
" Drey ... Lo belum menghubungi
Zia dan Dea buat memberi tahu kalau elo udah pulang. Waktu elo gak ada mereka juga khawatir banget. " ujar Rina mengingatkan Audrey.
" Iya, belum Rin ... nanti aja. Biar gue konsentrasi sama perusahaan dulu. Kalau mereka tahu, bisa - bisa Zia langsung datang kesini dan ngobrol seharian. " jawab Audrey tersenyum kecil mengingat wajah Zia yang ceriwis.
" Iya juga sih ... tapi gue kasihan juga lihat mereka. Saat elo gak ada di mansion mereka gak
di bolehin datang kesini. Jadi mereka senang banget begitu penyusup itu membolehkan mereka masuk. " ucap Rina.
" Hehehe ... gue tahu. " sahut Audrey tertawa kecil.
" Lo tidur duluan aja, Rin ... gue mau melihat berkas - berkas ini lagi. " ucap Audrey.
" Udah, kita bareng aja melihatnya, Drey ... gue juga belum ngantuk."
ujar Rina sembari mengambil sebagian berkas dari meja Audrey.
" Okey, kalau gitu ... !" sahut Audrey tersenyum.
Mereka berdua dengan serius membaca berkas - berkas yang ada di hadapan mereka.
Lily yang sedang berada
di kamarnya menghubungi Reno.
" Halo, sayang ... " ucap Lily begitu
Reno mengangkat telefon nya.
" Ada apa, Li ... ?" tanya Reno.
" Itu obat yang buat bik Imah kog gak ada reaksinya sama sekali ?".
" Hmm ... aku sengaja memberinya dosis yang kecil agar tidak terlalu mencurigakan."
" Kenapa gak sekalian dosis gede aja biar cepat mati ! Aku gak bisa tenang kalau dia masih ada. "
" Kalau aku ngasi dia dosis besar, nanti si Imah bisa tahu. Karena pasti dia kesakitan banget. Selama ini jantungnya udah gak bermasalah sejak dia operasi.
Jadi biarkan saja kita melakukannya secara perlahan."
" Tapi aku udah gak sabar, Ren ...
aku ingin kita bisa segera melenyapkannya agar aku bisa
bebas di mansion ini menyelidiki
semua ruangan yang ada disini.
Imah pasti sudah curiga denganku sejak kejadian kemarin. Tapi karena gak menemukan buktinya jadi ia gak bisa berbuat apa - apa."
" Iya, aku tahu ... tunggu aja beberapa waktu lagi. Aku yakin sekarang dia sudah merasakan gejalanya. Tapi dia pasti gak akan pernah menduga kalau obatnya sudah kamu tukar dengan obat yang lain."
" Hmm ... terus si Rina itu kapan bisa kita usir dari mansion ? Aku
udah muak melihat tingkahnya yang sombong. Dia merasa seperti salah - satu pemilik mansion ini !" .
" Belum bisa sekarang, Li ... Aku harus bisa mempengaruhi Audrey terlebih dulu baru bisa mengusirnya keluar dari mansion.
Jadi kamu harus sabar. Hal ini tidak bisa di lakukan secara gegabah atau kamu mau batal jadi nyonya di mansion itu hanya karena kamu gak sabaran !" .
" Bukan gitu, Ren ... aku udah bosan aja harus melayani mereka setiap harinya. "
" Aku gak mau dengar kamu bicara seperti ini lagi. Kalau kamu
mau menghasilkan sesuatu yang besar harus belajar bersabar. Jika tidak, kamu gak akan mendapatkan apapun. Aku bisa menggantikan dengan orang lain kalau kamu terus mengeluh !" .
Lily terdiam mendengar ancaman yang diucapkan Reno. Tentu saja ia gak mau kedudukannya digantikan orang lain. Sementara
dia sudah merelakan dirinya menyamar jadi pelayan di sini.
Ia harus merayu Reno agar tidak marah lagi dengannya.
" Maaf, Reno ... aku gak bermaksud seperti itu. Aku hanya ingin bisa secepatnya menikah dengan kamu. " ucap Lily menyesal.
__ADS_1
" Hmm ... kalau kamu mau aku nikahi, ikuti semua yang aku katakan. Jangan pernah berani
melakukan hal yang sembrono
di sana. Kamu mengerti !" ucap Reno dengan suara keras.
" Ya, baiklah ... aku mengerti. " ujar Lily lirih.
" Begini lebih bagus dari pada kamu ngomong yang gak bermanfaat. " ucap Reno.
" Iya ... aku akan melakukan seperti yang kamu mau tapi kamu beneran akan menikah denganku, kan ? " tanya Lily penuh harap.
" Itu semua tergantung kamu.
Kalau kamu menjalankan seperti yang aku mau dan kita berhasil.
Tentu saja kamu akan aku nikahi.
Tapi jika tidak, aku akan menikah dengan Bella atau wanita lain."
ancam Reno dengan suara datar.
" Jangan Ren, aku akan melakukan apapun yang kamu mau. Bukankah selama ini aku sudah berusaha dengan keras
untuk menjadi wanita yang sempurna buat kamu. Bahkan aku
rela jadi pelayan di mansion ini meski aku harus meninggalkan
kuliahku. " ucap Lily dengan suara memelas.
" Hmm ... kamu tahu, aku memang
lebih memilih kamu di bandingkan Bella wanita j****g itu tapi bukan berarti aku gak bisa meninggalkan kamu. Aku bisa mencari wanita lain yang pantas buatku dan wanita yang tidak akan pernah
membantah perkataan ku. Jadi,
jangan pernah merasa kalau kamu bisa bersikap sesuka hati lagi ?" ujar Reno.
" Iya, Ren ... aku tahu. Tapi aku mohon, jangan pernah meninggalkan aku. Cuma kamu yang aku punya dan aku sangat ingin menjadi pemilik mansion ini bersama kamu. " ucap Lily.
" Kalau begitu, ubah sikapmu yang gak sabaran itu !" ujar Reno.
" Ya, sudah ... sekarang kamu istirahat agar besok bisa lebih
semangat mencari apa yang kita butuhkan di sana. " ujar Reno.
" Baiklah ... aku akan tidur sekarang. Kamu juga, ya ... selamat malam, sayang ... " ucap
Lily lembut.
" Ya, selamat malam juga buat kamu. " suara Reno mulai terdengar lebih lembut.
Reno segera menutup sambungan teleponnya. Ia lalu merebahkan dirinya di kasurnya yang empuk.
Reno sudah tidak sabar ingin menemui Audrey. Ia harus tahu
dengan secepatnya, kemana Audrey pergi selama ini.
" Hmm ...apa Bella sudah mengajak Zia pergi ke mansion
Audrey ? " ucap Reno.
" Sebaiknya aku menghubungi Bella agar bisa mengetahuinya ."
Reno lalu mencari nama Bella
di ponselnya dan setelah itu ia menekan tombol panggilan keluar.
Bella yang sedang melamun
di kamar karena memikirkan
Reno yang sudah tidak perduli
lagi padanya merasa kaget, melihat Reno menelponnya.
__ADS_1
" Ya, Ren ... ada apa ?" tanya Bella dengan semangat.
" Kamu sudah menghubungi Zia untuk mengajaknya menemui
Audrey ? " tanya Reno langsung tanpa basa - basi.
Bella menghela nafas berat setelah mendengar pertanyaan
Reno. Ternyata ia menghubungi Bella bukan karena ia merindukannya tapi karena menanyakan hal yang ia perintahkan pada Bella.
" Ya, sudah ... besok kami akan pergi ke mansion Audrey. " jawab Bella lesu.
" Bagus ... jadi besok jam berapa kalian pergi ke mansion Audrey ?" tanya Reno senang.
" Mungkin malam setelah Audrey
pulang dari perusahaan. " ujar Bella.
" Besok hubungi aku kalau kamu
sudah mau pergi ke mansion
Audrey ?" perintah Reno.
" Hmm ... kamu mau datang
ke mansion Audrey juga ?" tanya
Bella penasaran.
" Tentu saja ... aku sudah gak sabar untuk bertemu Audrey. " ujar Reno.
" Oh, Ren ... aku boleh menanyakan sesuatu sama kamu gak .. ?" tanya Bella takut.
" Apa yang mau kamu tanyakan ?"
ucap Reno dingin.
" Apa kamu menyukai Audrey ?" tanya Bella gugup.
" Ya, tentu saja. Audrey cantik, **** ... pria mana yang tidak suka melihatnya. Aku juga ingin merasakan seperti yang telah aku lakukan bersamamu saat kamu belum berubah menjijikkan seperti sekarang. " ujar Reno tanpa perasaan.
Bella merasa hancur mendengar jawaban jujur yang keluar dari mulut Reno.
Dulu Reno selalu menyangkal jika Bella menanyakan tentang perasaannya pada Audrey.
Reno selalu mengatakan semua ini ia lakukan demi melancarkan rencananya.
Bagaimana mungkin Reno bisa dengan tanpa rasa bersalah sedikitpun mengakui perasaannya
pada Bella.
" Jika kamu suka dengannya kenapa kamu mau menghancurkannya ?" tanya Bella lagi.
" Itu masalah lain, gak bisa
di samakan. " jawab Reno.
" Terus apa kamu juga akan menikahinya ?" .
" Aku tidak perlu menjawab pertanyaan kamu. "
Bella terdiam mendengar perkataan Reno.
" Ya, sudah ... besok jangan lupa hubungi aku kalau kamu mau
pergi ke mansion Audrey." setelah mengatakan ini, Reno segera menutup ponselnya.
Bella hanya bisa melihat ponselnya dengan tatapan nanar saat Reno memutuskan panggilan
telefon darinya tanpa menunggu
jawaban dari Bella.
" Ternyata sampai kapanpun aku tidak akan bisa mengalahkan Audrey. Dia selalu menang dalam segalanya.
__ADS_1
Jangan kan Audrey ... dengan Lily saja aku sudah kalah telak. " ujar Bella sedih.
**********************************