Cinta Dan Dendam Audrey

Cinta Dan Dendam Audrey
Episode 86


__ADS_3

Sejak Bella dan Lily memutuskan untuk bekerja sama, mereka semakin akrab saja. Meskipun di dalam hati masing – masing mereka punya tujuan sendiri. Tapi mereka berdua dengan sangat pintar menyembunyikannya.


Bella bahkan berusaha agar Audrey bisa dekat juga dengan Lily. Setiap hari ia sengaja mengajak Lily untuk bergabung dengan mereka saat Audrey, Rina dan dirinya sedang mengobrol ataupun sekedar melakukan kegiatan kecil di dalam mansion. Hingga akhirnya Audrey sudah menganggap Lily teman seperti dirinya dan Rina.


Tentu saja hal ini membuat Bella dan Lily sangat senang. Kedekatan ini memang Bella dan Lily rencanakan sebelumnya, agar mereka berdua lebih mudah mempengaruhi Audrey untuk tidak lagi percaya dengan Rina.


Tujuan mereka adalah untuk mengusir Rina dari mansion, agar Bella dan lily lebih leluasa jika ingin melakukan apapun terhadap Audrey. Mereka berdua menyadari kalau keberadaan Rina akan mempersulit Bella dan Lily.


Selain merencanakan ini, Lily juga punya rencana yang lebih dahsyat untuk membuat Audrey tidak akan pernah mempercayai Rina lagi sampai kapanpun.


Apalagi sejak Audrey memimpin perusahaannya dan Rina bekerja padanya, mereka berdua bagaikan tidak bisa terpisahkan lagi. Mulai berangkat bersama ke perusahaan hingga pulang ke mansion dan yang paling membuat Bella kesal pada Rina, Audrey lebih memilih untuk sekamar dengan Rina di bandingkan Bella yang jauh lebih lama mengenalnya.


Sementara itu, Audrey baru saja dapat kabar dari dokter yang merawat bik Imah, kalau bik Imah sudah di perbolehkan untuk pulang, karena kondisi jantungnya sudah jauh lebih baik. Namun karena terlalu lama dalam keadaan pingsan, dan baru di bawa ke rumah sakit, setelah beberapa jam menyebabkan bik Imah mengalami stroke hingga dia harus menggunakan kursi roda dan bicaranyapun tidak bisa lancar seperti dulu lagi.


“ Jadi, Bik Imah gak bisa berdiri lagi, Drey ?” tanya Rina dengan wajah terkejut.


“ Iya, Rin ... dokter bilang begitu !” ucap Audrey sembari mengela nafas berat.


“ Tapi kenapa dokter tidak langsung memberitahu kita, saat kita terakhir menjenguk bik Imah ?” tanya Rina heran.


“ Hmm ... karena awalnya, dokter masih berharap bik Imah bisa kembali normal tapi sayangnya dokter tidak bisa melakukan apa – apa lagi.” Ucap Audrey menjelaskan.


“ Apa ada kemungkinan bik Imah bisa kembali normal, Drey ?” tanya Rina lagi.


“ Hmm ... sayangnya kata dokter kemungkinan itu sangat kecil, Rin. Saat bik Imah di bawa ke rumah sakit, ia sudah dalam keadaan tidak sadarkan diri selama beberapa jam, kata dokter itu yang menyebabkan bik Imah mengalami hal ini.” Ucap Audrey.


“ Kasihan bik Imah ! Dia pasti sedih banget, ya ... Drey !” ujar Rina.


“ Ya, bik Imah pasti sedih banget karena dia harus duduk di kursi roda dan tidak bisa bergerak bebas seperti biasanya. Mudah – mudahan bik Imah bisa kuat menerima hal ini !“ kata Audrey sembari membayangkan wajah bik Imah yang sudah menemani dirinya sejak kecil.


“ Aamiin ... mudah – mudahan ya, Drey.” Ujar Rina.


“ Ya, udah Rin, kita ke rumah sakit sekarang ! Siapa tahu dengan berada di mansion bik Imah bisa cepat pulih. Siapa tahu, ya kan ... !” ucap Audrey penuh harap, karena ia sangat ingin bik Imah bisa kembali berjalan seperti dulu.


“ Aamiin ... gue juga berharapnya begitu, bik Imah bisa kembali sehat.” Ujar Rina.


Audrey dan Rina segera bergegas pergi ke rumah sakit begitu mereka menyelesaikan pekerjaannya.


Sementara itu, Bella dan Lily diam – diam masuk ke kamar orang tua Audrey. Mereka harus hati – hati agar jangan sampai ketahuan dengan mbak Nana. Walaupun sebenarnya hanya Bella yang khawatir karena takut tiba – tiba Nana terbangun.


“ Udah, lo santai aja, Bel ... Nana gak akan bangun hingga beberapa jam lagi. Yakin deh, ama gue !” ucap Lily sembari menyeringai.


“ Kog, lo bisa yakin banget ? Apa lo ngelakuin sesuatu padanya ?” tanya Bella penasaran.

__ADS_1


“ Hmm ... udah, pokoknya lo tenang dan tinggal tunggu beres. Biar gue yang melakukan semuanya. Yang penting, elo harus tetap mendukung gue apapun itu!” ujar Lily tersenyum dengan wajah liciknya.


“ Okey, deh ... gue percaya sama lo ! “ kata Bella.


Kini mereka berdua sudah berhasil masuk ke dalam kamar daddy dan mommy nya Audrey.


Sebelumnya, Bella mencuri kunci aslinya dari kamar Audrey dan menyerahkannya pada Lily untuk membuat duplikatnya.Baru setelah Lily berhasil, kunci itu pun ia kembalikan lagi ke kamar Audrey.


Mata Bella langsung terbelalak begitu mereka berada di kamar orang tua Audrey. Kamar ini gak kalah mewahnya dengan kamar Audrey, hanya lebih klasik.


Sedangkan lily, walaupun sudah pernah masuk ke dalam kamar ini tetap tidak bisa menghilangkan rasa kagumnya.


Bella begitu semangat ketika melihat semua pakaian dan perhiasan mommy nya Audrey. Sebagai seorang designer terkemuka gak heran jika Elif memiliki pakaian yang sangat bagus dan mewah.


“ Gila, bagus – bagus banget !” ujar Bella mata berbinar.


“ Udah, nanti masih banyak waktu buat melihat ini semua. Sekarang yang paling penting kita harus mencari surat – surat penting menyangkut perusahaan dan mansion dulu. Baru kalau kita sudah menemukannya, lo bisa puas memakai semua pakaian bekas mommy nya Audrey !’ ujar Lily kesal karena melihat Bella hanya fokus pada semua barang – barang itu, bukan seperti tujuan awal mereka yang hendak mencari dokumen – dokumen penting seperti yang di perintahkan Reno pada mereka.


Ya, bahkan sekarang Bella dan Lily sudah tidak menutupi lagi, kalau keduanya berhubungan dengan pria yang sama, yaitu Reno.


Walaupun sebenarnya baik Bella maupun Lily sudah sama – sama mengetahui sebelumnya. Hanya saja selama ini mereka berusaha menutupi satu sama lain.


“ Iya, bentar ... bawel amat ! Mata gue masih belum puas melihat ini semua.” ujar Bella sembari cemberut ke arah Lily.


“ Jangan salahkan gue, kalau Reno marah ya ! “ ujar Lily mengingatkan Bella.


“ Lo, ya ... gak usah bawa nama Reno segala ! Ini juga gue mau bantuin lo nyari ... “ ujar Bella geram, lalu segera memeriksa beberapa dokumen yang ada di lemari ruangan kerja Tuan Eldric.


Lily hanya mengulum senyum sinis melihat Bella langsung bekerja setelah ia menyebutkan nama Reno.


Begitu tiba di rumah sakit Audrey dan Rina segera bergegas berjalan menuju ruangan tempat bik Imah di rawat. Tapi, tiba- tiba handphone Audrey berbunyi. Ia pun menghentikan langkahnya sejenak untuk mengambil handphonenya yang ada di dalam tas.


“ Siapa yang telepon, Drey ?” tanya Rina ikutan berhenti.


“ Gak tahu, nih ... gak ada nomernya !’ ucap Audrey heran, saat melihat panggilan masuk pada handphonenya.


“ Jangan diangkat, Drey ... !” ujar Rina.


“ Iyalah, ngapain juga gue angkat."


kata Audrey, lalu membiarkan panggilan itu sampai berhenti sendiri.


Tetapi lagi- lagi handphone Audrey kembali berdering. Namun kali ini bukan penelpon yang menggunakan nomer private tadi yang menghubungi Audrey lagi, melainkan Reno. Audrey melirik sejenak pada Rina.

__ADS_1


“ Rin ... lo duluan ke kamar bik Imah. Gue mau menjawab telepon ini dulu. “ ucap Audrey tidak menyebutkan nama Reno.


“ Okey ... gue masuk duluan, ya kalau gitu.” Ujar Rina tidak menanyakan siapa yang menghubungi Audrey, kali ini.


Setelah Rina masuk ke kamar bik Imah baru Audrey menjawab telepon dari Reno.


“ Halo, ada apa Ren ... ?” tanya Audrey langsung.


“ Hai, Drey ... gak ada, aku hanya ingin tahu kabar kamu. Habis kangen banget ... hehehe !” ujar Reno mengeluarkan gombalan mautnya.


“ Hee ... kangen apa modus !” ucap Audrey bercanda.


Reno yang berada di balik handphone seketika merasa tersindir mendengar omongan Audrey. Walau ia tahu Audrey tidak mencurigainya sama sekali.


“ Aku beneran kangen, Drey ... kamu nya aja yang gak pernah kangen sama aku. “ ujar Reno dengan nada dibuat sedih.


“ Hmm ... selain kangen kamu mau ngomong apa lagi ? Soalnya gue harus buru – buru nih ... !” ucap Audrey berusaha tidak termakan rayuan Reno.


“ Besok sore, boleh gak aku main ke mansion kamu ? ... eh, tunggu dulu, tadi kamu bilang lagi buru – buru. Memangnya kamu lagi di mana, Drey ... ? “. Ujar Reno.


“ Lagi di rumah sakit, Ren ... bik Imah udah bisa di bawa pulang ke mansion. “ jawab Audrey.


“ Oh, bik Imah udah sehat ? Syukurlah ... “ ujar Reno pura – pura perhatian.


“ Hmm ... Ya, makasih.” Ucap Audrey.


“ Drey ... gimana, aku bolehkan besok datang ke mansion kamu ?” tanya Reno lagi.


“ Ya, boleh ... ! Udah di jawab kan , jadi sekarang gue tutup ya ... “.


“ Hah ... Okey ! Makasih, Drey ... !” . Audrey segera memutuskan sambungan telepon dengan Reno kemudian bergegas masuk ke kamar bik Imah.


Ia melihat dokter yang menangani bik Imah sudah menunggunya. Rina memegang kursi roda dengan bik Imah yang duduk di atasnya. Sementara asisten kepercayaan bik Imah yang selama ini menemani dan menjaganya sedang menenteng tas berisi pakaian bik Imah.


“ Nona Audrey, sebaiknya begitu tiba di mansion bu Imah langsung istirahat.” ujar Dokter.


“ Tentu saja dokter. Kalau begitu, kami akan membawa bik Imah pulang sekarang, dok ! Bik Imah pasti udah kangen sama mansion, kan ... ?” ucap Audrey sembari tersenyum.


“ Ya, nona Audrey benar. Bu Imah dari kemarin udah minta pulang. Beliau udah kangen sama nona. “ ujar dokter.


“ Ya, udah kalau begitu kita pulang ya, bik ... Audrey juga kangen banget sama bik Imah.” Ucap Audrey.


“ Semoga begitu pulang dan ketemu Audrey setiap hari di mansion, bu Imah semakin sehat, ya ... !” kata dokter tersenyum ke arah bik Imah.

__ADS_1


“ Aamiin ... ! “ ucap Audrey, Rina dan asisten bik Imah bersamaan.


**********************************


__ADS_2