
Rifky merasa badannya lebih segar ketika setelah selesai istirahat dan mandi.
Ternyata di kamar yang ia tempati
sudah di sediakan pakaian untuknya. Jadi ia hanya tinggal
memakainya saja. Bahkan pakaian yang dikenakannya saat
ini sangat bagus.
Ia tersenyum melihat pantulan dirinya di cermin. Penampilannya
seperti eksekutif muda yang ada
di drakor yang sering di tonton
oleh mbak nya Rina.
Tapi ia memutuskan untuk tetap
di kamar. Karena lebih baik ia
menunggu di panggil dari pada
ia harus keluar kaya orang bodoh tanpa harus tahu pergi kemana.
Benar saja, tidak berapa lama
pintu kamarnya di ketuk. Terdengar suara Drake memanggil namanya lalu menyuruh Rifky keluar, karena Kevin ingin bicara kembali dengannya.
Sebenarnya perasaan Rifky sangat khawatir. Ia seperti berada
di perkumpulan mafia. Wajah Drake dan semua temannya terlihat sangat dingin. Begitu pula dengan Kevin, kakaknya Audrey.
Sungguh sikap Kevin sangat berbeda dengan Audrey yang selalu tersenyum dan ramah.
" Baik, aku akan keluar." sahut Rifky menjawab panggilan Drake.
Tanpa mengucapkan apapun lagi pada Rifky, Drake segera melangkah. Terpaksa Rifky bergegas mengikutinya agar tidak ketinggalan langkah Drake.
Rifky diam - diam melirik Drake.
Wajah Drake sebenarnya sangat tampan, tubuhnya lebih tinggi dari Rifky. Tapi sayang ia terlihat seperti robot. Wajahnya tidak
ada ekspresi sama sekali selain dingin dan datar. Namun Rifky
heran, kenapa dengan Audrey
Drake bisa berubah jadi lembut.
Ia terlihat begitu menjaga dan
mengkhawatirkan Audrey ketika
membawanya ke sini. Bahkan
Rifky di bentaknya dengan kasar
saat masih berada di mobil, karena tanpa sengaja ia membuat
tangan Audrey jatuh terkulai.
Padahal hal itu tidak akan membuat tangan Audrey terluka.
" Apa kau jatuh cinta padaku, sehingga terus melihat wajahku yang tampan ini ? " tanya Drake dingin tanpa menoleh pada Rifky.
Rifky terkesiap, bagaimana ia bisa tahu. Sedangkan Drake tidak menoleh padanya sama sekali.
" Bukan, bukan ... Maaf, aku hanya
heran sebenarnya kalian ini siapa ? Kenapa wajah kalian semua terlihat sama, tanpa ekspresi." ujar Rifky dengan gugup.
Mulut Drake hanya menyeringai
mendengar perkataan Rifky, tanpa berniat menjawabnya.
" Masuk, Tuan Kevin sudah menunggumu." perintah Drake.
" Baik ... " jawab Rifky sopan lalu melangkah masuk meninggalkan Drake di luar.
Rifky melihat Kevin sedang memandangi sebuah album foto saat ia masuk. Ia melihat sekitar dengan cepat. Ternyata ini sebuah ruangan kerja.
" Duduk ... !! " perintah Kevin tanpa
melihat ke arah Rifky.
" Terima kasih." jawab Rifky singkat, kemudian duduk di kursi
yang ada di depan Kevin.
" Kamu tahu kenapa saya memanggil kamu kemari ?" tanya
Kevin dingin sambil menutup album foto yang di lihatnya.
" Tidak. " jawab Rifky jujur, karena ia memang gak mengerti kenapa
ia harus berbicara di ruangan
tertutup ini hanya berdua dengan
Kevin.
" Karena kamu akan saya jadikan
sebagai pengawal pribadi adik saya, Audrey. Karena itu, selagi berada di sini, kamu akan di latih oleh Drake dan pelatih lainnya." ujar Kevin melihat reaksi Rifky, tapi ternyata reaksinya hanya biasa saja.
" Kenapa kamu terlihat biasa saja.
Apa kamu tidak mau mendengar
perintah saya ? " tanya Kevin memandang tajam ke arah Rifky.
" Bukan. Tapi kalau mengenai masalah pengawal pribadi, Audrey
sudah pernah mengatakan kepada saya walaupun sambil bercanda. Karena hal ini, Audrey
menyuruh saya dan kakak saya
untuk berlatih bela diri dengan kepala bodyguard di mansion."
ujar Rifky menjelaskan.
Kevin tertegun mendengarnya.
Ternyata adiknya sudah berpikiran
sejauh itu. Apakah Audrey mencurigai sesuatu atau hanya karena berteman dekat saja dengan Rifky, maka ia mau menjadikannya sebagai bodyguard pribadinya ?
" Apakah Audrey mengatakan sesuatu alasan pada kamu, kenapa dia menyuruh kamu belajar bela diri lalu jadi pengawal pribadinya ? "
tanya Kevin ingin tahu.
" Itu karena Audrey sudah dekat
dan menganggap saya sebagai
saudaranya. Ia tidak ingin yang mengawalnya orang yang tidak ia kenal." jawab Rifky dengan apa adanya.
" Hmm ... kamu tahu kenapa
Audrey saya bawa kemari meskipun dalam keadaan pingsan ? " tanya Kevin lagi.
" Tidak, karena ia langsung pingsan setelah menerima telepon." jawab Rifky
Mata Kevin berubah dari dingin
menjadi sedih begitu mendengar
__ADS_1
perkataan Rifky. Ternyata ia yang
menyebabkan pingsannya Audrey.
" Apakah Audrey belum sadar juga ? " kini Rifky balik bertanya.
" Belum." sahut Kevin lirih.
Meski Rifky heran mendengar nada suara Kevin yang mendadak
sedih tapi ia merasa kesal.
" Kenapa kau tidak memanggil
dokter agar ia bisa cepat terbangun." tanya Rifky tak menutupi rasa kesalnya.
Kevin berusaha menutupi kesedihannya begitu mendengar
omongan Rifky. Jika saja ia tidak
harus menjaga wibawanya sebagai seorang pemimpin dari perusahaan dan sebuah kelompok, mungkin ia akan kembali menangis seperti saat ia mengetahui kematian orang tuanya.
" Itu karena aku gak ingin Audrey bersedih jika ia mengetahui hal yang sebenarnya terjadi." ujar Kevin.
" Tapi ia sudah bersedih saat
mendapatkan telepon itu. Apakah
telepon itu berasal dari mu ? " tanah Rifky lebih berani.
Kevin terdiam mendengar pertanyaan Rifky.
" Hmm ... sepertinya itu memang darimu. Tapi kalau menurutku,
lebih baik berkata jujur pada Audrey meskipun itu hal yang paling menyakitkan sekalipun."
Rifky sudah tidak menuturkan dirinya dengan saya lagi, karena ia tidak suka dengan sikap Kevin
yang terkesan menutupi hal yang
penting dari Audrey.
Kevin tidak membantah perkataan Rifky, karena perkataannya itu memang benar.
" Jika kau memang benar menyayangi Audrey sebagai adikmu, maka kau harusnya siap
untuk menghiburnya jika ia bersedih karena masalah yang menyakitkan menurutmu itu !"
kata Rifky lagi dengan sinis.
" Orang tua kami meninggal
dan penyebab kematian mereka
karena di bunuh. Bagaimana aku
bisa mengatakan yang sejujurnya pada Audrey. Aku gak mau Audrey, bersedih dan menderita seperti diriku." akhirnya Kevin
mengatakan hal yang sebenarnya.
Rifky langsung tersedak mendengar perkataan Kevin.
Ia benar - benar gak menyangka,
ternyata penyebab Kevin tidak
ingin mengatakan hal itu pada Audrey sekarang, karena kematian orang tua mereka yang sangat
tragis. Di b***h.
" Orang tua kami sudah lama menghilang dan tidak ada kabar
sama sekali. Aku dan temanku
sudah berusaha selama ini untuk mencari mereka. Tapi kami tidak
Saat itu aku tidak ingin menambah beban bagi Audrey yang mau wisuda. Di tambah aku masih yakin, bahwa orang tua
kami pasti masih hidup.
Tapi, malah di saat Audrey wisuda, aku dan temanku mendapatkan kabar bahwa ada
sebuah mobil di sebuah jurang
beserta tiga mayat yang sudah
hancur karena ledakan. Hanya sepasang cincin pernikahan yang membuat aku tahu siapa mereka.
Dan kau tahu siapa mayat itu,
Daddy, Mommy dan supir yang
membawa mereka. Bahkan karena gak sanggup melihat badan dan wajah mereka yang sudah tidak berbentuk lagi, aku langsung menguburkan nya. Karena aku tidak ingin Audrey semakin menderita jika harus melihat jenasah orang tua kami. Jadi setelah mendengar ceritaku,
apa menurutmu aku akan sanggup menceritakan pada Audrey ? " ujar Kevin panjang menceritakan pada Rifky.
Mata Kevin terlihat berkaca - kaca ketika mengatakan hal ini dan Rifky bisa melihat serta merasakan kesedihan yang ia alami.
Rifky dan Rina saja yang jelas - jelas masih bisa melihat jenasah
Ibu mereka sangat merasa sedih.
Apalagi jika ia mengalami seperti yang terjadi pada Audrey dan Kevin sekarang. Ia pasti juga gak
akan kuat.
" Maafkan aku karena perkataan ku tadi." kata Rifky menyesal.
Kevin terlihat menghela nafas dengan kasar mendengar perkataan Rifky
" Kamu tidak salah. Kamu hanya
mengatakan hal yang sebenarnya.
Aku memang harus berkata jujur
pada Audrey tapi bukan hari ini.
Makanya aku sengaja membiarkan dia istirahat dan tidak memanggilkan dokter untuk
melihat keadaannya. Karena aku yakin, Audrey sudah bisa menduga apa yang telah terjadi
pada orang tua kami. Itu sebabnya ia pingsan dan tidak ingin bangun. Karena ia sedang terguncang dan tidak siap akan
kehilangan Daddy dan Mommy.
Sama seperti aku." kata Kevin
dengan bijak.
" Aku benar - benar minta maaf."
ujar Rifky dengan perasan bersalah.
" Tidak masalah. Kamu berkata seperti tadi karena perduli dengan
keadaan Audrey sekarang.
Aku justru berterima kasih karena
Audrey memiliki saudara seperti
kamu." kata Kevin menenangkan
Rifky.
" Salah, kami yang harusnya berterima kasih pada Audrey, aku dan Mbak Tika. Ia sudah banyak
__ADS_1
sekali membantu kami. Audrey
bahkan membantu kami agar
bisa kuliah di kampusnya.
Banyak sekali kebaikan Audrey
yang sudah kami terima hingga
sulit untuk di jabar kan satu persatu. Intinya, karena kami gak akan bisa membalas kebaikan
Audrey, aku dan Tika saudara
Perempuanku berjanji untuk selalu
menjaga dan melindungi Audrey
dari orang - orang yang berniat
jahat padanya." kata Rifky dengan
wajah serius.
Kevin sangat senang mendengar
kata - kata yang di ucapkan Rifky.
Kini ia tidak terlalu merasa khawatir, adiknya akan kesepian
dan mengalami kesulitan selama
tinggal sendiri di mansion.
Ada Rifky dan Tika bersamanya.
Agar Kevin dan Erland bisa konsentrasi mencari orang yang
berkhianat dan mencelakakan
orang tuanya.
" Baiklah, aku senang mendengarnya. Sekarang aku akan menceritakan hal penting padamu. Mengenai keluarga dan musuh orang tua kami yang berniat akan melenyapkan Audrey setelah berhasil membunuh Daddy dan Mommy. Karena aku yakin kamu
bisa di percaya. " ujar Kevin menatap Rifky intens.
Dahi Rifky langsung berkerut mendengar perkataan Kevin.
Ada yang berniat mencelakakan
Audrey ? Apa maksud Kevin ?
Kepala Rifky penuh dengan pertanyaan yang tidak ia mengerti.
Kevin tahu Rifky pasti bingung dengan perkataanya. Maka ia memutuskan untuk memulai
menceritakan pada Rifky mengenai keluarganya.
" Baik, begini awal cerita masalah
keluarga kami." kata Kevin lalu
mulai menceritakan dari awal
mengenai Daddy nya yang di culik dan mau di bu**h waktu masih kecil dan seterusnya. Hingga akhirnya cerita Kevin selesai.
Hanya masalah Erland yang akan menikah dengan Audrey saja yang tidak ia ceritakan. Karena Erland
memintanya untuk tidak menceritakan sebelum waktunya tiba.
Rifky tak percaya begitu mendengar cerita Kevin.
Ternyata orang tua Audrey dan
Kevin punya musuh bebuyutan,
yang sangat jahat dan tidak punya bekas kasihan.
" Jadi aku minta padamu, tolong jaga Audrey. Jangan pernah
menceritakan hal yang telah aku
ceritakan padamu pada orang lain. Jika kau ingin cerita pada Tika, kakakmu ... jangan sampai
orang lain mengetahuinya.
Saat ini hanya kalian berdua yang
bisa aku percaya selain bik Imah.
Bik Imah juga mengetahui semua
masalah yang dialami oleh kedua
orang tua kami. Tapi ia di perintahkan oleh Daddy untuk bersikap pura - pura tidak tahu.
Ini nomer rahasiaku dan nomer
Erland. Jika suatu saat terjadi
hal buruk menimpa Audrey, segera hubungi kami. Drake akan
segera menjemput kalian." kata
Kevin dengan panjang.
Setelah mengatakan hal ini pada Rifky, ia merasa sedikit lega.
" Ya, aku mengerti. Tapi, maaf tadi kau menyebutkan nama Erland,
siapa dia ? Apakah salah - satu
yang ikut bersama Drake ?" tanya
Rifky ingin tahu.
" Nanti jika tiba waktunya kau akan tahu, tapi bukan sekarang.
Mulai hari ini, kau latihan fisik
dengan Drake dan yang lain, sebelum kalian kembali
ke Indonesia. Nanti setelah kau
dan Audrey berada di sana, jangan pernah menghubungiku jika tidak benar - benar dalam keadaan darurat. Karena seperti yang tadi sudah aku ceritakan, saat ini orang itu tidak mengetahui keberadaan ku sebagai kakaknya Audrey.
Apa kau sudah mengerti ?" tanya Kevin serius.
" Ya, aku mengerti." jawab Rifky cepat.
" Bagus, sekarang kau temui Drake. Ia akan membawamu
ke sanggar pelatihan." kata Kevin.
" Baik ... !! " jawab Rifky tegas, lalu ia segera keluar dari ruangan kerja Kevin.
Ternyata Drake sudah menunggunya di depan pintu ruangan Kevin.
Tanpa banyak bicara, Rifky mengikuti langkah Drake menuju sanggar.
**********************************
Selamat Hari Kemerdekaan buat
Negaraku tercinta " Indonesia" ...
😘😘😘
__ADS_1