
Rina kembali datang ke mansion dengan penyamaran kali ini.
Ia tidak ingin Bella dan Lily sampai mengetahui keberadaannya. Apalagi ia sudah mendengar kalau Reno sekarang juga tinggal di mansion. Ia harus lebih berhati - hati agar tidak ketahuan oleh mereka bertiga.
Syukur saja pelayan baru yang bernama Titi dan Mina itu bertindak yang benar. Mereka tidak ikut mendukung kejahatan yang di lakukan Lily dan Bella seperti yang telah di lakukan Nana. Meski pun mereka baru sebentar bekerja di mansion Audrey. Tapi mereka berdua lebih memilih jalan yang benar di - bandingkan Nana yang sudah lama bekerja di sini tapi memilih untuk berkhianat hanya karena godaan uang yang sedikit berlebih di berikan Lily.
Rina berusaha bersikap tenang saat ia di bawa untuk menemui Lily. Ya, mulai hari ini ia akan bekerja di mansion sebagai pelayan agar bisa segera membawa Audrey keluar dari mansion.
Lily mengerutkan dahinya saat melihat penampilan Rina. Dengan kaca mata besar dan tebal, tompel di pipi kanannya. Belum lagi rambut nya yang di kepang dua. Rina berubah seperti gadis culun.
" Apa kamu yakin kalau dia yang menggantikan Mina ?" tanya Lily dengan sinis ke arah Titi.
" Ya, nona ... dia teman Mina yang akan menggantikannya kerja di mansion." jawab Titi dengan perasaan takut ketahuan.
" Hmm .. penampilannya kampungan banget ! " ujar Lily memandang remeh pada Rina yang terlihat tenang.
" Maaf, nona .. saya memang dari kampung tapi saya akan berusaha untuk bekerja dengan baik." ujar Rina sopan.
" Hmm ... berhubung saya gak punya waktu buat cari pelayan baru. Kamu saya terima kerja disini. Tugas kamu menggantikan pekerjaan Mina. " ujar Lily dengan wajah angkuh.
" Maaf, nona Lily ! Apa saya boleh bicara sebentar ?" tanya Titi pura - pura takut.
" Apa lagi ! Saya mau pergi ! " ujar Lily dengan suara keras.
" Maaf, nona .. kalau boleh saya minta biar Ita saja yang mengurusi Audrey. Saya sudah gak tahan buat mengurus semua keperluannya. Apalagi kalau harus membopongnya ke kamar mandi. Saya gak kuat, nona !" Titi mulai menjalankan rencana yang sudah di buat Audrey dan Rina.
" Ah, terserah sajalah ! Lagian kamu, gitu aja pusing. Pakaikan aja dia Pampers biar gak gak usah ke kamar mandi. Kapan kamu sempat baru ganti yang baru. Sekalian biar dia kena sakit kulit.
Hahaha .... kalian saja yang urus sendiri ! Saya mau pergi !" ujar Lily tertawa lebar dengan wajah tak perduli sembari melangkahkan kakinya keluar dari dalam mansion.
Rina yang sudah sejak tadi sudah berusaha untuk menahan amarahnya langsung menatap penuh emosi ke arah Lily yang kini meninggalkan mereka.
" Sabar, non ... masih ada mbak Nana di mansion. Takutnya nanti ketahuan. " bisik Titi mendekat ke arah Rina.
Rina mengembuskan nafas dengan pelan begitu mendengar omongan Titi untuk meredakan amarahnya. Hampir saja ia lupa kalau masih ada Nana, si - penghianat.
" Hmm ... ayo, sekarang kita temui Audrey. Pasti dia sudah menunggu ku. " ucap Rina setelah berhasil menenangkan dirinya.
" Baik, non ... tapi kita taruh dulu tas nona di kamar bekas Mina. Gak papakan non ?" ujar Titi agak segan.
" Ya, gak papa. Memang itu yang harus kita lakukan biar mereka gak curiga !" ujar Rina.
" Yuk, non ... !" ajak Titi sembari berjalan menunjukkan arah kamar khusus buat pelayan.
Rina mengikuti langkah Titi. Meski pun ia pernah tinggal disini, tapi ia hanya tahu kamar bik Imah dan asistennya saja.
Sementara itu Audrey sudah gelisah di kamarnya menunggu kedatangan Rina. Ia tahu kalau hari ini Rina datang buat kerja disini menggantikan Mina dan akan bersamanya kembali.
" Sudah Ti ... sekarang kita temui Audrey ! Nanti saja saya membereskan nya." ujar Rina begitu ia meletakkan tas pakaiannya ke - kamar.
" Ya, non ... !" sahut Titi.
" Bella kemana, Ti ... kog gak keliatan ?" tanya Rina karena penasaran tidak melihat keberadaannya.
" Gak pulang, non ... Bella sering gak pulang ke mansion. " jelas Titi.
" Hmm ... terus kenapa Bella gak jadi menempati kamar milik Audrey ? Bukankah dia mau kamar itu !" tanya Rina heran karena setahunya Bella sangat ingin menempati kamar Audrey.
" Hehehe ... dia gak jadi menempati kamar non Audrey karena non Audrey sengaja buang air k*c*l dan b*s*r di tempat tidur waktu itu biar dia jijik !" Titi menjelaskan sembari tertawa pelan.
" Oh .... hahaha !" Rina pun langsung tertawa mendengarnya.
" Sst, non ... jangan keras - keras ketawanya. Takutnya Nana nanti dengar. " ujar Titi berbisik.
__ADS_1
" He ... maaf ! di mana dia ?" tanya Rina menghentikan tawanya.
" Lagi di kamar non ... biasa, sejak dia jadi kepala pelayan, Nana suka tiduran setelah selesai memasak buat Lily dan Bella. Dia baru keluar dari kamar jika mereka pulang." ujar Titi sembari menunjuk kamar Nana yang tertutup rapat.
" Hmm ... kamu masuk duluan ke kamar Audrey, Ti ... saya mau ke - kamar Bella sebentar !" kata Rina begitu mereka sampai di lantai atas.
Titi agak bingung mendengar omongan Rina tapi ia tidak ingin bertanya. Ia cuma menganggukkan kepala menyetujui keinginan Rina.
Setelah Rina melihat Titi masuk ke kamar Audrey, ia pun segera membuka pintu kamar yang di - tempati Bella. Ada hal penting yang harus ia ambil di kamar ini.
" Rina nya mana, Ti ?" tanya Audrey begitu melihat Titi hanya datang sendiri.
" Sebentar non, non Rina lagi di kamar Bella." jelas Titi.
" Kamar Bella ? ngapain Rina kesana ? Apa gak ada orang di mansion ? Takutnya nanti ketahuan sama Nana !" ucap Audrey dengan perasaan khawatir dan penasaran.
" Jangan khawatir non, Nana sedang tidur di kamarnya. Dia gak akan keluar sampai siang. Sedangkan Lily lagi pergi keluar. Bella gak pulang semalam." ujar Titi menenangkan Audrey.
" Hmm ... terus pria itu ?" tanya Audrey lagi.
" Oh, Reno sudah pergi pagi tadi, non ... ! Kayanya berangkat kerja. Soalnya pakai jas kaya di drakor - Drakor itu, non ... !" sahut Titi sembari membereskan piring bekas makan Audrey.
" Oh, hehehe ... kamu udah sarapan Ti ?" tanya Audrey sambil tertawa pelan mendengar omongan Titi.
" Sudah, non ... !" sahut Titi cepat.
" Ti, nanti kalau Rina mau keluar buat melakukan sesuatu, kamu bantu ya biar Lily dan yang lain gak curiga." ucap Audrey meminta bantuan dari Titi dengan lembut.
" Baik, non ... saya pasti bantu biar nona bisa cepat pergi jauh dari orang - orang jahat itu !" ujar Titi dengan wajah serius.
" Makasih, Ti ... nanti kamu juga sebaiknya pergi dari mansion jika saya dan Rina berhasil keluar dari sini. Saya khawatir mereka akan melakukan hal yang buruk sama kamu. " kata Audrey memandang Titi dengan tatapan cemas.
" Jangan khawatir non, mereka gak akan curiga sama saya, karena saya selalu berpura - pura baik di depan mereka dan tidak pernah membantah perkataan Lily. Jadi saya masih bisa bertahan disini buat menunggu non Audrey kembali dan merebut mansion ini dari tangan Lily." ujar Titi dengan wajah penuh semangat.
" Baiklah, saya akan melakukannya kalau itu yang non Audrey mau. Saya akan berhenti sebulan setelah non pergi dari sini biar mereka gak curiga." ujar Titi akhirnya.
Audrey menarik nafas lega setelah mendengar Titi mengatakan hal itu. Ia gak tahu apa yang akan terjadi ke depan jika mereka Titi terlibat. Sedangkan Audrey tidak bisa membantu Titi.
" Ti, ayo ikut saya !" , kita ambil beberapa perhiasan saya, lalu segera jual saat kamu keluar buat belanja. Uangnya tabung buat bekal kamu kelak jika sudah tidak kerja disini. Berikan juga buat Mina !." kata Audrey menjalankan kursi rodanya ke - arah walk in closet miliknya.
" Tapi, non ... nanti ketahuan sama Lily dan Bella. " ujar Titi terkejut dengan wajah takut.
" Jangan takut, mereka gak akan memperhatikan perhiasan - perhiasan kecil itu. Mereka sudah mengambil yang besar. " ucap Audrey tersenyum kecil.
" Tapi, non ... bagaimana kalau mereka tahu ?" Titi masih takut.
" Tenang aja, mereka gak akan tahu. Mereka itu serakah, jadi perhiasan kecil gak akan membuat mereka tertarik. Padahal mereka salah. Justru di antara perhiasan - perhiasan yang tidak terlihat berharga itu ada yang lebih mahal harganya di bandingkan yang mereka ambil !" wajah Audrey menampilkan senyum smirk.
Titi terkejut mendengar penjelasan dari Audrey. Ia yang hanya pernah membeli beberapa gram mas berbentuk cincin dari hasil gaji yang ia sisihkan tidak menyangka ada perhiasan seperti yang di katakan Audrey.
" Ini ambil buat kamu dan jual segera begitu kamu pergi keluar. Surat - suratnya jangan sampai hilang, biar harganya gak terlalu jauh dari saat saya membelinya. Simpan semua ini dengan baik sebelum kamu bisa menjualnya." Audrey memberikan dua buah cincin, dua kalung dan gelang ke tangan Titi yang masih gak percaya kalau Audrey memberikan perhiasan padanya dan Mina.
Titi hampir saja menjerit begitu melihat harga pembelian di surat perhiasan yang ada di tangannya ini. Ia tidak percaya kalau ada kalung yang seharga hampir empat ratus lima puluh juta. Titi baru tahu kalau merk kalung C**t**r semahal itu. Belum lagi gelang dan cincin nya.
Memang sejak ia bekerja di mansion ini, Titi sedikit lebih tahu mengenai merk - merk branded, karena ia sering melihat Audrey dan yang lain memakainya. Tapi selama ini ia tidak tahu harganya semahal itu.
" Non, ini mahal banget. Saya gak pantas menerima ini. " ujar Titi setelah berhasil mengatasi rasa terkejutnya.
" Tidak, kamu pantas, malah pantas banget menurut saya. Gunakan itu untuk membiayai kuliah kamu dan adik kamu. Saya lebih ikhlas memberikan semua ini untuk kamu dan yang membutuhkan dibandingkan buat Lily dan Bella yang memakainya hanya untuk pamer. Ingat, berikan juga bagian buat Mina !" kata Audrey sembari menepuk tangan Titi pelan lalu menjalankan kursi rodanya kembali.
" Non, terima kasih ! Terima kasih banyak. Saya akan mempergunakan ini dengan sebaik - baiknya. Semoga kebaikan non Audrey di balas oleh Tuhan dan nona bisa segera bisa berjalan lagi. " ujar Titi dengan mata berkaca - kaca lalu tanpa bisa menahan ia memeluk Audrey.
" Aamiin ... kamu harus berhasil. " sahut Audrey tersenyum tipis sembari membalas pelukan Titi.
__ADS_1
" Hei, ada apa ini ? Sepertinya gue ketinggalan berita nih ? Gue juga pengen di peluk !" protes Rina yang tiba - tiba membuka pintu kamar Audrey dan melihat Titi memeluk Audrey.
Audrey dan Titi melepas pelukan mereka begitu mendengar suara Rina.
" Rina ... ?" tanya Audrey memastikan wanita yang sekarang berdiri di hadapannya.
" Ya, ini gue, Rina ! Kenapa Lo takjub melihat penampilan gue.
Hehehe ... ini demi menutupi jati diri gue, biar mereka gak curiga." Rina langsung memeluk Audrey.
Audrey membalas pelukan itu dengan perasaan hangat. Akhirnya sahabat nya kembali bersamanya setelah beberapa lama harus berpisah.
" Gue kangen sama Lo, Drey ... !" ujar Rina dengan suara lirih berusaha menahan tangisnya mendadak ingin keluar.
" Ya, gue juga kangen sama Lo.
Udah, jangan nangis. Sekarang bukan waktunya buat bersedih." ucap Audrey mengelus bahu Rina.
Titi melihat keduanya dengan perasaan bahagia bercampur dengan sedih. Bahagia karena pada akhirnya nona nya akan segera keluar dari mansion ini. Sedangkan sedih, karena mungkin mereka akan tidak bertemu lagi dalam waktu yang ia tidak ketahui.
Rina segera menghapus air matanya begitu mendengar omongan Audrey.
Ya, harusnya ia tidak boleh menangis. Dia harus kuat demi membantu Audrey.
" Udah, sekarang ceritakan sama gue. Apa semua yang udah gue suruh Lo lakukan udah selesai, Rin ... ?" tanya Audrey sembari melepaskan pelukannya.
" Sudah ... semua sudah siap. Sekarang, sejak gue ada disini, Lo harus berlatih jalan lagi. Kita akan melakukannya di kamar diam - diam. " ujar Rina memberi semangat setelah berhasil mengatasi perasaan sedihnya melihat keadaan Audrey yang jauh lebih kurus sejak ia pergi dari mansion.
" Hmm ... bagus ! Lo, jangan sedih. Gue gak papa. Yang penting gue sekarang udah bisa bangkit dari tempat tidur. " kata Audrey yang tahu Rina sedang prihatin melihat keadaan dirinya.
" Mereka bukan manusia, Drey ... ! Kalau b***h orang gak dosa dan gak di penjara. Mungkin gue akan meracuni mereka juga biar cepat m**i !" ujar Rina dengan wajah emosi ketika mengingat apa yang sudah di lakukan Lily dan Bella terhadap Audrey.
Selama Rina tidak ada di mansion, ia berhubungan dengan Titi untuk mendengar kabar mengenai kesehatan Audrey. Makanya ia tahu apa yang sudah terjadi pada Audrey.
" Kalau Lo ngelakuin itu berarti Lo sama dengan mereka. Nanti ada saatnya buat kita untuk memberikan pelajaran pada mereka." ucap Audrey berusaha meredakan amarah di hati Rina.
" Ya, kamu benar Drey ! Gue emosi kalau ingat apa yang sudah mereka lakukan sama Lo. Terutama Bella ... dasar manusia gak tahu terima kasih !" mata Rina memerah saat menyebutkan nama Bella.
" Hmm ... btw, penampilan Lo sekarang oke banget ! Gue hampir gak mengenali Lo tadi. Tapi nanti suara Lo juga harus diubah. Gue yakin Bella masih ingat dengan suara Lo. " ucap Audrey mengingatkan Rina.
" Tenang aja, Drey ... Gue tahu. Tadi gue juga udah ketemu Lily. Dia gak mengenali gue sama sekali. Jadi gue yakin Bella pasti gak akan mengenali gue. Secara yang paling berbahaya disini adalah Lily. Dia otak dari semua kejadian ini !" ujar Rina geram.
" Hmm ... Lo benar, Rin ! Otak dari semua ini adalah Lily dan Reno. Reno juga udah tinggal disini. Jadi Lo harus ekstra hati - hari di depannya kalau kebetulan ketemu." Audrey mengingatkan Rina mengingat sikap jahat yang sudah di lakukan Lily dan Reno.
" Lo, jangan khawatir. Sekarang gue dan Titi ke dapur dulu buat masak makanan buat Lo sebelum wanita i*l*s itu pulang. Biar makanan buat Lo kita sembunyikan di kamar ini. Mulai besok gue dan Titi akan masak buat Lo kalau i*l*s itu pergi keluar. Tapi kalau dia lagi ada di mansion, kita pesan makanan dari luar aja." ujar Rina.
" Hmm ... baiklah ! " ucap Audrey sembari tersenyum menatap Rina.
" Kami turun dulu. Gue takut si i*l*s itu keburu pulang !" ujar Rina lalu berjalan menjauh dari Audrey.
" Saya turun dulu non Audrey. Sekali lagi terima kasih." ujar Titi sebelum keluar meninggalkan Audrey.
" Hmm ... " sahut Audrey sambil menganggukkan kepalanya.
Audrey menarik nafas lega, karena sekarang sudah ada Rina yang menemaninya.
**********************************
Maaf, baru bisa update sekarang.🙏🙏 karena mommy baru saja sembuh dari sakit.
Makasih yang sudah terus mendukung cerita Mommy dan jangan lupa tetap berikan like, koment yang baik, vote dan hadiah yang banyak ... hehehe.
Love You All ❤️❤️❤️
__ADS_1