
Sudah beberapa hari ini, Reno terus mengirimkan bunga pada Audrey. Bahkan mereka tiap hari saling berhubungan melalui
handphone. Hubungan mereka setiap hari semakin dekat.
Audrey bahkan sudah tidak canggung lagi untuk meminta Reno menemaninya di acara Wisudanya hari ini.
Pagi ini ia akan wisuda tanpa kehadiran orang tuanya. Bahkan
mereka tidak ada menghubungi Audrey untuk mengucapkan selamat.
Audrey menatap dirinya cermin,
seharusnya hari ini hari yang paling bahagia dalam hidupnya.
Karena ia sudah berhasil mewujudkan impiannya dengan
meraih gelar sarjana.
Tapi ketidak hadiran kedua orang tuanya membuat Audrey kurang semangat. Beruntung Audrey memiliki sahabat - sahabat yang selalu ada menemaninya.
Terutama Rina dan Rifky yang setiap hari datang ke mansion nya.
" Drey ... Udah Lo jangan sedih lagi, ya ... Ada gue dan Rifky yang menemani Lo hari ini. Doakan aja yang terbaik buat Daddy dan Mommy Lo. " ujar Rina yang baru aja tiba di mansion.
Audrey hampir saja meneteskan
air mata mendengar omongan Rina. Entah mengapa perasannya hari ini sangat tidak enak.
Sejak semalam ia terus kepikiran
dengan kedua orang tuanya, setelah ia bermimpi buruk.
Dalam mimpinya, Daddy dan Mommy melambaikan tangan kepada Audrey sambil memandang sedih padanya.
Tubuh mereka penuh dengan darah.
" Gue takut, Rin ... mimpi gue jadi kenyataan. Gue belum siap menerima hal ini. Apalagi, sejak Daddy dan Mommy pergi, hanya sekali menghubungi gue. Setelah itu kami tidak ada kontak. Beberapa kali gue coba menghubungi, tetap saja gak bisa." Audrey mengatakan kekhawatirannya.
Ya, Audrey telah menceritakan pada Rina tentang mimpinya.
Begitu juga dengan masalah yang sedang di hadapi oleh kedua orang tuanya. Meskipun ia sadar telah melanggar perintah dari Mommy dan Daddy nya, untuk tidak pernah menceritakan kepada siapapun mengenai hal itu. Tapi Audrey yakin bisa mempercayai Rina dan Rifky.
Makanya ia berani membagi masalahnya pada mereka berdua.
Rina dan Rifky juga telah berjanji, tidak akan menceritakan hal ini kepada orang lain.
" Drey, lo lihat gue ... gue dan Rifky juga gak siap saat harus kehilangan Ibu, tapi Lo memberikan semangat pada kami agar mengikhlaskan dan tetap kuat menghadapi hidup ini. Jadi gue harap, Lo juga harus bisa melakukan hal itu." ujar Rina memberikan semangat pada Audrey.
" Ya, Lo benar Rin ... gue harus kuat dan ikhlas. Daddy dan Mommy, juga berulang kali mengatakan hal ini pada gue." Audrey kini sadar, ia tidak boleh jadi orang yang lemah.
" Nah, itu baru saudara gue ... Udah, sekarang benerin make up lo, biar wajah cantik ini lebih segar. Abis itu kita turun. Lo gak mau telat kan datang wisuda. Oya .... Muka Lo lucu kalau lagi sedih ... hehehe." canda Rina sengaja menggoda Audrey agar
suasana hatinya membaik.
Audrey langsung memukul lengan Rina dengan gemas. Lalu ia kembali memoles wajahnya, agar lebih fresh.
Sementara Rina memperhatikan dari belakang dengan perasaan
iba. Ia juga tidak bisa membayangkan jika mimpi buruk Audrey benar - benar terjadi.
Andai itu terjadi padanya, pasti Rina juga tidak sanggup. Karena
harus kehilangan kedua orang tua sekaligus.
" Yuk, malah melamun Lo." Audrey
menyenggol badan Rina.
" Hehehe ... " Rina tertawa agar
Audrey tidak kepikiran lagi.
Audrey dan Rina melangkah keluar dari kamar menuju lantai bawah. Rifky yang sedang menunggu mereka berdua, di ruang tamu, terkejut begitu melihat kehadiran Reno. " Kenapa juga si Reno ini datang ? Kenapa aku tidak bisa percaya pada pria ini sejak awal ketemu dengannya ?" batin Rifky.
" Hai, Ky ... Audrey udah siap ? " sapa Reno dibuat sok ramah.
Padahal dalam hati, ia begitu ingin
melenyapkan si Rifky ini.
" Aku gak tahu." jawab Rifky singkat.
Baru saja Reno ingin bertanya lagi pada Rifky, Audrey dan Rina pun
__ADS_1
keluar dari lift.
Reno yang melihatnya, langsung terpaku seperti patung.
Audrey sangat cantik dan anggun dengan pakaian yang dikenakan nya.
Audrey tersenyum melihat Reno yang sudah datang dan lagi - lagi membawa buket bunga.
" Ren ... udah dong, jangan bawa
bunga lagi. Kamar gue udah kaya toko florist." ujar Audrey berjalan
mendekati Reno.
" Eh, bunga yang cantik buat wanita yang sangat cantik itu wajar, Drey ... " Reno mengeluarkan gombalan setelah tersadar dari rasa kagumnya melihat Audrey.
" Wah, udah pintar gombalnya." kata Audrey tertawa.
" Drey, berangkat yuk ... nanti kena macet, kamu telat lagi." ajak Rifky gak mau membiarkan Reno berlama - lama menatap Audrey.
" Eh, iya ... Lo benar, Ky." sahut Audrey.
" Naik mobil aku aja, Drey ... biar
kamu gak repot, bawa mobil dengan pakaian seperti ini." ujar Reno.
" Hmm ... baiklah. " Audrey menerima tawaran dari Reno, karena gak enak juga jika menolaknya. Sedangkan ia bermaksud baik untuk membantu Audrey.
Rifky langsung meringis mendengar Audrey menerima ajakan Reno. Ia malas banget pergi jadinya karena harus semobil dengan Reno.
Rina yang tahu adiknya gak suka
dengan Reno, sengaja mencubit
lengan Rifky agar wajahnya jangan terlalu kelihatan kesal.
" Yuk Rin, Ky ... " ajak Reno pada keduanya.
" Iya, Ren ... " jawab Rina.
Masih dengan raut kesal, Rifky terpaksa ikut naik ke mobil Reno.
Karena ia ingin melihat acara wisuda.
" Setelah Audrey wisuda, kampus jadi sepi deh .... " ujar Zia.
" Makanya Lo belajar yang benar, jadi biar bisa cepat wisuda juga." kata Dea.
" Iya, gue nyesel kemarin gak serius belajar karena selama ini selalu mengandalkan Audrey.
Sekarang gue harus terbiasa mengandalkan diri sendiri. Tapi
Lo ajarin gue, ya ... De, kalau ada yang gak gue mengerti."
" Iya, asal Lo beneran serius belajarnya."
" Lo, Bel ... kenapa sejak tadi gue lihat melamun terus.
Ada masalah lagi ? ".
Bella yang semakin membenci Audrey karena kejadian kemarin,
saat ia di hina dan di perlakukan dengan sangat rendah oleh tunangan pria yang berkencan dengannya dengan mengatakan
ia tidak pantas berteman dengan
orang seperti Audrey yang dikenal baik, cantik, kaya.
Sudah jenuh Bella mendengarnya, selama beberapa tahun ini.
Selalu saja Audrey yang jadi
pemenangnya.
" Gak Zi ... gue cuma mikir, kenapa Audrey belum datang juga, ya ... " Bella sengaja mengalihkan pembicaraan agar Zia tidak bertanya lagi.
" Eh, itu Audrey ... tapi kog bisa bareng Reno ya ? " sahut Zia yang
melihat Audrey , Rina , Rifky juga Reno sedang berjalan ke arah mereka.
" Sumpah, cantik banget Audrey .."
ucap Dea kagum.
__ADS_1
" Iya, cantik banget ya De ... kita aja cewek kagum sama kecantikannya, gimana dengan cowok ya ... " ujar Zia.
Bella yang mendengar pujian keduanya buat Audrey, semakin
besar rasa marah dan dendamnya. Apalagi ia melihat,
Reno begitu terlihat bangga saat berjalan di sisi Audrey. Mereka jadi pusat perhatian kampus jadi ini.
" Lo cantik banget, honey ... makin cinta deh sama kamu. Rina juga, anggun banget ... " ujar Zia begitu Audrey mendatangi mereka.
" Gue juga cinta banget sama Lo, sayang ... " Audrey membalas kekonyolan Zia.
Semua jadi tertawa mendengar
perkataan Zia dan Audrey yang absurd. Cuma Bella yang memaksakan diri agar terlihat ketawa.
" Lo kog bisa bareng mobil Reno datangnya,.Drey ... ? " tanya Dea yang sudah menyimpan pertanyaan ini sejak mereka datang. Karena sama seperti Rifky,. Dea juga tidak. terlalu menyukai dan mempercayainya.
" Oh, Reno jemput gue ke mansion. Jadi dari pada bawa
dua mobil sekalian aja naik mobil Reno ." ujar Audrey menjelaskan.
" Cie, udah dekat kayanya nih ... " goda Zia.
" Udah ah, gue masuk duluan, ya ... " Audrey gak menjawab
omongan Zia.
" Kalian berdua masih mau di luar atau masuk bareng gue ? " tanya Audrey pada Rina dan Rifky.
" Kami ikut Lo aja deh, lumayan gerah pake ini kalo nunggu di luar." sahut Rina.
" Gue gak di ajak, Drey ... ? " tanya Reno memasang wajah sedih.
" Hehehe ... ya, Lo sekalian masuk
juga, Ren ... " ujar Audrey tertawa
melihat tampang Reno.
Bella semakin kesal melihat interaksi antara Reno dan Audrey.
Apalagi sejak datang, Reno sekalipun gak ada melirik Bella.
Ini membuat Bella makin emosi
pada Audrey.
" Cie, cie ....kelihatannya bentar lagi ada yang bakalan jadian, nih ... " goda Zia pada Audrey yang terlihat begitu santai sikapnya pada Reno. Karena biasanya, Audrey tidak pernah
sedekat ini dengan pria lain.
Audrey cuma meringis mendengar omongan Zia. Sedangkan Reno justru senang dengan perkataan Zia.
" Kamu benar, Zi ... aku berharapnya kaya gitu, tapi sayangnya Audrey nolak terus ... hehehe.' Reno langsung memanfaatkan moment ini untuk
menggerakkan hati Audrey.
" Apaan sih, gak jelas Lo berdua . "
kata Audrey sambil melangkah pergi meninggalkan mereka. Diikuti Rina dan Rifky.
Melihat hal ini Zia dan Reno tertawa lebar.
" Semangat, Ren ... yakin deh ,gak lama lagi Audrey pasti Nerima Lo." ujar Zia menyemangati Reno.
" Thanks Zi ... gue masuk dulu, ya.
Kalian gak sekalian ... ? " kata Reno senang.
" Lo duluan aja, kami bentar lagi.
Masih nungguin dosen, buat ngumpulin tugas. " ucap Zia.
Dea terus memperhatikan wajah Reno. Kalau orang salah mengira, pasti dipikir Dea suka dengannya. Padahal karena Dea tetap gak bisa menghilangkan rasa curiganya, pada Reno.
Bella mengumpat dalam hati melihat sikap Audrey yang sok
malu - malu tadi.
" Cih, dasar munafik ... !"
" Okey, gue duluan ya ... " ucap Reno beranjak pergi.
__ADS_1
**********************************