalu melihat ke sekeliling ruangan, ia baru sadar kalau ini bukanlah kamarnya. Kepalanya mendadak pusing memikirkan hal ini. Barulah setelah ia mengingat kecelakaan yang menimpanya, Audrey pun sadar kalau sekarang ia sedang berada di rumah sakit.


" Rin, De ... " panggil Audrey dengan lemah.


Rina dan Dea yang mendengar suara Audrey langsung menoleh dan tersenyum dengan bahagia begitu melihat kalau Audrey sudah membuka matanya. Audrey akhirnya sadar dan berhasil melalui masa kritisnya.


" Syukurlah ... Lo sadar juga akhirnya, Drey. Kami sedih banget lihat Lo harus terbaring dalam keadaan koma selama dua hari ini." ujar Rina dengan mata berkaca - kaca.


" Iya, Drey ... gue dan Zia hampir mati jantungan dengar kabar Lo kecelakaan."


" Hmm ... Makasih, ya udah nemani gue di rumah sakit." ucap Audrey dengan nada lirih.


" Lo jangan ngomong kaya gitu, Drey ... kita ini bukan hanya sekedar sahabat tapi sudah seperti keluarga. Jadi sudah jadi kewajiban kami buat jagain Lo ... !" ujar Dea.


Audrey berusaha menggerakkannya lagi karena ia berpikir kakinya menjadi kaku di sebab kan ia sudah terbaring di tempat tidur dan tidak bergerak selama dua hari. Tapi tetap saja meskipun ia sudah mencobanya menghentakkan kakinya dengan keras, kakinya tidak bisa ia gerakkan. Wajah Audrey jadi terlihat cemas.


" Drey ... Lo kenapa ? Apa ada yang sakit ?" tanya Rina dan Dea khawatir begitu melihat wajah Audrey yang berubah.


" Kaki gue ... kaki gue kenapa gak bisa di gerakkan !" kata Audrey dengan wajah bingung.


" Hah ... oh, mungkin karena Lo terbaring selama dua hari ini jadi peredaran darah nya belum lancar. " ujar Rina berusaha menenangkan Audrey.


" Iya, Drey ... tadi dokter yang datang memeriksa keadaan Lo bilang kalau kondisi Lo semuanya dalam keadaan baik - baik saja. Lo jangan khawatir, ya ... sebentar lagi elo pasti bisa gerakin kaki Lo !" Dea berusaha menyemangati Audrey.


" Gak ... ! Kaki gue gak bisa gerak sama sekali. Tolong panggilkan dokter sekarang !" ujar Audrey panik.


" Okey, okey ... gue akan panggil dokter sekarang. Lo tenang, ya ... Drey ... !" ujar Rina ikutan panik seraya bangkit dari duduknya lalu berjalan keluar dari kamar Audrey.


" De ... kaki gue gak bisa gerak." kata Audrey mulai menitikkan air mata.


" Tenang, ya Drey ... gue yakin kaki Lo pasti bisa di gerakin lagi. Kita tunggu dokternya, ya ... " ujar Dea ikutan menitikkan air matanya. Ia gak tega melihat keadaan Audrey yang begitu jelas sekali terlihat ketakutan di wajahnya.


Audrey tidak bersuara, ia hanya bisa diam. Ia benar - benar ketakutan saat ini. Bagaimana jika ia memang tidak bisa menggerakkan kakinya itu berarti ia tidak akan bisa berjalan layaknya orang normal. Memikirkan hal itu membuat air mata Audrey mengalir semakin deras.


" Drey, please ... sabar ya ! Rina lagi manggil dokternya. " ujar Dea begitu iba melihatnya.


" Hei, Audrey lo udah sadar ? Syukurlah ... tapi kenapa Lo berdua malah menangis ?" tanya Zia heran yang baru saja sampai sembari menenteng makanan yang ia beli buat mereka.


Audrey dan Dea tidak menjawab pertanyaan Zia, yang terjadi malah air mata mereka semakin deras keluar mengalir di wajah keduanya.


" Drey, De ... !" Zia menghampiri keduanya dan menatap mereka dengan tatapan bingung.

__ADS_1


Zia yang melihat keduanya tidak juga berhenti menangis membuat ia jadi ikutan sedih dan mulai menitikkan air matanya.


" Please ... katakan sama gue. Ada apa ini ?" tanya Zia dengan suara serak.


Belum lama Zia bertanya atas kebingungan melihat sikap kedua sahabatnya, Rina datang dengan tergesa bersama beberapa orang dokter yang merawat Audrey selama koma.


" Dokter ... tolong saya ! Kenapa kaki saya tidak bisa digerakkan ? " ucap Audrey begitu melihat dokter yang sedang berjalan menghampirinya.


Zia terkejut dengan apa yang ia dengar. Apa maksud Audrey kakinya tidak bisa bergerak. Bukankah dokter kalau Audrey baik - baik saja.


" Tenang ya, nona Audrey ... biar saya periksa dulu. " ujar dokter itu dengan senyum di bibirnya lalu mulai memeriksa kondisi tubuh Audrey yang baru saja sadar dari koma. Baru setelah melihat semuanya baik - baik saja, dokter mulai memeriksa kaki Audrey.


" Coba gerakkan kembali, nona !" ujar dokter itu.


Audrey mulai mencobanya lagi, tapi tetap saja gak bisa.


" Gak bisa, dokter ... !" ucap Audrey dengan wajah menyedihkan.


" Hmm ... ini bagaimana ? Apa kaki nona ada merasakan respon ?" ujar dokter itu sembari menekan kaki Audrey.


Audrey menggeleng lemah menjawab pertanyaan itu.


" Kalau ini bagaimana ?" tanya dokter lagi.


Audrey menggeleng, ia tidak bisa merasakan apapun di kakinya meski dokter itu menekannya dengan kuat.


Dokter menghela nafas berat melihat hal ini. Wajahnya berubah dan menatap Audrey dengan tatapan yang tidak bisa dilukiskan dengan kata - kata. Ia gak menyangka kalau Audrey mengalami kelumpuhan pada kedua kakinya. Padahal saat ia periksa tidak ada gejala yang menunjukkan hal itu. Semua kondisi Audrey dalam keadaan normal. Hanya butuh pemulihan agar semua luka - lukanya segera sembuh.


Audrey yang melihat tatapan dokter jadi berbeda, langsung mengerti kalau kakinya memang bermasalah.


" Dokter ... apa saya mengalami kelumpuhan !" tanya Audrey dengan suara serak sembari menangis.


" Maaf ... saya tidak tahu bagaimana ini bisa terjadi pada nona padahal tidak ada satu gejala pun pada saat saya dan team memeriksa kondisi nona. Semua syaraf - syaraf nona dalam keadaan baik. " ujar dokter itu dengan rasa bersalah.


" Baiklah, dokter ... saya mengerti. Apa saya masih bisa disembuhkan ?" tanya Audrey berusaha lebih tenang.


" Hmm ... saya yakin bisa. Mudah - mudahan kelumpuhan ini hanya sementara. " ujar dokter.


" Baik ... kalau begitu saya harus melakukan apa agar bisa segera berjalan kembali !" tanya Audrey.


" Nona harus ikut terapi setelah luka - luka di tubuh dan kaki nona sembuh. "


" Baik, dokter. Saya akan melakukannya. " Audrey berusaha optimis agar bisa cepat sembuh.


" Hmm ... baiklah. Saya suka semangat nona. Saya yakin nona bisa segera pulih !" .


" Ya, terima kasih dokter."


" Sama - sama, nona ... ! Sekarang sebaiknya nona istirahat kembali agar kondisi nona segera pulih dengan cepat. "


" Hmm ... baik, dokter !" sahut Audrey.


Dokter itu berusaha menampilkan senyum di wajahnya lalu menyuntikkan obat di lengan Audrey agar ia bisa lebih tenang. Karena dokter ini tahu kalau Audrey masih sangat terguncang akan hal ini.


Tak lama setelah dokter menyuntik Audrey, Audrey pun tertidur kembali.


Rina, Dea dan Zia hanya bisa terdiam dan memandang sedih ke arah Audrey yang sudah kembali tidur. Mereka gak menyangka kalau Audrey harus mengalami akan hal itu.


" Nanti kalau nona Audrey terbangun, tolong beri semangat agar ia tidak terpuruk !" ujar dokter melihat dengan wajah serius pada Rina dan yang lainnya.


Mereka bertiga cuma bisa menganggukkan kepalanya ketika mendengar apa yang di katakan dokter.

__ADS_1


**********************************


__ADS_2