
" Non Audrey ... maaf, bibi sudah merepotkan nona ?" ujar Bik Imah dengan kata - kata yang tidak begitu jelas, begitu mereka tiba di mansion.
" Hmm ... bik, maaf !" Audrey memberikan sebuah note kecil dan alat tulis pada bik Imah agar mereka lebih mudah berkomunikasi.
Bik Imah memang tidak bisa berjalan dan bicara dengan jelas, tapi tangannya masih bisa di gerakkan meskipun tidak terlalu cepat seperti biasanya.
Bik Imah pun mengerti maksud Audrey dengan memberikan note kecil beserta pulpen untuknya.
Ia lalu menulis dan mengulangi perkataannya tadi. Lalu setelah ia selesai menulis, bik Imah menunjukkannya pada Audrey.
" Oh, bibi jangan pernah berpikir begitu lagi. Bibi sama sekali tidak merepotkan Audrey. " ucap Audrey tersenyum kecil.
" Iya, bu, Bu Imah tenang aja. Ada Audrey dan saya yang akan membantu Bu Imah." ujar Rina menimpali.
" Bik Imah harus tetap berlatih menggerakkan kaki secara perlahan. Walaupun kata dokter, kaki bibi sudah tidak mungkin bisa sembuh tapi Audrey yakin, jika kita terus berusaha Allah akan memberikan kemudahan." ucap Audrey memberikan semangat buat bik Imah.
Bik Imah menulis kembali, lalu memperlihatkannya pada Audrey.
" Aamiin ... terima kasih non !".
" Mbak ... mulai hari ini tugas mbak hanya menjaga dan mendampingi bik Imah. Selama bik Imah di rumah sakit, tugas sebagai kepala rumah tangga sudah saya serahkan pada mbak Nana. Jadi, mbak gak usah mikirin untuk hal lain. Cukup fokus dengan semua urusan bik Imah aja. " ucap Audrey pada asisten bik Imah yang selalu setia mendampinginya selama di rumah sakit.
" Baik, non ... !".
" Apa semua yang ada di mansion baik - baik saja, non ? Kenapa mansion kelihatan sepi ?" tulis bik Imah sembari menatap Audrey.
Rina menghela nafas mendengar pertanyaan bik Imah. Ternyata bik Imah menyadari perubahan yang terjadi di mansion.
" Hmm ... kita masuk dulu ke dalam, ya bik ... bik Imah harus segera istirahat. Nanti, saya akan menceritakan semuanya pada bibi." ucap Audrey.
Audrey lalu memberi kode pada asisten bik Imah untuk mendorong kursi roda bik Imah.
Kening bik Imah berkerut mendengar perkataan Audrey. Ia yakin setelah ia pergi, pasti ada kejadian aneh lagi di mansion.
Apalagi ia tidak melihat keberadaan Lily yang bertugas membersihkan ruang depan.
" Bik ... Audrey tinggal bentar ke kamar, ya ... Audrey mau mandi !
Bibi istirahat ! Jangan mikir yang macam - macam. Pokoknya bibi istirahat dengan tenang. Nanti setelah Audrey selesai, baru Audrey akan menceritakan semuanya pada bik Imah. " ucap Audrey setelah mengantarkan bik Imah ke dalam kamarnya.
" Rina naik juga, ya bik ... !" ujar Rina.
Bik Imah menganggukkan kepalanya. Setelah melihat Audrey dan Rina keluar dari kamarnya, bik Imah menyuruh asistennya untuk membawanya keluar kamar kembali.
Ia merasa ada yang gak beres dengan mansion ini. Karena saat ia pulang tadi, selain Lily bik Imah tidak melihat keberadaan pelayan lainnya.
" Tapi, Bu .... tadi non Audrey menyuruh Bu Imah untuk istirahat !" ujar asistennya.
" Gak papa, sebentar saja ! Nanti saya istirahat. " tulis bik Imah.
" Baiklah, tapi sebentar saja, ya Bu ... ! ".
Bik Imah menganggukkan kepalanya menyetujui perkataan asistennya.
Kemudian walau dengan berat hati, asistennya membawa bik Imah kembali keluar kamar. Ia membawanya ke dapur terlebih dahulu, karena bik Imah ingin bertemu chef.
Tapi alangkah terkejutnya bik Imah dan asistennya begitu melihat Lily yang sedang membuat masakan.
Lily yang melihat kehadiran bik Imah di dapur tidak kalah terkejutnya. Ia tidak menyangka kalau bik Imah akan keluar dari rumah sakit. Lily pikir, bik Imah tidak akan pernah bisa kembali ke mansion ini.
" Sedang apa kamu di dapur ? Mana chef ?" tanya asisten bik Imah mewakilinya.
__ADS_1
" Selamat datang kembali Bu Imah . Semoga Bu Imah segera pulih. Chef sudah berhenti. Jadi selama belum ada yang menggantikan tugas chef, mbak Nana dan non Audrey meminta saya untuk memegang dapur. " ujar Lily setelah berbasa - basi.
Padahal dalam hati ia sangat mengutuk keberadaan bik Imah dan asistennya ini. Asisten yang satu ini terlalu setia pada bik Imah. Ia akan kesulitan untuk mempengaruhinya seperti yang telah ia lakukan pada Nana.
" S*****n ! Kenapa tua bangka ini masih bisa selamat ! Padahal setiap hari ia meminum obatnya. Harusnya, ia tidak bisa bangun lagi!" umpat Lily kesal dalam hati.
" Apa ... ? Kenapa chef bisa berhenti ?".
" Apa yang telah terjadi selama aku pergi ? Kenapa chef bisa berhenti ? " ucap Bik Imah dalam hati dengan perasaan bingung.
" Oh, nanti mbak bisa menanyakan langsung pada nona Audrey. Saya gak ada hak untuk mengatakannya. " ujar Lily dengan sikap yang di buat sesopan mungkin.
" Hmm ... Nana dimana ?" .
" Oh, mbak Nana baru saja masuk ke kamarnya. Tadi mbak Nana bilang kalau kepalanya sedang pusing. "
" Terus pada pelayan yang lain pada di mana ? Kenapa saya juga tidak melihat mereka ?" bik Imah menuliskan pertanyaan ini di atas kertas.
Lily kembali terkejut melihat yang di lakukan bik Imah, setelah tadi ia terkejut dengan kepulangannya.
" Apa jangan - jangan si tua ini tidak bisa bicara lagi !" batin Lily.
" Maaf Bu Imah, mbak ... nanti tanyakan langsung pada non Audrey saja. Saya harus menyelesaikan pekerjaan saya. Sebentar lagi, non Audrey akan turun buat makan malam." ujar Lily.
Bik Imah melihat Lily dengan tatapan yang tidak bisa di lukis kan. Ia lalu menyuruh asistennya untuk membawanya kembali ke dalam kamarnya. Kepalanya terasa pusing karena memikirkan semua keganjilan yang terjadi
di mansion.
Lily mendengus kasar setelah kepergian bik Imah bersama asistennya.
" Hmm ... sekarang si tua bangka itu sudah kembali ke mansion bersama asistennya yang menyebalkan itu. Aku harus lebih berhati - hari sekarang, jika tidak apa yang aku lakukan bisa ketahuan oleh mereka." gumam Lily sembari menaburkan sesuatu di atas makanan dan minuman seperti yang telah ia lakukan belakangan ini.
" Drey ... apa Lo yakin mau menceritakan semuanya pada bik Imah ? Aku takut jantungnya kumat lagi kalau mendengar berita yang mengejutkan. " ujar Rina yang baru saja keluar dari kamar mandi.
" Iya, juga sih ... bik Imah pasti tidak akan percaya kalau Lo katakan tidak terjadi apa - apa
di mansion. Apalagi nanti pasti bik Imah merasa heran melihat Lily yang mengatur makanan di meja makan." ujar Rina menyetujui perkataan Audrey.
" Makanya mau gak mau gue harus tetap cerita. Mudah - mudahan bik Imah tetap baik - baik aja. ucap Audrey mendoakan dengan tulus.
" Iya ." sahut Rina.
" Udah, sekarang kita turun, Rin ... !" ajak Audrey setelah melihat Rina selesai berpakaian.
" Okey, tapi gue tadi gak lihat Bella ! Apa dia belum pulang !" ujar Rina.
" Hmm ... mungkin Bella lagi di kamarnya." kata Audrey sembari melangkah keluar dari kamarnya diikuti oleh Rina.
" Gue panggil atau biarin aja, Drey ?" tanya Rina setelah mereka mendekati kamar Bella.
" Coba panggil aja dulu, Rin ... kalau dia gak nyahut pasti lagi ketiduran." ucap Audrey.
Rina pun mengetuk pintu kamar Bella sembari memanggil namanya. Walaupun sebenarnya ia enggan melakukannya.
Setelah mengetuk beberapa kali, akhirnya Bella membuka pintu.
Seperti dugaan Audrey, Bella memang sedang tidur.
" Bel ... makan yuk !" ajak Audrey pada Bella.
" Duluan aja, Drey ... gue cuci muka dulu. Ntar gue nyusul !" ujar Bella mengembangkan senyum palsunya.
__ADS_1
" Oh, ya udah ... kami duluan, ya ... !" ucap Audrey membalas senyuman Bella.
Lalu Ia dan Rina segera turun ke lantai bawah.
Ternyata bik Imah sudah menunggu mereka di meja makan.
" Bibi tadi jadi istirahatkan ?" tanya Audrey dengan lembut.
Bik Imah menganggukkan kepalanya dengan senyum tipis di bibirnya, karena mulutnya masih susah di gerakkan.
" Kita makan dulu, ya bik ... baru setelah selesai makan Audrey akan menceritakan semuanya sama bik Imah." ucap Audrey.
Lagi - lagi bik Imah menganggukkan kepalanya.
Lily yang keluar dari dapur membawa makanan khusus buat Audrey, lalu Lily meletakkan di hadapannya.
Nana yang belum mengetahui kalau bik Imah sudah pulang dari rumah sakit, sangat terkejut melihatnya begitu tiba di ruang makan.
" Bu Imah kapan pulangnya ? Saya kog, gak tahu !" ujar Nana dengan nada sedikit cemas.
" Kamu tidur waktu saya dan Bu Imah pulang bersama nona Audrey." asisten bik Imah yang menjawab pertanyaan Nana sembari menatapnya.
" Oh, Maaf non, Bu Imah ... tadi kepala saya pusing lagi. " ujar Nana agar Audrey tidak salah paham.
" Gak papa, mbak ... kalau sakit, ya harus istirahat. Lily sudah menyiapkan semuanya, kog ... !" ucap Audrey.
" Eh, iya Non Audrey ... maaf Bu Imah, sudah sehat kan ? " tanya Nana agak takut melihat tatapan bik Imah.
Apalagi sejak ia datang, bik Imah tidak ada berbicara sedikitpun padanya.
" Bik Imah sudah sehat, Mbak ... hanya saja masih harus menggunakan kursi roda." Audrey yang menjawab pertanyaan Nana.
Tidak lama Bella, pun ikut bergabung dengan Audrey dan yang lain. Sama seperti Lily dan Nana, ia juga sangat terkejut melihat keberadaan bik Imah.
Meskipun bik Imah tidak pernah jahat padanya, tapi Bella tahu kalau bik Imah bukan orang yang mudah di bohongi.
" Eh, apa kabar bik ? Bibi udah sehat ?" tanya Bella.
Bik Imah menganggukkan kepalanya. Ia tidak heran dengan keberadaan Bella di mansion ini, karena teman - teman Audrey biasa menginap disini.
Tapi, bagaimana jika ia mengetahui kalau Bella bukan hanya sekedar menginap melainkan sudah tinggal di mansion ini.
" Maaf, ya bik Imah ... selama bik Imah di rumah sakit, saya gak sempat menjenguk. Bibi kan tahu, selain kuliah saya harus bekerja. " ujar Bella seakan menyesalinya.
" Gak papa, non Bella ... !" .
Bella dan Nana langsung terbelalak melihat hal ini. Bik Imah menjawab perkataan Bella dengan menuliskan kata di atas kertas.
" Apa yang terjadi ? Kenapa bik Imah gak berbicara aja ?" tanya Bella heran.
" Nanti, gue jelaskan. Sekarang kita makan dulu. " ucap Audrey.
" Oh, okey ... !" sahut Bella sembari menatap bik Imah dengan tatapan penasaran.
Mereka pun memulai makan malamnya dengan tenang.
Lily yang melihat Audrey makan dengan lahap, makanan yang ia berikan padanya menarik sudut bibirnya sedikit. Ia senang karena Audrey terlihat tidak menyadari apa yang sudah ia lakukan.
Tapi tanpa ia sadari, Rina yang diam - diam terus memperhatikan gerak - gerik Lily melihat gerakan bibirnya tadi.
" Hmm ... apa yang dia lakukan ? Kenapa Lily tersenyum seperti itu !" Rina membatin.
__ADS_1
**********************************