
Setelah berhasil menenangkan perasaan, Reno menyuruh anak buahnya yang membawa kue yang di beli agar di bawa masuk ke dalam rumah Rina.
Bodyguard membiarkan saja karena mereka sudah mengenali Reno sebagai temannya Audrey.
Audrey, Rina dan Rifky begitu melihat Reno dan anak buahnya masuk kedalam rumah, setelah terlebih dahulu memberi salam sambil membawa beberapa jenis kue.
" Maaf, aku datang lagi. Kebetulan
aku sudah selesai meninjau lokasi di sana. Jadi aku mampir lagi ke sini, karena teringat bahwa ini malam ke tiganya Ibu teman kamu, Drey ... " Reno sangat pintar memberikan alasannya.
" Oh, ya ... gak papa. " jawab Audrey masih kaget.
" Ini, tadi sebelum datang kemari, aku berniat memberikan sedikit sumbangan kue untuk acara nanti malam. " Reno menyuruh anak buahnya untuk memberikan kue tersebut kepada Rina.
" Terima kasih atas sumbangan kue nya ... maaf, jadi merepotkan." Rina yang juga masih kaget, menerima kue dari tangan anak buah Reno.
" Sama - sama, aku gak merasa di repotkan. Kamu temannya Audrey, berarti kamu teman aku juga. " Reno membalas ucapan Rina dengan ramah.
" Kalau gak salah waktu di pesta ulang tahun kemarin, kamu kan yang bersama Audrey ? " Reno baru menyadari sekarang kalau saat itu Rina yang bersama Audrey.
Reno tidak menyangka kalau Rina hanyalah orang biasa, yang datang dari kampung. Waktu itu ia pikir status Rina sama seperti Audrey ataupun teman Audrey lainnya. Dia berniat setelah pulang dari kampung ini, ia akan menanyakan pada Bella. Kenapa Rina bisa kenal dan sangat dekat dengan Audrey.
" Iya, benar ... saya yang bersama Audrey waktu itu." Rina membenarkan perkataan Reno.
" Oh, pantesan aku seperti mengenal wajah kamu ketika datang kesini kemarin. Maaf, sebelumnya, kamu gak tersinggung kan karena aku memberikan sumbangan kue ini. Kebetulan aku melewati toko kue, jadi aku teringat kalau ini malam ketiga Ibu kamu." Reno menampilkan wajah yang terlihat merasa bersalah.
" Oh, tentu saja saya tidak tersinggung. Niat baik seseorang harus di terima dengan baik juga.
Iyakan, Drey ... ?" kata Rina sopan.
" Benar ... berdosa kalau menolak niat baik seseorang. Terima kasih, Reno. " setelah mengatakan hal ini, Audrey pun memberikan senyumannya.
" Ayo, duduk Reno ... " Rina menyuruh dengan ramah.
" Terima kasih. " jawab Reno singkat. Ia lalu duduk di sebelah Rifky.
" Belum ada yang datang ya, Drey ... ? " Reno bertanya sambil melihat ke arah Audrey.
" Belum, Reno ... acaranya kan di mulai setelah Isya. " jawab Audrey juga melihat Reno.
" Oh, ada yang bisa aku bantu ? "
tanya Reno bersikap seakan perduli.
" Makasih, semuanya udah selesai, tinggal meletakkan kue yang kamu bawa ke piring - piring kecil aja." sahut Audrey.
" Aku bantuin, ya ... " Reno menawarkan bantuannya.
" Boleh ... " jawab Audrey.
Rifky yang hanya diam sejak Reno datang terus memperhatikan gerak - gerik Reno. Entah kenapa, ia merasa ada yang tidak benar dengan Reno. Walau wajahnya terlihat ramah dan sikapnya juga sopan. Tapi, Rifky merasa kalau ada sesuatu di balik semua sikap baik Reno.
Reno ikut membantu meletakkan kue yang dia bawa ke piring yang di sediakan Rina. Sementara Audrey dan Rifky, menaruh piring - piring itu ke atas tikar, tempat yang akan di duduki warga nanti.
Setelah selesai mereka pun duduk kembali.
__ADS_1
" Ini dibuat sampai malam ketujuh, ya Rin ... ? " Reno sengaja pura - pura bertanya agar ada bahan pembicaraan lagi.
" Oh, nggak ... kami gak buat.
Karena besok kami harus kembali
ke kota, aku sudah harus masuk kerja lagi. " Rina menjelaskan.
" Oh, kog kebetulan banget ... aku juga sudah pesan tiket buat besok. Apa kalian sudah pesan tiket ? Kita bareng aja pulangnya." Reno menawarkan pada mereka.
" Maaf, sepertinya gak bisa. Audrey juga udah mesan tiket buat kami besok." kata Rina.
" Memangnya berangkat jam berapa ? " tanya Reno lagi.
" Kemarin rencananya mau berangkat pagi. Tapi karena takut gak terkejar, jadi Audrey memesan tiket yang jam satu siang, karena dari sini aja ke kota makan waktu dua jam. Terus dari kota ke bandara tiga jam, jadi biar gak terlalu mepet waktunya. " ucap Rina menjelaskan pada Reno.
" Wah, kog bisa sama. Aku juga mesan tiket jam satu. Jangan -
jangan kita naik pesawat yang sama lagi. " ujar Reno pura - pura terkejut. Padahal ia memang sengaja menyuruh anak buahnya mencari tahu jam keberangkatan Audrey, agar bisa pulang bersamanya.
Rina lalu menyebutkan nama maskapai penerbangan yang di pesan Audrey.
" Kog kebetulan banget bisa samaan kaya gini, aku juga naik pesawat itu. Wah, kalau begitu jadi dong kita barengan berangkatnya." sahut Reno dengan wajah senang.
" Kenapa semua bisa kebetulan ya ? " gumam Rifky pelan, lalu melirik Reno.
Tapi Reno masih bisa mendengarnya, karena ia duduk di samping Rifky, walau tidak terlalu dekat. Ia mengepalkan tangan menahan rasa marah di hatinya. Reno yakin Rifky sedikit curiga padanya.
Jadi Reno sengaja pura - pura tidak mendengar apa yang di katakan Rifky.
" Gak usah, Reno ... gue udah menghubungi mobil yang membawa kami kesini. Nanti dia yang akan menjemput kami lagi. "
tolak Audrey halus.
" Oh, Syukurlah. Kalau begitu, besok kita ketemu di bandara aja."
sahut Reno sambil tersenyum tipis. Ia juga tahu, pasti Audrey akan menolak ajakannya.
Tiba - tiba suara dering hand phone Reno berdering. Ia lalu bangkit dari tempat duduk, dan berdiri sedikit menjauh dari mereka bertiga dan mengangkat panggilan itu.
" Apa ? Kenapa bisa begitu ? " tanya Reno dengan suara lumayan kuat.
Audrey, Rina dan Rifky langsung melihat ke arah Reno berdiri.
Mereka melihat wajah Reno kelihatan cemas.
Setelah tidak terlalu lama berbicara dengan orang yang menghubunginya, Reno lalu memutuskan sambungan teleponnya. Dengan wajah cemas, Reno segera menghampiri Audrey, Rina dan adiknya.
" Aku minta maaf banget sama kalian. Sepertinya aku tidak bisa mengikuti acara ini. Aku harus pergi sekarang. Salah - satu pekerjaku yang ikut meninjau lokasi mengalami kecelakaan.
Jadi aku harus pergi sekarang ke rumah sakit melihatnya." Reno menampilkan wajah yang penuh penyesalan di depan mereka bertiga.
" Kecelakaan ? Terus bagaimana keadaan pekerjamu itu sekarang ?" tanya Audrey khawatir.
" Aku belum tahu, tadi asistenku cuma bilang mereka langsung membawa ke rumah sakit yang terdekat, jadi aku minta maaf karena harus pergi melihat kesana." ujar Reno.
__ADS_1
" Ya, gak papa, Reno ... kami ngerti kog, keadaanmu sekarang, semoga pekerjamu baik - baik saja. " kata Audrey tulus.
" Iya, benar yang Audrey bilang.
Kami gak papa, aku dan Rifky berterima kasih karena kamu sudah menyempatkan waktu untuk datang kesini. " sahut Rina.
Sedang Rifky hanya menatap wajah Reno dengan tatapan menyelidiki.
" Terima kasih, kalau begitu. Aku pergi sekarang, ya ... " ujar Reno.
" Ya, kamu juga hati - hati, Reno " kata Audrey.
" Ya, makasih, Drey ... " ujar Reno.
Mereka bertiga lalu bangkit dan melihat Reno berjalan melangkah pergi, lalu masuk ke dalam mobil yang di kemudikan seseorang.
Tak lama mobil Reno melaju meninggalkan rumah Rina.
Begitu melihat sudah agak jauh dari rumah Rina, Reno yang memang mengatur semua rencana ini dari awal langsung tertawa lebar. Ia memang sengaja menyuruh anak buahnya agar menghubungi nomer ponsel Reno, agar ia bisa pergi dari rumah Rina.
Reno kesana hanya ingin mendapatkan simpati dari Audrey dengan cara memberikan sumbangan kue dan pura - pura mau menghadiri malam ketiga Ibu nya Rina. Agar ia terlihat baik di mata Audrey. Setelah berhasil menjalankan rencananya, ia langsung pergi. Karena Reno memang gak berminat sama sekali untuk mengikuti acara tersebut.
" Drey ... gue gak nyangka,ternyata Reno itu baik juga ya orangnya." kata Rina setelah kepergian Reno.
" Iya, gue juga gak menyangka." sahut Audrey setuju dengan pendapat Rina.
" Terus terang, awalnya gue curiga melihat dia, gue merasa dia punya niat tertentu dengan Lo. Tapi ternyata gue salah. " Rina menyesali pemikirannya yang salah.
" Gak papa, Rin ... wajar aja kalau lo curiga. Kita kan baru kenal dengan Reno. Gue juga karena curiga, makanya gak pernah mau mengangkat telepon dari Reno atau membalas pesan yang dia kirimkan " ucap Audrey dengan raut wajah menyesal.
" Tapi sepertinya pria itu memang patut dicurigai. Aku gak terlalu percaya melihatnya." celetuk Rifky mengungkapkan isi pikirannya.
Audrey dan Rina terkejut mendengar perkataan Rifky. Karena sejak Reno datang hingga akhirnya pulang, Rifky tidak mengeluarkan sepatah katapun.
Tapi sekarang ia malah mengungkapkan kecurigaannya pada Reno.
" Kenapa kamu berpikir seperti itu, Ky ... ? Apa yang membuat kamu gak percaya sama Reno." tanya Rina heran.
" Gak tahu, mbak ... hanya sejak melihat dia, Rifky merasa dia punya maksud sendiri sama Audrey." Rifky mengatakan kecurigaannya.
" Oh, kalau itu mbak udah tahu. Dia kaya nya suka sama Lo, Drey ... " Rina berpikir itu yang di maksud oleh Rifky.
Audrey hanya tersenyum mendengar perkataan Rina.
" Bukan itu maksud Rifky, mbak ..." bantah Rifky.
" Jadi apa ? " tanya Rina heran.
" Rifky belum tahu apa, tapi Audrey harus berhati - hati sama dia. Sepertinya selain menyukai Audrey, dia punya tujuan lain." ujar Rifky memandang serius pada Audrey.
" Udah, besok aja kita bahas lagi.
Warga udah mulai pada datang tuh ... " Audrey menyela pembicaraan kakak beradik di depannya ini setelah melihat Pak RT dan istrinya juga beberapa warga mulai memasuki halaman rumah Rina.
Rina dan Rifky langsung menghentikan pembicaraan mereka setelah melihat kehadiran warga.
__ADS_1
**********************************