
Perlahan mobil yang membawa mereka bertiga mulai memasuki halaman mansion Audrey, setelah gerbang dibuka.
" Mbak ... ini halaman rumah siapa ? Besar banget ... " tanya Rifky begitu memasuki halaman mansion.
" Audrey ... Nanti kamu pasti lebih terkejut kalau lihat rumahnya Audrey." sahut Rina tersenyum.
Audrey bersikap biasa saja saat Rina memuji mansionnya.
" Kenapa, mbak ... bagus ya ? " tanya Rifky penasaran.
" Lihat aja nanti sendiri." kata Rina.
Rifky semakin penasaran mendengar perkataan Rina. Kalau halamannya seluas ini, gimana dengan rumahnya, ya ? pikir Rifky dalam hati.
Di depan pintu sudah terlihat bik Imah dan beberapa pelayan menyambut kepulangan Audrey.
Mobil yang membawa mereka bertiga pun akhirnya berhenti di garasi. Tapi bukan tempat garasi mobil - mobil sport Audrey berada.
Rina dan Rifky lalu turun mobil dan mengikuti langkah Audrey.
Sedangkan koper mereka di turunkan oleh supir dan pelayan yang sedang menyambut Audrey.
" Selamat datang non Audrey ... " sapa Bik Imah sopan.
Begitu juga dengan para pelayan yang mendampingi bik Imah ikut menyapanya.
" Makasih, bik ... " ucap Audrey tersenyum.
Audrey pun segera masuk ke dalam mansion kesayangannya, begitu juga dengan Rina dan Rifky.
Rifky langsung terbelalak, ia tak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang ini. Rumah Audrey sangat mewah dan besar. Ia benar - benar tak menyangka Audrey yang kaya raya seperti ini, gak risih tinggal beberapa hari di rumah mereka yang kecil di kampung.
Rina hanya mengulum senyum melihat sikap adiknya. Ia sudah menduga hal ini pasti akan terjadi.
" Kenalkan bik, ini Rifky adiknya Rina ... " Audrey mengenalkan Rifky.
" Salam kenal, bik ... saya Rifky. " ucap Rifky gugup.
" Sama - sama Tuan ...." jawab Bik Imah sopan.
" Jangan panggil Tuan, bik ... nama saya saja. Saya hanya orang biasa." ucap Rifky merasa gak enak.
__ADS_1
" Iya, bik ... panggil nama aja. " sahut Rina sopan.
Bik Imah cuma menganggukkan kepalanya pada mereka.
" Udah, duduk dulu ... " ajak Audrey, pada Rina dan Rifky.
Rifky yang merasa canggung mengikuti Rina. Ia pun duduk di sebelah nya.
" Ky, santai aja ... tegang banget, sih." goda Audrey.
" Rumah kamu bagus banget, Drey... kaya istana." sahut Rifky dengan polosnya.
" Hahaha .... biasa aja kali. Ini rumah orang tua gue, bukan punya gue. " ucap Audrey santai.
" Bik, tolong suruh siapkan kamar tamu buat Rifky. Mereka berdua akan menginap di sini." Audrey lalu menyuruh bik Imah.
" Baik, non ... apa non Audrey mau sekalian makan siang ? " tanya bik Imah.
" Iya, bik ... udah lapar banget, nih." jawab Audrey.
" Baiklah, non ... " bik Imah segera bergegas melangkah menemui chef di mansion ini untuk membuat makanan kegemaran Audrey. Setelah itu ia memerintah dua orang pelayan untuk membersihkan kamar tamu yang akan di tempati Rifky.
Sementara itu Reno yang tidak jadi pulang bersama dengan Audrey, terpaksa membatalkannya karena ada panggilan mendadak dari seseorang. Ia di perintahkan harus pulang hari itu juga.
" Kenapa kamu terlalu lama mendekatinya ? Waktu yang saya tetapkan sudah hampir habis." ucap orang misterius itu dengan wajah dingin.
" Kalau Tuan tidak menyuruh saya pulang secepatnya, mungkin saat ini saya sudah berhasil dekat dengan dia." jawab Reno gak terima.
" Saya tidak mau tahu dengan alasan kamu. Tenggat waktu kamu hanya tinggal beberapa bulan lagi untuk menguasai semua harta miliknya lalu menyingkirkannya." ujar orang itu tak perduli dengan alasan Reno.
" Saya mengerti, makanya tolong jangan menganggu saya dalam beberapa waktu ini agar saya bisa fokus mendekatinya." sahut Reno datar.
Ia sebenarnya lagi menahan emosi dengan orang misterius di depannya ini. Reno orang yang paling gak suka hidupnya di atur dan di perintah oleh orang lain harus terpaksa mendengarkan demi kepentingan perusahaan miliknya. Di tambah lagi ia harus membalaskan dendam orang tuanya yang telah kehilangan perusahaan dan sebagian hartanya. Walaupun di antara semua itu ia juga memiliki kepentingan pribadi dengan Audrey, yaitu ingin menikmati tubuh Audrey yang sangat menantang nafsu liar di dirinya.
" Kamu tidak berhak memberikan argumen. Kamu hanya harus mendengarkan perintah yang saya buat." ujar pria misterius itu angkuh.
" Oh, kalau begitu Tuan bisa melakukannya sendiri. Karena saya paling tidak suka di desak seperti ini." jawab Reno gak sabar.
" Okey, kalau memang itu yang kamu inginkan. Hari ini saya akan membuat perusahaan kamu hancur." suara dingin pria misterius itu mengancam Reno.
" Tuan, maafkan atas kelancangan anak saya. Dia masih terlalu muda, jadi cepat emosi. Jangan hancurkan perusahaan anak saya.
__ADS_1
Saya yakin Reno, bisa dengan segera menjalankan tugas dari Tuan." Papanya Reno langsung memohon dengan wajah pucat
Ia tahu seberapa besar kekuasaan pria misterius di hadapannya ini.
Sebentar saja ia bisa membuat perusahaan Reno bangkrut.
Reno mendengus dengan kasar mendengar perkataan papanya yang terlihat sangat takut dengan pria ini.
" Reno ... tolong dengarkan perintah Tuan ini, lakukan secepatnya dan jangan membantah lagi." ujar papa Reno masih dengan wajah pucat membujuknya.
" Pa, Reno mau melakukannya tapi Reno gak suka kalau harus di perintah dengan sesuka hati.
Audrey bukan seperti wanita kebanyakan yang gampang tergoda hanya dengan sebuah rayuan. Dia berbeda, jadi Reno butuh waktu untuk mendekatinya." jawab Reno mengemukakan alasannya.
" Tuan ... bagaimana pendapat anda ? " tanya papa Reno khawatir.
" Baik, saya akan memberikan kesempatan pada kamu untuk melakukan sesuai dengan cara yang kamu inginkan. Tapi tetap saja, saya butuh janji kamu, secepatnya dia harus berhasil kamu taklukan." kata pria yang di panggil Tuan ini oleh Reno dan Papanya dengan tegas.
" Baik ... saya berjanji akan berhasil menaklukan Audrey secepatnya." ujar Reno yakin.
" Okey, saya tunggu janji kamu dan kamu sudah bisa pergi sekarang." ujar pria itu memerintah Reno.
" Baiklah ... " sahut Reno lalu berjalan keluar dari ruangan pria misterius itu.
Sedangkan Papa Reno masih tinggal di ruangan bersama pria itu.
" Kamu yakin, Reno berhasil mendapatkan gadis itu ? saya ingin dia segera menyingkirkannya agar tidak ada lagi satupun keturunan dari Eldric. " tanyanya serius pada papa Reno.
" Tuan tenang saja. Saya yakin Reno bisa di andalkan." jawab Papa Reno yakin.
" Bagus kalau begitu. Hari ini saya akan kembali ke L***** ." ujar nya.
" Baik Tuan ." sahut Papa Reno cepat.
" Sekarang kamu sudah boleh pergi dari ruangan saya." perintahnya dengan tegas.
" Terima kasih Tuan. Saya permisi." pamit Papa Reno lalu melangkah keluar.
Pria misterius itu lalu menghubungi seseorang menanyakan perintah yang di suruh nya untuk di kerjakan apa sudah di laksanakan atau belum.
Setelah mendapatkan kabar dari orang yang di hubungi nya, ia pun tersenyum puas.
__ADS_1
**********************************