
Lily mengulum senyum melihat pelayan sudah mulai terpengaruh dengan perkataannya. Meski tidak semua, tapi ia sudah berhasil untuk memecah belah mereka.
Kebetulan pelayan yang terpengaruh adalah mereka yang baru dua tahunan kerja di mansion, sedangkan yang sudah bekerja lebih lama meski ada rasa khawatir tapi mereka tetap yakin semua akan baik - baik saja setelah kepulangan Audrey.
Sementara itu di kamar Bu Imah, pelayan kepercayaannya mulai gelisah, karena setelah mencoba untuk membangunkan Bu Imah
tetap saja tidak terbangun.
Padahal Bu Imah tidak pernah seperti ini. Ia adalah seorang yang sangat bertanggung jawab atas pekerjaannya. Bahkan meski gak ada non Audrey di mansion ini, ia tetap melakukan semua tugas - tugasnya sebagai kepala dari semua pelayan.
Mata Bu Imah masih tertutup rapat. Ketika ia mengguncang badan Bu Imah dengan kencang, tetap saja gak ada respon sama sekali.
Ia lalu mencoba mendekatkan telinganya ke jantung bu Imah dan ia merasa kaget karena suara detak jantung bu Imah terdengar sangat pelan bunyinya.
Hal ini membuatnya mulai berpikir kalau ada hal buruk yang sedang terjadi menimpa Bu Imah.
Ia kemudian bergegas keluar dari kamar untuk segera menghubungi non Audrey dan dokter pribadi yang di sediakan sebagai salah satu fasilitas buat semua pelayan yang bekerja disini. Tapi ia lupa kalau ia belum memiliki nomer ponsel baru nonanya. Jadi ia hanya bisa menghubungi dokter saat ini.
Begitu melihat asisten Bu Imah hanya keluar sendirian dan wajahnya terlihat cemas membuat para pelayan kebingungan.
" Apa Bu Imah baik - baik saja ?".
tanya salah satu pelayan yang juga kepercayaan Bu Imah menghampiri.
" Aku belum tahu, karena meski sudah aku bangunkan bu Imah tetap gak menunjukkan reaksi.
Aku mau menghubungi dokter Fandi dulu. " ujar pelayan kepercayaan Bu Imah.
Setelah mengatakan hal ini, ia pun mulai menghubungi dokter dan menceritakan mengenai kondisi Bu Imah.
Para pelayan yang ikut mendengar perkataannya jadi semakin cemas. Berbagai pikiran negatif muncul di kepala mereka.
Bahkan mereka mulai berkasak - kusuk diantara mereka.
" Eh, apa menurut kalian, Bu Imah juga mengalami hal yang sama seperti yang terjadi dengan kita ?".
" Tapi kalau memang iya, harusnya Bu Imah sudah bangun saat ini. Aku rasa bukan karena hal itu !".
" Bisa saja karena usia Bu Imah sudah tua, reaksinya berbeda."
" Iya juga sih ... jangan - jangan jantung bu Imah jadi bermasalah karena masalah ini !".
" Aku rasa kamu ada benarnya juga. Mungkin karena usianya, jantung bu Imah gak kuat menerimanya."
" Iya, sepertinya kita semua diberi
obat tidur. Kalau tidak mana mungkin kita bisa tidur sembarangan di berbagai tempat seperti tadi. Apalagi seingat aku begitu bangun tadi pagi, langsung mengerjakan tugas seperti biasanya dan badanku baik - baik saja. Baru setelah beberapa saat aku gak sadar dan ketika aku terbangun, aku heran kenapa aku bisa tertidur lagi di kursi belakang."
" Sama, aku juga mengalami kaya kamu. Aku malah kaget begitu terbangun di ruangan laundry."
" Iya, sama ... kami juga." seru pelayan.
Lily sengaja tidak ikut berkomentar, karena ia yakin sekarang mereka sudah sangat panik. Ia hanya perlu menunggu kelanjutannya.
Tidak lama datang dokter Fandi dan langsung dibawa menuju kamar Bu Imah. Setelah memeriksanya dahi dokter Fandi mulai berkerut karena mendengar detak jantung bu Imah yang nyaris tidak berbunyi.
" Sebenarnya apa yang terjadi, kenapa Bik Imah mengalami hal ini ?" tanya Fandi dengan perasaan khawatir.
Pelayan kemudian menceritakan semuanya dari awal kejadian hingga apa yang terjadi setelahnya di mansion.
__ADS_1
Mendengar penjelasan pelayan membuat Fandi segera menghubungi ambulance di rumah sakit tempat ia bekerja.
Ia benar - benar khawatir akan terjadi hal yang tidak diinginkan menimpa Bu Imah.
Mansion kembali berisik dengan semua ocehan yang keluar dari mulut pelayan setelah mengetahui kondisi Bu Imah. Apalagi hingga harus dibawa kerumah sakit.
" Bagaimana menurut kalian ?
Aku mulai takut nih, sejak Tuan dan Nyonya gak ada, mansion sudah mulai gak aman. Bahkan
Bu Imah bisa sampai pingsan gitu !".
" Sama, aku juga takut. Aku masih punya anak kecil di kampung.
Kalau terjadi sesuatu sama aku, siapa yang membiayainya nanti.
Ibuku sudah tua, gak mungkin bekerja lagi."
" Iya, aku juga harus tetap bekerja agar bisa membiayai perobatan ayahku."
" Sama, aku juga ... orang tuaku sudah tidak ada, sedangkan adik- adikku masih kecil. Mereka membutuhkan biaya untuk sekolah. Kalau terjadi apa - apa denganku, siapa yang akan menyekolahkan mereka nanti !".
" Sebaiknya aku resign aja sebelum terjadi hal buruk denganku nanti."
" Iya, sama ... aku juga mau resign lah."
" Aku juga ... !".
" Karena Bu Imah belum sadar, kita sebaiknya menunggu non Audrey pulang baru membicarakan tentang keinginan kita untuk berhenti kerja."
" Hey, kalian gak boleh begini.
Masa hanya karena ada masalah sedikit , kalian langsung mau meninggalkan non Audrey. Itu gak benar namanya !".
" Kami tahu, tapi bukan berarti karena selama ini non Audrey dan keluarganya baik dengan kita, lalu
kita harus sampai mengorbankan nyawa. Kami semua masih punya tanggung - jawab dengan keluarga masing - masing. Kalau kamu sih, enak ngomong gitu ... kamu gak
punya anak dan keluarga lagi. "
Pelayan kepercayaan Bu Imah terdiam begitu mendengar perkataan ketus yang diucapkan rekan kerjanya.
Suasana mansion yang biasanya
tenang menjadi memanas karena masalah yang terjadi.
Lily hampir saja tidak bisa menahan tawanya melihat perdebatan yang terjadi diantara sesama pelayan. Ia tidak perlu bersusah payah menghasut mereka. Kejadian di mansion membuat semuanya tidak bisa berpikir dengan normal lagi.
Sementara itu Zia, Dea dan Bella yang baru saja selesai membelikan cake dan buket bunga, kini sedang meluncur
menuju mansion Audrey.
" Rin ... perasaan gue kog gak enak, ya ... ? Wajah Bu Imah terlintas begitu saja dipikiran gue." ujar Audrey yang mendadak gelisah.
" Sama, Drey ... gue juga tiba - tiba kepikiran sama Bu Imah." sahut Rina.
" Apa kita pulang sekarang ?" ujar Audrey.
" Bentar lagi aja, Drey ... Lo gak mungkin ninggalin perusahaan sekarang. Ini baru jam dua lewat."
__ADS_1
ujar Rina mengingatkan Audrey.
" Iya, Lo benar. Perusahaan juga lagi bermasalah. Kalau gue pulang sekarang, mereka pasti menganggap gue gak kompeten. Meski gue udah gak perduli." ucap Audrey datar.
" Kalau gak biar gue telefon aja
Bu Imah agar kita lebih tenang." ujar Rina.
" Ya, udah ... kamu telefon sekarang, Rin ... !" kata Audrey.
Rina kemudian mulai menghubungi nomer Bu Imah.
Ia mulai mengerutkan dahi ketika bu Imah tidak mengangkat panggilan darinya.
" Gak diangkat, Drey ... !" ucap Rina.
" Coba telefon lagi, Rin ... mungkin saja Bu Imah karena lagi sibuk, gak dengar suara telefon dari kamu." ujar Audrey.
" Iya ... " Rina kemudian menelfon Bu Imah kembali.
Tapi tetap saja, meski sudah beberapa kali ia mencobanya tetap saja gak ada jawaban.
" Gak dijawab juga, Rin ... ?" tanya Audrey.
" Iya, Drey ... gimana nih ?". ujar Rina bingung.
" Coba hubungi nomer mansion aja, Rin ... " ucap Audrey.
" Oh, iya ... !" Rina lalu mencoba menghubungi nomer telefon mansion Audrey.
Kebetulan Lily yang sedang berada didekat telefon, ia kemudian mengangkat dan menjawab telefon masuk dari Rina.
" Halo, ini siapa ?" tanya Lily.
" Rina, tolong panggilkan Bu Imah. Audrey mau bicara." ujar Rina.
Lily mengerucutkan mulutnya begitu mendengar Rina memerintah dirinya. Tapi ia tidak mungkin menunjukkan sikap kasarnya. Lily tidak ingin, Audrey
curiga padanya. Ia masih sedang berusaha untuk bisa dekat dan jadi sahabat buat Audrey, seperti Rina.
" Maaf, non Rina ... Bu Imah nya sedang dibawa kerumah sakit !" belum lagi Lily menjelaskan sudah terpotong oleh teriakan Rina.
" Apa ... jangan bercanda kamu ! Kamu siapa namanya ?" ujar Rina dengan nada terkejut.
Audrey langsung bangkit mendengar suara Rina yang terkejut.
" Ada apa, Rin ... ?" tanya Audrey penasaran.
" Gue belum jelas, Drey ... dia bilang Bu Imah masuk rumah sakit. " ujar Rina.
" Hah ... yang benar ? Tapi tadi Bu Imah baik - baik aja saat kita berangkat. " ucap Audrey gak percaya.
" Iya, makanya itu. Gue juga gak percaya dengarnya. Ini gue masih mau dengar penjelasan orang yang ngangkat telefon
di mansion kamu. " ujar Rina.
" Ya, sudah ... coba suruh dia ceritakan dengan jelas !" ujar Audrey kemudian berdiri didekat Rina.
Lily mendengar obrolan Audrey dan Rina yang terlihat begitu terkejut mendengar perkataannya tadi. Ia tersenyum lebar ketika membayangkan wajah panik keduanya. Ternyata Audrey bisa panik juga.
__ADS_1
**********************************