Cinta Dan Dendam Audrey

Cinta Dan Dendam Audrey
Episode 84


__ADS_3

" Drey ... kamu beneran udah gak papa kan ... ?" tanya Dea masih khawatir.


" Iya, honey ... sebaiknya kamu tidur aja biar badan kamu enakan." ucap Zia.


" Iya, sayang - sayangku ... aku baik - baik saja sekarang. Jangan khawatir ! Aku cuma kecapekan doang ... " jawab Audrey dengan senyum lebar.


" Syukurlah ... " lalu Dea dan Zia pun memeluk Audrey.


Audrey juga membalas pelukan mereka sembari mengingat persahabatan mereka yang sudah terjalin begitu lama. Ia bahagia karena memiliki teman yang sangat perduli dan menyayanginya.


Ketiganya tertawa lepas setelah puas berpelukan.


Sementara Rina masih memikirkan mengenai Lily yang tadi dilihatnya keluar dari kamar Bella. Ia tidak bisa melupakan saat melihat seringai licik yang tercetak dengan jelas di wajah Lily.


" Lo, lagi mikirin apa sih, Rin ... ? " tanya Zia.


" Eh, Bella mana ya ... kog lama banget ke kamar mandinya ?" ujar Rina sengaja mengalihkan dari yang ditanyakan Zia.


" Udah, biarin aja, dia lama - lama di kamar nya ... lagi sebel gue lihatnya !" ujar Zia terus terang.


" Oh, hehehe ... !" Rina tertawa mendengar ucapan Zia.


" Kita kan gak jadi pergi, jadi kita ngapain nih, biar lebih seru ?" tanya Audrey pada mereka.


" Udah, kita ngobrol aja di kamar, Drey sambil nonton film. Biar lebih seru kita nonton film hantu. Biar Zia ketakutan ... !" ujar Dea melirik ke arah Zia.


" Ih, jangan film hantu dong ... gak bisa tidur gue nanti. Jahat, Lo ... !" protes Zia sambil melotot.


" Hahaha ... biarin. Sekali - kali Lo perlu dikerjain. " ujar Dea tertawa.


" Kamu ya ... !" Zia lalu menimpa badan Dea.


Audrey dan Rina ikut tertawa melihat yang di lakukan Zia dan Dea.


Saat Audrey masih memperhatikan kedua temannya, tiba - tiba ia teringat kalau sejak tadi ia gak melihat keberadaan handphone miliknya.


" Rin ... Lo lihat handphone gue, gak ?" tanya Audrey.


" Oh, lupa gue ... tas dan handphone lo ketinggalan dimobil. Ntar, biar gua aja yang ambil ... !" ujar Rina sambil menepuk keningnya.


" Oh, biar gua aja yang ambil, Rin ... !" kata Audrey kemudian bangkit dari tempat tidur.


" Gak ...Lo di kamar aja. Biar gue aja yang ngambil. Lo baru aja baikan !" ujar Rina lalu bergegas keluar dari kamar Audrey.


Audrey tersenyum melihat Rina yang langsung lari keluar dari kamarnya.


Tapi Rina menghentikan langkahnya begitu tiba di lantai bawah. Ia melihat Lily tertawa lebar saat keluar dari dapur.


Sedangkan Lily begitu terkejut begitu melihat keberadaan Rina.


Ia tidak menyangka kalau Rina akan turun ke lantai bawah, karena pikirnya pasti mereka masih asyik ngobrol dan menjaga Audrey di kamarnya.


" S**l ... apa dia melihat apa yang aku lakukan ?" ujar Lily dalam hati.


" Eh, non Rina ... nona sudah dari tadi disini ? Apa nona turun karena non Audrey butuh sesuatu ?" tanya Lily menutupi rasa terkejutnya.


" Hmm ... kenapa kamu menanyakannya ? Memangnya kenapa kalau saya sudah dari tadi disini ?" ujar Rina sengaja karena ingin melihat reaksi Lily.


Lily menelan ludah mendengar perkataan Rina.


" B******k .... ! Apa itu berarti dia melihatku menaruh obat ke makanan Audrey ? Tapi kalau dia melihat apa yang aku lakukan, gak mungkin dia diam saja ! Hmm ... dia seperti sengaja melakukannya untuk melihat reaksiku ? " akhirnya Lily merasa lega setelah mendapatkan jawaban dari pertanyaannya.


" Gak papa non, saya cuma nanya saja. Nona butuh sesuatu ? Biar saya ambilkan." ujar Lily tersenyum setelah bisa menguasai keadaan.


" Hmm ... tidak !" ucap Rina singkat.


Setelah ia teliti wajah Lily terlihat normal dan tidak ada yang mencurigakan, Rina pun melangkah keluar menuju garasi mobil untuk mengambil tas Audrey.


" Huh, hampir saja ketahuan ... ! Lain kali gue harus lebih berhati - hati ." ujar Lily menatap tajam ke arah pintu tempat Rina keluar, lalu berjalan menuju ruang belakang.


Rina kembali masuk ke dalam mansion setelah mengambil tas milik Audrey. Tapi ia sudah tidak melihat keberadaan Lily. Rina pun melangkah masuk ke dalam lift.


" Nih, Drey tas Lo ... !" ucap Rina setelah berada di kamar Audrey sembari memberikan tas.


" Makasih, ya Rin ... " ujar Audrey dengan senyum tipis.


Rina menganggukkan kepalanya.


Audrey kemudian membuka tas dan segera mengambil handphonenya. Dahinya berkerut ketika melihat begitu banyak panggilan masuk disana dari nomer yang tak di kenal.


Audrey lalu melihat pesan ataupun chat yang masuk.

__ADS_1


Ia hampir saja menjerit kegirangan ketika melihat pesan dari Kevin, kakaknya. Berarti nomer yang tidak dikenal tadi adalah nomer kakaknya.


Ia jadi merasa bersalah karena pasti kakaknya sedang khawatir saat ini , karena Audrey tidak juga membalas pesannya. Memikirkan hal ini, Audrey segera membalas pesan dari Kevin. Berharap Kevin menghubunginya segera dan memberikan kabar baik untuknya.


" Senang banget gitu lihat handphone. Jangan - jangan Lo udah punya pacar ya, Drey ... ?" ujar Zia sembari mengintip handphone Audrey.


" Gak lah, kalau gue punya pacar pasti kalian orang pertama yang gue kasi tau. " ucap Audrey lalu menaruh handphonenya ke dalam saku celananya.


" Hehehe ... bercanda gue ! Kalau Lo, gue yakin sih ... tapi kalau Bella, gak !" ujar Zia tertawa kecil.


" Kita makan dulu, yuk ... baru habis itu kita nonton !" ajak Audrey.


" Okey ... !" sahut teman - temannya serempak.


Mereka pun keluar dari kamar Audrey dan kemudian berhenti di depan kamar Bella, dan membuka pintunya tapi sayangnya dikunci sama Bella.


Audrey memanggil nama Bella sembari mengetuk pintu kamarnya. Sejak ia keluar dari kamar Audrey, Bella belum juga kelihatan wajahnya.


" Apa Bella ketiduran, ya ... ?" gumam Audrey karena tidak terdengar Bella menyahut panggilan Audrey.


" Udah, Drey ... kita turun duluan aja. Mungkin dia memang ketiduran. Nanti kalau kelaparan dia bakalan turun sendiri !" ujar Rina.


" Benar banget yang Lo bilang, Rin ... !" kata Zia sembari mengacungkan jempolnya.


Tapi begitu sampai di ruang makan, handphone nya Audrey berdering.


Ia yang memang menunggu Kevin menelfonnya kembali dengan semangat ingin menjawab panggilan ini.


Namun Audrey baru sadar kalau ia tidak bisa berbicara dengan bebas di depan teman - temannya. Karena hanya Rina yang tahu kalau Audrey memiliki seorang kakak.


" Gue ke kamar Daddy bentar, ya ... Ada yang mau gue ambil !" ucap Audrey, memutuskan untuk menerima panggilan tersebut di kamar orang tuanya agar tidak ada yang bisa mendengar pembicaraan mereka, apalagi ini mengenai Daddy dan mommy nya.


" Oh, Okey ... kami makan duluan gak papa, Drey ... ?" tanya Zia sembari nyengir.


" Ya, gak papa lah, kalian makan aja duluan. Bentar ya ... !" ucap Audrey lalu berjalan menuju kamar orang tuanya.


Begitu tiba di kamar, Audrey segera menjawab panggilan masuk dari Kevin.


" Halo, kak ... maaf, aku baru bisa jawab sekarang. " ucap Audrey.


" Kamu kemana aja ? Kakak udah telefon berulang kali !" ujar Kevin langsung bertanya dengan suara cemas.


" Oh, tadi handphone ku ketinggalan di mobil. Jadi aku gak tahu kakak telefon. Ini baru aja aku ambil dan setelah lihat pesan dari kakak, makanya langsung aku balas." ujar Audrey menjelaskan.


" Hmm ... aku baik - baik aja, kog kak ... Jangan khawatir, malah malam ini teman - temanku pada nginap di mansion kita buat nemani aku biar lebih ramai. " ucap Audrey menutupi kejadian yang sempat dialaminya tadi. Ia tidak ingin Kevin jadi khawatir.


" Oh, bagus kalau begitu ! Kakak senang kalau kamu banyak yang nemani. Tapi nomer bik Imah, kog gak bisa dihubungi juga ? Handphonenya gak aktif. Memangnya bik Imah lagi ngapain ?" ujar Kevin menanyakan hal ini.


" Hmm ... bik Imah handphonenya lagi rusak makanya gak bisa dihubungi, kak ... ! Audrey belum sempat belikan yang baru." jawab Audrey terpaksa berbohong, karena ia tidak ingin Kevin mengetahui kalau bik Imah sedang sakit. Nanti Kevin jadi khawatir, karena gak ada yang mengurus mansion dan Audrey.


" Oh, gitu ! Pantes aja gak di angkat. Soalnya bik Imah biasanya langsung angkat telefonnya kalau kakak yang telfon." ujar Kevin bertambah lega.


Ternyata pikiran buruk yang sempat terlintas di kepalanya, tidak benar.


" Kakak telefon pasti mau ngabari Audrey, mengenai kabar Daddy dan mommy kan !" ucap Audrey langsung karena ia sudah bisa menduganya.


" Hmm ... kamu benar !" jawab Kevin dengan suara berat.


Ia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada Audrey jika mendengar berita yang mau ia sampaikan.


Tapi seperti perkataan Erland, ia harus segera berkata jujur dan tidak membuat Audrey semakin berharap lebih dan harus bisa segera menerima kenyataan meskipun pahit buatnya.


" Gimana Kak ... ada kabar baik, gak ?" tanya Audrey semangat.


Mendengar suara Audrey yang begitu semangat membuat Kevin semakin bersedih. Ia tahu, Audrey pasti akan sulit untuk menerimanya. Karena Audrey sangat yakin kalau orang tua mereka masih hidup.


" Hmm ... kamu harus tetap baik - baik aja dan kuat meskipun orang tua kita sudah tidak ada lagi, ya Drey ... !" ujar Kevin menghela nafasnya dengan berat setelah mengatakan ini.


" Maksud kak Kevin ?" tanya Audrey dengan wajah berubah sedih.


Meskipun sebenarnya ia tahu maksud dari perkataan Kevin, tapi ia masih berusaha menyangkal dan bersikap tidak percaya dengan apa yang ia dengar.


" Maaf, Drey ... semua tempat sudah dicari sesuai yang kamu katakan. Meskipun kakak sudah mengerahkan semua anak buah kakak untuk mencarinya. Tapi orang tua kita tetap tidak di temukan. Jadi, kakak mohon kamu bisa menerima kenyataan yang sebenarnya walaupun sulit, kalau dua orang yang di temukan di tempat kecelakaan itu adalah mayatnya Daddy dan Mommy. " suara Kevin terdengar serak seperti sedang menahan tangis saat menyampaikan kebenaran menyakitkan ini pada Audrey.


Kaki Audrey langsung lemas dan sulit untuk berdiri. Hingga ia akhirnya duduk di tepi tempat tidur orang tuanya. Mulutnya seperti terkunci seketika, tidak bisa berkata sepatah katapun.


Ia sudah begitu berharap, akan mendengar berita baik mengenai orang tuanya. Gak papa lama, asalkan kedua orang tuanya bisa kembali dalam keadaan hidup.


Tapi kakaknya juga sudah mengerahkan segenap kemampuannya untuk mencari keberadaan orang tua mereka seperti yang Audrey katakan padanya. Ia pasti sudah berusaha semaksimal mungkin.


Jadi, Audrey tidak bisa menyalahkannya. Hanya saja, kenapa Audrey masih sulit untuk menerima kenyataan yang menyakitkan ini.

__ADS_1


Ia begitu yakin dengan yang dilihatnya, meskipun di dalam tidurnya. Kedua orang tuanya, memanggil Audrey dan mengatakan padanya kalau mereka berada di tempat yang jauh dan sedang bersembunyi dari orang yang ingin melenyapkan mereka.


Apakah itu hanya harapan di hati Audrey saja karena tidak bisa menerima kenyataan kalau Daddy dan mommy nya sudah pergi meninggalkan nya untuk selamanya.


Bisakah Audrey menerima hal ini ? Bisakah dia melanjutkan hidupnya setelah tahu tentang kebenaran yang sebenarnya. Audrey tidak yakin ia sanggup.


Sementara kedua orang tuanya berpesan ia harus selalu kuat dan tegar meski apapun yang terjadi dalam hidupnya.


Apa yang harus ia lakukan jadinya ? Tetap kuat dan menerima kepergian orang tuanya atau tetap berharap kalau orang tuanya masih hidup dan akan kembali padanya.


Pilihan ini sangat sulit buatnya. Sehingga membuat air mata Audrey sudah tidak bisa di tahan lagi, begitu saja mengucur dengan deras di pipinya.


" Drey ... Audrey, kamu baik - baik saja, kan ? "suara Kevin sangat cemas karena Audrey sama sekali tidak bersuara.


" Audrey ... jangan buat kakak khawatir. Kalau kamu tetap gak bersuara, sekarang juga kakak akan pergi kesana dan membawa kamu untuk tinggal bersama kakak disini. Kakak gak perduli, meskipun kita harus gagal dan kehilangan semuanya. Kakak hanya ingin bersama kamu. Sekarang cuma tinggal kamu satu - satunya keluarga kakak. Kita berdua harus saling mendukung dan berbagi kekuatan agar tidak hancur. " ujar Kevin tidak bisa menahan tangisnya karena Audrey belum juga bersuara.


" Audrey ... please, bicara ! atau kamu mau kakak mati juga karena mencemaskan kamu disini !" ujar Kevin dengan nada mengancam.


Mendengar perkataan Kevin, Audrey pun langsung tersadar dari lamunan panjangnya. Ia tidak ingin Kevin pergi meninggalkannya juga seperti kedua orang tuanya.


" Jangan tinggalkan Audrey, kak ... ! Audrey bisa mati ... !" ucap Audrey dengan lirih dan nyaris tak terdengar.


" Tidak, kakak akan menemani kamu untuk selamanya. Karena itu kalau kamu mau kakak baik - baik saja disini, kamu harus kuat, tegar. Kakak tahu ini pasti akan sangat sulit tapi kakak yakin kita berdua bisa melewatinya. Kita harus tetap hidup agar bisa membalaskan dendam atas kematian Daddy dan mommy pada orang yang sudah melakukannya ! Kamu dengar, kakak, kan ... ! Kita harus tetap hidup dan kuat !" ujar Kevin berusaha menyemangati adiknya, dan mulai merasa lega setelah mendengar Audrey bersuara.


" Baiklah, Audrey akan tetap hidup dan kuat ! " Audrey mengulang perkataan Kevin.


" Bagus ... ! Jangan pernah lemah, apalagi takut. " ujar Kevin terus menyemangatinya.


" Ya, kak ... " sahut Audrey lalu menghapus air matanya.


" Hmm ... kita berdua harus tetap baik - baik saja. Jangan buat orang itu jadi berpikir sudah berhasil melemahkan kita !" .


" Ya, kak ... Audrey akan berusaha agar tetap terlihat baik - baik saja meskipun sulit ! " akhirnya Audrey mengeluarkan isi hatinya.


" Hmm ... tidak apa - apa merasa sedih, tapi lakukan saat kamu sedang sendiri. Jangan tunjukkan kerapuhan dirimu ketika di depan orang lain, meskipun itu teman - teman terdekatmu. Cukup, perlihatkan kalau kamu kuat dan dalam keadaan baik. Mengerti !" .


" Ya, kak ... Audrey akan berusaha melakukannya."


" Good girl ... ! ".


" Kak, apa Audrey perlu pergi kesana buat memberi penghormatan terakhir pada Daddy dan mommy ? Waktu itu Audrey tidak mau melakukannya, karena yakin kalau orang tua kita masih hidup !".


" Sebaiknya tidak, kamu sudah mulai bisa menerima ini dengan hati ikhlas saja sudah cukup. Orang tua kita juga pasti mengerti. Kita doakan saja yang terbaik buat Daddy dan Mommy, disana. "


" Baiklah, kalau begitu ! ".


" Tadi, kamu bilang ... teman - teman kamu nginap di mansion.


Terus di mana mereka sekarang ?


Mereka tidak mendengar pembicaraan kita kan ?" .


" Mereka di ruang makan kak. Sedangkan Audrey karena melihat kakak telefon, sengaja pergi ke - kamar Daddy dan Mommy. "


" Oh, baguslah ! Hmm ... kalau gitu sebaiknya kakak tutup telefonnya dulu. Takutnya teman kamu jadi curiga, karena kamu meninggalkan mereka terlalu lama. "


" Tapi, kak ... Audrey masih pengen ngobrol dengan kakak. Gak tahu kapan bisa bicara lagi sama kakak. "


" Jangan khawatir, kakak akan menelfon kamu lagi secepatnya.


Kamu juga udah bisa menyimpan nomer kakak, tapi seperti yang sering Daddy katakan jangan menyimpan nomer keluarga dekat dengan nama aslinya, melainkan pakai nama samaran. Jadi, jika ada orang yang berniat jahat dan menyita handphone kita, mereka tidak akan mudah menemukan nomer kita !"


" Baik, Audrey mengerti kak !" .


" Hmm ... bagus ! Kalau begitu kakak sudah bisa menutup telfonnya ?" .


" Ya ... !" .


" Sebelum kakak tutup telefonnya ... sekali lagi kakak ingatkan, kamu harus baik - baik saja dan tetaplah kuat !" .


" Baik, kak ... !" .


" Good ... bye honey !" .


" Bye, kak ... !" .


Audrey termenung sejenak setelah Kevin mengakhiri telefonnya. Tapi setelah ia mengingat semua kata - kata Kevin, ia berusaha agar terlihat baik dan mencoba menerima kenyataan ini.


Sementara itu di belahan benua lain, Kevin merasa lega setelah berhasil menyampaikan berita mengenai pencarian orang tua mereka, pada Audrey.


Meskipun awalnya ia cemas saat melihat reaksi Audrey tadi tapi akhirnya ia bisa tenang sekarang. Ia yakin, Audrey akan baik - baik saja.

__ADS_1


**********************************


__ADS_2